Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Menyadari perasaan.


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju kediamannya, yang berada disalahsatu kawasan kota London, Alana terus menumpakan tangisannya.


Sopir taksi yang membawanya terlihat penasaran, saat wanita yang duduk dikursi penumpang terus menumpakan airmata, dan mengomel tidak jelas.


"Dasar kau laki-laki, brengsek!!"


"Laki-laki, bejat!! hiks, hiks, hiks, hiks, hiks, aku sangat menbencimu, sangat menbencimu..!!"


Lewat kaca spion mobil, dia menatap wanita berambut panjang itu.


"Nona, anda baik-baik saja? apakah anda baru saja, diputusin kekasih anda?" Sebuah pertanyaan yang terlihat penasaran, pada laki-laki tua itu.


"Dia sangat menyebalkan Paman, dan aku sangat membencinya,"


"Nona mungkin terlalu mencintainya, hingga Nona menangis seperti itu,"


Mendengar apa yang dikatakan oleh sopir taksi itu, membuat Alana seketika diam.


Wanita bermanik abu itu, tampak larut dalam lamunan, saat mendengarkan apa yang dikatakan sopir.


Langkanya begitu berat, saat meemasuki rumah mewahnya. Hatinya gundah gulana, memikirkan rumahtangganya yang sebentar lagi, akan berakhir dengan perceraian.


Terus melangkah, hingga panggilan dari Alma yang tengah berada diruang makan, menghentikan langka kaki itu.


"Nona Alana.." Panggilnya, dengan menghampiri wanita itu.


Membalikkan badannya keasal suara, dan mendapati Alma tengah berjalan kearahnya.Tatapan pelayan itu seketika nampak intens, menatap wajah majikannya yang nampak sembab.


"Nona, anda menangis? apakah Tuan Dave, menyakiti anda lagi?"


Seketika dia terisak, saat mendapat pertanyaan itu. Saat mengingat Dave yang tidak ingin bertemu dengannnya, dan menyetujui untuk bercerai.


"Bibi, kenapa dia selalu saja menyakitiku? kenapa...? bahkan sekarang dia, tidak mau bertemu denganku," Jawabnya, dengan airmata yang kembali mengalir.


"Tuan Louis, tidak mau bertemu dengan anda?" Tanya Alma, yang mencoba untuk menebak.


Menggeleng pelan, saat Alma mengajukan pertanyaan itu.


"Bukan Louis, Bibi? tapi sibrengsek itu, sibrengsek Dave?!!"


Tatapannya seketika intens, dan heran, saat mendengar jawaban Nona mudanya itu.


"Kenapa, anda harus menangis Nona? bukankah anda tidak mencintai Tuan Dave? bukankah itu bagus, jadi aku rasa lebih semakin mempercepat proses perceraian kalian, bukankah selama ini disaat Nona meminta bercerai, Tuan Dave selalu menolakknya," "


Mendengar ucapan pelayan rumahnya, membuat airmata Alana semakin deras mengalir.


"Aku bingung, Bibi? aku tidak tau kenapa, seperti ada rasa tidak rella dalam diriku, saat dia menyutujui untuk bercerai. Dan sekarang bahkan, dia tidak mau menemuiku lagi,"


Senyuman kecil terlihat diwajah wanita parubaya itu, saat mendengar apa yang dikatakan Alana padanya.


"Tanyakan pada hati anda Nona, sebenarnya untuk siapa hati anda sebenarnya. Sebelum anda, mengambil keputusan."


****


Tatapan laki-laki itu terlihat menerawang, dengan kesedihan yang terlihat jelas pada wajah tampannya.

__ADS_1


Sesekali dia mengusap pipinya, karena basahan airamata yang mengalir, saat mengingat kembali sosok Alana.


"Apakah anda yakin, dengan ini semua Tuan?"


"Aku sangat yakin. Semakin cepat aku meninggalkan Inggris, semakin jauh lebih baik, agar aku bisa cepat melupakannya. Dan apakah, kau sudah menghubungi Louis?"


"Sudah Tuan. Besok Tuan Louis akan datang, menemui anda."


Tatapannya kembali menerawang kedepan, hingga bunyi pesan pendek terdengar beberapa kali pada ponselnya, yang mengalihkan tatapan lelaki tampan itu.


Meraih ponsel yang dia letakkan disampingnya, dan melihat beberapa pesan masuk dari Alana, yang menghujat dirinya.


"DASAR KAU LAKI-LAKI, BRENGSEK!!"


"AKU SANGAT, MEMBENCIMU!"


"AKU MENYUMPAH DIRIMU, DAN SKRETARISMU YANG SANGAT MENYEBALKAN ITU, AKAN MELEDAK DENGAN PESAWAT, SAAT TERBANG KEAMERIKA."


"KAU, JORDAN, DAN DAVEN, SANGAT MENYEBALKAN..!! AKU AKAN MEMINTA PAPA MEMECAT KALIAN DARI PERUSAHAAN, AGAR JADI GEMBEL DILUAR SANA."


"Ada apa, Tuan?" Tanya Daven yang penasaran, saat melihat perubahan raut wajah Tuanmudanya.


"Aku tidak tau, kenapa dia mengirimkan pesan dengan marah-marah, dan juga menyumpahiku. Padahal aku sudah menyetujui keinginannya, untuk berpisah." Jawab Dave, dengan raut wajah yang terlihat bingung, atas pesan yang dikirim Alana padanya barusan.


Damian yang baru saja datang kedalam ruang rawat anaknya, terlihat penasaran,. saat melihat ekspresi dari Dave, dan juga sekretarisnya yang terlihat aneh.


"kalian kenapa?"


"Ntahlah Papa, anak perempuanmu sangat begitu membenciku, hingga dia mengirimkan pesan-pesan ini padaku." Jawab Dave, dengan memberikan ponselnya, pada Damian.


"Alana, Alana. Kau begitu mencintai kakakmu, tapi kenapa kau tidak sadar juga. Disaat Dave sudah menyetujui untuk berpisah, dan merelakan kau besama Louis, justru kaulah yang nampak tersakiti." Bathin Damian, dengan tawa kecilnya.


****


Senyum mentari terlihat indah dipagi ini. Sinarnya memancarkan keindahan yang teramat sangat, menyinari pagi yang begitu indah dengan kicauan burung yang tidak berhenti memberi suaranya yang merdu.


Cerahnya mentari pagi, tak secerah raut wajah Ibu dua anak itu. Wajahnya terlihat sendu, dengan lingkaran mata, membentuk sempurna karena tidak dapat tidur semalaman.


Dengan rasa malas yang masih mendera, dia berusaha bangun dari tidurnya. Duduk bersandar pada kepala ranjang, dengan tangan menjangkau pada ponsel, yang dia letakkan pada meja samping tempat tidur.


Dalam dirinya berharap mendapatkan pesan dari Dave, tapi harapan itu sirna, saat yang diharapkan sama sekali tak membalas pesannya. Hanya membaca, dan mengabaikan pesan itu.


"Bahkan dia tega, mengabaikan pesanku. Kau egois Dave! kau egois..!! aku sangat membencimu..!!" Ucapnya, dengan linangan airamata, yang sudah mengalir.


Terdengar suara pintu terbuka, dan menampilkan sosok Damian.


"Papa.." Gumamnya.


"Boleh Papa masuk, putriku?" Dengan senyuman kecil, menatap Alana


"Tentu saja, boleh." Jawabnya, dengan mengusap airmatanya.


Duduk disisi ranjang, dengan tatapan menatap intens wajah Alana, yang nampak sembab.


"Kau menangis? siapa yang membuatmu, bersedih?"

__ADS_1


"Tentu saja putramu, Papa? dia selalu menyakitiku." Jawab Alana, dengan raut wajah yang terlihat begitu kesal.


"Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, tapi tidak ada salahnya jika kau memberinya kesempatan kedua. Apalagi yang Papa lihat, dia sungguh-sungguh menyesali perbuatannya."


"Maksud Papa?" Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat penasaran.


"Tanyakan pada hatimu, sebenarnya siapa laki-laki yang kau cintai, Alana? Dave yang masih berstatus suamimu, atau Louis kekasihmu. Karena Papa tidak mau, kau menyesal dengan keputusanmu, yang akan membuatmu menyesal seumur hidup."


"Papa.." Seru Alana, dengan mata sudah berkaca-kaca.


"Siapapun pilihanmu, Papa akan selalu mendukung. Dan ikuti kata hatimu Alana, jangan sampai kau menyesal nantinya." Ucap Damian, dengan berlalu dari kamar itu.


Alana terdiam, dan wanita itu nampak menelusuri sejenak, sebenarnya siapa pemilik hatinya.


Tatapannya seketika teralihkan pada bingkai foto Dave, yang menggelantung didinding. Tatapan itu nampak begitu fokus, saat menatap wajah itu. Tiba-tiba saja airamata mengalir membasahi kedua pipinya, saat dia baru menyadari untuk siapa cintanya itu.


"Aku mencintaimu, Dave..? aku mencintaimu..?" Gumamnya, dengan airmata yang terus mengalir.


****


Dia berbaring diatas ranjang, yang sengaja dibuat sedikit tinggi pada kepalanya. Tatapan matanya tertuju pada layar televisi, yang tertancap didinding rumah sakit.


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, dan menampilkan sosok laki-laki tampan berambut blonde, yang tak lain adalah Louis sahabatnya.


"Hallo.." Sapanya, dengan memaksa untuk tersenyum.


"Hallo Louis,"


"Daven menghubungiku, kalau kau ingin bicara denganku. Ada apa?"


Tatapannya teralihkan pada sekretarisnya Daven. Daven yang sudah sangat memahami, seketika berlalu dari kamar rawat itu, meninggalkan kedua pengusaha itu sendirian.


"Ada apa Dave, katakanlah." Tanya Louis sekali lagi, saat sudah duduk disebuah sofa tunggal.


"Aku menyerahkan Alana sepenuhnya padamu. Dan aku, akan menceraikannya."


Seketika tatapan pria itu nampak begitu fokus pada sahabatnya, saat mendengar apa yang disampaikan.


"Apakah karena, kau akan menikah dengan Laura?"


Senyuman kecil membingakai diwajahnya, saat mendapat pertanyaan itu.


"Aku sangat mencintai Alana. Dan hanya dia yang aku cintai. Tapi sayang, aku terlambat menyadarinya. Alana begitu mencintaimu, dan aku mengaku kalah. Jadi aku serahkan dia padamu. Aku sudah menjual perusahaanku, dan setelah aku keluar dari rumah sakit, aku juga akan memutuskan hubunganku dengan Laura, dan kembali keAmerika. Fokus mengurus perusahaan, dan tentunya juga kedua anakku." Ucapnya dengan memaksakan diri untuk tersenyum, ditengah kesedihan yang melanda diri.


Louis menghela napas berat, tatapannya begitu intens menatap Dave, yang menyimpan banyak kesedihan disana.


"Kau benar- benar mencintai Alana, Dave?"


"Aku sangat mencintainya, Louis? tapi dia mencintai pria lain, yaitu kau. Aku tidak mungkin, mengikatnya dengan tali pernikahan, sementara hatinya milik laki-laki lain," Jawabnya, dengan sekilas mengusap aiiramatanya.


Tatapan Louis nampak begitu fokus, menatap sahabatnya itu. Dan dalam dirinya dia sangat yakin, kalau Dave betul-betul mencintai Alana, dan sangat menyesal dengan perbuatannya.


Hembusan napasnya terdengar begitu berat, dan memutuskan untuk pulang.


"kau beristirahatlah, semuanya akan baik-baik saja." Ucapnya, dengan berlalu dari kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2