Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
95. Semakin jatuh cinta


__ADS_3

๐Ÿ๐ŸMenghilangkan rasa cinta tidak semudah memulai sebuah rasa cinta ๐Ÿ๐Ÿ


Zhia tersenyum setelah mendapatkan telepon dari Albar. Memang sangat lucu saat Albar bersikap seperti itu walau terkadang Zhia benar-benar kesal dibuatnya.


"Astagah sampai lupa. " Zhia barulah sadar bahwa ia melupakan buk sarah diluar.


Dengan senyuman ramah Zhia datang dengan keranjang berisi minuman juga makanan sama seperti saat ia dirumah Albar dulu. Ia jadi teringat dengan pak sarip, mereka sudah lama tak pulang kerumah karena ayah tak mengizinkan itu.


"Buk, mari istirahat dulu. " Zhia menyiapkan karpet berukuran sedang dengan beberapa jenis makanan juga minuman disana.


Ibu Sarah yang masih saja bekerja itu langsung kaget dengan apa yang disiapkan oleh Zhia itu.


"Tidak usah neng, saya jadi ngerasa ngk enak. Bagaimana kalau tuan muda melihat ini? Bisa-bisa saya kena marah neng. "


"Tidak apa-apa buk, jangan sungkan saya mohon. Mas Albar tak akan marah buk dia itu sangat baik. Lagian sudah dari tadi saya lihat ibu bekerja, beristirahat dulu buk. " Zhia berjalan kearah buk Sarah lalu menuntunnya menuju karpet yang sudah disediakan oleh Zhia.


Zhia tau bagaimana rasanya, ia pernah merasa kan diposisi buk Sarah, merasa tak pantas dan rendah diri.


"Saya benar-benar sangat sungkan neng, bagaimana kalau tuan muda dan tuan besar salah faham? Mereka bisa memecat saya neng. "


Zhia ikut duduk setelah ibu itu duduk, dengan pelan ia memegang tangan ibu Sarah dan tersenyum hangat.


"Ibu tidak usah takut dan Sungkan. Keluarga ini sangat baik dan juga dermawan, apa yang membuat ibu merasa takut? "


"Ibu merasa tak pantas duduk begini dengan neng Zhia, saya merasa sangat rendah neng. "


Zhia tersenyum menggeleng"Kita tidak berbeda buk, saya juga berasal dari keluarga rendah bahkan saya adalah anak yatim piatu yang berasal dari kampung. Ibu tidak usah sungkan kepada saya, anggap saja saya adalah putri ibu. "Zhia tersenyum dan ibu itu terharu mendengar nya.


" Hatimu sangat mulia neng, pantas saja tuan muda sangat mencintai neng, saya doakan neng semoga kedepannya bahagia selalu menyertai neng. "


Zhia tersenyum mengangguk lalu menuangkan minuman untuk buk Sarah.


"Aamiin Terima kasih buk atas doanya, silahkan diminum buk. "


Sejak tadi Zhia tak sadar bahwa ragil sedang duduk dibawah pohon memandangi wajahnya, mendengarkan pembicaraan nya dengan buk Sarah.


Jantung nya tak hentinya berdetak kuat, rasa cintanya kian bertambah pada bibinya itu.


"Gimana ngk makin cinta orang baiknya baik Banget, duhh bisa gila gua lama-lama. " Ragil merutuki kebodohan nya karena masih saja menyimpan rasa yang terlarang ini. Bagaimana mungkin ia berharap pada seorang gadis yang sudah menikah dan itu adalah istri dari pamannya sendiri belum lagi gadis itu sudah sangat jelas tidak memiliki perasaan lebih padanya.


"Akhh,, " Ragil merasa frustasi dengan hatinya sendiri.


"Gua harus cari cara biar gua bisa lupain dia, gua ngk bisa gini terus. Kalau gua ngerebut dia sama aja gua hancurin kebahagiaan dia. "


Ragil terus saja bergumam dan sesekali berteriak frustasi apalagi saat melihat Zhia tersenyum dan tertawa saat berbicara dengan buk Sarah ia merasa jantung nya seakan hampir saja meledak.

__ADS_1


"Loh ragil, kamu ngapain disana? " Zhia yang sedang bercerita dengan buk Sarah tak sengaja mendengar suara suara dari arah ragil yang tak jauh dari tempat nya.


Ragil langsung saja merasakan kalau jantung nya hampir saja melompat dari sarangnya. Bagaimana tidak, ibarat tuh kita lagi asyik-asyiknya mandangin si doi tiba-tiba doi liat dan nanya kita lagi ngapain.


Ragil bangkit berdiri dengan gaya cool padahal sudah terlanjur malu"Ngk kok, gua lagi ngehirup udara segar aja. Sumpek dikamar tadi. "


Zhia mengangguk faham lalu tersenyum kearah ragil"Sini gabung aja sama kita yah kan buk. "


"Lu sih nyaman nyaman aja, lah gua? Mana tahan. Jangan udah mau pecah sekarang. Gimana udah deket." Batin ragil.


"Hmm gua masih ada urusan, lu lanjut aja. " Ragil memilih pergi.


Buk Sarah melihat kearah mereka dengan bingung.


"Neng kalau boleh tau, kenapa den ragil ngomong nya gitu sama neng? Padahal kan neng itu adalah istri dari pamannya sendiri. Memang sih ibu liat umur kalian deket gitu, apa tuan muda ngk marah kalau den ragil ngomong nya ngk sopan sama bibinya sendiri? " Ibu Sarah terlihat benar-benar bingung.


"Ah itu buk, awalnya sih mas Albar marah kalau ragil ngomong nya agak santai sama aku. Tapi karena kami pernah satu kelas jadi aku lebih nyaman aja ragil bersikap seperti biasa buk dan akhirnya mas Albar juga keluarga yang lain ngk permasalahin itu. "


Ibu itu mengangguk faham.


"Wahh menantu sedang apa? Sedang piknik yah. " Ayah yang baru saja datang dari arah luar mungkin sedang melakukan aktivitas lain diluar rumah tadi.


Buk Sarah yang awalnya sangat merasa nyaman langsung bangkit dan menunduk kearah ayah. Wajahnya terlihat sangat pucat dan takut.


"Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud untuk bersantai begini, saya yang salah tuan. " Tiba-tiba saja buk Sarah mengatakan itu dengan suara bergetar.


Padahal Ayah sangat baik kenapa dia begitu takut yah? Memang sih Ayah terkadang suka keras kalau masalah memerintah itu hanya untuk mempertahankan wibawanya saja. Kalau sebenarnya sih Ayah itu berhati lembut.


Zhia berjalan kearah buk sarah dan membantunya untuk tetap tegak. Sekarang Zhia lah yang menunduk.


"Maaf Ayah kalau ini menyalahi, aku yang mengajak buk Sarah untuk beristirahat dan makan disini Ayah. Kalau Ayah tidak suka Ayah bisa marah pada Zhia. "


Ayah tersenyum melihat menantu nya itu, ia perlahan mendekat lalu mengelus surai hitam menantunya itu.


"Kenapa formal sekali menantu? Ayah kan hanya bertanya tadi. " Ia tersenyum sangat lebar.


"Lanjutkan saja menantu, Ayah minta maaf yah karena sempat menganggu tadi. "


"Heheh Ayah tidak mengaggu kok, kalau tidak keberatan Ayah bisa ikut bergabung. " Zhia tersenyum.


"Ayah sih pengen banget gabung tapi Ayah masih mau ngurus sesuatu. "


"Ayah permisi yah, silahkan dilanjutkan buk Sarah, jangan sungkan dengan menantu saya. Dia itu anak yang baik. "


Zhia jadi tersipu malu saat Ayah mertuanya memuji tepat dihadapannya.

__ADS_1


Ayah tersenyum memasuki rumah, ia masih mengingat pertama kali Albar membawa Zhia kerumah itu. Sangat polos, ramah juga pemalu. Sampai sekarang ia masih saja seperti itu.


"Halo Ayah. " Albar yang sedang bekerja tiba-tiba ditelpon oleh Ayahnya.


Ayah tersenyum sembari duduk, jadi urusan yang Ayah sebutkan itu adalah bergosip dengan Albar yah๐Ÿ˜„.


"Kamu tau tidak apa yang Ayah lihat hari ini? " Ayah memulai pembicaraan.


Albar memicing lalu kembali fokus ke layar ponsel nya"Memangnya Ayah melihat apa? "


"Istri kamu, "


"Kenapa dengan Zhia yah? Zhia kenapa? Sakit? Jatuh? Atau gimana? " Albar langsung kaget dan bangkit dengan ponsel melekat ditelinga nya.


"Tenang dulu, kamu kenapa sih? Ayah kan ngk bilang kalau zhia jatuh. Makanya dengerin dulu. " Kesal sang ayah.


"Istri kamu sedang menabur banyak bunga dirumah ini, sangat baik hati, ia sangat peduli dengan orang orang kecil, kamu tau hari ini ia menjamu buk Sarah tukang taman kita. Kamu mana pernah melakukan itu, bersyukur lah bisa menikahi menantu ku. " Ayah sangat senang Hanya karena hal kecil itu.


Albar tak bisa untuk tidak tersenyum, jujur, saja ia mengakui itu. Ia bersyukur memiliki kesempatan untuk mencintai dan dicintai oleh Zhia.


"Kamu cepatlah kasih Ayah cucu, pasti akan sebaik ibunya. Jangan sampai ia mewarisi sifat batu mu itu. "


Albar awalnya kesal mendengar itu tapi ia juga mengakui kalau ia sangat bertentangan dengan sifat Zhia.


"Ayah bersabar lah, aku sedang berusaha. Ayah sih gangguin aku tadi malam. " Kesal Albar dengan nada menuding.


Ayah tertawa karena itu"Wahh jadi gara-gara itu kamu tak mau melihat Ayah tadi malam, mana hentak hentak kaki lagi hahaha, piring juga pecah satu kamu buat. "Ayah mengejeknya.


Albar lagi-lagi semakin kesal. Benar-benar digantung itu menyiksa sekali baginya.


" Lain kali Ayah jangan gitu yah, aku ngk mau digangguin apalagi pas mau inti. "Kesal Albar.


Ayah tertawa dengan keras.


" Hahahah iya iya Ayah minta maaf. "


Mereka terus saja berbicara di telpon dengan sesekali saling berdebat dan sesekali saling menggoda juga.


๐Ÿ๐ŸBersambung ๐Ÿ๐Ÿ


Dahlah kalau papah mertua mah ada ada aja tingkahnya ๐Ÿ˜„


Jangan lupa yah like, komen dan vote๐Ÿ˜


Pai pai say๐Ÿ

__ADS_1


__ADS_2