Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Menyatakan perasaan


__ADS_3

Raut wajahnya tertekuk kesal, saat mendapati keberadaan pria yang sangat dibencinya. Tapi secara tak sengaja keduanya kembali bertemu, dan itu membuat Rose membuat rasa bencinya pada Louis kembali menyelimuti saat dirinya sudah berusaha melupakan saat lelaki itu mencium dirinya seenaknya.


Saat pandangan Rose terlempar kearah lain, tak sengaja tatapan keduanya mereka bertemu. Dan Rose segera memalingkan wajahnya, dengan tatapan yang begitu menghunus.


Senyuman palsu membingkai diwajah Louis, mendapati sikap Rose yang begitu acuh padanya. Dan itu membuat hatinya tercubit, dengan sikap yang Rose tunjukun padanya.


"Apakah dia sudah benar-benar ingin melupakan perasaannya padaku. Dan apakah benar-benar dia sudah tidak mencintaiiku lagi. Bahkan sekarang, sikapnya begitu acuh padaku. Tapi kenapa juga aku harus memusingkan hal itu, bukankah wanita yang aku cintai adalah Delena, bukan dirinya. Tapi kenapa hatiku sedikit sakit. Tapi kenapa aku memusingkan akan hal itu, bukankah wanita yang aku cintai adalah Delena. Bukan dirinya." Membathin, dari CEO tampan itu.


Raut wajah tampan itu terlihat penasaran, saat tengah berbincang, tatapan Louis bukan tertuju padanya, tapi pada Alana, dan juga sahabatnya disana. Dan itu membuat Dave berburuk sangkah, mengirah Louis masih menyimpan rasa pada istrinya.


"Apa yang kau lihat. Jangan katakan, kalau kau masih mencintai istriku." Tatapan penuh selidik, dan terselip rasa tidak suka disana.


Kedua alisnya bertaut, saat mendengar apa yang dikatakan Dave.


"Kalau aku masih mencintainya, tidak mungkin aku memenuhi undanganmu. Dan mengucapkan selamat pada kalian berdua, dengan kehamilan Alana." Nada yang terdengar sedikit kesal, saat kalimat itu keluar dari bibirnya.


Menautkan kedua alisnya, mendengar apa yang dikatakan istrinya. Kemudian Dave memalingkan wajahnya kembali, tertuju pada Alana, dan juga Rose. Tatapan penuh selidiik, dan dia baru menyadari dari kekeliruannya tadi.


"Kau menyukai Rose...?" Bertanya, yang mencoba untuk menebak.


Tersenyum kikuk, saat mendapat pertanyaan itu.


"Menyukainya..? tentu saja tidak. Dia sama sekali bukan tipeku." Meyakinkan Dave, melihat sahabatnya menatapnya penuh dengan tanda tanya.


"Padahal dia adalah gadis yang baik Louis? dan aku yakin, kau akan bahagia jika bersamanya."


****


Dirinya tersentak kaget, saat Alana menarik tangannya untuk menghampiri Dave, dan juga Louis, pria yang sudah membuatnya patahati.


"Aku harus membantu Bibi Alma, Alana? kasian dia pasti sendirian," Berusaha melepaskan genggaman tangan itu.


Segera melepaskan genggaman tangannya, saat Rose tetap kekeh tidak ingin bergabung dengan kedua pria tampan itu.


"Baiklah. Tapi malam ini, kau harus tidur dirumahku. Sebab ada hal yang penting yang ingin aku bicarakan nanti,"


"Apakah itu penting?"


"Tentu saja sangat penting. Karena sebentar lagi, aku akan segera kembali keAmerika."


"Baiklah, jika kau memaksa." Jawabnya dengan berlalu pergi.


Alana kembali menghampiri Dave, dan juga Louis yang masih berbincang-bincang.


"Kemana sahabatmu, istriku?" Tanya Dave, saat Alana menghampiri mereka seorang diri.

__ADS_1


Tidak menjawab apa yang ditanyakan Dave padanya, tatapannya tertuju pada Louis yang tengah meneguk segelas WINE berkadar alkohol rendah, yang berada dalam genggamannya.


"Louis, apakah ada sesuatu yang terjadi antara kau dan sahabatku? karena sepertinya yang aku lihat, Rose sangat enggan melihat wajahmu."


Mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Alana, membuat Louis seketika batuk-batik saat minuman itu tengah mengalir menuju tenggorokannya.


"Ma...maksudmu?"


"Mungkin saja, kau telah melakukan sesuatu pada Rose, jadi dia enggan bertatap muka denganmu." Jawabnya asal.


Serasa sesuatu ada yang tercekat ditenggorokannya, saat mendengar apa yang dikatakan Alana.


"Tentu saja tidak terjadi apa-apa." Berbohong, ditengah kegugupan yang menyelimuti.


Senyuman palsu membingkai diwajah Alana, saat mendengar apa yang dikatakan CEO tampan itu.


"Baiklah, jika tidak ada sesuatu yang terjadi antara kau, dan Rose. Tapi awas saja, jika aku tau kau berbohong. Aku akan meeminta suamiku untuk berhenti berteman denganmu." Dengan nada penuh penekanan, dan berlalu begitu saja dengan raut wajah tertekuk kesal.


Tatapan Louis beralih menatap Alana yang telah berlalu pergi, dan dirinya membathin mungkinkah Rose telah bercerita perihal ciuman itu.


"Apakah Rose sudah menceritakan pada Alana, tentang ciuman itu?"


"Jangan disimpan dalam hati. Kau mengerti saja, kalau Alana sedang hamil. Jadi dia sangat sensitif, dengan hal sekecil itu."


"Tidak masalah, aku sangat mengerti." Jawabnya tersenyum getir.


****


Sang surya telah menampakkan senyumnya, menyinari bumi dimana makhluk ciptaaanya berpijak.


Cerah sang mentari pagi, secerah senyuman CEO tampan itu. Senyuman terus mengembang diwajah sang pengusaha, saat kedua kakinya membawa tubuhnya kesebuah restorant mewah. Dan dia sudah memantapkan hati, untuk menyatakan cintanya pada Delena hari ini juga.


Disaat sudah mengetahui, dirungan mana Delena tengah menunggu, Louis segera mengambil langkah lebar menghampiri Psikolog cantik itu.


Pintu rungan terbuka, dan menampilkan sosok Delena yang tengah menikmati segelas coffee untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya udara yang menyelimuti kota itu.


"Maaf buatmu menunggu. Aku masih mengambil sesuatu ditoko tadi." Dengan menarik sebuah kursi, dan mendaratkan tubuhnya disana.


Delena tersenyum simpul, seraya meneguk lagi secangkir coffe yang berada didepannya.


"Tidak masalah. Lagi pula, aku juga baru saja datang. Dan tadi kau mengatakan padaku, ada hal penting yang ingin kau bicarakan padaku. Apakah sangat penting Louis?" Tatapan intens, menatap penasaran lelaki yang tengah duduk berhadapan dengannya.


Hembusan napas terdengar berat, saat mendapat pertanyaan itu. Kedua bolamata itu menatap dengan dalam gadis didepannya, yang tersimpan rasa cinta yang begitu dalam untuk Delena.


"Apa yang ingin kau katakan Louis? jangan buat aku penasaran?" Bertanya lagi, saat lelaki tampan itu tak kunjung bersuara.

__ADS_1


"Delena...?" Panggilnya pelan.


"Ada apa?"


"Aku merasa nyaman, dengan kebersamaan kita dalam beberapa bulan ini. Dan itu membuatku yakin."


Menautkaan kedua alisnya, saat mendengar apa yang dikatakan Louis padanya.


"Yakin? yakin akan hal apa Louis?"


Tersenyum simpul, melihat raut wajah tidak sabaran dari Delena.


"Aku rasa, aku telah jatuh cinta padamu Delena? dan aku ingin kau menjadi pacarku."


Delena begitu kaget, saat mendengar ungkapan cinta Louis padanya. Dan dia tidak menyangkah kedekatakan mereka akhir-akhir ini, akan membuat Louis jatuhcinta padanya. Dan dia sangat merasa bersalah untuk itu.


"Bagaimana Delena? apakah kau mau jadi pacarku? aku serius dengan apa yang aku katakan. Dan aku janji, tidak akan menyakiti hatimu." Meyakinkan Delena, saat wanita itu masih diam tak bergeming.


Rasa bersalah semakin menghinggapi dirinya, dengan pernyataan cinta yang Louis berikan. Padahal Delena memanfaatkan pertemuan mereka kali ini, dengan ingin memberitahukan kabar pernikahannya pada pria itu, dan juga memberikan undangan pernikahannya.


"Louis..." Dengan menjeda kalimatnya, akibat rasa tidak enak hati melihat raut wajah tidak sabaran dari Louis, yang menanti jawaban darinya.


Aku...." Kalimat itu terjeda, saat pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang pria disana. Dan dia adalah Carlos, tunangan dari Delena.


"Sayang...." Ucap Delena, dengan langsung beranjak dari duduknya.


"Maaf, karena sedikit terlambat. Saat tiba dibandara, aku langsung kesini." Dengan merangkul penuh pinggang calon istrinya.


Tatapan Carlos, teralih mentatap Louis yang tengah menatap keduanya dengan tatapan heran.


Senyuman membingkai diwajah Carlos, dan mengulurkan tangannya pada pria itu untuk berkenalan.


"Kenalkan. Aku Carlos, tunangan dari Delena."


Louis tersentak kaget, saat mendengar apa yang dikatakan pria itu.


"Tunangan..?" Dengan raut wajah bingung, dan tatapannya teralih pada Delena, seolah meminta jawaban didalamnya.


"Iya Louis, Carlos adalah tunanganku. Selama ini dia bekerja diDubai, karena sedang membuka cabang perusahaan disana. Dan aku datang keLondon terlebih dahulu, untuk mempersiapkan pernikahan kami."


"Dan kami, akan menikah dalam dua hari ini. Dan aku harap, kau menghadirinya Tuan Louis, sebab kau adalah sahabat baik dari calon istriku.


Dan Sayang, apakah kau sudah memberikan kartu undangannya pada sahabatmu ini?"


Delena meraih tasnya yang dia letakkan diatas meja. Memasukkan jemarinya, dan meraih sesuatu disana.

__ADS_1


"Ini Louis, undangan buatmu. Dan aku harap, kau menghadirinya." Nada yang terdengar berat, saat raut wajah kecewa membingkai penuh diwajah tampan Louis.


__ADS_2