
Rose seketika kaget saat Alana memanggilnya, dengan cepat dia membalikkan tubuhnya, dan berpura-pura tidak mendengarnya, sebab sesungguhnya dia ingin menghindar.
"Rose..." Suara panggilan Alana terdengar lagi, saat melihat sahabat baiknya akan pergi meninggalkan taman.
"Nona Rose.. , Nona Alana memanggil anda." Ucap Salasatu pelayan, saat gadis berlesung pipi itu akan melangkan kaki meninggalkan taman.
Hembusan napas terdengar berat, rasanya dia ingin berlari sejauh mungkin agar bisa menghindar dari lelaki yang sudah membuatnya patah hati Sebab dia merasa tidak punya muka saat berhadapan dengan pria itu, saat mengngat bagaimana cara Louis menolak dirinya. Apalagi sekarang pengusaha tampan itu, membawa seorang wanita yang mungkin adalah kekasihnya.
"Kenapa Alana harus memanggilku? kalau aku tau akan seperti ini, sebaiknya dari tadi aku dikamar saja. Daripada harus bertatap muka dengannya, apalagi dengan mentah-mentah dia menolakku."
Melihat tatapan keempat orang dewasa itu masih tertuju padanya, membuat Rose mau tidak mau tidak punya pilihan lain, selain menyambangi mereka.
Rasa gugup, takut, menyelimuti diri, saat kedua kaki itu membawanya melangkah menuju mereka, dan dia seperti orang yang akan menghadapi perang.
Tatapan mereka tertuju padanya, saat Rose melangkahkan kaki kearah mereka. Terutama Louis yang terus menatap gadis berambut pirang itu, dengan tatapan mengandung banyak arti. Dan itu semakin menambah kegugupan dalam diri gadis cantik itu.
"Kau darimana saja Rose? daritadi aku terus mencarimu?" Sebuah pertanyaan, yang terselip rasa khawatir pada teman baiknya itu.
"A..aku, daritadi didalam kamar Alana," Jawabnya terbata.
Saat melemparkan pandangannya kearah lain, secara tak sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan Louis. Dan dengan cepat Rose melemparkan pandangannya kearah lain, karena tidak ingin bertatapan dengan pria itu.
"Kau baik-baik saja Nona Rose? kau terlihat seperti kurang sehat." Tanya Dave, saat mendapati raut wajah sahabat istrnya yang terlihat pucat.
"Aku baik-baik saja, Tuan Dave?"
"Rose, kenalkan ini Nona Delena dia seorang Psikolog." Seru Alana yang memperkenalkan Delena, pada sahabat baiknya Rose.
Delena tersenyum ramah menatap Rose. Gadis cantik itu segera mengulurkan tangannya pada Rose, yang masih berdiam.
"Kenalkan aku Delena. Delena Walker."
Dalam diri Rose, sebenarnya sangat enggan berkenalan dengan Delena, mengingat kemungkinan wanita itu yang menjadi alasan Louis, menolak dirinya. Tapi sangat tidak mungkin dia tidak membalas uluran tangan Delena, mengingat tidak ada alasan baginya untuk tidak membalas uluran tangan gadis itu. Toh, dia bukan siapa-siapa dari Louis.
"Cantik. Wanita karir, dan juga pasti dari kalangan atas. Pantas saja, Tuan Louis jatuhcinta nampak padanya. Dia begitu sempuarna." Membathin, saat dirinya berhadapan dengan Delena.
__ADS_1
Dan dengan berat hati, Rose membalas uluran tangan gadis itu.
"Rose..." Jawabnya tersenyum.
Tidak ingin berlama-lama menghabiskan waktu dengan keempat orang dewasa itu, Rose memilih untuk menghindar. Agar tidak lebih terlalu mesarakan sakit dihatinya, akan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Maaf semuanya, aku harus segera kembali untuk membantu Bibi Alma." Rose beralasan untuk dapat menghindar dari Louis, agar perasaan kecewa itu tidak terlalu dalam dia rasakan.
Kedua bolamata Dave, terus menatap sahabat istrinya yang telah berlalu pergi. Dan melihat raut wajah Rose yang nampak tidak bersemangat, membuatnya yakin kalau gadis itu, tengah menyembunyikan sesuatu.
"Sepertinya temanmu, sedang tidak baik-baik saja Alana? mungkinkah dia sedang patahati?" Ucap Dave berbisik, yang mencoba untuk menebak.
"Apakah kau yakin Dave?"
"Tentu saja Alana? sepertinya dia sedang jatuhcinta pada seseorang."
Alana hanya terdiam, dan dalam dirinya bertanya siapa pria yang disukai sahabat baiknya itu, hingga membuat Rose nampak tidak bersemangat.
"Kalaupun ada. Siapa pria itu? kenapa dia tidak memberitahuku? bukankah selama ini dia selalu terbuka padaku?" Alana membathin, dengan tatapan mata terus menatap sahabatnya yang telah berlalu pergi.
"Maaf, aku kekamar mandi sebentar." Pamitnya, berlalu begitu saja.
Langkah kaki itu sedikit tergesa-gesa, saat menngikuti langkah kaki Rose yang menyusuri taman samping rumah mewah itu.
Rose berjalan menyusuri samping rumah Alana yang terlihat sepi, dan hanya ada beberapa lampu yang menyinarinya, hingga membuat taman itu terlihat sedikit gelap.
"Buat apa, aku harus menangis untuk pria yang tidak mencintaiku. Bagaimanapun aku harus belajar melupakannya. Mencintai, bukan berart kita harus memiliki. Dan aku yakin, aku bisa melewati ini semua." Gumamnya dengan meyakinkan diri sendiri, saat kedua kaki itu terus melangkah.
Dan seketika Rose begitu kaget, saat ada seseorang yang menarik tangannya, dan membawanya ketempat yang lebih sepi.
"Lepaskan aku... lepaskan...." Pintanya, dengan berusaha melepaskan genggaman tangan kekar itu.
Tidak menghiraukan permintaan gadis berlesung pipi itu, Louis terus menarik tangan Rose membawanya ketempat yang terlihat lebih gelap, dan menyekapnya kesudut tembok. Dan betapa terkejutnya Rose, saat mengetahui orang menariknya ternyata adalah pria yang sudah membuatnya patahati untuk pertama kalinya.
"Tuan Louis... anda..?" Tatapan intens, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
Lepaskan saya Tuan..! lepaskan saya ..?!" Saat tangan itu menggemgamnya, dan tangan lainnya memenjarakan dirinya didinding rumah itu,
Menyeringai diwajah tampannya, saat mendengar permintaan gadis berambut prang itu.
"Kenapa kamu bersikap acuh padaku? apakah kamu marah, karena aku tidak menerima cintamu?"
"Saya hanya bersikap sewajarnya saja Tuan? bukankah sebelumnya kita tidak saling kenal? dan saya juga sudah memutuskan, untuk membunuh perasaan saya pada anda. Buat apa saya mencintai Tuan, tapi Tuan tidak mencintai saya. Apalagi Tuan datang bersama kekasih anda."
"Kekasih...?" Dengan menaautkan kedua alisanya, menatap intens gadis didepannya.
Tatapan matanya kembali berkaca-kaca, saat mengingat kembali ketika Delena menggandeng tangan Louis, dan mereka terlihat mesrah.
"Nona Delena sangat cantik, dan sangat serasi dengan Tuan Louis. Dia seorang wanita karir, bukan seperti saya yang hanya karyawan biasa disebuah toko kue. Dan saya sudah memutuskan, untuk melupakan anda. Sebab tidak selamanya, kita harus memiliki orang yang kita cintai. Melihatnya bahagia bersama orang lain saja, sudah membuat kita bahagia." Dengan memberanikan diri, menatap wajah tampan itu.
"Jadi apa kamu akan melupakan perasaanmu padaku, Rose?" Dengan kedua tangan memenjarakan tubuh gadis cantik itu, dan menatapnya dengan dalam.
"Iya saya akan melupakan perasaan saya pada Tuan, dan berusaha mencintai pria lain. Walaupun itu sulit." Dengan peuh keyakinan, saat menjawab pertanyaan itu.
Ntah kenapa ada rasa tidak suka dalam diri Louis, saat mendengar apa yang dikatakan gadis bermanik abu itu.
"Kamu yakin?" Mencoba, untuk bertanya lagi.
"Tentu saja, saya sangat yakin.' Jawabnya dengan nada berapi-api.
Napas terdengar berat, dan terselip rasa tidak suka didalamnya.
"Saya akan membuat kamu, tidak dapat melupakan saya. Dan saya yakin, ini pasti ciuman pertama kamu." Ucapnya, dengan langsung mengecup lembut bibir Rose.
Rose begitu terkejut saat Louis menempelkan bibirnya, kebibir miliknya. Tubuhnya membeku seketika, seolah kecupan itu membuatnya tidak bisa bersuara, ataupun memberontak seperti tadi.
Mendapati Rose yang hanya terdiam, ataupun tidak menolak kecupan itu. Membuat Louis makin memperdalam ciumannya. Kedua bolamata itu membulat sempurna, saat Louis mulai mengecap bibirnya, dan ntah kenapa dia membiarkan saat lidah pria itu menelusuri rongga mulutnya. Tidak membalas ciuman itu, Rose hanya membiarkan Louis melakukan sendirian.
Napasnya mereka terengah-engah, saat menyudahi ciuaman panas itu.
"Apa yang anda lakukan pada saya Tuan?" Bertanya dengan tatapan yang begitu dalam, menatap pria didepannya.
__ADS_1
"Aku baru saja menciummu. Dan aku yakin, kau pasti tidak akan bisa segampang itu melupakan aku."