
🍁🍁Bagaimana caranya aku melupakan mu saat kamu semakin bersinar saja🍁🍁
Zhia menunggu Albar didalam kamar, Albar masih saja belum pulang kerja sampai kini. Padahal sebentar lagi sudah mau masuk maghrib.
Zhia turun dari kamar menuju ruang tengah. Ia melihat rumah sangat sepi, ragil juga sejak tadi tidak pernah keluar sedang Alvin juga bela pasti sedang dikamar menunggu waktu makan malam tiba. Ayah juga pasti sedang ada urusan.
"Hmm aku mau bantuin masak yah Kak. " Zhia menghampiri pelayan yang bertugas untuk memasak itu.
"Tidak usah nyonya, biar kami saja. Kami akan senang jika neng bisa menikmati masakan kami. " Mereka tersenyum.
Namun, karena kemampuan Zhia dalam membujuk kini ia sudah menguasai dapur itu.
"Nyonya, bagaimana kalau tuan muda datang lalu beliau marah saat melihat ini? " Pelayan yang terlihat lebih tua dari Zhia itu sedikit khawatir.
Zhia tersenyum hangat "Ngk akan marah kok kak, oh iya jangan panggil nyonya dong kak, ngk enak dengernya. Panggil neng atau dek aja gimana kak? " Zhia dengan senyuman manisnya.
Pelayan itu saja tak bisa memungkiri senyum manis itu apalagi Albar yang melihat nya.
"Bagaimana kalau non saja nyonya? Saya ngerasa ngk pantes kalau manggil nyonya dengan sebutan sedekat itu. " Pelayan itu terlihat sungkan.
"Yahh padahal kan aku mau deket kak heheh, ngk usah sungkan kalau sama aku kak, kita sama-sama berasal dari keluarga bawah kok. Cuma aja rezeki aku lebih dulu datang kak. Tapi aku ngk maksa kok kak, kakak panggil dengan panggilan senyaman nya aja deh. "
"Wahh non sangat pandai yah dalam memasak, pasti rasanya enak sekali. "
Zhia tersenyum kikuk"Heeheh padahal kan kak ngk terlalu waw tapi makasih yah kak udah hargain kemampuan aku yang tak seberapa ini heheh. "
"Kakak cobain deh. " Zhia memberikan makanan yang sudah ia masak diatas piring itu kepada pelayan itu.
"Wahh saya sangat beruntung bisa mencicipi masakan non yang sangat enak ini. Saya sangat beruntung nona. "
Zhia jadi tersipu malu.
"Sekarang tinggal masak tumis aja yah kak biar masaknya kelar, " Ucap Zhia tersenyum.
"Sayang, mas pulang nih. " Albar dengan senyuman lebar membuka pintu dan berteriak sangat keras hingga seisi rumah mungkin bisa mendengar itu.
Zhia yang sedang memasak itu sampai kaget dan melihat kearah Albar yang melihat kearah nya juga. Mata Albar memicing saat melihat Zhia sedang memasak itu.
"Sayang kok kamu yang masak sih? Mbak kok istri saya yang masak terus mbaknya nonton? " Albar mendekat dengan wajah julid nya. Paling sensi kalau nyangkut Zhia mah.
Pelayan itu langsung panik dan Zhia langsung merasa bersalah karena selalu membuat orang lain tidak nyaman karena nya.
__ADS_1
"Mas, kok ngomong gitu sih? Kan udah berkali-kali aku bilang mas jangan asal ngomong dulu sebelum tau kebenaran nya. Aku yang maksa buat masak ngk ada yang maksa ataupun nyuruh mas. Jangan gitu yah, emang mas ngk Kangen makan masakan aku? " Zhia dengan wajah imutnya.
Albar tak kuasa untuk tidak mengecup bibir mungil itu. Namun saat saat ia sadar akan kehadiran pelayan itu langsung ia urungkan.
"Kamu pergilah, tinggal kan kami disini. " Albar menyuruh pelayan itu pergi.
"Loh kok di usir mas? Padahal kan ngkpmhh. "
Langsung saja Albar menyambar bibir mungil itu. Sejak dikantor tadi ia tak habis nya membayangkan Zhia dan segala kebersamaan mereka. Pergulatan panas saat itu masih belum hilang dari ingatan nya.
Zhia mencoba untuk lepas dari ciuman Albar karena Zhia masih waras dan sadar dimana mereka sekarang berada, bagaimana jika ada yang lihat. Kan bisa malu tujuh kali tujuh turunan yang hasilnya adalah 49 turunan dong.
"Mahhh, " Lenguhan Zhia yang mencoba untuk melepaskan ciuman Albar yang kian mendalam itu. Lum*tan terus saja Albar berikan disana.
"Ekhem,, ekhem,,. "
Mendengar sebuah deheman Albar barulah melepaskan tautan itu hingga zhia langsung bersembunyi dibawah pantry saking malunya.
Albar melihat kesal kearah orang yang menganggu kesenangan nya itu dan ternyata itu adalah Alvin kakaknya yang sedang keluar hendak mengambil minum namun melihat adiknya berciuman mesra secara eksklusif di dapur menbuat ia mengurungkan niat dan memilih untuk menonton tanpa popcorn dan juga minuman. Ia bahkan sempat memotret itu untuk menggoda adiknya.
"Makanya tau tempat dong adikku sayang, biar leluasa tuh dikamar bukan disini hahaha. Masih pemula mana tau wkwkwk, keliatan banget ngk tau apa-apa hahaha. " Alvin langsung ngacir takut digorok sama Albar.
"Sayang, kamu dimana? " Albar mendekat kearah zhia yang masih bersembunyi dengan menutup wajahnya malu.
"Sayang kamu kenapa? Kamu sakit? "
Zhia masih saja diam dan menutup wajahnya malu. Apa hanya dia yg malu? Albar tak malu kah? Benar-benar sudah hilang urat malunya.
"Sayang kamu kenapa? Ngkpp kan? "
"NGKPP GIMANA MAS? IHH AKU MALU TAU. " Zhia sampai ngegas saking keselnya.
"Loh kok kamu marah sih sayang? Kamu malu karena mas nyium kamu? Kita kan udah sah apa musti dimaluin sih. Atau kamu malu punya suami kayak aku? " Albar langsung mode anak gadis datang bulan. Kalau gini ngambeknya pasti lama.
Zhia berdecak sebal, mau ngambek aja ngk bisa. Harusnya kan yang ngambek itu zhia bukan Albar.
"Ngk gitu sayang, aku kan malu diliatin las ciuman gitu. Kamu sih mas kan aku ngk biasa. " Zhia langsung melembutkan suaranya. Suami manjanya itu sungguh menbuat ia seperti seorang bucin saja.
Albar langsung mengangguk faham"Jadi kamu suka kan dengan ciuman dari mas tadi? "
Pertanyaan yang sungguh menjebak sekali. Kalau dibilang iya Albar pasti akan melakukan itu lagi dan lagi bahkan didepan umum sekalipun. Kalau bilang tidak Albar pasti bakal kesel dan ngambek zhia harus pilih mana sih?.
__ADS_1
"Hmm iya sayang. " Dengan segala keterpaksaan zhia tersenyum kikuk.
"Iya apa nih sayang? Kurang jelas soalnya "
"Yatuhan suamiku ini, pengen santet tapi ngk mau jadi janda. " Batin zhia kesal.
"Iya sayang, aku suka dengan ciuman mas tadi. "
"Berarti mau lagi dong, sini mas kasih lagi deh. "
Benar saja pikiran zhia, buru-buru ia mundur.
"Mas mandi dulu dong, air udah aku siapin mas. Lagian bentar lagi kan makan malam udah mau dimulai mas. " Zhia.
Albar mendengus kecewa " Yah kan tapi masnya masih pengen sayang. "
"Mas mau yang lain kelaparan? "
"Kamu juga tega dong nyiksa mas gini. "
"Yatuhan suamiku kenapa begini sih? " Batin zhia pasrah.
"Bukan gitu sayang, nanti yah abis makan malam aku kasih mas ciuman deh. "
"Janji yah sayang, liat aja kalo boong. "
"Makanya mas mandi yah, yang bersih mandinya terus turun ke bawah buat makan malam."
"Biar mas mandinya bersih mandiin dong hany. " Bibir tersenyum smirk itulah ekspresi Albar saat ini.
Zhia langsung bergidik ngerti melihat itu"Yaudah aku mandiin tapi abis itu ngk bisa dapet apa-apa lagi termasuk ciuman yah. "
"Mas mandi sayang, bye. " Albar pergi dengan cepat setelah mendapat kan ancaman keramat itu. Tidak lupa ia layangkan kiss bye.
Zhia tersenyum merasa lucu dengan Albar suaminya itu.
🍁🍁Bersambung 🍁🍁
Aduhh kalau udah bucin mah ngk ada obat lagi wkwkk.
Alvin kakak ipar ku😍paling gokil dah. Mulutnya ngk pernah disekolahin keknya wkwkw akhlak not found 😄
__ADS_1
Jangan lupa yah like, komen dan vote😍
Pai pai say🍁