
Melepaskan pelukannya, dan menatap Laura dengan tatapan penuh cinta, dan dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan wanita yang perna begitu dicintainya, saat masih mengenyam pendidikan dibangku kuliah dulu.
"Aku mencintaimu, Laura..?" Ucapnya tiba-tiba, dengan tatapan menatap dalam wanita didepannya.
Laura terlihat begitu bahagia, saat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Dave, padanya, yang menurutnya seperti sebuah mimpi, bisa membuat seorang Dave Houston mengucapkan kalimat cinta.
"Apa yang tadi kau, katakan Dave?" Bertanya sekali lagi, seolah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki itu barusan.
"Aku mencintamu, Laura.?" Jawabnya, dengan senyuman kebahagian.
Seketika senyuman mengembang diwajah laura, dan dia terlihat begitu bahagia, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Dave, padanya.
"Aku juga sangat mencintamu, Dave? sangat mencintamu." Jawabnya, dengan senyuman kecil diwajahnya.
Keduanya terus saling menatap, dengan tatapan penuh cinta. Hingga tidak menyadari, bibir keduanya sudah saling beradu, disaksikan hamparan danau, yang membentang luas dikaki bukit.
Rose menutup mulutnya, saat melihat dari kejauhan pemandangan romantis itu. Dan diapun, meyakinkan dirinya kalau Dave memiliki hubungan khusus dengan CEO cantik itu.
"Terus hubungan apa, yang dia jalani dengan Alana. Aku yakin, hubungan dia, dan wanita itu, bukan hanya sekedar rekan kerja biasa. Dan aku harus menanyakan hal ini, pada Alana." Ucapnya, dengan berlalu begitu saja.
****
Alana tersenyum kecil, dengan terus menatap kedua anaknya yang tenga bermain ditaman belakang VIla itu. Hatinya bergemuruh tak menentu, ingin sekali dia terlepas dari jeratan yang dibuat oleh Dave. Tapi melihat senyuman kedua anaknya, membuat dia tidak berdaya.
Louisa yang sedari tadi bermain, seketika menghampiri Ibunya, saat melihat Alana tampak melamun.
"Mama..? apakah, kau baik-baik saja? kenapa kau melamun? apakah Papa membuamu, bersedih?" Tanya Louisa, dengan menatap intens Ibunya.
Membelai lembut pipi putrinya, dengan senyuman kecil diwajah.
"Tidak Sayang, Papa sama sekali tidak membuat Mama bersedih." Jawabnya tersenyum, berusaha meyakinkkan Louisa.
"Terus kenapa, kau menangis Maa?" Tanya Louisa, yang terdengar menuntut.
"Mama, tidak menangis Sayang? Mama hanya bahagia, percayalah." Jawabnya, meyakinkan putrinya.
"Kau tidak berbohong, padakukan Maa?!"
"Tentu tidak, anakku?"
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku akan bermain lagi." Seru Louisa, dengan kembali menyambangi Louis yang tenga bermain bola.
****
"Terima kasih, Bibi Alma?" Ucap Rose, saat Alma sang pelayan mengantarkannya menuju Alana, yang sedang berada ditaman belakang.
"Alana...?" Panggilnya, saat sudah berada didekat sahabatnya.
"Rose..? kau datang?" Dengan membalikkan tubuh, karena tidak menyangka akan kedatangan sahabatnya.
Melepaskan pelukannya, seraya menatap intens wajah Alana.
"Kau baik-baik saja, sepertinya kau sedang ada masalah."
Menghembuskan napas dalam, dan kembali menjatuhkan tubuhnya pada kursi, diiukti oleh teman baiknya itu.
"Aku akan menikah, Rose?" Ucapnya, dengan suara parau.
"Dan jangan katakan, kalau laki-laki yang akan menikah denganmu, adalah Dave."
"Aku akan menikah, dan pria itu adalah Dave."
"Kamu sedang tidak berbohong padaku kan, Alana?" Bertanya, dengan menatap intens sahabatnya.
"Aku sama sekali tidak berbohong, dan aku melakukan ini demi kedua anakku."
"Tapi Alana? kamu juga harus memikirkan kebahagianmu, asal kau tau, baru saja aku melihatnya berciuman dengan wanita itu. Dan mereka terlihat mesra."
"Aku tau, dan aku sama sekali tidak perduli dengan apa yang dia lakukan, karena aku tau dia mencintai wanita itu. Dan diapun, mengatakan padaku."
"Alana hatimu tidak diisi dengan siapapun, beda dengannya yang tenga menjalin hubungan dengan wanita lain. cinta itu bisa datang kapan saja. Dia mengisi hatinya dengan wanita lain, dan yang aku takutkan, suatu saat kau akan tersakiti, jika melihatnya terus bersama wanita itu, karena bagaimanapun, dia adalah suamimu nantinya. Karena cinta itu, bisa dantang kapan saja Alana?! dan aku minta hentikan hal gila ini?!"
"Kau lihat disana..?" Pinta Alana, dengan melemparkan pandangannya, pada arah dimana kedua anaknya tenga bermain.
Rose melemparkan tatapan matanya, menuju arah pandang Alana, yang tenga menatap kedua anaknya yang tersenyum bahagia.
"Mereka berdua sangat bahagia, dan alasan aku melakukan ini semua hanya karena mereka."
Rose menghembuskan napas kasar, dan dia berusaha memahami apa yang ada dilakukan oleh sahabatnya.
__ADS_1
"Aku hanya mau memperingatkan, karena cepat, atau lambat? Louisa, dan Louis akan mengetahui kebenarannya."
****
Sebuah mobil mewah masuk kedalam vila mewah itu, diwaktu yang sudah mulai senja. Terus menggandeng manja kekasihnya, tanpa sedikitpun ingin terlepas, saat melangka kedalam vila itu, dan mendapati Alana, disana."
"Dimana, anak-anak..?" Tanya Dave, yang sudah menghampiri Alana, bersama Laura.
"Mereka, sedang bersama Bibi Alama, pergi ketoko mainan." Jawab Alana, dengan sikap acuhnya.
Laura terus menggandeng manja Dave, tanpa memperdulikan Alana yang berada disitu.
"Sayang, aku minta kau katakan pada Alana, kalau kita sudah resmi berpacaran." Titah Laura, dengan sedikit berbisik.
Menghembuskan napas kasar, seraya mengaguk ia.
"Aku, dan Laura sudah resmi berpacaran. Dan aku juga sudah mengatakan padanya, kalau pernikahan kita ini hanya demi anak-anak."
"Lakukan, kalau itu bisa membuatmu senang Dave? dan maaf aku permisi dulu." Jawabnya, dengan berlalu begitu saja.
Dave terlihat begitu kesal, saat Alana tampak mengabaikan keberadaannya, dan juga Laura.
"Wanita itu, sangat tidak sopan, Dave?! Seru Laura, saat Alana tampak mengabaikan keberadaannya.
"kau tunggu disini, aku akan berbicara padanya." Ucap Dave, dengan berlalu menuju lantai dua.
Melangkahkan kaki menuju kamar, Dan menghampiri Alana, yang sedang berada dibalkon kamar.
"Dave?! lepaskan aku, lepaskan..?!" Ucap Alana, saat Dave mencengkram tangannya dengan sedikit kasar.
"Apakah kau tidak bisa sedikit saja, berperilaku sopan, Alana?! setidaknya hargai Laura, karena sekarang dia adalah kekasihku."
Menghempaskan genggaman tangan lelaki itu, sebelum menjawab apa yang dikatakan.
"Jadi apa yang harus aku lakukan pada, kekasihmu? apakah
harus menyembahnya, atau aku harus mencium kakinya?! ingat Dave?! yang mempunyai hubungan dengan Laura itu, kau?! bukan aku, dan aku sama sekali tidak perduli dengannya." Ucapnya, dengan berlalu begitu saja.
Dave terlihat begitu kesal, dia tidak menyangka Alana akan seberani itu padanya.
__ADS_1
"Dasar perempuan keras kepala, pembangkang?!" Dengan raut wajah yang memerah, seraya mengepal erat tanganya.