
Hembusan napasnya terdengar berat, saat dirinya sudah berada dengan jarak yang begitu dekat, dengan pria yang diam-diam sudah mencuri hatinya.
"Tuan Louis..." Panggilnya, pelan.
Tubuh yang semula membelakangi, perlahan berbalik menatap Rose.
"Nona Rose, kau sudah datang?"
"Maaf, buatmu menunggu." Dengan nada pelan, saat menjawab ucapan lelaki tampan itu.
Kegugupan semakin melanda diri, saat dirinya sudah berada dengan jarak, dan saling bertatap muka dengan Louis.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku Nona Rose?" Sebuah pertanyaan yang keluar dari bibir Louis, karena dirinya sangat penasaran apa yang akan dibicarakan, sahabat baik dari Alana itu.
Raut wajahnya seketika pucat pasih, saat Louis menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya didalamnya, akibat rasa penasaran.
"Aku...aku...." Akibat kegugupan yang masih melanda diri, dan perasaan takut jika cintanya ditolak.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Dan apa yang kau sembunyikan dibelakangmu." Dengan tatapan mata, berusaha menelusuri belakang tubuh Rose.
Dengan berani gadis berlesung pipi itu, mendongakkan kepala menatap pria didepannya, yang tengah menantikan jawaban darinya.
"Aku..." Dengan mengambil napas dalam sejenak.
Aku menyukaimu Tuan Louis..." Dengan langsung memberikan setangkai bunga mawar itu, pada pria didepannya.
Raut wajah kaget, terlihat jelas diwajah tampan sang pengusaha. Menautkan kedua alisnya, berusaha menelusuri kata suka dari ucapan gadis didepannya.
"Menyukaiku, maksudmu..?"
Saat Louis belum memahami apa yang dia maksud, Rose berusaha memberanikan diri mengutarakan perasaannya agar membuat Louis lebih dapat mengerti, kalau dia telah jatuhati padanya.
"Aku.. aku mencintaimu Tuan Louis. Aku tau, tidak pantas aku mengatakan ini padamu, apalagi aku seorang wanita. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, kalau selama ini diam-diam aku begitu mengagumimu, saat kau masih menjalin hubungan dengan Alana. Kukira awalnya hanya perasaan kagum semata. Tapi setelah aku menelusuri hatiku ini, aku sadar, kalau aku telah jatuhcinta padamu. Dan kalau kau menerima cintaku, aku minta kau menerima bunga mawar ini," Dengan tangan, masih menyodorkan bunga mawar merah itu,
Tatapannya begitu dalam menatap gadis didepannya, yang masih setia menunggu jawaban darinya, dengan jemari menggenggam setangkai bunga mawar.
__ADS_1
"Apa kau sadar, dengan apa yang kau katakan padaku sekarang Nona Rose?!"
Tatapan Rose seketika intens, dan berusaha menelusuri apa maksud dari perkataan Louis barusan.
"Aku sangat sadar dengan apa yang aku katakan, saat ini Tuan Louis?" Jawabnya, pelan.
Tawa kecil membingkai diwajah tampan itu, saat mendengar apa yang dikatakan Rose padanya, kalau dia telah jatuhati pada dirinya, saat masih menjalin hubungan dengan Alana.
"Nona Rose... Nona Rose, kau tau.. kau membuatku kaget. Dan aku sangat mengancungi jempol buat keberanianmu, yang sudah mengutarakan perasaanmu padaku. Dan..." Dengan meraih bunga dari tangan gadis itu. Hingga membuat Rose seketika tersenyum bahagia, karena mengirah Louis menerima cintanya.
Dan alangkah terkejutnya gadis manis itu, saat pengusaha tampan itu menjatuhkan bunga mawar pemberian darinya.
"Tapi Sayang, aku tidak menyukaimu sama sekali Nona Rose..?" Dengan senyuman mencemooh, menatap gadis didepannya.
"Apakah kau mengirah, karena aku baru saja mengakhiri hubunganku dengan Alana, jadi kau bisa dengan mudanya masuk dalam kehidupanku. Kau sangat salah Nona Rose, aku sama sekali tidak menyukaimu. Jadi kau jangan pernah berharap lebih dariku,"
Rose hanya bisa menunduk, dan tersenyum getir saat mendengar apa yang dikatakan lelaki didepannya. Apalagi, Louis menolak bunga pemberian darinya dengan cara menjatuhkannya.
"Maafkan aku Tuan Louis... maafkan aku karena sudah lancang mengutarakan perasaanku padamu. Sebenarnya aku harus menyadari posisiku. Dan sekaali lagi, maafkan aku."
PERCAKAPAN.
"Hallo Delina..?"
"Hallo Louis, dimana kau. Tadi kau mengatakan kalau kita akan bertemu direstorant. Dan sekarang aku sudah berada disini, tapi kau belum datang juga." Dengan nada yang terdengar kesal, diseberang sana.
"Maafkan aku. Aku ada urusan sebentar, dan aku akan kesana sekarang."
"Baiklah Louis... sampai nanti." Dengan langsung memutuskan, sambungan teleponenya.
Tatapan lelaki tampan itu, teralihkan menatap gadis didepanya yang masih menundukkan kepala.
"Aku rasa, aku tidak perlu berbicara dua kali lagi. Dan kurasa semuanya sudah jelas. Aku sama sekali tidak menyukaimu, dan aku harap kau mengerti. Dan maaf aku harus segera pergi, sebab temanku menunggu." Pamit Louis dengan melangkah pergi, dan saat kedua kaki itu meninggalkan taman, langkah kaki pria itu secara tak sengaja menginjak bunga mawar yang tergelak diatas rerumputan hijau itu.
Dengan perlahan Rose menunduk, dan meraih bunga yang sudah terlihat tidak sesegar seperti tadi.
__ADS_1
Tersenyum getir, dan tak bisa dibayangkan bagaimana suasana hati gadis berambut pirang itu.
Tatapannya terlempar pada Louis, yang sudah berlalu pergi dengan bolamata sudah berkaca-kaca, dan perasaan berkecamuk dalam dirinya saat ini.
"Apakah karena aku tidak sekaya Alana, jadi kau tidak menerimaku Tuan Louis? ataukah karena diriku yang hanya seorang karyawan biasa, jadi kau malu memiliki kekasih seperti diriku, atau karena wanita tadi?" Bergumam sendiri, dibalik kesedihan yang tengah membelenggu diri saat ini.
Rose melangkah menghampiri sebuah kursi, yang tidak jauh dari posisi dia berpijak. Menduduki kursi panjang itu, dengan tatapan mata menatap hamparan danau yang berada didepannya, dimana angsa-angsa putih berenang bebas kesana-kemari menunjukkan pesona mereka.
"Sebenarnya aku harus berpikir dua kali, sebelum mengutarakan perasaanku padanya. Agar aku tidak sesakit ini nantinya, saat dia menolakku." Gumamnya, dengan raut wajah yang terlihat sendu.
****
Senyum terus mengembang diwajah Louis, saat kedua kakinya membawanya menuju dalam restorant. Saat berada didalam lelaki tampan itu mengedarkan pandangannya kesegalah arah, dan mendapati Delina seorang gadis cantk yang berprofesi sebagai psikolog, tengah melambai-lambaikan tangannya diudara.
Senyum mengembang diwajah tampan itu, dengan mengambil langkah panjang, Louis menghampiri Delina yang duduk dimeja nomor 8.
"Maaf, buatmu menunggu" Tersenyum, seraya menarik sebuah kursi dan mendudukinya.
Mimik cemberut, dan berpura-pura kesal, itulah yang terlihat dari raut wajah Delina saat menndengar apa yang dikatakan pengusaha tampan itu.
"Kau membuatku marah Louis?! kau tau, padahal sebelumnya kaulah yang membuat janji ini terlebih dahulu. Dan ini malah kau melupankannya. Untung saja aku menelponemu, kalau tidak pasti kau akan lupa kalau kau membuat janji bertemu denganku."
"Sekali lagi, maafkan aku." Ucapnya, tersenyum.
Rose.
Louis.
Delina.
__ADS_1