
Membasahi tubuh seksinya, dibawah kuncuran air yang keluar dari shower. Terlintas kembali wajah seorang wanita yang dia lihat siang tadi, yang begitu mirip dengan Alana, wanita yang selama beberapa tahun ini, begitu menguras pikirannya. Mengusap kasar wajahnya, dengan air yang terus mengalir membasahi tubuhnya.
" Apakah karena terlalu memikirkan dia, membuat aku jadi berimajinasi, dan mengirah wanita yang kulihat tadi, adalah dirinya." Gumamnya, dengan berbagai pertanyaan dalam dirnya sendiri.
Devan tampak begitu sibuk dengan beberapa berkas yang ada diatas meja, mendengar suara bel pintu kamar seketika mengalihkan tatapan sekretaris tampan itu pada arah pintu, dan dengan segera dia menghampiri.
Membuka pintu kamar seketika kedua alisnya menyurut, saat melihat wanita yang berada didepannya adalah, CEO dari DIAMONT SWIFT
"Nona Laura? anda?!"
"Hallo..?" Sapanya, dengan senyuman semanis mungkin.
Apakah Bosmu, ada?!"
"I..Iya Tuan Dave ada, beliau sedang mandi." Dengan raut wajah yang sedikit gugup, yang membuat Laura hanya tersenyum
'Silahkan duduk!" Titah Daven, saat mereka sudah berada di dalam kamar hotel.
"Terima kasih," Jawabnya dengan langsung, menjatuhkan tubuhnya pada sebuah sofa tunggal.
"Siapa yang datang, Daven?!" Tanya Dave yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan masih menggunakan handuk yang membalut pinggangnya.
Laura meneguk salivanya, saat penampilan Dave yang terlihat begitu seksi yang menampakkan sebagian otot tubuhnya, apalagi saat lelaki tampan itu mengibaskan rambutnya yang masih basah, membuat CEO cantik itu, semakin hanyut dengan ketampanann seorang Dave.
"Nona Laura, Tuan?"
Mengalihkian tatapannya, karena dia sama sekali tidak menyadari kedatangan mantan kekasihnya itu.
"Hallo Dave, maaf aku tidak mengabarimu sebelum datang kemari."Dengan mencoba untuk tersenyum, dibalik rasa gugupnya.
"Tidak masalah, kalau begitu duduklah. Aku akan berpakaian dulu." Ucapnya, dengan berlalu pergi keruang ganti.
Setelah perginya Dave, Laura beranjak dari duduknya, dan duduk disebelah Daven.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu, padamu?! Dengan tatapan yang begitu intens, menatap sekretaris tampan itu.
"Apa yang ingin anda tanyakan padaku, Nona?!" Bertanya balik, dengan tatapan yang begitu penasaran.
"Apakah Dave, mempunyai kekasih?"
Sedikit terkejut, tapi kemudian dia tersenyum pada CEO cantik itu.
"Tuan Dave tidak memiliki kekasih, sejak berpisah dengan Nona Karin, sampai sekarang dia belum pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, tapi aku rasa mungkin dia akan segera mencari pasangan sebab Tuan besar, memintanya untuk segera berumahtangga."
Senyuman seketika mengembang diwajah cantik itu, dan dia terlihat begitu bahagia, saat mendengar dari Daven kalau mantan kekasihnya itu, belum memiliki kekasih sampai sekarang.
__ADS_1
"Dan apakah aku boleh meminta sesuatu padamu?"
"Meminta sesuatu, padaku?!" Dengan tatapan penasaran, menatap Laura.
Tersenyum kecil, saat melihat Daven yang tampak begitu bingung.
'Aku lebih ingin dekat dengan Bosmu, dan apakah kau bisa meninggalkan kami berdua?" Dengan tatapan penuh harap, menatap sekretaris tampan itu.
"Tapi aku harus minta ijin padanya, dulu Nona?!" Dengan keraguan, yang terlihat diwajahnya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku yang akan berbicara langsung padanya." Jawabnya, meyakinkan Daven.
Menghembuskan napas dalam, walaupun sedikit ragu, tapi melihat tatapan penuh harap dari Laura, akhirnya Daven pun luluh.
"Baikllah Nona, kalau begitu aku akan pergi." Ucapnya, dengan berlalu dari kamar itu.
****
Dave keluar dari ruang ganti, dengan penampilan yang sudah terlihat tampan.
Mengedearkan pandangannya, dan sepertinya dia tengah mencari keberadaan seseorang.
"Dimana, Daven?"
Dave menghampiri kursi set, dan menjatuhkan dirinya disofa panjang.
"Besok pagi, aku dan Daven akan pergi ke Cambrigge untuk melihat lokasi tempat pembangunan hotel, apakah kau akan ikut?!"
"Kalau aku punya waktu luang, pasti aku akan menyusul kalian."
"Baiklah, katakan padaku jika kau akan pergi menyusul kami."
"Dave..?" Panggil Laura, tiba-tiba.
"Ada apa?"
Menghembuskan napas, dan dengan berani Laura beranjak dari duduknya, dan duduk disamping lelaki tampan itu.
"Bisakah kita tidak membahas masalah pekerjaan? dan bisakah kita membahas tentang kita berdua saja,"
"Tentang kita, berdua?!" Bertanya, dengan tatapan penasaran.
"Aku ingin kita kembali bersama Dave, aku ingin kita kembali membina hubungan seperti dulu lagi." Ucapnya, dengan suara parau.
Menghembuskan napas, sebelum berbicara.
__ADS_1
"Aku, dan kau pernah sama-sama gagal dalam menjalin sebuah hubungan. Dan aku tidak mau, hal yang dulu terulang lagi, jadi..?!" Dengan tidak melanjutkan, ucapannya lagi.
"Jadi, kau menolakku Dave?!"
"Tidak, aku tidak bilang seperti itu. Aku hanya ingin kau memberi aku waktu, karena aku ingin selanjutnya membina hubungan yang serius, dan aku tidak mau gagal lagi."
Tersenyum, menatap wajah tampan itu.
"Baiklah aku mengerti maksudmu, aku juga tidak mau gagal lagi dalam menjalani sebuah hubungan. Yang jelas aku akan menunggu, dan aku harap kau tidak mengecewakanku."
"Terima kasih Laura, karena kau sudah sangat mengerti dengan keadaanku."
****
Hari ini cuaca dikota London Inggris terlihat begitu bersahabat, dengan salju yang tak terlihat lagi. Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dari dua jam, tibahlah Dave, dan sekretrisnya dilokasi pembangunan hotel, yang terletak dikota Cambrigge.
Lelaki tampan itu mengedarkan pandangannya kesegalah penjuru arah, dan dia begitu terkesima dengan keindahan kota itu, saat kedua kakinya berpijak dilokasi itu.
"Tempat disini sangat indah Tuan, aku rasa kita akan betah disini,"
"Akupun, menyatakan demikian." Jawabnya, tersenyum.
"Selamat pagi, Tuan?!" Sapa seorang mandor, yang datang menghampiri mereka.
"Pagi."
"Apakah anda, adalah CEO dari Hounston Group?"
"Iya, benar."
"Kalau begitu ayo kita masuk, untuk melihat pembangunan dari hotel ini."
'Aku percayakan semua pada sekretarisku. Dia yang akan melihat bagaimana perkembangan pembangunan gedungnya, karena aku akan berjalan-jalan disekitar sini."
"Baik, Tuan?!" Jawab Daven, denga berlalu kedalam bangunan itu, bersama seorang mandor.
Dave melangkahkan kaki dengan senyuman yang terus terukir, diwajahnya ketika mengelilingi daerah sekitar situ. Tapi seketika langkah itu terhenti, saat melihat seorang anak laki-laki kecil menangis, dan tampak seorang gadis kecil yang tengah berusaha mendiamkannya. Terus menatap dari jauh, dan ntah kenapa, dia memutuskan untuk menghampiri.
"Aku ingin beli mainan itu, Kakak?!" Pinta Louis, dengan terus menangis.
"Tapi kita tidak mempunyai uang Louis? ayo kita pulang. Dan Meminta uang pada Mama." Bujuk Louisa, pada adiknya.
"Apa yang membuatmu menangis? katakan, pada Paman!" Ucap Dave dengan senyuman, menghampiri kedua bocah kecil itu.
__ADS_1