Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Kesal dengan Louis.


__ADS_3

Louis melangkah dengan gagahnya, dengan senyuman terus membingkai diwajah tampan itu.


"Silahkan duduk, Tuan?" Seru salah satu karyawan, dengan menarik sebuh kursi.


"Terima kasih." Jawabnya, dengan duduk dikuursi tersebut.


Louis terus membingkai senyuman diwajahnya, dan saat melemparkan pandangan, tak sengaja tatapan matanya, menangkap sosok sahabatnya Dave, yang tengah berbincang-bincang dengan salah satu pemegang saham. Tatapan matanya sekilas bertemu pandang dengan Daven, dan tersenyum, pada sekretaris sahabatnya itu.


"Aku tidak tau, ternyata anda salahsatu pemegang saham diHouston Group." Seru salah satu pemegang saham, pada Louis.


"iya. Memang aku sedari dulu, sudah menanamkan sahamku pada Houston Group. Karena aku sangat mengenal baik, pendirinya. Yaitu Damian Houston."


"Benarkah?"


"Iya."


"Kalau begitu kabar yang aku dengar itu benar, kalau anda berteman baik, dengan Dave Hounston."


Louis membingkai senyuman kecil diwajahnya, sebelum menjawab apa yang ditanyakan laki-laki, bertubuh tambun itu.


"Iya. Aku , dan Tuan Dave berteman baik."


Dave tengah berbincang-bincang dengan salahsatu pemegang saham, dan lelaki itu tak sengaja menangkap sosok Louis, yang dia tahu, dia dan Dave berteman baik.


"Tuan Dave, bukankah itu Tuan Louis?"


Saat mendengar nama Louis, seketika Dave langsung mengalihkan tatapan, kearah pandang lelaki paruhbaya itu. Raut wajahnya begitu memerah, tersirat kemarahan yang teramat sangat. Tapi ada juga kelegaan dalam dirinya, saat mendapati keberadaan Louis dirapat pagi ini.


"Louis, berada disini. Berarti Alana, bukan pergi menemuinya." Bathinnya dengan terus menatap Louis, yang tengah berbincang-bincang dengan para pemegang saham lainnya.


Saat tengah berbincang-bincang, tak sengaja tatapan matanya bertatapan dengan Dave, yang sedari tadi tengah menatapnya. Lelaki tampan itu, tetap menampilkan senyuman manisnya, dengan anggukan kecil diwajahnya. Dan dia terlihat, lebih tenang.


layar proyektor telah dinyalakan, tanda rapat akan segera dimulai.


Daven maju kedepan, dengan mulai mempresentasikan sebuah proyek besar, yang akan ditangani oleh hounston Group.


" Selamat pagi, semuanya..! saya Daven selaku sekretris dari Presdir Hounston Group, akan mulai mempresentasikan mengenai sebuah proyek. Kita akan membangun sebuah proyek besar. Proyek kontruksi bangunan gedung, dan proyek ini merupakan kepercayaan langsung dari kerajaan Inggris.

__ADS_1


Dan gedung yang kita bangun ini, akan menjadi tempat pertemuan antara ratu, dan pejabat penting lainnya. Dan juga untuk pertemuan, dengan tamu dari luar negeri.


Dan ini gambar desain, dari hasil desain dari arsitek terkenal di Inggris, yang Tuan Dave pilih."


Semua para pemegang saham, nampak merundingkan hasil dari gambar, yang terlihat diproyektor itu.


"Dan saya sebagai sekretris dari Tuan Dave, meminta pendapat kalian. Karena proyek kali ini sangat penting. Apalagi kita, mendapatkan kepercayaan langsung, dari pihak kerajaan Inggris." Seru Daven, lagi.


"Penataan tamannya bagus, tapi menurutku ada yang kurang." Ucap tiba-tiba, salahsatu dari pemegang saham.


"Kalian, bisa menuangkan ide kalian, sebelum bangunan ini, dibangun."


"Mungkin lebih baik, jika dipinggiran halaman, ditanam pohon-pohon rindang, agar menambah kesejukan pada taman, depan gedung itu." Seru salahsatu, pemegang saham.


"Iya, kami setuju." Timpal, yang lainnya.


"Ide anda saya terimah, Tuaan Walker? bagaimana deengan anda, Tuan Louis?" Tanya Dave, dengan sebuah senyuman sinis diwajahnya.


Louis membingkai senyuman diwajahnya, saat Dave meminta pendapatkannya.


"Iya bagaimana dengan pendapat anda, Tuan Lous? bukankah anda juga sangat handal, dibidang ini." Tanya, yang lainnya.


"Tamannya sangat luas. Apalagi, ini merupakan tempat pertemuan ratu, dengan para perdana mentri, dan juga tamu kenegaraan. Dan menurut saya, halaman parkir depan diperluas, dan bagaimana ditengahnya tepat berhadapan dengan bangunan itu, dibangun air mancur dengan membentuk bundar. Itu adalah, masukan dari saya."


"Saya sangat setuju dengan usul anda, Tuan Louis? anda memang sangat jenius." Puji pemegang saham, yang lainnya.


"Iya anda memang, sangat jenius." Puji yang lain, pula.


Dave membingkai senyuman sinis diwajahnya, saat mendengar pujian dari para pemegang saham untuk Louis, sahabatnya itu.


"Baik usul anda saya terimah, Tuan Louis."


"Baiklah rapat hari ini, kita akhiri sampai disini. Dan terima kasih, untuk Tuan-Tuan, karena sudah bersedia hadir, dirapat kita hari ini." Ucap Daven, mengakhiri rapat.


Saat mendengar rapat telah usai, Louis segera beranjak dari duduknya, tapi lelaki tampan itu tidak langsung pulang, sebab ada seorang pria, yang mengajaknya berbincang.


"Tuan Louis, aku tidak menyangkah akan bertemu dengan anda diLondon. Bukankah anda, menetap diAmerika?"

__ADS_1


"Aku memang menetap diAmerika, tapi untuk sementara waktu aku akan menetap diLondon, tuan Robert."


"Benarkah?"


"Iya."


"Apakah anda, sudah menikah?"


"Belum. Aku belum, menikah. Dan doakan, semoga aku segera menyusul anda." Dengan senyuman kecil, diwajahnya.


"Anda adalah, pria yang sempurna. Tampan, dan juga kaya. Aku yakin, pasti banyak perempuan diluar sana, yang mengantri untuk menjadi istri anda, Tuan Louis,"


"Tapi sayangnya, dari dulu hingga saat ini, aku hanya mencintai satu wanita."


"Sungguh beruntung sekali, wanita itu Tuan Louis?"


Saat tengah berbincang-bincang, Louis dikejutkan dengan suara telepone, diponsel miliknnya.


Meraih dari saku celana, dan melihat nama Dave, disana.


"Sebentar Tuan Robert, saya terima telepone dulu."


"Silahkan Tuan, Louis?"


Louis menerima teleponenya, dan tatapannya seketika menatap Dave, yang berada diseberang sana.


"Ada apa, Dave?"


"Aku ingin, bicara denganmu,"


"Sekarang?"


"Ya, sekarang. Aku menunggumu, dilantai atas." Jawab Dave, dengan langsung berlalu dari ruang rapat itu.


Louis menghembuskan napas kasar, dan memutuskan untuk pergi menyusul sahabatnya itu.


"Maaf Tuan Robert, aku harus segera pergi. Dan senang, bisa berbincang dengan anda."

__ADS_1


"Baik, Tuan Louis? saya juga senang bisa, berbincang langsung dengan anda."


__ADS_2