
Dentingan piring, dan sendok terus berbunyi saat aktifitas para penghuni rumah, yang sedang melakukan makan malam mereka.
Sesekali tatapan Daven menatap kearah tangga, dan menggeleng pelan disana, yang tersimpan rasa heran dalam dirinya.
"Tenaga mereka sangat kuat, bahkan mereka melewati makan malam." Gumam Daven, dengan kedua bolamata terus menatap kearah tangga.
"Siapa yang kau bicarakan, Daven?" Seraya memasukkan sepotong steak, kedalam mulutnya.
Tatapan itu teralih menatap Ross, yang tengah menatapnya, karena menunggu jawaban atas apa yang dia ucapkan tadi.
"Kenapa kau begitu bodoh, Ross? tentu saja yang kumaksud Nona, dan Tuan. Tidak diapertemen, tidak dirumah, hanya bercinta saja. Bahkan mereka melewatkan makan malam mereka, hanya karena hal itu. Apakah mereka tidak cape, atau bosan?"
Tawa kecil membingkai diwajah Ross, dan juga Alma saat mendengar apa yang dikatakan sekretaris itu.
"Segeralah mencari pacar Daven, karena mulai sekarang, kau akan sering melihat kemesraan Tuanmudamu, dan juga istrinya. karena kalau tidak, kau bisa mati karena kesal dengan mereka."
"Iya. Kau harus segera, mencari pacar." Celah Ross pula.
Tawa kecil lolos begitu saja dari mulut sekretaris itu, saat mendengar apa yang dikatakan gadis berambut pirang itu.
"Kau menyuruhku untuk mencari pacar. Tapi bagaimana denganmu Ross.., sampai sekarang saja kau belum memiliki kekasih,"
Mendengar apa yang dikatakan Daven, seketika Alma menyela ucapannya.
"Asal kau tau, sebentar lagi Nona Ross akan mempunyai kekasih."
Keningnya berkerut, tatapannya seketika intens menatap wanita didepannya.
"Kau sudah punya pacar Ross? atau kau tengah menyukai seseorang?" Pertanyaan beruntun, yang keluar dari bibir sekretris Dave itu.
Alma, dan Ross sekilas saling menatap dan tidak berbicara apa-apa lagi, dan lebih memilih melanjutkan makan mereka, hingga membuat Daven yakin, ada yang mereka sembunyikan darinya.
"Siapa pria itu Ross, mungkinkah aku mengenalnya?" Tatapan intens, dan raut wajah penasaran yang terlihat jelas dari raut wajah sektretris itu.
Mendapatkan pertanyaan itu, membuat wajah Ross seketika berubah pucat, dan juga gugup seketika melanda.
"Itu bukan urusanmu."
Menyeringai, saat mendengar apa yang dikatakan Ross padanya.
"Ayolah Ross, kita ini berteman baik? mungkin saja aku bisa membantumu." Sebuah pernyataan, yang terdengar menuntut.
Ross tidak menanggapi keinginantahuan dari Daven, dengan cepat dia menghabiskan makan malamnya, dan berlalu dari ruang makan itu.
__ADS_1
"Aku sudah selesai, dan maaf aku harus segera kembali kekamar."Pamitnya, dengan melangkah cepat meninggalkan Alma, dan juga Daven.
"Dia bahkan sengaja mempercepat makannya, agar dapat menghindar dari pertanyaanku,"Mimik cemberut, saat mendapati Ross sengaja menghindari pertanyaan darinya.
Waktu terus melangkah, kesunyian semakin melanda kota London. Dikamar yang terletak di lantai 3, terlihat pasangan suami istri Alana, dan Dave yang berbaring diatas ranjang dengan tubuh polos mereka, hanya berbalut selimut berbulu angsa yang menutup tubuh polos keduanya.
"Dave..., kira-kira anak kita yang selanjutnya laki-laki, atau perempuan, atau kembar lagi," Sebuah pertanyaan yang keluar dari bibir mungil itu, seraya jemarinya mengukir indah didada bidang itu.
"Bagiku laki-laki, atau perempuan sama saja Alana, atau jika Tuhan memberikan kita anak kembar lagi, aku akan jauh lebih bersyukur. Kalau kau bagaimana?"
Alana mendongakan kepala, dengan seulas senyuman membingkai diwajah cantik itu.
"Bagiku sama saja. Ntah itu laki-laki atau perempuan. Yang jelas, kita harus memenuhi keinginan Louis, dan Louisa yang menginginkan adik bayi. Apalagi selama ini, kita berdua tidak pernah mengunjungi mereka berdua, Dave? dan aku sangat merasa bersalah, pada kedua anakku,"
Melabukan sebuah kecupan singkat pada pucuk kepala Alana, dengan semakin memeluk erat tubuh yang tak terbalut apapun.
"Jangan menyalahkan dirimu. Karena semuanya, berawal dari aku, dan aku minta maaf untuk itu."
Alana mendongakkan kepalanya, semakin mendekatkan wajahnya kewajah sang suami. Hingga hembusan napas dari keduanya, bisa terasa oleh diri masing-masing.
Jemari itu perlahan mulai bermain dibibir seksi itu, dengan senyuman menggoda.
"Apakah kau sedang menggodaku, Alana?"
"Aku hanya ingin kita memulai semuanya dari awal lagi, dan tidak saling menyalahkan diri masing-masing. Dan berusaha untuk menjadi orang tua yang baik, bagi Louis, dan louisa dan anak kita yang lainnya Dave.."
Senyuman kecil, dan tatapan penuh cinta terlihat diwajah tampan itu, saat mendengar apa yang dikatakan istrinya.
"Terima kasih Alana, kau memang yang terbaik. Dan ayo sekali lagi kita buat adik bayi untuk Louis, dan Louisa." Pintanya, dengan langsung membalikkan tubuh Alana, tanpa meminta persetujuan dari wanita itu.
****
Ross melangkahkan kakinya menuju arah tangga. Kedua kaki itu melewati ruang nonton, dan mendapati Bibi Alma, dan juga Daven yang masih menonton acara televisi.
"Kau mau kemana Ross?" Bertanya, saat dirinya melihat gadis muda itu berlalu begitu saja.
"Aku mau kekamar Alana."
Tawa kecil membingkai diwajah Daven, saat mendapat jawaban itu.
"Ha...ha...ha.., Ross, Ross. Jika kau sampai dikamar itu, maka kau harus menutup kedua telingahmu, saat mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar itu, dan itu akan membuat kepanasan."
Tidak menanggapai apa yang dibicarakan Daven, akibat tekatnya yang sudah bulat, yang harus mendapatkan nomor ponsel milik Louis malam ini juga. Dan memutuskan untuk kembali, melanjutkan langkah kaki itu, menuju kamar sahabatnya.
__ADS_1
Dan benar saja. Baru Ross akan melayangkan tangannnya pada badan pintu, terdengar suara-suara aneh yang dimaksud Daven tadi, yaitu desahan kenikmatan.
"Ahhh...Dave...."
"Ohhh.... Alana..."
Napasnya serarsa berpacu lebih cepat, seolah dia yang merasakannya. Berusaha seolah tidak mendengar erangan kenikmatan itu, dan kembali mempusatkan pikirannya pada tujuannya tadi mendapatkan nomor ponsel pria itu, yang akan dia ambil pada Hp milik Alana.
Perlahan tangan itu terangkat, dan melayangkan ketukan.
"ToK, Tok, Tok," Tiga kali terdengar ketukan pintu, yang menghentikan hentakan yang dilakukan Dave pada istrinya.
"Sayang, ada yang datang. Coba kau temui siapa. Mungkin saja Daven, yang ada keperluan penting denganmu." Pinta Alana, saat masih berada dibawah tubuh suaminya.
Mendecak kesal, dan memutuskan untuk memakai celana panjangnya, setelah menutup tubuh polos istrinya dengan sebuah selimut.
Pintu kamar terbuka lebar, dan dan menampilkan Ross disana. Raut wajahnya berubah pucat, hingga seperti ada yang tercekat ditenggorokan, saat melihat penampilan suami dari sahabanya.
Rambut yang berantakan, badan yang dipenuhi tanda merah hingga mencapai leher, dan juga goresan kuku disana.
"Alana aku tidak tau, ternyata kau begitu ganas. Apakah suamimu begitu buas, sampai ada goresan kukumu segalah pada tubuhnya," Ross membathin.
Dave menatap bingung sahabat istrinya, yang tengah menatap dirinya dengan tatapan tanpa berkedip.
"Ada apa, Nona Ross?" Sebuah pertanyaan, yang membuyarkan lamunan gadis berambut pirang itu.
"A..aku. Aku.." Akibat kegugupan, disuguhi sebuah pertanyaan yang tiba-tiba.
"Aku apa, Nona Ross?" Tatapan intens, dia menatap sahabatnya.
"Aku ingin meminjam ponsel milik Alana, Tuan? karena lagu milik Alana sangat keren-keren, dan aku akan mengirimkan pada ponselku,"
"Ohhh itu, baiklah kau tunggu sebentar." Dengan melangkah, kedalam kamar.
Dave kembali menyambangi pintu, dan memberikan ponsel milik istrinya, dengan logo apel dibelakangnya.
"Ini Nona Ross, dan dia mengatakan kalau sandinya angka kelahiran, Louis dan louisa."
"Terima kasih Tuan Dave, kalau begitu aku permisi dulu. " Dengan raut wajah sumringah, saat sudah mendapatkan ponsel sahabat baiknya.
Raut wajah Ross terlihat begitu bahagia, saat kedua kakinya menuruni setiap barisan anak tangga.
Karena langkah awalnya untuk mendekati Louis, segera terwujud dengan memiliki nomor ponsel pria itu. Dan ross memutuskan, untuk menghubungi pengusaha tampan itu terlebih dahulu.
__ADS_1