
🍁🍁Perlahan rasa kian menyapa hati yang kian riuh akan sebuah cinta 🍁🍁
Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul diruang keluarga. Zhia saat ini sedang duduk tepat disamping Albar, keadaan nya memang tidak terlalu parah hanya saja ia masih terlihat sangat lemah. Ragil sejak tadi masih memandang kesal kearah Albar. Tangannya mengepal saat tak bisa berbuat banyak.
Ayah berdiri sambil menatap marah ke arah Albar juga ragil. Ia kecewa kepada Albar yang sangat cuek terhadap zhia selama ini. Bagaimana bisa ia yang berstatus sebagai suaminya zhia tidak tau kalau zhia sudah lama mengalami kejadian menyakitkan itu. Belum lagi itu karena Albar lah semuanya terjadi. Dan untuk ragil ayah juga marah pada cucunya itu karena sudah berada disatu sekolah tidak bisa menjaga bibinya sendiri.
"Ayah sangat kecewa dengan mu Albar, bisa-bisanya kamu tidak tau apa yang sudah dilewati oleh istri mu selama ini? Kamu sebenarnya memiliki masalah apa sih? " Marah Ayah.
"Kamu juga ragil, sudah tau dengan kejadian ini kenapa kamu diam saja. Menjaga bibimu saja kamu tidak bisa. " Marah Ayah pada cucunya itu.
"Ayah,, maafkan aku. Aku yang salah mas Albar juga ragil tidak salah apapun. " Zhia mencoba untuk meredakan amarah Ayah yang sangat prihatin melihat keadaan menantunya itu.
"Tidak menantu, kamu tidak salah sama sekali. Ayah sudah putuskan kamu tidak bisa lagi kembali ke sekolah. Mulai sekarang kamu home schooling saja. Ayah tidak mau hal itu terjadi lagi padamu. "
Albar langsung melihat kearah ayahnya yang dengan egoisnya memutuskan pendapat secara sepihak itu.
"Loh, kenapa Ayah langsung mutusin sendiri sih? Belum tentu zhia mau dengan keputusan Ayah. "
"Kamu tidak berhak untuk protes lagi, karena kamu sudah gagal menjaga istri mu maka Ayah yang akan turun tangan untuk menjaga menantu Ayah dengan cara Ayah sendiri. "
"Zhia pasti akan merasa bosan jika belajar dirumah, dia mungkin ingin merasakan masa sekolah normal seperti yang lainnya. " Albar mencoba untuk membujuk Ayah nya.
Sejak tadi zhia hanya diam menunggu keputusan yang sebenarnya. Ia hanya bisa pasrah dengan apapun yang mereka inginkan.
"Salahmu sendiri karena sudah menempatkan istri mu dalam keadaan seperti ini. Oh iya. Untuk masalah mereka yang pernah terlibat dalam kasus pembullyan pada menantuku sudah beres semua. Kamu tidak usah lagi turun tangan. "
"Aku ingin menangani nya sendiri Ayah. Kenapa sih Ayah melakukan semuanya tanpa memberitahu ku? " Kesal Albar.
"Sudahlah kamu fokus saja jaga istri mu, tidak usah terlibat dengan ini. Ayah yang akan urus termasuk perusahaan Aditya sudah Ayah batalkan kerjasama dan anak nya sudah Ayah suruh sekolah untuk mengeluarkan nya. " Geram ayah.
"A,, Ayah, apa yang Ayah maksud itu adalah lea? Aku mohon Ayah jangan sampai mengeluarkan nya dari sekolah. Bagaimana pun dia pernah menjadi sahabat ku Ayah. " Zhia dan ragil melihat kearah nya dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa dia sangat polos dan baik? Lea sudah menyakiti nya kenapa masih mau menganggap nya sebagai sahabat? " Batin ragil.
__ADS_1
"Maaf menantu, untuk kali ini Ayah tidak bisa mendengarkan ucapanmu dulu. Ayah menghargai mu tapi Ayah punya peraturan sendiri, tak akan Ayah berikan kelonggaran untuk orang yang sudah menyakiti keluarga Ayah. "
Mendengar kata keluarga zhia merasa sangat terharu, Ayah mertuanya itu sangat baik dan juga perhatian padanya. Bagaimana pun keputusan Ayah ia tak akan berani untuk menolak lagi.
"Albar, kamu bawalah istri mu ke kamar dan istirahat. "
Albar hanya bisa mendengus pasrah saja Ayah nya tak akan bisa dilawan.
"Kita ke kamar sekarang yah sayang, " Ucap Albar tersenyum lembut kearah zhia.
Zhia sebenarnya masih merasa sangat tidak nyaman saat Albar memanggilnya dengan sebutan itu. Tapi sudahlah.
"Gendong dia ke kamar, jangan biarkan ia kelelahan dulu. "
"Aku baik baik saja Ayah dan masih bisa berjalan ke kamar. " Zhia sungguh tidak ingin digendong saat ini. Ia merasa tidak nyaman.
Albar tanpa pikir panjang langsung menggendong zhia alam bridal style menuju kamar dan zhia yang takut jatuh terpaksa mengalungkan tangannya dileher Albar.
Zhia merasa sangat kaku berhadapan dengan Albar saat ini. Apalagi melihat sikap Albar yang kini mulai lembut padanya ia mulai merasa sesuatu yang aneh dalam dirinya.
"Maafkan aku karena sudah gagal menjaga mu. Belum lagi kamu harus berhenti dari sekolah karena ku. Maafkan aku karena sudah menghancurkan hidupmu. " Albar memegang tangan zhia hingga zhia terlihat bingung.
Sejujurnya, ia sangat kaget dengan perubahan sikap Albar ini. Ia merasakan ketulusan itu tapi masih saja ragu dengan Albar apalagi saat mengingat bahwa Albar memiliki seorang kekasih yaitu Naya.
"Tuan, saya ngantuk. " Zhia mencoba untuk menghindari pembicaraan ini dengan Albar.
"Aku tau kamu sedang menghindar kini, aku tau kamu pasti belum memaafkan aku kan? Aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku akan menjadi suami yang baik untuk kamu. " Albar menahan bahu zhia hingga zhia langsung menunduk.
"Kenapa tuan selalu mengatakan ingin memulai semuanya dari awal saat tuan masih punya mbak Naya disisi tuan, Saya sungguh tidak mengerti tuan. " Zhia terlihat benar-benar bingung dengan itu.
"Maafkan aku juga karena sudah tidak tahu malu bersama dengan orang lain padahal aku mempunyai istri yaitu kamu. Aku sadar bahwa aku telah salah selama ini. Aku memang berniat menikahimu karena memiliki tujuan namun, sekarang kamulah tujuan ku. "
Deg,
__ADS_1
Jantung zhia berdetak kencang saat Albar mengatakan itu. Belum lagi ia tanpa alasan merasa lega dengan pernyataan Albar bahwa ia sudah tidak bersama lagi dengan Naya.
"Aku tidak memaksamu untuk mencintai ku sekarang, aku tau perlakuan ku yang dulu sangat susah untuk kamu maafkan. Aku hanya meminta kepada mu untuk memberi ku waktu, semoga aku bisa membuat mu mencintai ku. "
Lagi-lagi zhia merasakan kalau jantung nya berdetak kian kencang karena mendengar itu dari Albar.
"Tuan,, ak.. "
"Bisakah kamu jangan lagi memanggilku dengan sebutan itu? Aku tak akan memaksamu lagi untuk memanggilku dengan sebutan sayang. Panggil aku dengan panggilan yang membuat kamu nyaman saja asalkan jangan dengan sebutan itu lagi. Aku adalah suamimu bukan majikanmu. "
Deg,
Kesekian kalinya zhia merasakan kalau jantung nya berdetak sangat kencang. Albar benar-benar membuat hatinya merasa bimbang.
"Bagaimana dengan mas? " Zhia terlihat ragu dan Albar langsung mengangguk tersenyum.
"Apapun itu kalau berasal darimu akan membuat ku senang sayang."
Zhia dan Albar saling menatap satu sama lain, mata mereka saling mengunci pandangan hingga kini kedua jantung itu sudah berdetak sangat kencang.
Sejak tadi Albar tak hentinya memandang bibir merah ranum itu. Jujur, ia ingin mengecup nya merasai bagaimana manisnya bibir itu. Tapi ia tak akan lagi selancang itu merebut ciuman dibibir zhia.
Ia tak ingin gadis itu membencinya lagi, ia akan bersabar menunggu sampai zhia benar-benar menerima nya di dalam hatinya.
"Sekarang kamu tidurlah. " Albar membaringkan zhia dan menyelimuti nya.
🍁🍁bersambung 🍁🍁
Dulilah Albar dah tobat gaes.
Jangan lupa yah like, komen dan vote😍
Pai pai say🍁
__ADS_1