Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Pergi menemui Louisa, dan Louis,.


__ADS_3

Beranjak dari duduknya, seraya kembali melangkah menuju taman. Dengan pandangan menerawang, dia menatap jauh kedepan, dan dalam dirinya timbul rasa bersalah yang teramat sangat, sebab selama ini dia tidak menyadari kehadiran kedua anaknya.


"ini semua sungguh diluar dugaanku, ternyata Louis, dan Louisa adalah dara dagingku." Gumamnya, dengan senyuman yang menampakan kesedihan didalamnya.


"Tuan..?!" Panggil Daven, seraya berjalan menghampiri Tuanmudanya.


Menghembuskan napas, dengan tatapan tetap ketaman.


"Ambil jacketku dikamar, kita akan pergi menemui Louis, dan Louisa sekarang."


"Anda yakin, Tuan?!" Tanya Daven, memastikan apa yang dia dengar.


"Aku sangat yakin, Daven?!"


"Baik, Tuan?!" Jawabnya, dengan berlalu kelantai dua Vila itu.


Saat turun kelantai bawah, tampak Dave sudah menunggu dirinya. Menyambar jacket dari tangan sekretrisnya, dengan segera membalut pada tubuhnya.


****


Alana terus tersenyum, saat melihat kedua anaknya yang tengah sibuk dengan kegiatannya sendiri. Menatap dengan tatapan dalam, dan dalam dirinya timbul rasa bersalah yang teramat sangat, sebab sudah menjauhkan kedua buahatinya, dengan ayah kandungnya.


"(Maafkan Mama, karena sudah begitu jahat pada kalian berdua. Tapi Mama melakukan ini, semata-mata karena Mama hanya ingin melindungi kalian berdua.)" Bathinnya, dengan terus menatap kedua buahatinya,


"Mama..?!" Panggil Louisa, tiba-tiba.


"Ada apa, Sayang?"


"Apakah kami boleh, bertemu dengan paman tampan lagi?" Tatapan penuh hrap, dari bocah yang sebentar lagi akan berusia enam tahun itu.


Menghembuskan napas kasar, sebelum menjawab pertanyaan anaknya. "Tidak, kalian tidak boleh bertemu dengan Paman tampan lagi."


Louis menghentikan kegiatan mainnya, seraya menatap intens Ibunya. "Kenapa tidak boleh Maa? apa alasannya. Paman tampan sangat baik." Ucap Louis, dengan mimik cemberut.


Menghela napas dalam, seraya menghampiri putranya.


"Kalian baru saja mengenal Paman tampan, dan Paman tampan sepertinya dia sedang sibuk, jadi untuk sementara waktu kalian tisdak boleh bertemu dengannya dulu."


"Itu sama sekali tidak benar Maa?! bahkan Paman tampan yang meminta, agar bertemu dengannya." Celah Louisa.

__ADS_1


Memaksakan diri untuk tersenyum, dengan kebohongan yang dia katakan. Dan saat akan menjawab, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu, yang mengalihkan tatapan Alana.


"Sepertinya, ada tamu Maa?" Ucap Louis, pada Ibunya.


"Tunggu sebentar, Mama akan membukanya. Mungkin saja itu Paman Jhon, atau Bibi Rose." jawabnya, dengan beranjak dari duduknya menghampiri pintu utama.


Melangkahkan kaki dengan raut wajah yang terlihat begitu penasaran, dan dalam dirinya timbul tanda tanya siapa hendakah yang datang bertamu malam-malam begini.


Menghampiri, dan membuka tanpa rasa curiga sedikitpun, dan saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Alana ketiga melihat keberadaan Dave, dan juga sekretarisnya Daven.


"Dave, kau..?!" Dengan kembali menutup pintu, tapi seketika dicekal oleh lelaki tampan itu.


"Buka pintunya, Alana?!" Dengan suara setengah berteriak, dan mendorong pintunya.


"Untuk apa kau kesini?! pergi kau Dave?! pergi?!" Dengan berusaha, tetap menutup pintunya.


Terjadilah aksi dorong, mendorong pintu antara Dave, dan juga Alana. Tapi bagaimanapun tenaga wanita, tidak akan sekuat tenaga seorang pria. Dan akhirnya, Dave berhasil menerobos masuk kedalam rumah itu.


"Untuk apa kau kesini?! aku sudah bilang jangan pernah mengusik, hidupku lagi."Ucapnya, dengan kemarahan yang teramat sangat.


Menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Alana.


"Kenapa?! apa kau takut, suamimu akan marah?!"


"Te..tentu saja, aku tidak mau suamiku salah paham."


Tertawa kecil, saat mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu. " Apakah suamimu itu, yang bernama Jhon?!"


Alana begitu terkejut, dan dalam dirinya timbul rasa penasaran, darimana Dave mengetahui soal Jhon.


"A...apa perduli, dan tentu itu bukan urusanmu. Dan aku minta, kau pergi sekarang?!" Dengan sedikit berteriak.


"Aku tidak akan pergi, karena aku ingin bertemu dengan anak-anakku."


Alana begitu terkejut, saat Dave mengucapkan kata anak-anak. Dan dalam dirinya timbul rasa penasaran, apakah Dave sudah mengetahui tentang Louisa, dan Louis. Berusaha tetap tenang, sebelum menajawab lelaki tampan itu.


"Anak-anak?! anak-anak siapa yang kau maksud? aku tidak mengerti?" Sangkalnya.


Tertawa kecil, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Alana.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu dengan anak-anakku, Louisa, dan Louis."


****


"Kakak, aku yakin itu suara Paman tampan?!" Ucap Louis, pada kakak perempuannya.


"Apakah kau yakin? mana, biar aku yang melihatnya."Jawab Louisa, dengan mengintip dari balik tirai yang menggelantung dipintu. Dan seketika senyuman mengembang diwajah bocah kecil itu, saat melihat keberadaan Dave dirumahnya.


"Benar Louis, Paman tampan ada disini?" Ucapnya, dengan wajah sumringah.


"Ayo Kakak kita pergi menghampiri Paman tampan, mungkin saja Paman datang membawa mainan untuk kita."


"Ayoo..?!" Dengan segera berlalu dari kamar, menyambangi Dave.


"Mereka, bukan anak-anakmu?!" Ucapnya, meyakinkan Dave.


"Paman....?!" Teriak Louis, dan Louisa seraya berlari kecil menyambangi pengusaha tampan itu.


Ketiga pasang mata itu, seketika teralihkan pada kedua bocah itu. Senyuman mengembang diwajah pria itu, saat melihat keberadaan kedua anaknya. Duduk berjongkok, seraya merentangkan tangan, guna menyambut tubuh kedua anaknya.


Louis, dan Louisa langsung menubruk tubuh mereka kedalam pelukan Dave, dengan kebahagian yang terliahat jelas, diwajah polos kedua bocah itu. Merangkul dengan erat, dengan rasa bersalah yang teramat sangat pada kedua anaknya.


"Paman, kenapa kau menangis?!" Tanya louisa, saat melihat mata sembab, pada mata Dave.


"Paman hanya bahagia, karena bertemu dengan kalian."


"Apakah, kau membawa mainan buat kami Paman?!"


Tersenyum kecil, saat mendengar ucapan anak laki-lakinya.


"Besok kita, kita akan membeli mainan yang banyak buat kalian berdua."


"Dave, pulanglah ini sudah malam?!"


"Malam ini, aku akan tidur dirumah ini."


"Apa kau sudah, gila Dave?!"


"Aku tidak perduli, kalau kau tidak menginjinkan aku untuk tidur disini , aku akan membawa Louis, dan louisa kevila tempat aku menginap."

__ADS_1


"Aku sudah bilang, mereka bukan anak_anakmu?!" Dengan nada, yang terdengar kesal.


"Dan aku sangat meyakini, kalau mereka adalah anakku."


__ADS_2