
Walaupun kini drinya sudah berstatus kekasih dari Louis, pria yang selama ini diam-diam dia kagumi, tapi Rose masih nampak malu-malu, dan juga menjaga jarak dengan pria yang baru saja menjadi kekasihnya itu, hingga membuat Alana sedikit kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Kenapa kau masih disini, pergilah padanya. Dari tadi dia terus menatapmu, bukankah sekarang kalian berdua sudah resmi berpacaran?" Pinta Alana, dengan berbisik pelan ditelinga sahabatnya, seraya tatapannya melirik pada Louis yang sedari tadi terus menatap pada Rose.
"Apa yang kau bicarakan. Bukankah seharusnya dia yang memanggilku, agar duduk dekat dengannya? ini dia hanya diam saja. Kalau aku yang terlebih menghampirinya, aku terlihat akan sangat rendah dimatanya."
"Terserah kau saja, kalau diantara kalian tidak ada yang bertindak terlebih dahulu, itu berarti hubungan kalian tidak akan ada peningkatan. Jika kau kalian berdua sama memiliki ego yang sama-sama tinggi."
"Ntalah Alana..." Jawabnya dengan nada memelas, dan sekilas melempar senyuman pada Louis yang masuh dengan tatapan yang sama padanya.
Kedua bolamata CEO tampan itu sedari tadi terus tertuju pada Rose, yang tengah berbincang-bincang dengan Alana. Walaupun dia telah mendengar dari bibir wanita itu sendiri, kalau mau menjadi kekasihnya, tapi melihat sikap Rose yang masih nampak acuh padanya, membuat Louis belum meyakini kalau Rose sudah benar-benar mau menjadi kekasihnya.
"Kau kenapa Paman? apakah ada masalah?" Berbisik pelan ditelinga Pamannya, saat tatapan Paman tampannya terus tertuju pada Bibinya Rose dengan raut wajah yang tidak bersemangat.
"Bibimu sudah menjadi pacar Paman. Tapi kami masih saja terlihat seperti orang asing. Bahkan kau lihat, dia masih saja duduk disana. Bukankah seharusnya, dia duduk disebelah Paman?" Dengan menampilkan wajah sendunya, agar gadis kecil itu dapat membantunya lagi.
"Benarkah...?" Dengan tatapan beralih pada Bibinya Rose, yang tengah berbincang dengan Ibunya.
"Iya. Coba kau lihat saja sikapnya, dia seperti mengacuhkan Paman. Kalau begini, manamungkin dia bisa menjadi kekasih Pamanmu ini Louisa?" Dengan tatapan mengibah, menatap pada putri sahabatnya itu.
"Tenang Paman, ada aku yang akan membantumu." Dengan percaya dirinya gadis kecil itu beranjak dari duduknya, dan menghampri Bibinya Rose.
"Ada apa Louisa?" Rose bertanya, saat gadis itu menghimpitkan tubuh padanya.
"Bukankah Bibi, dan Paman Louis sudah berpacaran? kenapa Bibi masih duduk disini?" Dengan nada penuh penekanan, saat kalimat itu terucap dari bibir mungilnya.
"Bibi masih ingin..." Kalimat yang akan terucap itu terjeda, saat terdengar suara pintu terbuka, dan menampilkan seorang Dokter wanita yang melangkah masuk dalam ruangan.
"Selamat siang Nyonya Hounston? bagaimana keadaan anda. Apakah sudah jauh lebih baik?"
"Sudah jauh lebih baik Dokter, dan kapan bayi saya akan dibawa kesini? saya sudah tidak sabar, ingin menggendongnya,"
Senyuman kecil membingkai diwajah Dokter wanita itu, mendengar apa yang ditanyakan Alana.
"Sedikit lagi suster akan mengantarkan bayi anda."
Louisa yang sedari sudah ingin melihat rupah adikbayinya, seketika bersuara mendengar ucapan Dokter wanita itu.
"Bibi Dokter. Apakah masih lama? aku sedari tadi sudah menunggu adik bayiku, bahkan aku harus meninggalkan kue-kue yang aku makan ditoko kue kami, saat aku mendengar adikbayiku sudah lahir. Tapi saat aku datang, adikbayiku belum saja juga dibawa kemari."
"Sediki lagi gadis kecil, suster sudah mengantarkan adikbayimu. Jadi kau bersabarlah." Dengan senyuman, menatap pada Louisa.
Pintu kamar rawat kembali terbuka, dan menampilkan dua orang perawat wanita, dan salahsatu diantara mereka tengah menggendong bayi yang berbalutkan selimut berwarna pink.
Rose segera menepi, dan membuatnya mau tidak mau beranjak harus dari duduknya, saat duduknya berdekatan dengan ranjang bayi. Mengedar pandangannya kesegalan arah, dan berhenti pada Louis yang memberi kode untuknya, agar duduk disampingnya.
__ADS_1
"Ayolah Bibi, pergi pada Pamanku sana? sekarang biar aku, yang duduk disebelah Ibuku." Pinta Louisa, saat Bibinya masih saja berdiam ditempat.
"Baiklah.., bukankah itu yang kau harapkan,"
"Tentu Bibi, agar Paman dapat membayarku dengan mainan yang lebih banyak lagi."
Langkahnya terlihat ragu, saat kedua kaki itu membawanya menghampiri Louis yang terus menatap kearahnya, dengan senyuman diwajah.
"Duduk disebelahku," Dengan menepuk sisi sebelahnya, yang kosong.
"I..iya." Jawabnya gugup, seraya melabukan bokongnya disana.
Rose terlihat canggung, dan juga gugup sebab sekarang dia, dan Louis sudah resmi berpacaran, hingga membuatnya bingung harus memulai darimana.
"Mereka sangat manis bukan?" Ucap Louis tiba-tiba, dengan berbisik pelan ditelinga kekasihnya, saat tatapan mereka tertuju pada keluarga kecil Dave, yang tengah berbahagia dengan keluarga barunya.
"Iya mereka sangat manis," Jawab tersenyum lepas, yang ikut bahagia dengan kebahagian yang dirasakan sahabatnya itu.
"Kau menyukai bayi?" Tanya Louis lagi.
"Tentu saja aku menyukainya. Bukankah, dia makhluk yang sangat menggemaskan?"
"Kita akan membuatnya nanti, kalau kau mau," Dengan berbisik pelan, ditelinga gadis berlesung pipi itu.
Keningnya berkerut, berpaling pasa Louis yang duduk disebelahnya. Menatapnya dengan Intens, dan terselip rasa kesal didalamnya.
Mengngerucutkan bibirnya, dan pandangannya kembali tertuju pada keluarga kecil Alana.
Usai memeriksa Alana, Dokter dan juga kedua orang suster segera berpamitan.
"Kalau begitu kami permisi dulu. Dan besok anda sudah diperbolehkan pulang Nyonya Hounston?"
Rona bahagia seketika membingkai penuh diwajah Louisa, mendengar apa yang disampaikan Dokter wanita itu.
"Kau serius Bibi Dokter? kalau besok adi bayiku, sudah boleh aku bawa pulang kerumah?"
"Iya anak manis, besok adik bayimu dan juga Mamamu sudah bisa pulang kerumah." Dengan senyuman kecil menatap pada Louisa, dan berlalu dari kamar rawat itu.
Louisa kembali menyambangi Ibunya, dan berusaha naik keatas ranjang agar lebih dekat melihat adikbayinya.
"Mama, apakah dia akan tidur denganku?" Saat tatapan matanya, tertuju pada adikbayinya yang terlelap dalam dekapan Mamanya.
"Tidak Louisa, adik bayi akan tidur bersama Papa, dan juga Mama. Sebab dia masih sangat kecil, dan juga masih menyusui." Ucap Dave menjawab, apa yang ditanyakan putrinya.
"Baiklah, aku akan bersabar menunggu sampai dia besar nanti, agar dapat tidur denganku."
__ADS_1
"Terus siapa namanya Dave? daritadi kau sama sekali belum memberitahukan pada kami, siapa nama anak perempuanmu ini."
"Iya Sayang. Bukankah kau bilang padaku, kalau kau yang akan memberikan nama pada anak ketiga kita ini?" Alana ikut menimpali, apa yang ditanyakan Louis.
Senyuman kecil terlukis diwajah tampan Dave, seraya jemarinya menyentuh pipi anak perempuannya yang begitu memerah.
"Namanya Vena Hounston." Jawab Dave dengan bangganya.
Alis Alana bertaut, menatap suaminya dengan dalam, sebab terselip rasa penasaran didalamnya.
"Vena...?"
"Iya Alana? itu gabungan namamu, dan namaku. Artinya Dave, Alana. Bagaimana kau suka?"
Dia nampak menimang, seketika mengganguk kecil.
"Iya Sayang, aku menyukainya. Vena. Dave, Alana, dan itu sangat manis." Dengan tatapan kembali tertuju pada bayi mungil dalam gendongannya.
"Nama yang sangat indah Tuan Dave? kau dan sahabatku, memang pasangan yang sangat romantis. Dan aku sangat iri dengan kehidupan kalian." Rose berucap, dengan senyuman kecil dia terus menatap pada mereka.
"Kau tidak perlu iri Bibi, bukankah sudah ada Pamanku sekarang?"
"Benar apa yang dikatakan putriku Nona Rose. Dan kau Louis, kapan akan melamar sahabat dari istriku ini. Agar ketiga anakku, dapat segera memiliki teman bermain dari kalian bedua."
"Secepatnya, karena aku serius menjalin hubungan ini." Kalimat yang terdengar begitu meyakinkan.
"Tentu saja, karena jika kau menyakiti sahabatku, maka kau akan berurusan denganku," Celah Alana.
Senyuman kecil membingkai diwajah Louis, mendengar apa yang dikatakan Alana.
Perlahan jemarinya terselip diantara jemari Rose yang berbaris rapi, dan menyatukan.
"Kalian tidak perlu takut, yang jelas aku serius menjalin hubungan dengan sahabatmu ini Alana, dan aku akan segera mengenalkannya pada keluargaku."
"Tentu saja, karena aku tidak mau sampai sahabatku ini terluka." Dengan nada penuh penekanan.
"Tentu saja Nyonya Hounston, kau bisa pegang kata-kataku."
Tatapan mereka seketika teralih pada bayi yang berada dalam gendongan Alana, saat bayi kecil yang baru berusia sehari itu menggeliatkan tubuh mungilnya, dan menangis kecil disana, hingga membuat suara yang tadi sedikit menggema dalam ruangan, seketika meredup akibat tangisan bayi Vena.
Dave duduk disamping istrinya, dan perlahan tangan kekarnya berlabuh pada anaknya, dengan jemari mengelus pipi yang masih memerah itu, hingga membuat bayi Vena kembali memejamkan mata, dan terlelap kembali dalam tidurnya.
"Dia sudah kembali tertidur Papa.." Ucap Louisa, dengan berbisik pelan.
"Iya Louisa, dan dia sangat manis sepertimu."
__ADS_1
Keluarga Dave terlihat begitu bahagia, dengan hadirnya bayi Vena didalam keluarga kecil mereka. Begitupun juga mereka yang berada ddalam ruangan, yang ikut turut bahagia dengan apa yang dirasakan Alana, dan juga Dave.
"Akhirnya cinta itu, benar-benar ada dalam keluarga ini. Terima kasih Tuhan, karena kau sudah semakin memperkuat cinta Nona Alana, dan Tuan Dave setelah cobaan yang cukup panjang dalam rumah tangga mereka." Alma membathin, dengan tatapan terus tertuju pada keluarga kecil itu.