Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Pulang kerumah.


__ADS_3

Detik terus melangkah melewati waktu, hingga tak terasa kegelapan telah menyelimuti kota London.


Setelah menyelesaikan pembayan pada apartemen yang dia sewa, Dave bersama istrinya, dan juga Daven, memutuskan untuk kembali kerumah.


Kendaraan melaju membela jalan, ditengah keramaian lalulintas kota London dimalam hari.


Rasa kesal sedari tadi menyelimuti diri sekretaris itu, saat pasangan suami istri Alana, dan juga Dave, menganggapnya seperti manusia tak kasat mata.


Tertawa cekikikan dari keduanya, dan suara manja Alana yang sedari tadi terdengar didalam mobil itu.


Dan apa yang pasangan suami istri itu lakukan, hanya mereka dan Tuhan yang tau.


"Mereka sangat menyebalkan. Apa mereka tidak menyadari, kalau ada aku disini?!" Bathinnya, dengan raut wajah yang terlihat begitu kesal.


Dave yang sedari tadi memperhatikan ekspresi sekretarisnya, hanya tersenyum sinis, dan dia tahu kalau Daven tengah menahan kesal pada mereka.


"Daven.." Panggilnya, tiba-tiba.


"Ada apa, Tuan?" Jawabnya dengan sekilas menatap Tuanmudanya, saat kedua tangan itu terus melajukan kendaraan roda empat.


"Kau harus segera mencari pacar. Agar kalau kau melihat orang bermesraan, tidak ada rasa iri dalam dirimu. Karena sedari tadi yang aku lihat, kau sepertinya tengah kesal padaku, dan istriku."


Berpura-pura tertawa, saat mendengar apa yang dikatakan Tuanmudanya. Agar meyakini apa yang dikatakan Bosnya itu, sangatlah tidak benar.


"Ha..ha...ha.. Tuan, anda salah? mana mungkin saya kesal pada anda, dan Nona. Lihatlah Tuan, bahkan saya sekarang bahagia karena Tuan, dan Nona sudah kembali bersama." Dengan menampilkan, barisan gigi putihnya.


Menyeringai diwajah tampan itu, dan dia tahu sekretrisnya itu tengah berbohong.


"Baiklah, aku sangat percaya dengan kebohongan, dan senyum paksamu itu," Jawabnya, ketus.


Tatapan Alana seketika menatap intens suaminya, saat mendengar apa yang dikatakan Dave tentang sekretrisnya.


"Apa yang kau katakan Sayang? sangat tidak baik, jika kau berprasangkah buruk tentang Daven. Karena bagaimanapun, dia adalah sekretrismu?" Seru Alana, memperingati.


Tatapannya seketika intens menatap Alana, dengan rona bahagia disana, saat istrinya tiba-tiba saja memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Kau bilang apa Alana? kau memanggilku Sayang?" Bertanya mencoba untuk memastikan, apa yang dia dengar tidaklah salah.


"Ma..maaf itu aku..?" Dengan raut wajah merona, karena merasa malu saat bibirnya berkata spontan memangil Dave dengan panggilan yang begitu manis.


Senyum bahagia membingkai diwajah tampan itu, seraya mengecup singkat pipi istrinya.


"Mulai saat ini, kau harus memangilku dengan sebutan sayang, karena aku menyukainya." Pinta Dave, dengan nada yang terdengar tegas.


"Ta..tapi Dave..?" Yang ingin menolak, keinginan suaminya.

__ADS_1


"Ayolah Alana, aku suamimu?" Dengan tatapan memohon, dia menatap sang istri.


Hembusan napas terdengar berat. Walaupun dirinya menyukai panggilan itu, tapi Alana enggan memanggil suaminya, dengan panggilan sayang. Tapi saat melhat tatapan memohon itu, membuatnya luluh juga.


"Baiklah. Mulai saat ini, aku akan memangilnya dengan sebutan sayang." Dengan menyimpul senyum, diwajah cantiknya.


Kedua tangan kekar itu seketika merangkul penuh tubuh sang istri, dan memberi kecupan bertubi-tubi pada pipi yang tengah merona.


"Aku mencintaimu Alana, sangat mencintaimu!" Dengan pancaran kebahagian, yang terlihat jelas dari wajah tampan itu.


Hembusan napas terdengar berat, dengan kekesalan yang semakin bertambah dalam dirinya, saat melihat kemesraan pasangan suami istri itu.


"Mereka berdua, seperti orang yang baru saja jatuh cinta. Padahal selama ini, rumah tangga mereka sangat jauh dari kata romantis, bahkan tidak sama sekali.Hanya ada saling menyakiti, dan juga airmata. Coba dari dulu rumah tangga mereka yang jalani tidak banyak Drama, pasti tidak ada hati-hati yang tersakiti akibat ulah keduanyya." Bathinya, kesal.


****


Ross gadis berparas cantik itu, terlihat tengah membantu Alma sang pelayan rumah, menyiapkan makan malam, saat tadi mendapat telepone kalau majikannya, akan segera kembali kerumah.


"Bibi.." Panggil Ross tiba-tiba, saat Alma tengah meletakkan piring berbahan keramik, diatas meja berbentuk oval itu.


"Ada apa, Nona?" Bertanya balik, dengan meletakkan sendok pada pinggirannya.


"Bagaimana menurut Bibi, Tuan Louis itu?" Tanya Ross, hati-hati.


Tatapan wanita parubaya itu seketika intens menatap gadis didepannya. Dan memorynya mulai mengingat kembali hal lain, saat Ross menanyakan nomor pengusaha itu. Dan Alma mulai menyimpulkan sendiri, kalau Ross menyukai teman baik dari majikannya itu.


Raut wajahnya berubah gugup, dan juga pucat pasih. Hingga menjawab apa yang ditakan pelayan itu, dia terbata-bata.


"A..aku, aku.."


Senyuman membingkai diwajah Tua itu, saat melihat raut wajah gugup, dan juga pucat dari Ross.


"Itu adalah hal yang wajar, jika Nona Ross menyukai seseorang. Apalagi Tuan Louis, dan Nona Ross sama-sama masih singgel. Jadi tidak ada, yang salah."


Senyuman kecil menyimpul diwajahnya, dan seketika sendu terlihat, saat mengingat bagaimana cintanya pria pujaannnya, pada teman baiknya, Alana.


"Tapi aku tidak yakin, bisa meluluhkan hatinya Bibi? karena seperti yang kita tahu, dia begitu mencintai Alana. Bahkan yang aku dengar, dia sudah memiliki perasaan pada Alana saat Alana masih berada diAmerika." Jawabnya, menunduk.


Tangannya meraih jemari itu, dengan senyuman diwajahnya.


"Apa salahnya jika Nona mencoba. Bisa saja lama kelamaan perasaan cinta pada Nona Alana akan habis terkikis, dengan cinta yang Nona berikan."


"Terima kasih, Bibi? karena kau sudah memberiku semangat. Dan aku minta rahasiakan ini dari siapapun, terutama Alana. Karena aku sangat malu, jika dia tahu selama ini diam-diam aku menyimpan perasaan pada Tuan Louis,"


"Tentu, Nona? hanya kau, dan Bibi yang tahu." Jawabnya, tersenyum.

__ADS_1


Saat tengah sibuk dengan perbincangan mereka, terdengar suara mesin mobil yang berhenti didepan rumah.


"Itu pasti, mereka yang datang."


"Iya Bibi Alma, itu mereka."


Pasangan suami istri itu terlihat mesrah, saat langkah kaki keduanya membawa mereka, kedalam rumah. Terus bergandengan tangan dengan begitu mesrah, diikuti Daven dari belakang, dengan membawa koper-koper besar milik Tuanmudanya dengan wajah cemberutnya.


Alma, dan Ross sekilas saling menatap kemudian tersenyum, saat melihat Alana, dan Dave yang terlihat begitu mesrah saat masuk kedalam rumah. Sebab mengingat kembali bagaimana kehidupan rumahtangga, yang pasangan suami istri itu jalani, dan yang sangat jauh dari kata romantis.


"Alana..." Panggil Ross, saat sahabatnya itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya.


Memalingkan wajahnya keasal suara, dan seketika senyuman mengembang diwajah cantik itu, saat mendapati keberadaan sahabat baiknya disana.


"Sayang, kau kekamar dahulu. Aku akan menyapa Ross."


"Baiklah. Tapi jangan lama-lama. Aku menunggumu, dikamar." Jawab Dave, dengan melangkah menuju arah tangga.


"Kau baru datang Ross? maaf selama ini, aku tidak mengunjungimu ditoko kue." Ucapnya, dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah.


Mimik cemberut, dengan mencubit gemas pipi Alana.


"Kenapa kau mencubitku Ross?" Denggan jemari, menyentuh pipinya yang terasa nyeri..


"Karena kau tidak mengatakan padaku, kalau kau sudah kembali bersama Dave."


Menyimpul senyum diwajah cantknya, dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah.


"Maafkan aku, maaf. Aku baru menyadari pada siapa perasaanku ini sebenarnya, saat rumah tangga kami nyaris berakhir. Dan pria yang aku cintai sesungguhnya adalah Dave, bukan Louis. Aku sangat mencintai suamiku, Ross? aku sangat mencintainya." Ucap Alana, dengan senyum bahagia diwajahnya.


Ross menatap dengan intens wajah Alana. Dan dia bisa melihat kesunguhan, dan rona bahagia, dan tidak adanya beban, dan paksaan, saat kalimat cinta itu terucap dari bibir temannya.


"Aku juga turut bahagia utukmu, Alana?"


"Terima kasih Ross, kau memang sahabat terbaikku." Dengan merangkul penuh, tubuh teman baiknya itu.


Melepaskan pelukannya pada Ross, dengan senyuman tulus dia menatap wajah temannya.


Dan semoga saja, kau cepat menyusul diriku." Canda Alana, dengan tawa kecilnya.


"Kau sedang, menggoda diriku Alana?" Dengan berpura-pura, marah. Hingga panggilan dari Dave, membuyarkan candaan kedua teman baik itu.


"Pergilah. Sepertinya suamimu, sudah tidak tahan ingin memangsa dirimu lagi, Alana?" Dengan mendorong pelan, tubuh teman Alana.


"Kau tau..?" Tanya Alana bingung dengan melangkahkan kaki, seraya kepalanya menatap penuh tanda tanya pada Ross.

__ADS_1


"Tentu karena aku tau, kalian sedang membuat adik bayi." Jawabnya, dengan tawa kecilnya yang membuat Alana hanya cemberut.


__ADS_2