
๐๐kau terlalu percaya dengan apa yang kamu percayai, tanpa tau kalau saat kita sedang mencoba untuk percaya disitu jugalah kita harus siap untuk kecewa ๐๐
ย ย Setelah kepergian Albar Naya langsung merasa lega karena Albar langsung mengerti dan mau saja menerima alasannya itu.
Naya mengambil ponsel dari HP nya dan mengubungi sebuah nomor.
"Sayang, dia udah pergi tuh kamu datang yah." Naya langsung mematikan sambungan saat seseorang dari seberang sana menyahut setuju.
"Sayang, kamu harus lebih berhati-hati lagi sekarang. Albar sudah mulai curiga dengan ku. " Naya menarik pria dihadapan nya kedalam kamar.
"Sial, pukulannya kuat juga tadi. Kalau bukan karena kamu aku sudah membalas nya karena sudah lancang memukul wajah berharga ku. " Kesal pria bernama dion itu.
"Duh gimana sayang? Masih sakit yah? Maaf yah. " Naya mencium sekilas bekas pukulan itu hingga dion tersenyum senang.
Cup,
"Kalau kamu cium gini ngk sakit lagi kok sayang. " Dion menarik Naya hingga jatuh keatas tempat tidur.
Awalnya mereka hanya sekedar berciuman saja hingga kini tak ada yang tau siapa yang lebih dulu memulai kini mereka sudah sama-sama tidak mengenakan sehelai benang pun.
"Aku masukin yah sayang? " Dion dengan wajah yang sangat terangsang.
Naya langsung mengangguk tersenyum. Dan malam ini mereka melakukan itu hingga beberapa kali.
"Mungkin untuk beberapa saat kita jangan dulu bertemu sayang, aku takut Albar akan lebih curiga lagi. Belum lagi ia terus saja mengajak ku untuk berhubungan intim. Namun, sejauh ini aku masih bisa meyakinkan ia untuk bersabar. Aku takut ia akan semakin tidak sabar dan memaksaku untuk melakukan itu. Bagaimana kalau ia sampai tau kalau aku ngk virgin lagi? Bisa hancur semua rencana kita. Si tua bangka ayahnya Albar juga tidak tau kapan akan memberikan harta warisan itu. " Kesal Naya.
"Kamu bersabar yah Sayang. Tidak akan lama lagi kita akan kembali bersama. "
Mereka kembali berciuman dan melakukan itu lagi dan lagi.
19.35Pm.
"Bruak." Pintu rumah dibuka kasar oleh seseorang yang kutebak itu adalah mas Albar.
__ADS_1
Kenapa ia baru pulang jam segini? Sudah hampir jam 20 barulah ia pulang. Apakah ia punya banyak pekerjaan yah di kantor.
Buru-buru ku matikan api kompor lalu datang kearah pintu depan kulihat mas Albar sedang berdiri disana dengan wajah marah.
"Sial, kenapa ia berani dekat dengan laki-laki lain? Sial. " Ku dengar mas Albar terus saja mengumpat marah juga kesal.
"Tuan, apakah tuan baik-baik saja? " Tanyaku bingung kearah mas Albar hingga ia berbalik kearahku dengan mata yang masih memancarkan aura kemarahan.
Ia berjalan dengan pelan kearahku dengan wajah mengerikan itu.
"Aku sedang kesal sekarang dan aku sedang butuh pelampiasan. Akhh pusing sekali. " Ia terus saja berjalan kearah ku hingga mau tak mau aku juga harus mundur kebelakang hingga mentok di dinding.
"Tu,, tuan mau apa?" Bingung ku melihat kearahnya yang kini benar-benar sudah berada di hadapan ku dengan mata yang memandang lurus kearah manik mataku.
"Saya sedang buntu saat ini, saya butuh kamu untuk sekedar membuang rasa kesal ku. " Tiba-tiba mas Albar semakin mendekat kan wajahnya kearahku.
Aku mengerti dengan gelagat nya ini. Walaupun alun hanya seorang gadis desa bukan berarti aku tidak tau. Aku sudah sering menonton drama dan aku tau sedang apa mas Albar ini.
Tuk,
"Ah maaf tuan, saya masih harus melanjutkan acara memasak saya. Air sudah saya siapkan dan makanannya akan segera saya hidangkan diatas meja makan. Permisi tuan. " Langsung saja aku berlari menuju dapur dengan jantung yang tak bisa tenang tanpa sebab.
"Sial, sedang apa kamu Albar? Kalau kamu sedang butuh pelampiasan. Bukan dia orangnya? Kenapa kamu hampir saja lepas kendali? Apa yang kamu lihat darinya? Dasar. Mengurangi standar saja. " Kesal Albar pada dirinya sendiri lalu berjalan kesal keatas kamar untuk mandi dan membersihkan dirinya.
"Sial, kenapa dengan ku? Kenapa tiba-tiba aku melihat ia sebagai seorang wanita tadi? Apa aku benar-benar akan mencium nya tadi? Wahhh apa Karena terlalu diburu cemburu pada Naya aku semakin kalut saja? " Albar membuka satu persatu pakaian yang ia kenakan dan langsung memasuki kamar mandi.
"Huh? Kenapa dengan mas Albar tadi? Apa aku terlihat gampangan yah dimatanya? " Kesal zhia karena tiba-tiba saja ia merasa Albar berlagak aneh tadi.
"Ck, dia pikir dia siapa sampai memandang rendah diriku ini? Aku memang alat ataupun seseorang yang ia beli tapi bukan berarti ia bisa semena-mena ingin melakukan itu padaku. " Zhia terus saja berdumal kesal sembari melanjutkan masakan nya itu.
"Kamu harus lebih berhati-hati zhia, mas Albar bukanlah orang yang bisa kamu percaya dengan mudah. Kamu harus memberikan batasan dan membuat benteng yang kokoh diantara kalian. Agar bisa tak semudah itu menganggap mu sebagai wanita gampangan. "
"Lagian dimana mbak Naya? Apa ia masih belum juga bertemu dengan mbak Naya? Lagian kalau pun tidak bertemu bukan berarti ia bisa melakukan hal tadi padaku. Akhhh kenapa memikirkan nya membuat ku jadi kesal sih? " Zhia.
__ADS_1
Setelah semua makanan sudah disediakan diatas meja makan. Zhia mencoba untuk melatih dirinya bersikap biasa saat bertemu dengan Albar. Ia tak mau ada rasa canggung diantara mereka. Hidup saling dingin saja sudah membuat nya frustasi bagaimana jika ditambah lagi dengan rasa canggung. Bisa-bisa rumah ini akan jadi terasa seperti neraka baginya.
"Huh, kamu pasti bisa zhia. "
Perlahan ia membuka pintu dan melihat Albar sudah berbarimg diatas tempat tidur dengan memegang HP nya.
"Hmmm tuan, makanan sudah saya siapkan. " Zhia mencoba untuk tetap netral saja walaupun rasa canggung masih dapat ia rasakan.
"Bagaimana bisa ia bersikap biasa saja setelah kejadian tadi? Apa dia se murahan itu yah hingga menganggap nya biasa saja? " Batin Albar.
Albar masih saja tak mau beranjak dari kasurnya. Jangankan beranjak bahkan untuk menoleh dan menyahut ia tak mau.
"Tu,, tuan. Apakah tuan masih belum lapar juga? " Tanya zhia lagi meyakinkan Albar.
"Baiklah, kalau dia bisa kenapa kami tidak bisa? Bersikap lah seperti biasa. Kamu bukanlah seorang Abg. " Batin Albar.
"Baiklah saya bangkit, kamu kenapa sewot sekali sih? Ck. " Albar bangkit dan menuruni anak tangga begitu juga dengan zhia yang mengikuti dari arah belakang.
Albar pun makan diatas kursi "Kamu tidak ingin makan juga? " Tanya Albar.
"Saya masih belum lapar tuan? "
"Sebenarnya kamu makan berapa banyak sih tadi? Setiap saya panggil untuk makan kamu selalu berkata belum lapar. Yasudah terserah kamu saja. Bukan urusan saya juga. " Albar memilih untuk fokus makan.
"Kalau bukan urusanmu mas kenapa malah sibuk begitu? " Batin zhia berdumal.
"Lihatlah dia, bahkan setelah kejadian tadi ia masih saja bersikap biasa saja. Apa aku memang serendah itu dimatanya? Ck membuat ku tersinggung sekali. " Batin zhia kesal.
๐๐bersambung๐๐
Gini nih kalau saling ngomong dalam hati wkwkwk saling salah faham wkwkw
Jangan lupa yah like, komen dan vote๐
__ADS_1
Pai pai say๐น