
Dave mengirah istrinya tengah merajuk, karena dirinya yang tifak berpamitan saat akan ketaman.
"Kenapa kau begitu manja Alana? aku hanya ketaman, bukan pergi meninggalkanmu?" Seulas senyuman membingkai diwajah tampan Dave, dengan jemari membelai lembut rambut panjang Alana.
Raut wajah kesal, memukul pelan dada suaminya saat mendengar apa yang dikatakan Dave.
"Ada apa istriku? bukankah kau marah, karena aku tidak pamit padamu, saat kami akan ketaman tadi?" Dave berusaha meredam tawanya, saat melihat raut wajah kesal Alana.
"Aku tidak semanja itu Dave?? buat apa aku harus marah padamu, karena kau tidak pamit padaku saat akan ketaman. Itu hanya hal sepeleh," Dengan mengusap kasar airamata, yang membasahi kedua pipinya.
Keningnya berkerut, tatapan penasaran seketika membingkai penuh diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan istrinya.
"Terus apa yang membuatmu menangis, kalau bukan karena kesal padaku."
"Dave..."
"Hem...?" Senyuman kecil, menatap wajah cantik sang istri.
"Kita akan mempunyai anak lagi. Aku hamil Dave...?"
"Anda hamil Nona...?" Respon cepat Alma, dan Daven saat mendengar kabar bahagia dari Nonamudanya.
Tersenyum kecil, seraya menggangguk pelan saat mendengar apa yang ditanyakan Alma, dan juga Daven padanya.
"Iya aku hamil. Dan kandunganku, sudah berusia tiga bulan."
"Selamat Nona Alana?! aku turut bahagia, dengan kehamilan anda." Wajah berseri-seri, yang membingkai penuh diwajah yang sudah sedikit bekeriput.
"Terima kasih Bibi?"
"Aku juga turut bahagia. Akhirnya misi Nona, dan Tuan untuk memberikan adik buat Louis, dan Louisa terwujud juga." Raut wajah bahagia Daven, saat menyampaikan apa yang dia rasakan.
Berbeda dengan pelayan rumahnya, dan juga seketarisnya yang turut larut dalam suasana bahagia dengan berita kehamilan Alana, Dave hanya terdiam, seolah apa yang disampaikan istrinya, membekukan semua dalam dirinya.
Dan itu membuat Alana seketika kesal, karena mengirah suaminya tidak bahagia dengan kehamilannya.
"Kenapa kau diam saja Dave..?! apakah kau tidak senang, dengan kehamilanku kali ini?!"
Kedua bolamatanya berputar menatap Alana, menatap istrinya dengan dalam.
__ADS_1
"Kau serius Alana? kau benar-benar hamil?" Tanyanya memastikan, kebenaran dari apa yang dikatakan istrinya.
"Tentu saja Sayang? buat apa aku berbohong." Dengan sedikit menekankan, setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya.
Sudut matanya sudah mengeluarkan buliran bening, saat mendengar jawaban Alana yang semakin meyakinkan dirinya.
Meraih tubuh istrinya, dan memeluknya dengan erat, menyalurkan semua kebahagian yang tengah dia rasakan.
"Aku bahagia Alana, aku sangat bahagia. Terima kasih, karena sudah bersedia mengandung lagi darah dagingku." Airmata yang teerus mengalir, saat kata-kata itu keluar dari bibirnya.
Seulas senyuman terlihat diwajah Alana, saat mendengar apa yang dikatakan suaminya. Semakin mendekap erat pelukan itu, dengan airmata yang kembali membasahi kedua pipinya.
"Terima kasih Sayang.. terima kasih suamiku. Dan aku akan menjaga buahati kita ini, dengan baik." Ungkap Alana disela tangisnya, mengingat kehamilan pertamanya yang dilalui dengan banyak penderitaan, dan tanpa seorang suami.
Melepaskan pelukan itu, seraya mengusap buliran bening yang membasahi kedua pipi mulus Alana.
"Katakan sudah berapa bulan. Dan apakah kau mengininkan sesuatu?"
Menautkan kedua alisnya, saat mendengar apa yang ditanyakan suaminya.
"Sudah tiga bulan Sayang? dan mengingikan apa Sayang, aku tidak mengerti." Tatapan intens, terselip rasa penasaran saat untaian kata itu keluar dari mulut suaminya.
"Maksud Tuan, mungkinkah Nona ingin makan sesuatu? seperti wanita hamil pada umumnya, yang menginginkan sesuatu untuk dimakan." Jelas Alma, yang menyela saat melihat raut wajah bingung Nonamudanya.
"Tadi katamu, kandunganmu sudah berusia tiga bulan?" Sorot mata penuh menatap wajah istrinya, saat pertanyaan itu terlontar dari bibirnya.
"Iya Sayang, kandunganku sudah berusia tiga bulan."
"Jadi kau baru mengetahui, kalau kau hamil, saat sudah tiga bulan, kau tidak menstruasi?" Bertanya lagi, yang untuk mencoba menebak.
"Aku tau, apa yang kau pikirkan Sayang? dan maafkan aku. Kau tau, kita sangat mengharapkan agar aku segera hamil, agar bisa mengabulkan keinginan Louis, dan Louisa. Jadi saat aku telat datang bulan pada bulan pertama, aku tidak ingin segera melakukan tes, sebab takut kecewa nantinya jika aku tidak hamil. Jadi aku sengaja membiarkan sampai tiga bulan, apalagi aku tidak mual-mual, atau muntah-muntah yang berlebihan seperti kehamilanku sebelumnya." Dengan menunduk, dan raut wajah sendu akibat rasa bersalah, jika aktifitas mereka tiap malam bisa membahayakan janin dalam kandungan Alana.
Dave kembali meraih tubuh istrinya, membenamkan dalam pelukannnya.
"Maafkan aku, maaf. Aku hanya khawatir dengan anak dalam kandunganmu. Apalagi setiap malam kita selalu mempogramnya. Jadi aku hanya khawatir, kalau ada-ada dengan calon anak kita."
Segera melepaskan pelukannya, raut wajah kesal dan memukul pelan dada suaminya.
"Apa yang kau bicarakan Sayang?! apakah kau tidak malu pada Bibi Alma, dan juga Daven?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa Nona?! aku dan Bibi Alma, sudah cukup umur untuk mendengar hal itu. Jadi tidak masalah." Dengan senyuman palsu, akibat memendam rasa kesal pada Tuanmudanya, yang selalu memamerkan kemesraan dengan istrinya biarpun didepan orang lain.
Tangan kekar itu merangkul penuh pinggang Alana, yang masih terlihat ramping.
"Aku ingin kita merayakannya. Undang Rose, dan juga Louis datang kemari. Kta akan pesta barbekyu malam ini. Bagaimana. Apakah kau menyukainya istriku?"
"Tentu Sayang..." Dengan nada manja, seraya membalas rangkulan suaminya.
"Kalau begitu saya akan mempersiapkan semuanya Tuan, apa-apa saja yang dibutuhkan." Pamit Alma, dengan melenggangkan kaki meninggalkan ketiga orang dewasa itu.
"Tunggu Bibi Alma, aku akan membantumu." Langkah cepat Alana, menyambangi Bibi Alma yang telah mendahuluinya.
"Jangan terlalu cape Alana... aku tidak mau ada-ada apa dengan anak kita." Dengan sedikit teriakan, pada istrinya yang telah berlalu pergi.
"Iya Sayang..?"
Tatapannya beralih menatap Daven, yang masih berdiam ditempat.
"Kenapa kau diam saja, cepat siapkan mobilnya kita akan membeli apa-apa saja yang dibutuhkan untuk pestanya."
"Baik Tuan..."
****
Kegelapan telah menyambut kota London, saat sang surya mulai meredup secara perlahan dari muka bumi. Raut wajah semua penghuni rumah nampak bahagia dengan pesta perayaan kehamilan Alana, begitupun juga dengan Louis, mantan kekasih dari Alana yang baru saja bergabung dalam pesta kecil-kecilan malam itu.
"Selamat ya Alana, aku turut bahagia dengan kehamilanmu. Dan jika anakmu laki-laki, semoga saja dia akan tampan sepertiku." Dengan bangga, saat kalimat itu keluar dari bibirnya.
"Jadi menurutmu, aku tidak tampan Louis? coba kau lihat anak laki-lakiku, sangat tampan bukan? dan asal kau tau, pinggangku sampai sakit, karena hampir setiap malam aku, dan Alana membuatnya." Celah Dave, yang tidak terima dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu.
"Apa yang kau bicarakan Sayang? itu sangat memalukan?" Raut wajah kesal, menatap suaminya.
"Maafkan aku Alana, aku hanya membicarakan yang sebenarnya. Agar Louis tau, bagaimana perjuanganku untuk membuatmu hamil."
Mimik cemberut, apalagi saat melihat tawa kecil Louis, membuat Alana bertambah geram. Tapi seketika raut wajah kesal itu berganti senyuman, saat melihat keberadaan Rose yang baru saja datang.
"Rose..."Panggil Alana, dengan berlalu begitu saja.
Seketika Louis memalingkan wajahnya, kearah dimana Rose berada. Walaupun tidak mencintai, tapi ada rasa rindu dalam diri lelaki tampan itu, pada gadis bermanik abu itu.
__ADS_1
Menggerutu kesal, saat kedua kakinya akan melangkah meninggalkan taman. Tapi langkah kaki itu terhenti, saat Alana menyadari keberadaannya. Padahal dirinya sama sekali, tidak ingin bertatap muka dengan pria yang sudah mencuri ciuman darinya itu.
"Seandainya aku tau, sibrengsek itu da disini, aku tidak sudi untuk datang kepesta ini, sekalipun Alana yang memintanya." Gerutunya, dalam hati.