Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
73. Luka dan pilu


__ADS_3

๐Ÿ๐ŸSaat orang yang kamu anggap baik ternyata tega, apa yang akan kamu lakukan setelah nya? ๐Ÿ๐Ÿ


Zhia pov:


ย ย  Alarm ku berbunyi sangat lantang seperti biasanya, aku dengan pelan bangkit dan melakukan sedikit peregangan pada persendian ku yang terasa pegal. Entah kenapa pagi ini aku merasa sangat segar sekali. Apa karena sudah beristirahat semalaman yah.


"Astagah."


Aku sangat kaget saat melihat mas Albar yang sedang tertidur di pinggir kasur dengan kursi. Dan kulihat tangannya memegang handuk kecil.


Kenapa ia tidur disitu? Kalau tidak salah dia kan tidur disamping ku tadi malam.


"Tuan, bangun tuan? " Aku mencoba untuk membangunkan mas Albar yang sedang tertidur itu.


Perlahan manik matanya bergerak dan mulai membuka nya.


"Bagaimana? Sudah mendingan? " Aku mengeryit heran mendapat pertanyaan itu.


"Hah? "


Mas Albar mendekat namun dengan cepat aku sedikit menjauh dan mas Albar langsung menarik ku lebih dekat kemudian ia meletakkan tangannya dikeningku.


"Sudah mendingan ternyata." Mas Albar melihat kearahku dengan tatapan khawatir.


Kenapa dengan nya? Apa yang mendingan? Dan aku baru sadar setelah melihat kain ditangan nya itu. Apa mas Albar merawatku semalaman yah?.


"Tuan tidur disana? " Aku merasa heran.


Ia dengan cepat mengangguk "Semalaman kamu meringis karena demam. Saya tidak tega melihat nya. Ahh sudahlah sudah lewat juga." Mas Albar bangkit dan melakukan sedikit gerakan gerakan olahraga.


Aku jadi merasa heran, kenapa tiba-tiba ia sebaik itu padaku? Tumben sekali ia tak mengeluh karena sudah menyusahkan nya.


"Eh maaf tuan saya hampir lupa untuk menyiapkan air untuk tuan mandi. " Aku bangkit dari kasur namun ditahan oleh mas Albar.


"Tidak usah, kamu langsung mandi saja, hari ini kamu sekolah kan? " Mas Albar bertanya lagi dengan wajah sedikit tersenyum.


Eh? Kenapa dia tersenyum? Apa aku salah lihat yah? Pasti salah lihat gara-gara habis demam jadi tidak fokus begini.


"Baiklah tuan, " Aku bangkit menuju kamar mandi membawa handuk juga pakaian sekolah ku.


Kami melakukan acara sarapan pagi bersama dimeja makan. Ayah dan yang lain tau kalau aku masih menduduki Bangku SMA. Aku sangat heran mereka tak berkomentar sama sekali, apa ini tidak aneh yah bagi mereka? Umur ku dengan mas Albar sangat jauh.


"Bagaimana menantu? Apakah kamu sudah mendingan? " Tanya ayah dengan pelan.


"Sudah ayah," Ucapku pelan.

__ADS_1


"Eh ayah baru sadar kalau kalian berada di sekolah yang sama. Wahh berarti ragil bisa dong menjaga bibinya disekolah. " Ayah dengan senyuman yg sangat kembang.


Aku melihat kearah ragil yang juga melihat kearahku namun tatapannya seolah mengatakan kalau ia sangat membenciku. Duhh bagaimana ini? Aku ingin menjelaskan semuanya tapi aku tidak tau harus memulainya dari mana. Belum lagi ragil tak pernah mau mendengarkan ku. Melihat ku saja ia tak sudi.


Aku dan ragil langsung diam seperti patung didalam mobil yang mas Albar kendarai itu, ayah memang sangat suka memaksa kehendaknya. Seperti tadi Ragil sudah menolak berkali-kali untuk diantar ke sekolah dengan ku. Ayah masih saja memaksa hingga terjadilah perang saling diam ini.


"Khem, Ragil kamu kenapa terlihat berbeda akhir akhir ini? " Mas Albar memulai pembicaraan di mobil itu.


"Tidak ada paman,"


Mungkin mas Albar faham kalau saat ini ragil sedang tidak mood, anak SMA sangat mengerikan kalau berbicara tentang mood, kalau sudah ia katakan tidak maka tidak. Dan itu tidak bisa diganggu gugat.


"Sayang, apa aku perlu menjemput mu nanti? " Tiba-tiba mas Albar memanggilku lagi-lagi dengan sebutan sayang. Yatuhan aku ingin muntah saat ini juga.


Aku tau dia sedang ber-akting karena ada ragil disana. Mau tak mau aku harus melanjutkan permainan ini.


"Tidak perlu sayang, aku pulang sendiri saja. " Aku ingin mencuci mulutku


Saja karena sangat geli setelah mengatakan itu.


Ragil mengeluarkan earphones prangkat Bluetooth dari kantongnya dan memakainya. Aku tau ragil pasti tidak nyaman karena percakapan kami. Aku sungguh semakin merasa buruk saja dihadapan ragil.


Sudah berapa kali aku menunjukkan sisi burukku didepannya, mulai dari mas Albar mencium ku berkali-kali dihadapannya dan masih banyak hal lainnya. Aku sungguh ingin hilang saat ini.


Setelah mas Albar pergi ragil langsung pergi begitu saja,sungguh ia benar-benar ingin menjauh dari ku. Aku ingin mengejar nya namunย  tak jadi saat banyak sekali pasang mata melihat kearah ku. Aku takut ragil akan ikut dibully jika aku dekat-dekat dengan nya. Seketika langkah ku mengecil dan tak jadi mengejarnya.


"Gila wehh, udah ngk waras keknya. Kalau gua jadi dia gua ngk bakal mau lagi datang kesekolah. Udah putus kali yah urat malunya. " Aku mendengar bisik-bisik disekitar ku saat sedang berjalan menuju kelas.


Kenapa kelas ku sangat jauh sih? Aku sungguh tak nyaman saat berjalan seperti ini. Mendengar bisikan mereka membuat hatiku yang menjadi sakit. Aku harus kuat, tapi aku Sungguh merasa sakit saat mendengar mereka membicarakan hal yang tak pernah kulakukan sama sekali.


Seperti biasa mereka akan menjauh saat aku datang ke kelas, aku diperlakukan seperti sebuah benda haram saja. Mereka sangat enggan untuk dekat dengan ku.


Meja ku lagi-lagi sudah dipenuhi dengan tulisan, dan kali ini lebih ramai dengan banyak warna. Aku terdiam dan menahan sakit membaca setiap tulisan berupa umpatan mereka. Apa sebenarnya salahku? Kenapa mereka tak mau mendegar penjelasan ku sedikit pun? Aku tidak seperti yang mereka kira. Aku tak pernah menjadikan tubuhku sebagai sarana ku menjadi seorang model. Aku tak pernah mencoba untuk menggoda om-om untuk mendapatkan uang. Mas Albar adalah suamiku walaupun sebenarnya status kami hanya sebatas hubungan saling memiliki tujuan masing-masing.


Tanganku terkepal menahan rasa sakit dan kesal. Aku melihat kearah mereka dengan pelan. Tatapan mereka semua mengatakan seolah aku adalah makhluk paling hina diantara mereka. Sangat jauh berbeda dengan saat aku pertama kali masuk kesini.


"Kalau dia ngeliatin gua, ja*ang nya nular ngk yah? " Ucap seorang diantara mereka dan langsung disambut gelak tawa.


Aku sungguh tak tahan melihat ini, kepala ku pusing dan hatiku terasa sangat sakit.


"Nular juga ngkpp, itung itung jadi model via service wkwk. " Sambung yang lain.


Kututup telinga ku dengan kedua tanganku untuk menghilangkan suara suara kejam itu. Mas Albar sendiri tidak pernah melakukan ini padaku. Kenapa sangat sakit sekali. Aku sungguh tidak sanggup menghadapi penghinaan ini.


Plak,

__ADS_1


Aku merasakan sebuah benturan di dahiku. Pasti mereka melempar sesuatu kearahku. Kenapa mereka berbuat sejauh ini tanpa tau kebenaran yang sebenarnya.


"Wuihh ngk terasa yah? Padahal itu kotak pensil loh. Mungkin udah kebal kali kayak yang dibawah udah kebal dibobol berkali-kali. " Mereka langsung bersorak keras saat ku dengar lea berbicara hal menyakitkan itu.


Aku tak bisa menahan air mataku karena mendengar suara itu. Aku sudah berjanji tak ingin menangis, aku sudah berjanji tak akan lemah dihadapan mereka. Karena jika aku lemah mereka akan semakin memperlakukan ku seperti ini. Tapi,,, karena mendengar suara lea tadi aku tak kuasa. Rasanya sangat sakit saat sahabat kita sendiri mengatakan hal seperti itu tentang kita. Belum lagi ragil yang sejak tadi berada dibelakang juga diam saja tak mau membantuku, aku memang bodoh berharap saat mereka sudah tak peduli lagi dengan ku.


Aku perlahan bangkit dan keluar dari kelas. Aku masih sanggup jika itu yang lain. Tapi aku tak tahan jika itu sahabat ku sendiri.


"Hiks,ย  hiks,,. " Aku menangis pelan di dalam kamar mandi.


Kututup mulutku menahan rasa pilu di dadaku. Kenapa hidup ku seperti ini? Aku hanya ingin dihargai saja. Kenapa tak ada satupun yang menganggap ku sebagai manusia yang memiliki hak untuk dihargai?.


Albar sendiri saat ini sedang berada di kantor. Ia tak bisa fokus bekerja hanya karena mengingat ciumannya semalam dengan zhia.


"Kenapa bibir nya sangat manis sih? " Albar tersenyum seperti orang gila mengingat itu.


"Hah? Bapak berbicara tentang bibir saya? " Sekretaris nya yang sedang sibuk mengumpulkan jadwal langsung melihat kearah Albar.


Tuk,


"Akhh, " Rian yang menjabat sebagai sekretaris nya itu memekik saat Albar melemparkan bolpoin kearah nya hingga mengenai dagunya.


"Untuk apa saya membicarakan bibir kamu. Sudah siap belum jadwal nya? " Albar langsung bersikap normal.


Rian dengan cepat mengangguk"Sudah pak, tapi saya sangat penasaran bibir siapa yang bapak sebut manis itu? Sampai bapak tersenyum sangat lebar. "Rian dengan rasa kepo yang menggebu-gebu.


Albar tersenyum kearah Rian namun langsung ia ubah air mukanya dengan kesal" Rahasia, kalau sudah tidak ada silahkan keluar. "Albar dengan cepat menunjukkan arah pintu.


Rian mendecih sebal" Pelit banget sih pak ceritanya. "Namun ia langsung berlalu takut kena amukan pria rewel itu.


" Sedang apa yah dia sekarang? "Albar dengan cepat menekan nomor zhia dan menunggu.


Namun sudah dua kali ia hubungi masih juga tidak diangkat padahal nomornya sedang aktif.


" Hiks,,ย  "masih dengan posisi di dalam kamar mandi sembari menutup mulut nya. Zhia masih menangis menahan rasa sakit.


Sejak tadi ia tau kalau Albar menghubunginya namun ia tak mau mengangkat dengan keadaan nya yang sangat menyedihkan itu.


" Hiks,, "zhia memukul dadanya yang sesak lalu menarik nafas mencoba untuk tidak menangis lagi.


Ia hanya ingin hari ini cepat berlalu.


๐Ÿ๐ŸBersambung ๐Ÿ๐Ÿ


Duhh ngk tega ginian zhia. Kasian banget ๐Ÿ˜“๐Ÿ˜“

__ADS_1


Jangan lupa yah like, komen dan vote๐Ÿ˜


Pai pai say๐Ÿ


__ADS_2