
๐๐Aku memang kecewa tapi bukan berarti aku akan melupakan semua kebaikan nya๐๐
ย ย Zhia masih saja merasa kesal karena Albar yang menggodanya tadi. Sangat menjengkelkan ia rasa apalagi Albar yang menertawakan nya.
"Lihat saja aku akan membalasmu mas. " Batin zhia kesal.
"Sayang, kamu masih marah yah? " Albar yang baru menyelesaikan aktivitas mandinya datang kearah zhia yang sejak tadi sudah duduk diatas tempat tidur dengan penampilan yang sudah bersih karena ia lebih dulu mandi tadi.
"Siapa juga yang marah? " Zhia bertingkah cuek.
"Hmm masa sih? Ngk ada yang ngerasa marah yah? Mas kira kamu marah sayang. " Albar berpura-pura tak peka dengan zhia.
"Lihatlah dia, sama sekali tidak peka dengan ku. Katanya mau menyayangi ku dengan sepenuh hati buktinya apa? Ia malah membuat ku cemburu. " Batin zhia.
Albar sudah selesai memakai baju kaos nya dengan boxer berwarna abu-abu. Ia mendekat kearah zhia yang masih saja diam dengan wajah ditekuk.
"Kenapa hmmm? Wajannya kenapa ditekuk aja dari tadi? " Albar memegang dagu istrinya namun ditepis.
"Ihh ngk usah megang-megang. Aku lagi ngk mood mas. " Kesal zhia.
Albar menahan senyum karena tau istrinya pasti masih merasa kesal karena nya.
"Tuan, makan malam sudah siap dan tuan besar sudah menunggu dibawah. " Ucap seorang pelayanan.
"Mau kemana sayang? "
"Mau nyari suami kedua. Kenapa? Mas mau bantuin nyari? " Kesal zhia berjalan dengan pelan karena pangkal paha nya masih terasa sedikit sakit. Belum lagi saat ia ingin pipis sungguh terasa sangat perih disana.
"Mas bantuin gendong aja yah? Yakin bisa Jalan? " Albar mendekat kearah zhia namun zhia malah terus berjalan.
"Ngk usah sok perhatian deh mas, peres banget. " Zhia kesal dan terus berjalan.
Greb,
"Iih udah dibilang ngk mau digendong, aku ngk mau turunin sekarang juga mas." Kesal zhia namun Albar malah pura-pura budeg.
"Mas budeg yah? Turunin aku bilang, aku bisa jalan sendiri ih. " Zhia masih saja berontak dalam gendongan Albar.
"Kamu pasti masih kesakitan sayang, jadi aku gendong aja yah. "
Albar sengaja mengeraskan suaranya agar ragil yang sedang mengambil nasi itu mendengar nya.
Zhia langsung menutup mata malu karena Albar mengatakan itu keras di depan anggota keluarga. Belum lagi sampai kini Albar masih saja menggendong nya. Didepan ragil yang berstatus sebagai temannya itu.
"Duhh zhia, malunya bukan main ini mah. " Batin zhia.
__ADS_1
"Idih om om lebay,kek bocah. Keliatan banget ngk pernah deket cewek. " Batin ragil lanjut makan.
"Sayang kita duduk disini aja yah. " Albar menyiapkan kursi untuk zhia namun zhia malah memilih duduk didekat ayah mertuanya.
"Ngk mau, mas ngeselin. " Zhia bergumam pelan dan itu masih bisa di dengar oleh yang lain.
"Hmm adik ipar, kenapa Albar ngeselin? Dia mainnya kasar kasar yah? " Alvin lagi-lagi memulai pembicaraan yang sangat tidak senonoh itu.
Zhia langsung tersedak saat meminum air putih itu.
"Kakak ngomong apa sih? Liat tuh zhia jadi kaget. " Albar bangkit dan mendekat kearah zhia menepuk punggung nya.
"Ngk usah sok perhatian. " Kesel zhia hingga ayahnya tertawa melihat mereka berdua.
Mereka merasa sangat lucu melihat zhia, ia benar-benar membuat Albar berubah total. Selama ini mana ada yang berani gituin Albar.
"Kamu kenapa bikin menantu ayah kesal begini? " Ayah ikut-ikutan menghardik anaknya itu.
"Ihh kok semua pada nyalahin aku sih? Sayang liat nih ayah jahatin aku. " Albar dengan nada manjanya hingga ragil yang sedang makan itu ikut tersedak.
"Yatuhan demi alek paman gua udah gila, kenapa sih dengan nya? Ngk inget umur yah? " Batin ragil.
"Ngk malu sama umur. " Gumam ragil hingga Albar melirik kesal kearah nya.
"Kenapa sih mas? Jangan kek bocah deh. Ngk malu yah gitu depan yang lain? Aku aja malu mas. " Zhia dengan wajah kesal nya.
"Jahat." Albar bangkit dan berjalan begitu saja menuju kamar.
Ia berjalan pelan melihat kebelakang apakah zhia mengikuti dan mengejar nya. Namun, zhia sama sekali tidak peduli. Bahkan Albar sudah mundur untuk menunggu zhia datang mengejar nya saja zhia tak mau bangkit ia lebih memilih makan saja.
Albar yang kesal langsung saja menaiki kamar dan menutup nya dengan keras.
"Kenapa tidak dikejar adik ipar? " Tanya Alvin heran namun ia tertawa ringan karena merasa adik iparnya itu sangat ahli dalam mengendalikan Albar.
"Biarkan saja mas, nanti juga bicara sendiri dia. "Zhia fokus makan saja.
Sebenarnya ia sangat malu karena sudah banyak sekali hal memalukan yang ia tunjukkan pada anggota keluarga dirumah ini. Albar sungguh kekanakan sekali.
Ayah tersenyum lalu mengelus surai hitam zhia hingga zhia sedikit kaget.
" Kamu sangat hebat menantu, ayah bangga padamu. Terima kasih sudah mengubah laki-laki batu menjadi lunak seperti ini. Kamu memang pawang terbaik untuk nya. Ayah harap kamu bisa tahan dengan sikap Albar itu. Dia sangat beruntung memiliki kamu nak."Ayah tersenyum.
Zhia juga dengan semangat menganggukkan kepalanya" Mas Albar memang terlihat sangat kuat dan keras dari luar, tapi nyatanya mas Albar adalah laki-laki lemah lembut juga penuh kasih sayang. Aku yang beruntung punya mas Albar ayah. "Zhia tersenyum.
" Duhh bisa besar kepala tuh bocah kalau denger ini. "Goda Alvin tersenyum.
__ADS_1
Sedang viona yang sejak tadi memperhatikan zhia ternyata ia salah selama ini ia masih saja tidak setuju dengan hubungan adiknya itu. Tapi, ternyata zhia adalah gadis yang baik. Dan Albar lah yang beruntung bisa memiliki zhia.
Ragil tak hentinya menatap kearah zhia, wajahnya sangat berseri-seri saat membicarakan Albar. Ragil Sadar bahwa ia tak pernah berada dihati nya zhia. Namun, hatinya masih saja tak bisa lepas dari gadis itu.
Setelah semuanya selesai makan malam zhia langsung membantu para pelayanan dalam menyelesaikan urusan disana. Zhia selalu saja membantu mereka bahkan ketika mereka menolak karena takut tuan rumah marah.
" Sudah non, kami bisa kena masalah jika nona ikut kerja. "Mereka sangat khawatir.
" Ngkpp kak, aku kan ngk ada kerjaan nih. "Zhia benar-benar sangat ingin membantu.
Saat melihat ragil sedang masuk dari arah luar zhia barulah menyerah membantu mereka. Karena ia memiliki pertanyaan untuk ragil.
"Gil, ragil aku mau nanya sesuatu sama kamu. " Zhia berlari menuju ragil dan ragil tersenyum kearah nya.
"Ngk usah lari gitu nanti jatuh eh,, " Ragil langsung membantu zhia yang jatuh itu.
"Hehehe takut kamu malah keburu pergi. "
"Mau nanya apa sih? " Ragil tersenyum melihat kearah zha.
"Tentang lea gil, kamu tau ngk gimana kabar dia sekarang? " Zhia terlihat sangat khawatir.
"Sejak lu masuk rumah sakit gua udah ngk pernah liat dia, mereka dikeluarin dari sekolah terus gua nyari di kerumah nya mereka udh ngk disana, sampai sekarang gua masih nyari tau dimana lea sekarang. " Ragil menjelaskan.
"Kalau udah ada kabar kasih tau aku yah gil. "
"Lu ngk marah sama lea? Lea udah keterlaluan banget sama lu. " Ragil.
Zhia menggeleng dengan cepat "Aku tau saat itu lea pasti juga ngk mau kayak gitu. Aku emang kecewa sama lea tapi bukan berarti aku harus benci dan lupain dia gil, dia udah baik Banget sama aku selama ini. Mau bagaimana pun itu dia tetap sahabat buat aku. " Zhia benar-benar tulus dengan ucapan nya itu.
Jangtung ragil lagi-lagi berdetak sangat kencang karena mendengar itu dari zhia. Gadis itu sungguh membuat ia semakin jatuh hati karena kepolosan zhia.
"Hmm gua pergi yah, masih mau ngerjain sesuatu nih. " Ragil tak ingin berlama-lama ditempat itu dengan zhia karena sangat tidak baik untuk jantung juga perasaan nya.
Zhia mengangguk dan melihat kearah ragil yang berlalu itu.
"Semoga aja lea ngkpp, aku harap lea baik-baik aja. " Zhia bergumam dengan penuh harap.
๐๐Bersambung ๐๐
Wkwkwk Albar ngambek tapi ngk diurus hahahah.
Jangan lupa yah like, komen dan vote๐
Pai pai say ๐
__ADS_1