
APARTEMEN LAURA.
Hingga malam menjemput, Dave masih saja berada diapartemen milik kekasihnya, Clara. Dan dia melupakan, keberadaan ayahnya yang baru saja datang dari Amerika.
Dave, dan Laura tengah berbaring diatas ranjang, dengan posisi saling berpelukan.
"Dave...?" Panggil Laura, tiba-tiba.
"Ada apa, Laura?
"Kenapa kau selalu menolakku, jika aku mengajakmu bercinta? bukankah kita berdua saling mencintai?" Dengan mimik cemberut, sekilas menatap kekasihnya.
"Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak bisa melakukan itu, dengan wanita yang bukan istriku. kautau, selama aku men jalin hubungan dengan Karin, aku dan dia sama sekali tidak pernah melakukan hubungan suami istri."Jelas Dave, pasa wanita berbibir seksi itu.
"Tapi aku ingin memilikimu, seutuhnya Dave?"
"Ada saatnya, tapi bukan berarti aku sama sekali tidak mencintaimu."
"Tapi berjanjilah padaku, kau tidak akan melakukan itu dengan Alana."
Menghembuskan napas, dengan napas yang terasa berat.
"Baiklah, aku janji." Jawabnya, dengan nada yang terdengar berat.
Dave memandang jam tangan yang melingkar, pada pergelangan tangannya. Dan kaget, saat melihat waktu telah menunjukan pukul dua belas malam.
"Aku harus segera pulang, Laura? Ini sudah sangat malam." Dengan beranjak, dari ranjang.
"Tapi Dave? aku mash sangat merindukanmu?" Dengan nada, yang terdengar manja.
"Ayolah Laura, kita masih bisa bertemu lagi. Tapi untuk beberapa hari kedepan, kita harus menjaga jarak. Karena seperti yang kau tau, kalau Papaku sedang berada diLondon."
"Baiklah." Jawabnya, kesal.
Dave hanya hanya tersenyum, seraya mengecup singkat bibir kekasihnya.
"kalau begitu, ayo antar aku sampai kedepan pintu."
"Baiklah...?" Dengan nada malas, mengikuti langkah kaki kekasihnya.
*****
__ADS_1
Alana menatap bintang-bintang yang bertaburan dilangit, dari balkon kamarnya diwaktu yang sudah sangat malam.
Menerawang, dengan tatapan kosongnya. Dinginnya udara dimalam hari, tak membuat Alana beranjak dari balkon kamar itu, walaupun hawa begitu menusuk.
"Bahkan dia belum, pulang." Dengan senyuman, mewakili kehampaan hatinya.
Turun dari mobil, diwaktu yang menunjukan pukul satu dini hari.
Menghembuskan napas, yang terdengar berat.
"Aku pulang sudah sangat malam. Besok pasti Papa akan mengintoregasiku, mengenai aku, dan Laura. Dan semoga saja, Alana tidak mencerikakan pada Papa." Gumamnya, dengan kembali melanjutkan langkahnya.
Membuka pintu kamar, dan mendapati pintu menuju arah balkon, masih terbuka lebar.
"Mungkinkah, dia berada disana?" Gumam Dave, dengan melangkahkan kaki menuju balkon kamar.
Menatap Alana, dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah.
"(Aku sudah sangat bersalah padanya. Aku menjebaknya dengan pernikahan ini, tapi hatiku milik wanita lain. Maafkan aku Alana? tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku, kalau aku sangat mencintai Laura. Dan aku mohon, maafkan aku)" Bathin Dave, yang begitu diliputi rasa bersalah.
"Kau tidak masuk, bukankah ini sudah sangat malam. Lagi pula udara diluar sangat dingin." Seru Dave tiba-tiba, yang mengejutkan wanita itu.
Membalikkan badannya, dan mendapati keberadaan Dave disana. Dan membingkai senyuman kecil, menatap intens laki-laki itu.
"Menungguku? apakah ada yang penting, yang perlu dibicarakan?" Dengan tatapan penasaran, menatap Alana.
"Yaa." Jawabnya, tegas.
"katakan, apa yang kau ingin bicarakan Alana?" Tanya Dave, penasaran.
"Kau sangat mencintai Laura. Dan aku sangat mengetahui itu."
"Maafkan, aku Alana? tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, setidaknya aku jujur padamu.
Tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan tetap bertanggung jawab atas hidupmu."
"Tidak masalah. Karena aku tidak mungkin memaksamu untuk mencintaiku, Dave?"
"Maaf, maafkan aku Alana."
"Dan aku ingin Louis, dan Louisa tinggal bersama Papa diAmerika."
__ADS_1
Seketika tatapan matanya begitu intens menatap wanita didepannya, dengan tand tanya.
"Kenapa, apakah kau kelelahan merawat mereka? kalau memang iya, aku akan mencarikan pengasuh untuk mengurus Louis, dan Louisa."
"Bukan itu."
"Aku tidak mau, kalau kedua anak kita mengetahui hubungan asmara antara kau, dan Laura. Lagi pula, pasti mereka akan terluka dengan perbuatanmu. Dan aku tidak mau itu terjadi."
"Baiklah. Terserah kau saja."Jawabnya, berat.
"Dave...?"Panggilnya dengan menghampiri pria itu, dengan jarak yang begitu dekat.
"Ada, apa?"
Menyentuh leher Dave yang memerah, dengan senyuman diwajahnya, dan berusaha menyembunyikan luka dihatinya.
"Ada apa, Alana?" Tanyanya, sekali lagi.
"Pastikan tanda merah dilehermu ini, tidak terlihat oleh Papa."
Dengan melangkahkan kaki, tapi Dave mencekal tangannya.
"Maafkan aku, Alana? ini.."
"Sudalah Dave? aku bukan anak kecil, aku tau itu apa?" Dengan melanjutkan langkahnya, tapi seketika kembali terhenti.
Mungkinkah suatu saat, aku akan jatuhcinta pada Louis?" Dengan melanjutkan langkahnya, tapi seketika Dave mencekal tangannya.
"Katakan padaku. Apakah kau menjalin hubungan dengan, Louis?" Dengan tatapan tajam, menatap Alana.
"Kenapa, apakah salah? bukankah kau tidak mencintaiku?" Dengan senyuman, menatap Dave.
"Ingat Alana? kita berdua akan menikah, dalam dua hari lagi." Dengan nada, penuh penekanan.
"Aku tau Dave..? aku tau? tapi kenapa kau jadi, setegang ini?" Dengan masih tersenyum, menatap Dave yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Ingat Alana. kau itu calon istriku?"
"Aku tau, Dave? dan aku sangat sudah tidak sabar, ingin segera menikah denganmu."
"Katakan padaku, apakah kau menjalin hubungan dengan Louis?"
__ADS_1
"Akukan hanya bilang, mungkin saja aku jatuhcinta padanya. Sudahlah Dave? aku mengantuk karena daritadi menunggumu, aku belum tidur." Dengan mengecup singkat bibir Dave, dan berlalu begitu saja.
"Tidak?! aku yakin, Louis pasti tidak mencintainya lagi." Gumamnya, dengan raut wajah yang terlihat begitu resah.