Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Mengungkapkan perasaan.


__ADS_3

Ariana melangkahkan kaki dengan cepat, menuju arah jalan raya. Langkah kaki itu terlihat tergesa-gesa, disertai raut wajah paniknya.


Dia sedikit memajukan posisinya ketengah jalan, agar dapat melihat taksi yang datang dari ujung sana.


Menyetop taksi, tapi rasa kecewa yang dia dapat, sebab ternyata sudah ada penumpang didalamnya.


"Tuhan, berikan aku kesempatan untuk bertemu dengan suamiku," Gumamnya, penuh harap.


Sekali lagi dia menyetop taksi, dan saat akan naik, ada seorang pria paruhbaya yang menyerobot masuk kedalam.


"Paman, ini aku yang menyetop taksinya? kenapa kau yang menaikinya," Tanya Alana, dengan raut wajah kesalnya.


Didalam mobil, pria parubaya itu menatap Alana, dengan memohon.


"Nona, Paman yakin kau adalah wanita yang baik. Paman ada urusan penting. Jadi Paman mohon, biarkan Paman yang menumpang taksinya,"


"Tapi Paman, aku harus.." Belum selesai Alana menyelesaikan kaliamatnya, lelaki yang diperkiraan seumuran dengan ayah tirinya itu, menampilkan wajah sendunya, seraya mengatupkan kedua tangannya, memohon pada Alana."


"Baiklah Paman, semoga saja Tuhan membalas kebaikanku, yang aku lakukan padamu hari ini." Ucapnya, dengan wajah memelas.


"Terima kasih Nona, kau bukan hanya cantik, tapi juga sangat baik. Dan Pak sopir, ayo kita jalan."


Sekali lagi dia menatap lalulalang kendaraan yang melintas dijalan raya. Dan disaat melihat taksi, Alana menahannnya. Tapi lagi-lagi, rasa kecewa harus dirasakan wanita berambut panjang itu, saat ada taksi yang berlalu begitu saja, tanpa memperdulikan dia yang sudah berusaha menyetopnya, atau ada pula, yang sudah ada penumpang didalamnya.


"Tuhan.., aku mohon ijinkan aku bertemu dengan suamiku..?" Gumamnya, dengan kegelisahan semakin melanda.


Melihat taksi dari arah jauh, dengan memberanikan diri Alana berdiri ditengah jalan, tanpa memperdulikan keselamatan dirinya.


"Ayo Alana..., jangan takut. Ingat, cinta butuh pengorbanan." Gumamnya dengan menutup mata, karena sesungguhnya diapun sangat takut.


"STOOPPP....!!" Teriaknya dengan memejamkan mata dengan sangat kuat, karena takut taksi itu akan menabrak dirinya.


sopir taksi itu seketika menghentikan lajuan mobilnya, dengan mengeluarkan kepala lewat kaca jendela, dia meneriaki Alana.


"Hei Nona!! jika kau mau mati?! jangan buat aku yang menabrakmu. Aku tau tempat bunuh diri yang sangat terkenal dikota London ini, dan aku yakin, kau pasti akan langsung mati, saat melakukan bunuh diri disana." Ucapnya, kesal.


Alana tidak memperdulikan perkataan pria paruhbaya itu, dengan segera dia menghampiri taksi itu, dan bernapa lega saat tidak mendapati penumpang didalamnya.


"Heeii Nona, kenapa kau malah masuk kedalam?? bukankah, tadi kau ingin menabrakkan dirimu ditaksi ini?"


"Aku bukan mau bunuh diri, Paman? dan antar aku keapartemen ini sekarang." Pinta Alana, dengan menunjukkan kartu kecil itu.


"Ba..baiklah, aku senang jika apa yang aku pikirkan tentangmu, itu salah Nona?"


Raut wajanya terlihat gelisah saat taksi yang melaju, membawanya kealamat yang dituju. Kedua jemari itu saling meremas, menyalurkan kegelisahan dalam dirinya yang kian menjadi.


"Paman, apakah masih jauh?" Tanya Alana, saat sang sopir taksi tengah melajukan kendaraan roda empat itu.


"Sedikit lagi, kita sudah sampai Nona?"


Beberapa saat kemudian, mobil berhenti disebuah gedung, yang menjulang tinggi.


"Kita sudah sampai Nona, dan apakah anda akan bunuh diri ditempat ini?" Tanyanya, dengan membalikkan badan menatap Alana.


"Iya Paman. Dan kalau aku mati, aku akan pergi menemuimu, karena kau sudah berbaik hati mengantarku kesini. Dan ini uangnya Paman, ambil saja kembaliannya." Ucap Alana, dengan berlalu dari dalam mobll itu.


****

__ADS_1


Langkah itu terlihat tergesa-gesa, saat melangkah menuju gedung pencakar langit itu.


Saat sudah berada didalam, Alana segera berlalu menuju arah lift.


Raut wajahnya terlihat begitu gelisah, sebab merasa lift yang membawanya menuju lantai 8, sangatlah lama.


"TING" Pintu lift terbuka. Dengan melebarkan langkahnya, Alana berjalan menuju apartemen, yang disewa oleh Dave Hounston.


Saat sudah berada didepan pintu, Alana segera menekan bel pintu apartemen itu. Tapi seketika tangan itu melayang diudara, saat mengingat kembali Dave, yang tidak ingin bertemu dengannya sama sekali.


"Bukakah, dia tidak ingin bertemu denganku? jadi bagaimana, aku bisa masuk," Gumamnya, dengan raut wajah putus asanya.


Menimang-nimang, dan Alana nampak berpikir keras. Seketika sebuah ide muncul dalam dirinya, saat melihat seorang clening servis wanita, yang tengah bertugas.


"Kenapa cinta butuh pengorbanan sejauh ini, bahkan aku harus menyamar jadi cleaning servis," Gumamnya, dengan rau wajah memelas.


Dia menghampiri gadis muda itu, yang tengah membersikan lantai.


"Nona, bisakah kau membantuku?"


"Membantu apa, Nona?"


"Aku sangat membutuhkan, seragam kerjamu ini,"


"Untuk apa Nona? kalau nanti aku memberikan pada anda, apa yang harus ku pakai?"


"Kita akan bertukar pakaian. Dan aku akan memberikan uang yang, banyak untuk bajumu ini."


"Kau serius, Nona?" Tanya gadis muda itu, dengan bolamata berbinar.


"Baiklah Nona, aku,mau." Jawabnyanya, disertai anggukan kecil.


****


Kini Alana sudah berdiri didepan pintu, dan dia memberanikan diri untuk memencet bel.


"Siapa..?" Teriak orang didalam sana, dan Alana meyakini itu adalah Daven.


"Ini aku, petugas kebersihan Tuan..?" Jawanya, berusaha melainkan suaranya.


Daven menatap wajah itu, dari monitor. Dan dia mendapati seorang wanita yang memakai baju cleaning servis, dengan menghalangi wajahnya, menggunakan sapu.


"Kenapa dia harus menggunakan sapu untuk menutup wajahnya? apakah wajahnya, sangat buruk??" Gumam Daven, dengan langsung membuka pintu.


Pintu terbuka, dan Daven begitu terkejut saat melihat Nonamudanya.


"Nona anda tidak boleh masuk, Tuan tidak ingin bertemu!" Dengan menutup pintunya, tapi seketika Alana mencekalnya.


Akhirnya terjadilah aksi saling dorong mendorong, antara keduanya.


"Sekretaris brengsek!! buka pintunya, aku ingin bicara dengan suamiku?!"


"Maaf Nona, tapi Tuan tidak ingin bertemu dengan anda,"


"Daven, ingat Tuanmu itu masih suamiku.." Dengan terus berusaha, membuka pintu.


"Maaf Nona, ini perintah Tuan...?" Dengan tetap, berusaha menutup pintunya.

__ADS_1


Alana terlihat kesal, akhirnya wanita itu menemukan ide yang dapat membuatnya masuk kedalam. Dengan segera dia menggigit tangan Daven, hingga tangan itu terlepas dari pintu.


"AAHHHH" Teriak Daven, menahan kesakitan pada tangannya.


"Nona! apakah anda sekarang, sudah menjadi seorang drakula?"


"Ya. Aku drakula yang akan membunuhmu." Jawabnya kesal.


Dan dimana, Tuanmudamu?"


"Tuanmuda, tidak ingin bertemu dengan anda."


"Katakan dimana dia Daven, aku mohon? setidaknya biarkan aku bicara dengannya, sebelum kalian berangkat keAmerika." Dengan tatapan memohon, menatap sekretris suaminya.


Melihat tatapan memohon Alana, membuat Daven akhirnya luluh.


"Satu jam lagi kami akan berangkat keAmerika, dan Tuan sedang berada disana." Ucap Daven, dengan menunjuk kearah sudut ruangan.


"Terima kasih Daven, kau memang yang terbaik." Jawab Alana dengan melangkah pelan, kearah yang ditunjuk sekretris suaminya itu.


Alana melangkah dengan pelan. Langkah itu terasa begitu berat, saat akan menghampiri suaminya.


Dan dari kejauhan, dia mendapati sosok pria dengan memakai pakaian kasualnya, dan itu adalah Dave.


"Dave.." Gumamnya, pelan.


Dengan langkah pelan yang dipenuhi kerinduan, dia menghampiri suaminya disana. Saat sudah mendekat, Alana segera menyisipkan kedua tangannya, memeluk tubuh pria itu dari belakang.


Dave begitu terkejut, saat ada seorang wanita yang memeluk dirinya. Saat akan melepas, Alana bersuara.


"Dave..., aku merindukanmu, aku merindukanmu suamiku..?" Gumamnya, pelan.


"Alana...?" Ucap lelaki itu, karena tidak menyangkah ternyata Alanalah yang memeluknya.


"Iya ini aku, Dave? dan aku datang untukmu," Jawabnya, dengan airmata yang sudah membasahi pipi.


Dave seketika membalikkan badannya, menatap wajah Alana dengan dalam.


"Alana, kau..., kau datang untukku...?" Tanya Dave, memastikan apa yang dia dengar tidaklah salah.


Alana mendongakkan kepala menatap wajah tampan didepannya, dengan linangan airmata yang terus mengalir, akibat kerinduan yang teramat menyiksa dirinya.


"Iya, aku datang untukmu, Dave? dan aku sangat mencintaimu,"


Mendengar itu, betapa bahagianya Dave saat ini. Hingga dengan segera dia merengkuh penuh tubuh istrinya, membenamkan dalam pelukan, dengan mata sudah berkaca-kaca.


"Katakan sekali lagi Alana, katakan sekali lagi. Agar aku memastikan, ini bukanlah mimpi."


Alana semakin menumpakan tangisannya, saat mendengar permintaan Dave, yang ingn memastikan kalau ini nyata.


"Aku mencintaimu Dave..., aku sangat mencintaimu suamiku..?" Jawabnya, dengan airmata yang tak berhenti mengalir.


Airmata bahagia semakin mengalir dari kedua sudut mata pengusaha itu, saat mendengarkan ungkapan cinta istrinya.


"Terima kasih Alana, karena sudah sangat mencintaiku. Dan aku juga, sangat mencintaimu Alana.., sangat mencintai Ibu dari kedua anakku."


Pasangan suami istri itu saling berpelukan lebih erat, seolah tidak ingin terlepas lagi. Menumpakan tangis bahagianya, setelah sekian lama memendam perasaan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2