
Raut wajahnya begitu memerah, saat membaca tulisan tangan alana, yang menuangkan semua kesedihan dihatinya lewat goresan tangannya diatas kertas dairy.
"Maafkan Papa, Alana?! maafkan Papa, maafkan Papa yang tidak menyadari semua kesedihanmu. Dan seandainya saja Papa tidak pergi keluar kota waktu itu, pasti kejadian itu tidak akan terjadi. Dave..?! sekalipun kau adalah putraku, tapi Papa akan tetap meminta kau mempertanggung jawabkan perbuatanmu." Gumamnya dengan kemarahan yang teramat sangat, yang terlihat dari raut wajahnya yang begitu memerah.
Berlalu dari kamar Alana, untuk menunggu kedatangan putranya. Dan saat tiba dilantai bawa, Damian berpapasan dengan Paula, pelayan rumahnya.
"Paula..?!" Dengan nada, yang terdengar sedikit kasar.
"A..ada apa, Tuan?" Dengan menghentikan langkanya, saat akan berlalu kedapur.
"katakan, padaku. Apakah Dave, sudah pulang?!"
"Belum, Tuan? memangnya kenapa, apakah ada sesuatu yang penting?" Dengan raut wajah, yang sudah berubah pucat.
Menyurutkan kedua alisnya, menatap penasaran Paula, yang terlihat begitu gugup.
"Katakan, apakah kau juga mengetahui kejadian Ini?" Dengan tatapan penuh selidik, menatap Paula.
Raut wajahnya seketika berubah gugup, dan pucat pasih dengan apa yang ditanyakan oleh majikannya itu.
"Ma..maksud anda apa, Tuan?"
Tertawa kecil, dengan tatapan mata sudah berkaca-kaca.
"Kenapa kau tidak memberitahuku? kalau Dave telah menodai Alana, Paula...?! kenapa..?!" Teriaknya, dengan kemarahan yangn teramat sangat.
Paula seketika menangis, dengan pertanyaan Damian padanya. "Ma..maafkan saya Tuan, maafkan saya. Nona Alana sendiri, yang meminta saya untuk merahasiakannya, dari anda." Dengan deraian airmata, yang sudah membasahi pipi.
Damian mengusap kasar wajahnya, dan dia terlihat begitu syok saat mendengar, apa yang dikatakan oleh Paula.
Dan ketika tengah larut dalam suasana sedikit tegang, terdengar suara mesin mobil, yang masuk kehalaman rumah mewah itu.
"Dave.." Gumamnya, dengan langsung menyambangi putranya.
Paula yang sangat mengetahui bagaimana karakter Damian, segera mengambil langkah cepat, mengikuti langkah lelaki paruhbaya itu.
Dave turun dari mobil, dengan raut wajah yang tidak bersemangat. Langkahnya terasa gontai, saat berjalan kedalam rumahnya. Saat akan memasuki teras rumah, dia mendapati keberadaan ayahnya Damian, yang tengah berdiri didepan pintu.
"Papa." Gumamnya dengan memaksakan diri untuk tersenyum, dibalik kegundahan hatinya saat ini.
Tanpa menajawa sapaan anaknya, Damian segera menghampiri putranya, dan memberi pukulan tepat diwajahnya.
"BUUGGG" Hingga membuat lelaki tampan itu, seketika tersungkur kelantai.
"Papa..?! apa yang Papa lakukan?! ada apa ini? Kenapa Papa memukulku?!" Dengan berusaha bangun dari jatuhnya, tapi seketika Damian memberi pukulan lagi, hingga membuat bibirnya mengeluarkan Dara.
"Tuan...? aku mohon, jangan Tuan? jangan? anda bisa membunuh putra anda, Tuan?" Teriak Paula, dengan menjadikan tubuhnya penghalang, saat Damian akan kembali memberi pukulan.
"Minggir kau, Paula?! anak ini sudah membuatku malu?!" Dengan raut wajah, begitu memerah.
"Apa kesalahanku, Papa? apa alasannya, hingga Papa memukulku..?" Bertanya dengan sediki berteriak, seraya mengusap bibirnya, yang mengeluarkan sedikit Dara.
__ADS_1
Damian tersenyum, seolah tidak percaya dengan pertanyaan putranya, yang sekali tidak menyadari perbuatannya.
"Papa tidak pernah mengajarkan hal yang tidak bermoral padamu, Dave? Alana tidak bersalah, tapi kenapa kau tega menodai anak itu, kenapa kau tega Dave..?" Dengan raut wajah, yang terlihat sendu.
Dave hanya menunduk, dan sekarang dia tahu alasan kenapa Damian sampai memukulnya.
"Maafkan aku, Papa? maafkan aku, aku khilaf. Aku menyesal, Paa? aku menyesal?"
"Menyesal katamu, Dave?! bahkan Alana, sudah memutuskan kontak dengan Papa, karena dia tahu besok kau akan menikah."
"Aku ti.."Belum selesai Dave menyelesaikan kata-katanya, perubahan raut wajah ayahnya akibat menahan sakit, dan seraya memegang dadanya, membuat Dave tidak jadi memberitahu, kalau dia tidak jadi menikah
"Papa..?" Dengan bangun dari duduknya menghampiri Damian, tapi tapi pria itu telah terjatuh taknsadarkan diri.
"Tuan...?" Teriak Paula yang sedikit histeris, saat majikannya jatuh tidak sadarkan diri.
Dave segera menghampiri ayahnya, dengan raut wajah yang begitu panik." Papa...? aku mohon, Paa? maafkan aku, maafkan aku?" Dengan deraian airmata, dan terlihat jelas penyesalan disana.
",Tuan, sebaiknya kita bawa Tuan Besar kerumah sakit sekarang."
"Baiklah, ayoo?"
****
RUMAH SAKIT XXX
Dia terlihat begitu gelisah, sesekali laki-laki tampan itu bangun dari duduknya, untuk berusaha melihat ayahnya yang tengah ditangani oleh para Dokter, diruang UGD.
Paula menghampiri lelaki tampan itu, dengan berusaha tersenyum, ditengah kesedihan yang dia rasakannya pula.
"Tenanglah, Tuan? aku yakin, Tuan Besar akan baik-baik saja." Ucapnya, menenangkan.
"Ini semua gara-gara aku, Bibi? gara-gara aku, Papa sampai masuk rumah sakit." Dengan hanya menundukkan kepala, akibat rasa bersalah yang teramat sangat pada dirinya.
Pintu ruangan terbuka, dan dengan segera Dave menghampiri Dokter, yang menangani ayahnya.
"Dokter, bagaimana keadaan Papa saya"? Bertanya, dengan kegelisahan yang teramat sangat.
Tersenyum, saat melihat kekhawatiran pada lelaki tampan itu.
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan? Tuan Besar sudah melewati masa kritisnya."
Seketika senyuman lega terlihat diwajah Paula, dan Dave saat mendengar kalau Damian, sudah melewati masa kritisnya.
****
Matahari telah tersenyum, menyapa bumi. Hembusan angin menerbangkan helaian gorden, yang menggelantung disebuah kamar rumahsakit, dengan fasilitas mewah.
Damian membuka matanya perlahan, dan mendapati dirinya tengah berada ditempat asing, saat memalingkan wajahnya lelaki paruhbaya itu, mendapati keberadaan kepala pelayannya, tanpa Dave putranya.
saat melihat Damian sudah sadar, Paula segera menghampirinya.
__ADS_1
"Tuan, anda sudah sadar?"
"Paula..?" Serunya, pelan.
"Saya akan memanggil Dokter, Tuan?" Dengan menekan sebuah tombol, yang tersedia dikamar itu.
"Dimana Dave, Paula?"
"Tuan Dave pagi-pagi sekali sudah pulang, Tuan?"
Hanya tertawa kecil, saat mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan rumahnya.
"Apa kau lupa Paula? kalau hari ini, hari pernikahan dia, dan Karin."
"Maafkan saya, Tuan?" Jawabnya, menunduk.
"Kasian Alana, dia harus menanggung kebencian Dave, hanya karena Ibunya menikah denganku."
Pintu ruangan terbuka, dan menampilkan sosok Dave yang datang dengan membawa sebuah parchel berisi buah-buahan, dan bekal. Dan dia terlihat tampan, dengan pakaian kasualnya.
"Tuan, Dave?" Ucap Paula, yang begitu terkejut saat melihat kedatangan Tuanmudanya.
"Papa, Papa sudah sadar?" Dengan menghampri ayahnya, setelah meletakan apa yang dibawahnya diatas meja.
"Dave..? bukankah hari ini, kau akan menikah?" Tanya Damian, dengan suara paraunya.
"Iya Tuan, bukankah anda menikah hari ini?" Timpal, Paula.
Tersenyum, saat mendapati pertanyaan dari ayahnya, dan Paula.
"Aku tidak jadi menikah, Paa? Karin ternyata memiliki kekasih, dan aku memergokinya dihotel kemarin bersama seorang pria." Jawabnya, dengan menyunggingkan senyuman disuudut bibirnya.
Damian, dan Paula saling menatap seolah tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Anda, serius Tuan?" Tanya Paula memastikan, ucapan lelaki tampan itu.
"Iya, aku serius."
Raut wajah Paula, dan Damian terlihat begitu bahagia, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Dave.
"Dave..?" Panggil Damian, pelan.
Menghampiri ayahnya, dengan dengan senyuman kecil menatap laki-laki paruhbaya itu.
"Ada apa, Paa?"
Mengatupkan kedua tangannya, dengan mata sudah berkaca-kaca menatap putranya dengan tatapan memohon.
"Papa mohon, Dave? carilah Alana, dan pertanggung jawabkan perbuatanmu."
Menyentuh tangan ayahnya, seraya tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan mencari Alana, dan mempertanggung jawabkan perbuatanku, aku janji."