
🍁🍁 Aku percaya setelah hari-hari yang mendung akan datang hari yang cerah🍁🍁
Zhia sedang duduk diatas kasur menunggu Albar yang masih saja didalam kamar mandi mungkin sedang melakukan aktivitas nya disana.
Zhia mencoba untuk mengambil bukunya diatas nakas namun satu langkah saja ia bergerak sungguh terasa perih di pangkal pahanya.
"Akhh, " Ringisnya pelan.
Albar yang baru keluar dari kamar mandi pun langsung berlari ke arah zhia.
"Masih sakit yah sayang? " Zhia langsung mengangguk.
"Yaudah kamu bilang aja mau aku ambilkan apa sayang? Jangan dipaksa kalau masih sakit. "
Zhia mengangguk saja saat Albar menggendong tubuhnya dan mendudukkan zhia diatas tempat tidur.
"Albar, kalian sedang apa disana? Guru privat nya sudah datang nih. "
Teriak ayah dengan keras dari bawah hingga Albar yang sedang memakai pakaian itu langsung buru-buru.
"Mas, aku ngk usah sampai digendong gini, aku malu apalagi ayah ada dibawah. "
Albar tertawa ringan "Yahh kenapa malu sayang? Nanti bilang aja lagi males jalan heeh. "
Albar menggendong tubuh zhia menuju ruang depan disana ayah sedang menunggu dengan guru privat nya zhia. Ayah melihat heran kearah Albar yang tengah menggendong zhia itu dengan heran.
Ayah mendekat kearah mereka dengan wajah khawatir "Kenapa dengan mu menantu? Apa kamu sakit? "
Namun melihat wajah zhia yang malu-malu itu dan wajah Albar yang cerah juga tersenyum senang itu sang ayah langsung faham.
"Sana antar istrimu kesana, lalu ikut ayah kesana. Jangan ganggu dia belajar. " Ayah tersenyum gemas melihat putra bungsunya itu.
Albar mendudukkan zhia diatas sofa dan menunduk menyapa guru privat nya zhia.
"Kalau perlu apa-apa panggil mas aja yah sayang. "Zhia langsung mengangguk mendengar itu.
Albar berjalan kearah ayahnya yang sedang duduk itu, ia masih saja memperhatikan zhia yang sedang belajar itu.
" Kenapa kamu tidak masuk kantor hari ini? Semalam juga kalau tidak salah kamu libur juga kan? "Ayah memulai pembicaraan dengan pelan takut mengganggu menantunya yang sedang belajar itu.
Albar masih saja tersenyum melihat zhia yang sedang fokus belajar itu.
" Kalau zhia tidak sedang belajar mungkin sudah ku terkam sekarang juga, duh kenapa masih ngerasa kurang aja sih. "Batin Albar.
" Hei, "
"Ayah kenapa sih? Kenapa Albar malah dipukul sih? " Kesal Albar saat ayahnya memukul bahunya sedikit keras tadi.
Ayahnya tertawa karena melihat putra nya itu.
"Sudah masuk gawang rupanya? " Goda sang ayah hingga Albar melihat kesal kearah ayahnya.
"Ayah apaan sih? Ngk jelas banget. "
__ADS_1
"Gimana? Enak ngk? " Lanjut sang ayah meskipun putra nya kini masih saja tak ingin memulai pembicaraan ini.
"Kamu ganas juga yah ternyata. " Ayahnya lagi-lagi tak mau diam.
"Ayah apaan sih? Jangan aneh-aneh deh. " Kesal Albar.
"Lain kali jangan perlihatkan terlalu jelas yah, habis seluruh badan istri kamu merah-merah. " Tawa sang ayah hingga Albar melihat kesal kearah ayahnya.
"Ihh gini nih aku paling males nanggepin ayah. Suka jahil jadi orang. "
"Mau ayah kasih tips ngk bkar kamu makin sering dapet jatah? "
Albar melihat kearah ayahnya dengan pelan namun dengan cepat ia menggeleng.
"Albar punya cara sendiri, ngk butuh. " Albar memilih bangkit dan mendekat kearah zhia yang sibuk belajar itu. Meladeni ayahnya sering kali membuat ia kesal.
Albar tak hentinya menatap kearah zhia yang sibuk menulis dan mendengarkan tutornya itu. Sampai sampai guru privat nya zhia saja tersenyum karena melihat kelakuan Albar itu. Mereka sengaja mencari guru privat yang umurnya sudah sedikit tua dan itu perempuan. Albar ngk mau zhia dekat dekat dengan pria lain wlaupun itu adalah guru privat nya sendiri.
"Mas kenapa sih kesini? Jangan ganggu dulu. " Zhia baru sadar Albar sedang memandangi nya sejak tadi.
"Mas kan cuma ikut belajar, ngk ganggu kok. Ya kan bukan? "
Ibu itu langsung mengangguk saja padahal ia sejak tadi sudah tau gelagat Albar itu.
"Setelah ini harusnya begini kan buk? " Zhia menunjukkan hasil pekerjaan nya kearah guru privat nya dan ternyata ia menjawab dengan benar.
"Kamu sangat cepat menangkap pelajaran nya. Ibu jadi mudah dalam mengajar. "
Albar langsung mengelus pucuk kepala zhia dengan lembut hingga zhia kaget.
"Cih, padahal kan dia selalu mengataiku dungu selama ini. Kenapa sekarang malah ngomong aku ini pintar?" Batin zhia.
Hari sudah sore dan zhia sudah selesai dalam belajar nya. Albar kini masih sibuk menunggu sampai zhia selesai mengerjakan tugasnya.
"Mas, kamu pindah ke kamar aja yah. Nanti pegel pegel kalau tidur disini. " Zhia melihat Albar sudah ketiduran karena menunggu.
"Kita ke kamar bareng yah. " Albar mendengus didekat zhia.
Zhia yang masih menulis itu langsung terganggu karena Albar sudah mendusel-dusel lehernya.
"Mas ih, nanti ada yg liat ih. Mas ke kamar aja gih tidur. "
"Ih maunya bareng, kita ke kamar yah sayang. Hmmm. "
"Aku masih ngerjain tugas nih mas, nanti kalau udah ke kamar masnya pasti gangguin aku. "
"Iih ngk bakal ganggu deh, janji. "
"Mas ke kamar yah, nanti aku nyusul deh kalau udah selesai. "
"Gimana mau nyusul, itunya kamu kan masih sakit. Mas gendong sekarang aja gimana? "
"Ngk mau, mas duluan aja deh. "
__ADS_1
Albar bangkit dari sofa dan berjalan kesal ke kamar. Ia cemberut dan merajuk karena ditolak oleh zhia.
Zhia yang melihat itu hanya tersenyum gemas. Kenapa sekarang Albar sangat jauh berbeda, begitu lembut dan menggemaskan.
Zhia kembali fokus mengerjakan tugasnya namun baru beberapa saat Ragil datang dengan tasnya menuju zhia.
"Eh ragil, kok baru pulang? "
Ragil tersenyum dan duduk disamping zhia"Biasa, ngewarnet dulu. Gimana belajar lu hari ini? "
Ragil memang tau kalau Albar sudah berubah dan mencintai zhia. Ia hanya belum bisa menghilangkan perasaan nya. Semoga saja ia benar-benar bisa move on dari bibinya itu.
"Lumayan lah gil, nih lagi ngerjain tugas. "
Ragil melihat tugas yang zhia kerjakan dan ia sangat kaget bahwa zhia mengerjakan nya dengan benar. Biasanya gadis ini sangat kesulitan saat mengerjakan sesuatu.
"Gimana gil? Bener ngk? "
"Wahh kenapa nih? Makin pinter aja lu. " Ragil mengelus pelan surai hitam nya zhia namun mereka langsung merasa canggung setelah itu.
"Ehh sorry sorry. "
"Embb ngkpp kok gil. "
Ragil tak sengaja melihat bekas tanda kemerahan yang jumlahnya tidak sedikit diarea leher zhia dan errr belahan dadanya juga terdapat bekas cupangan. Ragil langsung mengepal kan tangannya. Ia tahu itu adalah perbuatan Albar dan ia kesal saat tak bisa berbuat banyak. Hatinya cemburu tanpa sebab.
"Eh gil kamu mau ngapain? " Zhia kaget saat ragil mendekat dan menyentuh bekas kemerahan itu.
"Akhh,, ragil kenapa dicubit sih? " Kesal zhia saat ragil mencubit lehernya zhia tepat diarea bekas kemerahan itu.
"Gua mau gantiin sama bekas gua sendiri. Tapi ahh sudahlah. "
Zhia yang mendengar itu lagi-lagi merasa tak nyaman. Ia Sungguh merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan ragil.
"Heh kalian ngapain? " Albar datang dari arah kamar dan menatap kesal dan curiga saat melihat ragil dan zhia duduk berdekatan.
Albar turun dari kamar dan berjalan dengan cepat kearah mereka.
"Ngapain kalian? "
"Mas, kenapa sih marah-marah gitu? " Zhia kaget karena Albar datang marah-marah.
Ragil memutar bola mata jengah melihat pamannya itu.
"Biasa aja keles, orang ngk ngapa-ngapain kok. Takut banget sih ragil ngerebut zhia. "
Dengan selow ragil mengatakan itu sembari meledak pamannya kemudian melangkah pergi.
🍁🍁Bersambung 🍁🍁
Wkwkwkw udah manjah, ngambekan dan cemburuan 🤣🤣komplit deh wkwk.
Jangan lupa yah like, komen dan vote😍
__ADS_1
Pai pai say🍁