Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Ingin bertemu kakek, dan papa.


__ADS_3

Detik terus berlalu, dan kini Damian sudah terlihat bugar kembali setelah tiga bulan berlalu. Dan selama tiga bulan terakhir ini, Dave terus berusaha mencari keberadaan Alana, tapi hasilnya selalu nihil. Wanita berambut indah itu, seperti hilang ditelan bumi.


Memandang keindahan kota New Yoark, dari lantai dua puluh dua, gedung bertingkat miliknya, dengan pandangan menerawangan kedepan menembus kaca bangunan bertingkat itu. Bergumam sendiri memikirkan Alana, yang tak kunjung dia tahu keberadaannya.


"Dimana aku harus mencari dia lagi, berbagai cara sudah aku lakukan agar bisa mengetahui keberdaannya, tapi hasilnya selalu saja nihil. Alana begitu membenciku, hingga sampai Papapun dia memutuskan kontaknya, dan dia benar-benar ingin keluar dari kehidupan kami.


Dan seandainya saja, Tuhan masih mengijinkan kita untuk bertemu lagi, aku mohon maafkan aku, maafkan aku Alana? dan ijinkan aku, untuk bertanggung jawab atas perbuatanku, karena aku sungguh menyesal." Gumamnya, dengan kesedihan yang teramat sangat.


****


Kediaman Hounston.


Damian memandang keindahan taman belakang rumahnya, ditengah waktu yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dengan berbagai pikiran dalam benaknya.


"Anda belum masuk, kedalam Tuan? diluar cuacanya sangat dingin. Dan sepertinya akan turun salju, malam ini" Ucap Paula, memperingati laki-laki paruhbaya itu.


Hanya tersenyum sekilas menatap Paula, dan tatapan matanya kembali menatap kedepan.


"Ini sudah tiga bulan, Paula? tapi keberadaan Alana sampai sekarag belum ditemukan. Padahal Dave sudah melakukan berbagai cara, untuk mencari tau keberadaannya, tapi hasilnya selalu saja nihil."


Paula hanya menghembuskan napas, dan dia sangat mengerti apa yang tengah dirasakan, oleh lelaki paruhbaya itu.


"Bersabarlah Tuan, aku yakin Nona Alana pasti akan kembali berkumpul bersama kita." Dengan senyuman kecil, menatap majikannya.


"Semoga saja yang kau katakan itu betul, Paula? karena aku sangat merindukan putriku, sangat merindukannya."


Terdengar suara langkah kaki, yang berjalan menghampiri mereka.


"Malam, Papa?" Sapa Dave, pada pria paruhbaya itu.


Berbalik, dengan wajah sumringah menatap putranya, karena sedari tadi dia sudah menunggu kedatangannya.


"Bagaimana, Dave? apakah keberadaan Alana, sudah kau ketahui?" Bertanya, dengan tatapan penuh harap.


Menghembuskan napas yang terasa begitu berat, sebelum dia menjawab pertanyaan Damian, ayahnya.

__ADS_1


"Maafkan aku Paa? aku belum menemukan keberadaannya. Tapi aku janji, akan berusaha mencari Alana terus." Serunya, berusaha meyakinkan Damian.


Raut wajah yang tadi terlihat bahagia, seketika sendu. Dan tersimpan, kesedihan yang teramat sangat didalamnya.


"Ntahlah Dave, tapi Papa merasakan, Alana memang sengaja tidak mau bertemu dengan kita lagi, buktinya kau sudah melakukan berbagai cara, bahkan menyewa detektif pula. Tapi sama saja."


Menyentuh punggung tangan ayahnya, dan menatap penuh dengan keyakinan. "Percayalah padaku, aku yakin suatu saat kita akan bersama kembali seperti dulu lagi, jadi aku minta Papa jangan bersedih."


"Iya Tuan Besar, saya yakin suatu saat kita akan berkumpul kembali, Nona Alana." Timpal Paula, meyakinkan.


****


Hari demi hari terus berlalu, dan tidak terasa kandungan Alana, sudah memasuki usia terakhir.


Lampu operasi telah menyala, yang pertanda operasi akan segera dilakukan.


"Anda siap, Nyonya?!" Tanya seorang Dokter, pada Alana, pada saat operasi akan segera dilakukan.


Walaupun rasa gugup begitu menyelimuti dirinya, tapi wanita cantik itu berusaha untuk berani, ditengah rasa takut yang teramat sangat saat ini.


Tak terasa ada tetesan bening lolos begitu saja, saat tiba-tiba dia teringat kembali akan Dave, ayah biologis dari putra, dan putrinya.


"(Kak, apakah kau tau? kalau hari ini aku sedang berjuang antara hidup, dan mati untuk melahirkan anak-anakmu? tahukah kau Kak, kalau hari ini kau akan menjadi seorang Ayah, aku sangat berharap kau akan menemaniku diruang operasi ini untuk melahirkan mereka, tapi semua itu hanyalah mimpi, karena itu tidak akan pernah terjadi. Dan semoga saja kau bahagia dengan rumahtanggamu bersama Karin, dan aku yakin pasti sebentar lagi, kalian akan memiliki anak." Bathinnya, dengan kesedihan yang teramat sangat.


Satu-persatu bayi keluar dari perutnya, dan Alana begitu takjup saat Dokter mengangkat satu persatu, bayinya.Airmata kesedihan yang sedari tadi menetes, kini berubah menjadi airmata bahagia, saat melihat kehadiran kedua malaikat kecilnya.


"Anak-anakku." Gumamnya, menangis.


****


lima tahun telah berlalu, kini sikembar Louisa, dan Louis telah tumbuh menjadi anak yang tampan, dan juga cantik. Louisa memiliki rambut berwarna cokelat, yang ia warisi dari Ibunya, dan Louis memiliki rambut berwarna hitam, seperti ayahnya Dave, dan wajahnya sangat persis dengan pria itu.


Hidup dipinggiran kota kecil, yang terletak dipinggiran kota London, dengan tetap menggeluti usahanya membuat kue, dan juga roti, itulah penampakan dari kehidupan sehari-hari seorang Alana, untuk membesarkan sikembar.


"Mama, roti apa yang kau buat untuk hari ini? " Tanya Louis, saat melihat Alana tampak sibuk membuat adonan didapur, dibantu oleh Rose sahabatnya.

__ADS_1


"Hari ini, Mama akan membuat kue anakku, bukan roti. Dan Mama akan membuat, carrot Cake." Jawabnya, tersenyum.


"Benarkah?pasti sangat enak." Timpal Louisa, yang terlihat begitu antusias.


"Mama..?!" Panggil Louis, lagi.


"Ada apa, anakku?" Jawabnya, dengan terus membuat adonan yang diletakkan diatas meja.


"Kau selalu mengatakan kalau aku, dan kakak memiliki kakek. Bahkan namaku, kau memakai nama Kakek, dan juga marganya. Tapi kapan, kita akan bertemu dengannya Maa, kapan? kau tau, temanku Ana memiliki Kakek, bahkan ia juga memiliki Nenek. Aku dan Kakak, ingin bertemu dengannya Maa? aku ingin melihat photo Papa, kenapa Mama tidak pernah menunjukkan pada kami, photo Papa?"


ALana menghentikan kegiatannya, dan sekilas tatapan matanya menatap Rose sahabatnya.


"Kalian berdua, mainlah diluar. Mama kalian sedang bekerja, dan apakah kalian mau kita pergi ke perkebunan Paman Jhon, untuk melihat domba-domba, miliknya?!" Timpal Rose, yang sengaja mengalihkan perhatian sikembar.


"Tapi Bibi?! aku ingin bertemu dengan kakek, Mama selalu mengatakan akan membawa kami bertemu dengan Kakek, tapi sampai sekarang Mama belum menepati janjinya." Jawab Louis, dengan wajah juteknya.


Alana mensejajarkan tingginya dengan putra, dan putrinya louis, dan Loisa, dengan senyuman menatap keduanya.


"Kalian tahu, untuk pergi ketempat kakek kita membutuhkan uang yang banyak, Mama janji, kalau uang Mama sudah banyak, kita akan bertemu dengan Kakekmu, karena kita akan pergi bersama Bibi Rose."


"Apakah kita akan bertemu dengan Papa juga, Maa?!" Timpal Louisa pula, dengan raut wajah yang terlihat begitu antusias.


Alana hanya terdiam, saat anak perempuannya menanyakan ayah mereka. Dan dia begitu merasa bersalah, karena harus terus berbohong pada sikembar.


"(Maafkan aku, anak-anakku?! Mama tidak akan pernah memperkenalkan kalian pada Papa, karena kehadiran kalian sama sekali tidak diiharapkan olehnya. Dan Mama yakin, pasti dia sudah memiliki anak dengan Karin, istrinya. Dan tentu saja, dia sudah bahagia dengan rumahtangganya.)" Bathinnya, dengan kesedihan yang teramat sangat.


"Maa, kenapa kau diam?" TanyaLouisa, yang mengejutkan Alana dari lamunannya.


"Kalian berdua, pergilah kepeternakan. Kemarin Paman Jhon mengatakan pada Mama, kalau dombanya, ada yang sudah beranak, dan anak-anak domba itu sangatlah lucu."


Visual Louis, dan juga Louisa Hounston.


Anak dari Dave, dan Alana.


__ADS_1



__ADS_2