
Alana, dan Louis begitu kaget dengan kedatangan Damian saat ini. Apalagi sekarang mereka duduk dengan begitu rapat, dan lelaki itu tengah merangkul pundak Alana.
Segera melepaskan rangkulan itu, dan berdiri dengan raut wajah pucat, dan kegugupan yang teramat sangat.
Damian membingkai senyuman kecil, dan kakinya perlahan menghampiri kearah Louis, dan juga Alana yang sudah bangun dari posisinya, dan sedikit memberi jarak diantara mereka.
"Bagaiamana, kabar kalian?"
"Ba..baik, Paman," Jawab Louis gelapan dengan raut wajah yang merona, karena merasa sangat malu.
Tatapan lelaki paruhbaya itu beralih menatap putrinya, yang hanya menundukkan kepala.
"Alana..." Panggilnya, pelan.
Mendongakkan kepala, dengan tatapan mata penuh kerinduan pada pria paruhbaya itu.
"Papa..."
Tatapan matanya secara bergantian menatap Louis, dan juga Alana secara bergantian, yang hanya diam membeku.
"Papa sudah mengetahui semua yang terjadi disini, dan kalian tidak perlu menutupinya lagi."
Alana, dan Louis seketika menatap dengan intens wajah Damian, yang terlihat tenang saat mengucapkan itu.
"Paman.., aku..aku bisa," Ucap Louis, terbata-bata.
"Papa.." Seru Alana, dengan hanya menundukkan kepalanya.
"Papa tidak mau menghakimi siapapun disini. Kau, dan Dave mempunyai tempat yang sama dihatiku. Papa datang kesini, sekalian mau menyelesaikan masalah diantara kalian. Dan setelah menemui Dave, Papa ingin bicara dengan kau, dan Louis."
Raut wajah keduanya berubah pucat, terutama Louis yang tidak menyangkah Damian, sudah mengetahui semuanya.
"Maafkan aku Paman, tapi aku sama sekali tidak pernah berniat mempermainkan putrimu. Walaupun aku tau, yang aku lakukan ini salah. Tapi sebenarnya aku punya keinginan untuk jujur padamu, tapi ternyata kau sudah tau terlebih dahulu. Maaf, maafkan aku Paman," Ucapnya, dengan hanya menundukkan kepalanya.
Tangan kanannya meraih pundak Louis, dengan senyuman diwajahnya.
"Kita akan bicarakan nanti, setelah Paman melihat kondisi Dave. Dan kalau semuanya harus diakhiri, Paman minta akhiri dengan baik-baik, dan tidak ada permusuhan diantara kalian. Ayo Jordan, kita kedalam,"
"Baik Tuan," Jawab Jordan, dengan melangkah masuk bersama Damian kedalam ruang ICU.
Alana seketika terduduk lemas, dan raut wajahnya terlihat pucat. Dia tidak menyangkah ayahnya sudah mengetahui hubungan asmarahnya dengan, Louis.
"Maafkan aku Alana, ini semua karena diriku,"
__ADS_1
"Jangan sepenuhnya menyalakan dirimu sendiri Louis, ini sepenuhnya bukan salahmu." Jawabnya, dengan menghembuskan napas berat.
****
Pintu ruangan terbuka, seketika Daven melemparkan tatapan matanya kerah pintu, lelaki itu langsung beranjak dari duduknya, mengambil posisi mundur, saat melihat keberadaan Damian, dan Jordan.
"Tuan.." Gumamnya.
Tatapan Damian berkaca-kaca, hatinya begitu teriris melihat anak satu-satunya, terbaring tidak berdaya dengan alat bantu terpasang tubuhnya, untuk membantunya bertahan hidup.
Dengan langkah pelan, dia menghampiri putranya yang terbaring diatas bed hospital.
"Dave..." Panggilnya, dengan menyentuh tangan putranya.
Bangunlah anakku., bangunlah. Kau harus kuat, demi kedua anakmu Dave? mereka masih sangat kecil, dan masih sangat membutuhkanmu. Kau tau Dave, mereka begitu merindukanmu, terutama Louisa, yang selalu menanyakan dirimu." Ucapnya, dengan airamata yang terus mengalir.
Daven.." Panggilnya, kemudian.
"Ada apa, Tuan?"
"Bagaimana perkembangangan, tentang kesehatan Dave?"
"Tuan Dave kekurangan banyak dara, dan sempat mengalami masa kritis. Tapi sekarang sudah mulai kembali normal, dan kita melihat bagaimana perkembangan selanjutnya."
Menghembuskan napas kasar, dan tatapannya kembali menatap anak-anak laki-lakinya, yang masih terbaring lemah dengan kesedihan yang teramat mendalam didalamnya.
"Papa..." Panggil Alana, saat sudah berada dibelakang pria paruhbaya itu.
Membalikkan badannya, dengan senyuman menatap anak perempuannya.
Seyuman kecil membingkai diwajahnya, saat melihat Alana yang tidak berani beradu pandang dengannya.
"Aku tetap Papamu Alana, tidak ada yang berbeda antara kau, dan Dave."
Mendengar apa yang dikatakan Damian, seketika Alana berani mendongakkan kepala menatap ayah tirinya, dengan linangan airamata yang sudah membasahai pipi.
"Maafkan aku Papa, maafkan aku. Karena aku, Dave jadi seperti ini," Ucapnya dengan isak tangi, yang terus membasahi pipi.
Senyuman kecil membingkai diwajahnya, menatap putrinya dengan kasih sayang.
"Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri, ini sudah merupakan kehendak takdir. Papa tau, selama ini kau sudah sangat bersabar dengan kelakuan Dave. Berkali-kali kau memintanya meninggalkan Laura, tapi dia selalu menolak. Dan dia tidak pernah menganggapmu sebagai istrinya, dan dia menggunakan pernikahan kalian, untuk menutupi perselingkuhannya dengan Laura. Papa minta maaf Alana, Papa minta maaf, karena keegoisan Papa yang menginginkan kalian bersama, membuat kau menderita."
"Tidak Papa, tidak. Papa sama sekali tidak bersalah,"
__ADS_1
"Alana..."
"Ada apa, Papa?"
"Apakah kau mencintai Louis...?" Tanyanya, pelan.
Mendapatkan pertaanyaan itu, membuat raut wajah Alana seketika berubah gugup, dan juga pucat. Dan dia seperti orang kebingungan, karena tidak mungkin dia berkata jujur.
Melihat ekspresi putrinya Damian hanya tersenyum, dan dia sudah tau tanpa Alana harus menjawabnya.
"Kau berhak bahagia Alana, kalau memang Louis bisa membuatmu bahagia, hiduplah bersamanya. Papa tidak mau memaksakan kau terus bersama Dave, kalau bathinmu menderita. Karena kau, adalah putriku. Sepenuhnya tanggung jawabku."
"Papa..."
"Setelah Dave sadar nanti, Papa akan mencoba bicara ini dengannya. Karena Papa tau, selama ini kau sudah meminta cerai darinya, tapi Dave selalu menolaknya. Dan Papa akan bicara dengannya, setelah dia sadar dari koma. Dan Papa yakin, dia pasti mau mengabulkan keinginanmu itu."
Mendengar apa yang dikatakan Damian membuat Alana semakin menangis, dan dalam dirinya timbul rasa berasalah yang teramat sangat
Damin meraih sesuatu dalam saku celanya. Sebuah lembaran kertas, yang dia lipat menjadi beberapa bagian.
"Ini ada surat dari anak kalian, mereka meminta Papa memberikan ini padamu, dan juga Dave. Tanpa Papa jelaskan, pasti kau sudah tau apa itu."
Alana meraih lembraran kertas dari tangan Damian, hatinya terasa seperti dihantam bongkahan batu besar, saat melihat gambar itu.
"Papa pergi dulu anakku, apapun yang terjadi kau selamanya adalah putriku," Ucap Damian, dengan berlalu begitu saja.
Alana terduduk lemas dibangku taman, saat melihat goresan tangan kedua anaknya.
Bergambar sepasang suami istri, dengan siwanita tengah menggendong bayi, dan sepasang anak laki-laki, dan perempuan.
Tangisannya semakin pecah, dan dia begitu merasa bersalah. Louis yang sedari tadi melihat itu semua, segera menghampiri Alana yang tengah menangis seorang diri bangku taman.
"Alana..." Panggilnya, pelan.
Mendongakkan kepala, dengan airmata yang terus mengalir.
"Louis, apa yang harus aku lakukan?"
Louis meraih lembaran kertas dari tangan Alana, dan melihat gambar, yang sudah disuguhi nama masing-masing.
Papa Dave, Mama Alana, Louis, Louisa, dan adik bayi.
Dan tertulis pesan dibawa.
__ADS_1
MAMA, PAPA, INGAT! KALAU PULANG KEAMERIKA JANGAN LUPA BAWA ADIK BAYINYA.
Lelaki tampan itu hanya bisa mengusap kasar wajahnya, seraya menghela napas panjang.