
"Mamaa?" Panggil Louisa, dan Louis saat berlari melewati tangga, menuju lantai dua kamar orangtuanya.
"Maa...?" Panggil Keduanya lagi , dengan segera menghampiri Ibunya, saat sudah berada didepan pintu.
"Kalian sudah pulang? bagaimana jalan-jalannya?" Bertanya, dengan mencoba untuk tersenyum, dibalik kegundahan hatinya.
"Kami sangat senang, Maa? kami pergi ketoko mainan, dan jugan membeli Ice creaam." Jawab Louis, dengan antusiasnya.
Louisa terus menatap wajah Ibunya, terutama pada bagian matanya yang terlihat sembab, dan juga bibir yang ada luka kecil.
"Mama? apakah kau baik-baik saja? kenapa matamu memerah? dan kenapa bibirmu, ada lukanya?"
Raut wajah Alana seketika terlihat gugup, saat mendapati pertanyaan itu, karena dia tidak mau kedua anaknya mengetahui polemik, antara dia, dan Dave.
"Mata Mama, kemasukan debu, Louisa? dan luka kecil ini, karena tadi tidak sengaja, Mama menggigit bibir Mama sendiri." Jawabnya, berusaha meyakinkan anak perempuannya.
"kau sedang tidak berbohong, pada kamikan Maa?" Bertanya lagi, dengan menatap intens Ibunya.
"Ti..tidak Sayang?" Jawabnya, dengan sedikit gugup.
"Baiklah, kalau begitu aku, dan Louis akan kekamar. kami akan mandi.
Ayo Louis, kita mandi?"
:"Ayo, kak?!" Jawabnya, dengan berlalu bersama dengan saudara perempuannya.
ALana seketika menjatuhkan dirinya diranjang, dan menitikkan kembali airmatanya. Sebab merasa bersalah, sudah membohongi kedua buahatinya itu.
"Maafkan Mama? Louis, Louisa? karena sudah berbohong pada kalian. Maafkan, Mama?"
Detik terus berjalan, dan tak terasa malampun telah menyambut kota London. Walaupun sudah pukul dua sebelas malam, tapi Dave masih berada diapartemen kekasihnya, Laura.
"Jadi kau tinggal seorang diri, disini?" Tanya Dave, saat mereka baru saja tiba diapartemen milik wanita itu.
"Iya Sayang, aku yang memilih untuk tinggal sendiri. Dan tidak ingin tinggal bersama, kedua orangtuaku. Jadi kalau kau mau, kau bisa menginap disini sepuasnya."
Mendengar apa yang dikatakan Laura, Dave hanya tersenyum, dan tidak mengatakan apa-apa. Memilih menjatuhkan diri disofa panjang, karena rasa lelah setelah seharian menghabiskan waktu dengan Laura diluar.
Laura menghampiri kekasihnya, dan duduk disebelah Dave dengan sangat rapat. Menggandeng manja kekasihnya, dan bersandar dipundaknya.
"Dave...?" Panggilnya, pelan.
"Ada apa, Laura?"
"Apakah kau betul-betul, mencintaiku?"
"Tentu saja aku sangat mencintaimu. Kenapa kau masih bertanya? apa kau ragu padaku?"
"Tidak, aku hanya bahagia. Bahagia, karena kau sangat mencintaiku." Jawabnya, tersenyum.
__ADS_1
Mulai mendekatkan bibirnya, kebibir pria itu, dan menciumnya. Ciuman singkat keduanya, menjadi ciuman yang sangat panjang, hingga membangkitkan gairah Laura, sebagai wanita dewasa.
Tak sanggup lagi membendung gairahnya, hingga dia menginginkan lebih dari pria itu. Bibirnya mulai mengerayangi leher Dave, dan menciptakan tanda merah disana.
Dave hanya memejamkan mata, dan tak bisa dipungkiri dia sangat menikmatinya. Matanya terpejam menikmati apa yang dilakukan Laura padanya, dan tersadar saat wanita itu akan menelusup tangannya pada celananya.
"Tidak Laura, aku mohon jangan?!" Dengan mencengkram tangan Laura.
"Kenapa Dave? bukankah, kita saling mencintai?" Jawabnya, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Kita memang saling mencintai, bahkan aku sangat mencintaimu. Tapi..?" Ucapnya, yang tak sanggup lagi melanjutkan lagi kata-katanya.
"Tapi apa?!" Tanya Laura, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Tapi aku tidak bisa melakukan itu, dengan wanita yang bukan istriku?"
Tertawa kecil, dengan raut wajah kesalnya, dan segera beranjak dari duduknya.
"Terus dengan Alana? kenapa bisa, bahkan wanita itu sampai melahirkan anakmu?!" Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat sudah memerah.
"Aku melakukan itu, karena saat itu yang dipikiranku adalah menghancurkan hidupnya, Laura? jadi aku mohon mengertilah?" Dengan tatapan penuh harap, kekasihnya.
"Tapi aku ingin memilikimu, seutuhnya Dave? dan pasti kau akan melakukan itu dengan Alana, jika kalian sudah resmi menikah nanti."
"Tidak..?!" Jawabnya, tegas.
"Suatu saat aku akan menjelaskan hubungan kita pada Papa, dan juga kedua anakku. Kalau kau, adalah wanita yang aku cintai sesungguhnya, dan aku akan meminta ijin pada mereka, agar aku dapat menikahimu."
"Kau serius Dave?"
"Tentu saja, sudah berapa kali aku bilang. Kalau kau adalah wanita yang satu-satunya aku cinta, dalam hidupku." Jawabnya, meyakinkan Laura.
****
Dave melajukan mobilnya ditengah lengang jalan raya, menuju kota camrigge. Dan baru tiba divila yang dia tempati, diwaktu yang sudah menunjukkan, pukul dua dini hari.
Melangkahkan kaki ditengah suasana vila yang tampak sepi, melewati anak tangga menuju lantai dua kamarnya. Membuka pintu, dan mendapati Alana yang masih belum tidur.
"Apa yang kau lakukan? kenapa belum tidur?" Tanya Dave, yang mengejutkan wanita itu.
"Bukan urusanmu."Jawabnya, datar.
Menghembuskan napas, dan menatap intens Alana, yang tengah mengobati luka pada sudut bibirnya, akibat tamparan tadi.
Seketika timbul rasa bersalah pada dirinya, dan menghampiri wanita itu.
"Biar aku, yang mengobati lukamu." Ucapnya, dengan meraih obat tersebut.
"Tidak perlu Dave? aku bisa sendiri?"
__ADS_1
"Ayolah Alana, aku sedang tidak ingin ribut. Dan bisakah, kau tidak keras kepala??!" Ucap Dave, dengann nada mulai meninggi.
Mendengar ucapan Dave, dengan sedikit berteriak, membuat Alana memutuskan untuk mengalah.
Kini posisi mereka berhadapan, dengan duduk bersila ditas ranjang. Alana terus menatap wajah tampan, yang tengah berada didepannya. Dan tak bisa dipungkiri, dia begitu mengagumi ketampanan kakak tirinya itu.
Terus menatap wajah Dave, hingga bolamatanya terhenti pada leher Dave, yang ada beberapa tanda merah disana.
Membingkai senyuman kecil, dan tak bisa dipungkiri ada rasa sakit dihatinya, dan dia sangat tau itu tanda kepemilikan dari Laura.
"Sudah Dave? sudah selesai, tidurlah..?" Ucapnya, yang mengakhiri kegiatan mereka.
"Tapi ini belum selesai betul, Alana?"
"Sudahlah Dave, aku ingin tidur." Jawabnya membaringkan badanya mempungungi Dave, dan menutup seluruh tubhnya, dengan selimut.
"(Apakah aku harus melabukan hatiku pada Louis, agar aku tidak terus menangis karena sesunguhnya aku sudah lelah.)" Bathinya, dengan airmata yang sudah menetes.
****
Matahari telah bersinar menyinari kota Cambrigge, setelah kegelapan menghilang secara sempurna dari muka bumi. Membuka matanya dengan sedikit memaksa, dan mendapati Dave sudah tidak berada disampingnya lagi.
"Munginkah aku, bangun kesiangan lagi?" Gumamnya, pelan
Terdengar suara orang yang sangat tidak asing yang berasal dari lantai bawa, hingga membuat Alana terlihat penasaran ingin mengetahui siapa yang datang divila itu.
"Suara siapa itu, sepertinya tidak asing?" Bertanya pada diri, sendiri dengan nada penasaran.
Karena rasa penasaran yang teramat sangat, Alana hanya menyikat gigi, dan mencuci muka saja, sebab ingin mengetahui siapa yang datang.
Menuruni anak tangga, dengan langka yang masih terasa berat, dan saat menatap kedepan, betapa terkejutnya Alana ketika mendapati keneradaan Damian, ayah tirinya.
"Papa..?" Panggilnya, dengan langsung berlari kecil menghampiri pria paruhbaya itu.
"Alana..?" Gumamnya, dengan merentangkan tangannya guna menyambut tubuh putri tirinya itu.
"Aku sangat merindukanmu, Papa? aku sangat merindukanmu?" Dengan merangkul erat pria paruhbaya itu.
"Papa juga sangat merindukanmu, Alana? sangat merindukanmu." Jawabnya tersenyum, dengan membalas rangkulan Alana.
"Uhuk..! uhuk.." Batuk pura-pura seseorang, yang merasa terbaikan.
Alana melepaskan pelukannya, dan beralih keasal suara batuk itu.
"Louis..?" Ucapnya tersenyum, saat mendapati keberadaan laki-laki tampan itu.
Berjalan menghampiri Alana, dengan senyuman manisnya.
"Apa kabarmu, Sayang?" Tanyanya, dengan berbisik pelan ditelinga wanita itu.
__ADS_1