
Alana memutuskan meninggalkan kedua anaknya, yang memilih masih berjalan-jalan bersama Rose.
Melenggangkan kaki ditengah panasnya cuaca kota Cambrigge, menuju vila. Saat sudah sampai divila, dia menjumpai mobil Dave yang sudah terparkir dihalaman depan.
Menghembuskan napas dengan sekali tarikan, dan memutuskan untuk melangkah kedalam.
Saat tiba didalam, Alana menjumpai Laura seorang diri diruang tamu, tanpa Dave yang menemani dengan berbagai macam belanjaannya. Tanpa memperdulikan keberadaan wanita dia melenggangkan kaki meenuju arah tangga.
Merasakan keberadaannya diabaikan oleh Alana, membuat Laura geram.
"Kau sudah pulang? aku sangat kasian padamu, kau itu calon istri seorang pengusaha, tapi untuk datang kesini saja kau hanya berjalan kaki. Sungguh miris sekali, nasipmu Alana? hanya menjadi kiasan saja, dirumah ini. Kau lihat aku, Dave baru saja membelikan barang-barang mewah ini buatku, padahal aku mempunyai uang." Ucapnya, bangga.
Menghembuskan napas yang terasa sesak didadanya, dan membalikkan badanya, bertatatapan dengan Laura.
"Kalau begitu, aku ucapkan selamat dengan apa yang kau dapatkan dari Dave. Karena aku tau, kau itu wanita yang haus akan belaian seorang laki-laki, bukankah kau seorang janda? jadi wajar saja, kalau kau haus akan sentuhan pria, karena sudah lama kau tidak mendapatkan kehangatan dari laki-laki."
"Apa tadi kau bilang, aku haus akan belain laki-laki?!!" Dengan nada mulai tinggi, dari sebelumnya.
"Iya, bukankah tepatnya seperti itu. Kalau tidak kenapa kau masih saja mendekati, Dave?! walaupun kau tau, aku dan dia akan menikah. Kalau bukan, karena kau haus akan sentuhan seorang pria," Jawab Alana santai, dengan senyuman mencemooh.
Laura tak sanggup lagi membendung amarahnya, dengan langkah cepat dia menghampiri Alana, dan bermaksud menamparnya. Tapi karena memakai heels yang terlalu tinggi, akhirnya dia terjatuh setelah tersangkut pada karpet bulu, dan bersamaan dengan itu, Davepun turun dari tangga.
"Laura..?! kau kenapa?" Dengan segera menyambangi kekasihnya yang tengah merintih kesakitan, dan membantuhnya untuk bangun.
"Dia mendorongku, Dave?!" Ucapnya, dengan menunjuk Alana.
"Apaa?" Ucap Alana, yang begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Laura.
Dia berbohong, Dave?! dia berbohong, aku sama sekali tidak mendorongnya? dia terjatuh sendiri." Ucap Alana, dengan berusaha meyakinkan calon suaminya.
"Dia berbohong, Sayang? dia berbohong? bukankah kau tau, kalau dia sangat tidak menuyukaiku?" Timpal Laura, dengan berusaha meyakinkan Dave.
__ADS_1
Raut wajah Dave, seketika terlihat murka, dan dengan kasar dia menarik tangan Alana, menuju arah tangga kamar mereka.
"Apa yang kau lakukan Dave..?!! lepaskan aku?!! lepaskan..?!!" Ucap Alana, dengan berusaha melepaskan cengkraman tangan Dave, yang begitu menyakitkan.
"Kau sudah sangat keterlaluan, Alana??! kau harus diberi pelajaran." Dengan kemarahan yang teramat sangat, dan terus menarik tangan Alana menuju kamar mereka.
Saat sudah tiba didalam, dengan kasar dia menghempaskan tangan Alana, dan menampar kuat pipi wanita itu.
"PLAAKK..?" Dasar kau perempuan tidak berguna, kau itu tidak ada beda jauhnya dengan Ibumu Alana!!?"
Alana hanya meneteskan airmata seraya menyentuh pipinya, dan hatinya teramat sakit saat Dave menyinggung kembali tentang mendiang Ibunya.
"Berhenti menyebut hal buruk, tentang Ibuku Dave..?!!" Teriaknya, dengan linangan airmata.
"Memang salah?! kalau aku menyebut Ibumu seperti itu, bukankah Ibumu itu hanya seorang wanita murahan, dan menikahi ayahku hanya karena harta?!" Dengan senyuman mengejek, menatap Alana.
Alana tak sanggup membendung amarahnya, hatinya teramat sakit saat Dave, mengatakan hal buruk tentang almarhumah Ibunya. Hingga membuatnya menampar balik pipi Dave, dengan sangat kuat.
Dave begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Alana padanya, yang sudah menamparnya. Dan dia berniat membalas tamparan Alana, dan saat akan melayangkan kembali tangannnya, tiba-tiba saja tangannya terhenti.
"Kenapa kau tidak menjadi menamparku, Dave..? ayo tampar aku? ayo tampar..? bukankah dari dulu, kau sangat membenciku, bahkan kau tidak ada puas-puasnya menyiksaku dengan pernikahan gila ini..?!" Teriaknya, dengan linangan airmata yang terus mengalir.
"Kau wanita yang sangat keras kepala, jadi tidak heran kalau Laura-lah, wanita yang bisa membuatku jatuhcinta. Laura sangat pengertian, dan sangat berbeda denganmu." Ucapnya nada berapi-api, dan berlalu begitu saja dari kamar mereka.
Dave melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa, saat menuruni anak tangga.
Laura yang melihat kekasihnya menuruni tangga, segera menghampiri. Dan sedikit kaget, saat mendapati pipi Dave yang tampak memerah.
"Kau kenapa, Dave..? kenapa pipimu, memerah? apakah ini, perbuatan wanita itu?" Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
"Ayo kita pergi, aku akan mengajakmu ketempat yang indah."
__ADS_1
"Kau serius Dave? kau sedang tidak berbohongkan?" Tanya Laura, memastikan apa yang dia dengar.
"Tentu, buat apa aku berbohong."
"Baiklah, ayoo?" Jawabnya, dengan langsung menggandeng manja Dave, dan berlalu dari vila itu.
Alana terus menitikkan airmatanya, saat teringat kembali perkataan Dave, yang begitu menusuk.
"Ibuku begitu menyayangimu, Dave..? sangat menyayangimu? tapi kenapa kau begitu membencinya. Hingga membuat aku, menjadi sasaran amarahmu." Ucapnya, dengan terus menangis.
****
Membela jalan ditengah keramaian kota Cambrrige, dengan keheningan yang terjadi didalam mobil.
Senyuman membingkai diwajah CEO cantik itu, dan dia terlihat begitu bahagia, saat berhasil membuat hubungan Alana, dan Dave kian memanas.
"Kau baik-baik saja, Dave?" Bertanya, dengan nada yang terdengar lembut.
"Aku baik-baik saja Laura? kau tidak perlu mengkahwatirkan aku."
"Alana memang wanita yang sangat keras kepala, sebenarnya dia itu harus berterima kasih, karena ayahmu masih mau menampungnya dirumahmu, walaupun Ibunya sudah tiada, kalau tidak mungkin sekarang dia sudah berakhir dijalanan."
Menghembuskan napas kasar, dan tak bisa dipungkiri saat mendengar apa yang dikatakan Laura, membuat kemarahan lelaki tampan itu, semakin bertambah. Tidak menjawab, dan semakin melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Senyuman kecil membingkai diwajah Laura, dan dia terlihat begitu bahagia.
"(Aku akan membuatmu, semakin membenci wanita itu, Dave..? semakin membencinya.") Bathin Laura, dengan seringai jahat diwajahnya.
****
Alana masih saja menumpakan tangisannya, didalam kamar itu. Hingga suara panggilan Louis, dan Louisa membuat wanita itu kelabakan, dan dengan segera membenahi penampilannya.
__ADS_1