
"Dave duduk disebuah sofa panjang, yang terletak diruang tamu. Raut wajah lelaki tampan itu, menunjukkan kegelisahan yang teramat sangat.
Marah, kecewa, sakit hati, dan terkejut semua dia rasakan jadi satu, dengan kenyataan yang baru saja dia tahu, kalau istrinya tengah menjalin hubungan spesial, dengan sahabat baiknya sendiri.
Bangun dari duduknya, dan kembali menyambangi pintu utama, untuk melihat mungkin saja Alana sudah datang. Dan kembali dia menelan rasa kecewa, karena sang istri belum juga menampakan batang hidungnya.
"Kemana perginya dia, dan sibrengsek itu! kenapa dia belum pulang juga."
Dan kembali menyambangi kursi, yang dia duduki. Meraih ponselnya yang terletak diatas meja, dan mencoba menghubungi Alana kembali.
Suara telepone terhubung kenomor ponsel disana, dan lagi-lagi telepone darinya diabaikan oleh Alana.
"Alana...!! kau sudah sangat keterlaluan. Kau bahkan, mengambaikan telepone, dari aku suamimu!" Dengan raut wajah yang terlihat begitu kecewa, dan tersirat kesedihan yang mendalam disana.
Daven, dan Alma terus menatap Tuanmudanya, tanpa berkata-kata.
"Kenapa Tuan Dave, harus marah?! bukankah dia juga, menjalin hubungan Nona Laura? selama ini dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan kekasihnya, daripada istrinnya sendiri. Dan disaat dia tahu Nona Alana tengah menjalin hubungan dengan Tuan Louis, baru dia perduli dengan istrinya, marah-marah, dan datang kerumah ini." Seru Alma, dengan raut wajah kesalnya.
"Mungkin dengan kejadian ini, baru Tuan menyadari seberapa arti, dan rasa takut akan kehilangan Nona Alana. Maksudku, tanpa dia mengatakanpun kita bisa menilai dari cara yang dia tunjukkan hari ini, kalau sebenarnya dia telah jatuhcinta pada istrinya."
Detik terus melangkah menuju senja, hingga sang mentari sedikit demi sedikit mulai meredupkan panasnya, dan menghilang secara perlahan dari muka bumi.
"Alana, kenapa kau tega melakukan ini padaku! bahkan, dengan sahabatku sendiri." Bathin Dave, dengan kesedihan yang terlihat jelas dari raut wajahnya.
Berulang kali dia bangun dari duduknya, dan menghampiri pintu utama, untuk melihat kedatangan Alana. Tapi yang ditunggu, tak kunjung datang jua. Dan berulang kali mencoba menghubungi istrinya, tapi yang ditelepone tak kunjung mengangkatnya.
"Alana...Alana.., bahkan sudah hampir gelap saja kau belum juga pulang! Louis, kau sudah benar-benar, mencari masalah denganku. Apakah kau lupa! kalau Alana adalah istriku." Bathinnya, dengan raut wajah yang begitu memerah.
Dentingan jam terus melangkah, hingga tidak terasa sudah menunjukkan pukul tujum malam. Tapi hingga kini, Alana belum pulang juga.
Terdengar suara telepone pada ponsel miliknya, dan dengan segera Dave mengangkatnya, sebab dia mengirah itu telepone dari istrinya. Tapi raut wajah itu memelas, saat melihat yang melakukan penggilan telepone, ternyata dari kekasihnya, Laura.
Membiarkan begitu saja, hingga telepone itu berakhir dengan sendirinya.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara pesan masuk, pada ponselnya. Dan Dave meyakini, itu pasti dari Laura. Meraih ponselnya kembali, dan membaca pesan itu.
"Sayang! kenapa kau tidak mengangkat teleponeku. Dan dimana kau sekarang. Kenapa belum pulang juga.
__ADS_1
Senyuman membingkai diwajahnya, dan meletakkan kembali ponselnya itu.
Alma menghampiri Tuanmuda, uantuk menyampaikan kalau makan malam sudah siap.
"Tuan, makan malam sudah siap."
"Aku sedang tidak berselerah, untuk makan."
"Setidaknya, makanlah sedikit saja Tuan?" Celah Daven.
"Kenapa dia belum pulang juga, Daven?" Dengan kesedihan, yang terlihat jelas dari raut wajah tampan itu.
"Maafkan saya Tuan, tapi untuk itu saya sama sekali tidak tau."
Beranjak dari duduknya, setelah meraih ponselnya yang tersimpan diatas meja.
"Kalian berdua makanlah dulu, aku sedang tidak berselerah. Dan malam ini, aku akan tidur disini." Dengan beranjak dari duduknya, dan melangkah menuju arah tangga, menuju lantai tiga kamarnya.
Daven, dan Alma sekilas saling menatap, dan timbul rasa iba dalam diri mereka masing-masing, pada keadaan Tuanmudanya yang terlihat begitu kacau.
"Baru sehari saja Nona Alana memperlakukan dia seperti ini, keadaannya sudah sangat kacau begini. Apalagi kalau dia sampai melihat Nona Alana bermesraan, berciuman, atau tidak pulang sampai bermingguan seperti yang dia lakukan pada Nona, mungkin keadaannya akan jauh lebih buruk lagi, dari yang kita lihat sekarang, Daven?" Seru Alma, dengan terus menatap Dave yang telah menyusuri anak tangga.
Detik terus melangkah, hingga waktu telah menunjukkan pukul delapan malam.
Sebuah mobil mewah terparkir, digerbang rumah berlantai tiga itu.
Dan saat Alana akan turun, Louis seketika mencekal tangan kekasihnya.
"Kenapa?" Dengan senyuman, menatap wajah tampan itu.
"Apakah kau tidak menciumku, sebagai ucapan selamat malam?"
Tawa kecil membingkai diwajah cantiknya, saat mendengar apa yang diinginkan kekasihnya.
"Ayolah, bahkan tadi kita sudah berciuman beberapa kali. Tapi kenapa, kau masih belum puas juga."
"Karena aku tidak akan pernah bosan, jika berciuman denganmu, Alana?"
__ADS_1
Senyuman kecil membingkai diwajah cantik Alana, saat mendengar apa yang dikatakan kekasihnya.
"Aku mencintaimu, Louis..?" Dengan mendekatkan bibirnya kebibir pria itu, dan menciumnya dengan begitu dalam.
Saling mengecap bibi masing-masing, hingga membuat Louis semakin ingin memperdalam ciuman mereka. Merangkul penuh pinggang Alana, dan disaat lidahnya ingin menerobos dalam mulut Alana, dengan cepat wanita itu menarik diri.
"Nanti aku tidak akan turun-turun dari mobil, jika kau masih ingin kita berciuman terus, Louis?"
"Maafkan aku, dan terima kasih karena sudah mencintaiku. Dengan mengecup singkat bibir Alana, dan membuka pintu mobilnya.
Turunlah."
Mengangguk, dengan senyuman diwajahnya, dan berlalu turun dari mobil itu.
Alana segera berlalu kedalam rumahnya, setelah membuka gerbang yang kebetulan tidak terkunci.
Raut wajahnya terlihat begitu ceria, senyuman terus mengembang diwajah wanita berambut panjang itu, saat melangkah menuju rumah mewahnya. Tak sengaja dia melemparkan pandangannya kearah lain, senyuman seketika pudar diraut wajah Alana, saat melihat keberadaan mobil suaminya.
"Jadi Dave, sedang berada dirumah. Apakah dia datang kemari, hanya untuk mengambil pakaian-pakaiannya, atau untuk berganti mobil saja, dan kemudian pergi lagi, seperti yang biasa dia lakukan." Gumamnya, dan kembali melanjutkan langkahnya, kedalam rumah.
Saat tengah berbincang-bincang Alma, dan Daven dikejutkan dengan kedatangan Alana.
"Nona Alana, anda sudah pulang?"
"Iya. Dan aku kekamar dulu untuk membersikan diri, dan setelah itu baru aku akan turun untuk makan malam." Seru Alana, dengan melanjutkan langkahnya menuju arah tangga.
"Nona Alana..." Panggil Daven, tiba-tiba.
Menghentikan langkahnya yang sudah menaiki tangga, dan berbalik menatap sekretaris itu.
"Ada apa?"
"Tuan Dave, sedang berada dirumah."
"Aku sudah tau." Dengan kembali, melanjutkan langkah kakinya.
"Kita liat saja, setelah ini pasti akan ada pertengkaran antara mereka."
__ADS_1
"Iya Bibi, kita tunggu saja."