
Damian melangkahkan kaki kembali keruang ICU, setelah berbicara dengan putri tirinya Alana. Hentakan kakinya terasa begitu berat, saat kedua kakinya beriringan melangkah bersamaan.
Raut wajahnya menunjukkan kesedihaan yang mendalam, karena bagaimanapun tidak ada orangtua yang menginginkan rumah tangga anaknya, berakhir dengan kata cerai.
Tapi melihat raut wajah Alana pada saat dia menanyakan, apakah dia mencintai Louis, Damian sudah sangat yakin kalau putrinya, sangat mencintai sahabat anaknya itu.
Langkah kaki itu terhenti seketika, saat dari kejahuan dia melihat para tenaga medis, yang masuk kedalam ruang ICU. Pikiran buruk seketika menghinggapi. Dan dengan langkah cepat, lelaki tua itu melangkah keruang ICU>
Membuka pintu ruangan, dengan napas-napas terengah-engah. Dan saat sampai didepan pintu, Damian begitu terkejut, dan juga bahagia, saat melihat Dave sudah siuman, dengan para tenaga medis, yang tengah melepas alat-alat yang membantunya untuk bertahan hidup selama beberapa hari ini.
Dave mendongakkan kepalanya kearah pintu, senyuman kebahagian membingkai wajahnya, saat melihat keberadaan ayahnya disana.
"Papa.." Gumamnya.
Dengan senyuman kecil, Damian segera menghampiri anak laki-lakinya.
"Dave, kau sudah sadar Nak?"
Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?" Dengan raut wajah, sumringah.
"Tuan Dave sudah melewati semuanya Tuan, dan setelah ini dia sudah bisa dipindahkan keruang rawat,"
"Terima kasih, Dokter?"
"Sama-sama Tuan, dan kalau begitu saya permisi dulu,"
"Baik Dokter?"
"Bagaimana keadaanmu, apakah ada yang masih sakit?" Tanya Damian, dengan raut wajah yang menunjukkan kekhawatiran yang teramat sangat.
Tersenyum kecil, dan dengan mata sudah berkaca-kaca saat melihat raut wajah khawatir ayahnya.
"Maafkan aku Paa, maafkan aku. Aku sudah terlalu banyak salahpadamu, jadi Tuan menghukumku dengan cara seperti ini."
"Sudalah, kita bicarakan itu saja nanti. Yang penting sekarang, kau sudah sadar dari komamu, dan itu sudah membuat Papa sangat bahagia,"
Dave mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru arah ruangan, dan dia nampak sedang mencari seseorang.
"Papa, dimana Alana?"
"Alana sedang berada diluar Dave, dia selalu menemanimu, saat kau pertama masuk rumahsakit."
Terlihat jelas rona penyesalan dalam diri seorang Dave, saat mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Walaupun Alana membencinya, tapi wanita itu tetap setia berada disampingnya saat keadaannya tidak berdaya.
"Papa, aku ingin bicara dengan Alana. Aku mohon, tolong panggil dia."
"Daven.."
"Ada apa, Tuan?"
"Panggil Alana sekarang, katakan padanya kalau Dave sudah sadar."
"Baik Tuan." Jawabnya, dengan berlalu dari ruangan itu.
Ditaman belakang rumah sakit Alana tengah duduk, ditemani Louis kekasihnya. Keheningan terjadi antara keduanya, dan tidak ada yang berbicara. Sepertinya keduanya tengah larut dalam suasana masing-masing, dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini. Hembusan angin sedikit kencang, ditambah musim dingin yang tengah menyelimuti kota London, seolah nampak tak berpengaruh bagi pasangan kekasih itu, untuk beranjak dari taman itu.
__ADS_1
Daven menghembuskan napas kasarnya saat tiba ditaman, mendapati Louis juga berada disana.
Dengan memberanikan diri, dia menghampiri keduanya.
"Nona.."
Mendengar panggilan itu, lamunan keduanya terpeca. Dan berbalik, keasal suara.
"Ada apa, Daven? apakah, Papa memanggilku?" Tanya Alana, yang sudah beranjak dari duduknya.
"Bukan Nona, saya datang kesini atas permintaan Tuan Dave."
"Dave..?!" Ucap keduanya, bersamaan.
"Iya Nona Alana, Tuan Louis, Tuan Dave sudah sadar. Dan ingin bertemu, dengan anda Nona,"
"Dave sudah sadar, dari komanya?" Tanya Alana, memastikan.
"Iya Nona, dan dia ingin berbicara dengan anda."
Hening sesaat, dan berat untuk melangkah, karena merasa tidak enak hati dengan kekasihnya, yang sedang berada disampingnya.
"Pergilah, aku tidak apa-apa."
"Maafkan aku, Louis. Ayo Daven, kita kesana." Ucapnya dengan berlalu bersama Daven, dari taman itu.
Louis mendongakkan kepalanya menatap langit, yang bertaburan bintang-bintang kecil. Senyum merekah diwajah tampan itu, dan sedikit rasa sedih yang nyaris tak terlihat, dan dia berusaha untuk tetap menyembunyikan.
"Kalau memang dia benar-benar jodohku, aku pasti akan tetap memilikinya. kalau memang bukan, aku tidak bisa memaksa. kalau memang kehendak Tuhan, untuk tidak membiarkan aku memilikinya." Gumamnya, pelan.
****
Saat tiba didepan ruang ICU, wanita cantik itu seolah berat melangkah kedalam. Ada rasa ragu, gelisah, bercampur menjadi satu.
"Ayo Nona, mari kita masuk," Ajak Daven, saat melihat Nona mudanya masih berdiam didepan.
Ikuti kata hati anda Nona, apapun keputusanmu. Aku pasti akan selalu mendukung," Ucap Daven, dengan senyuman kecil diwajahnya.
Hanya mengangukkan kepala, dengan menghembuskan napas sejenak, dan diapun mantap melangkah masuk.
Pintu ruangan terbuka, yang mengalihkan tatapan ketiga orang dewasa disana.
Terutama Dave, yang enggan mengalihkan tatapan dari wajah istrinya, saat wanita itu melangkah masuk.
"Dave..."Gumamnya, dengan memaksa untuk tersenyum.
Damian yang sudah merasa suasana canggung diantara kedua anaknya, berinisiatif untuk meninggalkan ruangan itu.
"Daven, Jordan, ayo kta keluar!"
Tanpa menjawab, kedua pria itu langsung mengikuti langkah kaki Damian, yang sudah berlalu keluar dari ruang ICU.
Setelah pergi ketiganya, suasana hening. Alana hanya diam, dan tidak berbicara, karena bingung harus memulai darimana.
"Alana.." Panggil Dave, tiba-tiba.
__ADS_1
"Ada apa, Dave?"
'Kenapa kau begitu jauh, dariku Alana?"
Dengan senyuman kecil, dia menghampiri pria itu, dan duduk disamping ranjang.
Tatapan Dave begitu intens menatap wajah istrinya, yang sangat dia rindukan.
"Apakah ada kesempatan sekali lagi bagiku, untuk bisa memperbaiki semuanya Alana?! menjadi ayah yang baik, dan suami yang baik buatmu." Dengan tatapan memohon, dan mata berkaca-kaca.
"Dave.." Jawab Alana yang bingung, saat Dave mengatakan kalimat yang cukup membuat dia terkekejut.
"Aku serius Alana! aku serius. Maafkan aku, maafkan aku yang sudah banyak menyakitimu selama ini, dan aku.." Dengan menjeda kalimatnya, sejenak.
"Dan aku apa, Dave?" Tanya Alana yang terlihat penasaran, saat Dave tidak melanjutkan lagi apa yang dia katakan.
Meraih tangan Alana, hingga membuat wanita itu sedikit kaget, tapi tetap bersikap tenang.
"Maafkan aku, yang baru menyadarinya sekarang, dan berikan aku satu kesempatan untukku memperbaiki semua kesalahanku. Aku mencintaimu Alana, aku mencintaimu." Dengan tatapan nanar, menatap Alana.
"Apakah kau serius Dave, lalu bagaiaman dengan Laura?"
"Setelah keluar dari rumah sakit, aku akan mengakhiri hubungan kami, dan menjual perusahaan, dan aku ingin kita memulai semuanya dari awal, dengan kembali keAmerika."
Alana hanya terdiam, dan wanita cantik itu nampak kebingungan dengan apa yang baru saja dia dengar dari bibir pengusaha itu.
"Alana..."
"I..iya, Dave?" Jawabnya, yang terjaga dari lamunan.
"Kemarilah."
'Mau kemari kemana, Dave? bukankah, aku sudah dekat denganmu?"
"Maksudku, duduk disampingku."
"Ta..tapi Dave, kau sedang sakit?"
"Aku laki-laki kuat Alana.." Dengan senyum, kecilnya.
Tidak ingin mengecewakan suaminya, dengan terpaksa Alana bangun tempat duduknya, dan duduk disisi ranjang.
Tatapan Dave menatap dengan lekat wajah istrinya, hingga membuat Alana nampak tidak nyaman.
"Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku tidak nyaman Dave,"
"Aku mencintaimu, Alana? aku mohon, berikan aku satu kesempatan lagi,"
Tidak bisa menjawab, dan hanya memaksa untuk tersenyum, karena semuanya terlalu cepat, mengingat bagaimana kehidupan rumahtangga mereka selama ini. Dengan perlahan lelaki tampan itu mengangkat tangannya, dan menyelipkan kekening beberapa helain rambut Alana, yang menutup wajah cantiknya.
Dave berusaha untuk duduk, dengan tubuh yang masih terasa lemah. Hingga jarak dia, dan Alana terlihat begitu dekat.
"Dave, apa yang akan kau lakukan?"
"Ijinkan aku, untuk menciummu."
__ADS_1
"Tapi Dave, kita sedang bera.." Belum selesai Alana menyelesaikan kalimatnya, Dave sudah mencium bibirnya.
Ciuman itu terlihat begitu menuntut, yang menyalurkan semua rasa rindu, dan bersalahnya pada Alana. Merengkuh pinggang Alana, yang semakin memperdalam ciuman mereka.