
Tiga hari berlalu.
Waktu terus berganti, tidak terasa tiga hari telah berlalu. Pagi telah menyapa kota London, setelah kegelapan menghilang tergantikan, dengan mentari yang bersinar menyinari bumi.
Sudah lebih dari tiga hari ini pula, Alana, dan Dave tidak saling bertegur sapa, sebab lelaki itu betul-betul tidak ingin bertatap muka dengan Ibu dari kedua anaknya itu. Pesan, dan telepone dari Alanapun tidak diangkat, dan dibalas sama sekali. Dan dari informasi yang Alana dapat, Dave telah menyewa sebuah apartemen untuk tempat tinggalnya sementara diLondon, sebelum dia kembali keAmerika.
Dengan rasa kantuk yang masih mendera, Alana bangun dari tidurnya. Tatapan matanya teralihkan pada ponselnya yang diletakkan pada atas meja, samping ranjangnya. Tangannya perlahan mejangkau HP itu, berharap ada panggilan dari pria itu, atau sekedar membalas pesan saja. Tapi sekali lagi, harapan itu hanya tinggal harapan, karena Dave sama sekali tidak memberi kabar padanya.
Kesedihan seketka melanda diri, dan dia terlihat begitu kecewa.
"Apakah kau, benar-benar ingin melupakan aku Dave?" Gumamnya.
Kedua kakinya perlahan turun kelantai, dan dengan tubuh yang masih terasa berat. Alana melangkah menuruni anak tangga, menuju lantai bawa rumahnya.
Saat tiba disana, dia mendapati Alma sang pelayan rumah, tengah menyiapkan sarapan pagi.
"Anda sudah bangun Nona, dari tadi aku menunggu anda,"
"Menungguku, ada apa Bibi Alma?"
Tangannya meraih sebuah map yang dia letakkan diatas meja, dan menghampiri Alana, yang tengah menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Itu apa, Bibi?" Dengan tatapan intens, menatap sebuah map yang digenggam Alma.
"Tadi Daven datang kesini, memberikan ini untuk Nona." Dengan menyarahkan map merah itu, pada Alana.
Tangannya perlahan membuka, dan mendapati sebuah sertifikat rumah yang dia tempati saat ini, atas namanya.
"Dia ingin benar-benar, mengakhiri rumah tangga kami, Bibi?" Ucap Alana, dengan airmata yang sudah menetes.
"Maaf Nona, Bibi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Oh, iya. Bibi lupa, tadi kedatangan Daven kesini, sekalian mengambil pakaian Tuan Dave. Dan Daven mengatakan juga, kalau perusahaan sudah dijual, dan dalam beberapa hari ini Tuan Dave, dan dia akan bertolak keAmerika."
"Apaa?? dia sudah mengambil pakaiannya semua, dan akan segera kembali keAmeriaka? Tanya Alana, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Maafkan saya Nona, tadi Bibi berniat untuk membangunkan anda. Tapi Bibi lihat, Nona tidurnya sangat pulas, jadi Bibi tidak tega." Jawab Alma, dengan raut wajah yang begitu merasa bersalah.
Kedua bolamata Alana, seketika nampak berkaca-kaca. Dia tidak menyangkah, Dave betul-betul serius mengakhiri rumahtangga mereka.
Tangannya menjangkau ponsel dari saku pyamanya, dan menghubungi Dave disana. Tapi justru rasa kecewa yang dia dapati, karena nomor ponsel lelaki itu, tidak bisa dihubungi lagi.
"Bagaimana Nona?" Tanya Alma, penasaran.
"Sepertinya nomor ponselnya sudah diganti, Bibi? dia benar-benar ingin meninggalkan aku.
Apakah Bibi tau, diapartemen mana mereka tinggal?" Tanya Alana dengan raut wajah yang terlihat panik, dan kesedihan yang mendalam.
"Maafkan aku, Nona? tapi Bibi sama sekali tidak tau. Karena saat tadi Bibi menanyakan pada Daven, dia sama sekali tidak mau memberitahu. Dan dia bilang, ini permintaan Tuan sendiri."
Mendengar itu, Alana hanya bisa menghembuskan napas, dan menahan kesedihannya.
Alana kembali melangkahkan kaki kekamarnya, yang berada dilantai 3. Saat sudah berada disana, wanita bermanik abu itu, mengedarkan pandangannya, menyapu bersih seisi kamar yang mulai terasa berbeda. Rasa gundah seketika menyelimuti, karena semuanya benar-benar sudah berakhir. Kedua kaki itu melangkah pelan menuju ruang ganti, untuk memastikan pakaian Dave benar-benar sudah tidak ada.
Senyum kecil membingkai diwajahnya, saat Alana membuka lemari, dia tidak mendapati pakaian pria itu sama sekali.
"Kau egois Dave..? aku sangat menbencimu...? taukahkau, aku sangat menderita dengan semua ini, Dave..?" Gumamnya, dengan airmata yang terus mengalir.
Setelah menumpakakan tangisannya, Alana melangkah menuju sebuah bingkai foto pernikahan mereka, yang terpajang dalam ruang ganti itu.
__ADS_1
"Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Louis, dan setelah itu aku harus segera menyusulnya keAmerika."
****
Laura terlihat begitu gelisah, dan sesekali tatapan matanya menatap kearah luar. Senyum seketika membingkai diwajah cantik itu, saat melihat Dave, yang telah berjalan menuju kearah dalam restorant, setelah memarkir mobilnya.
"Maaf Laura, buatmu menunggu."
Bukan menjawab apa yang diucapkan pria itu, Laura malah segera bangun dari duduknya, dan memeluk kekasihnya, karena kerinduan yang teramat sangat.
Baru saja kedua tangannya akan menjangkau tubuh pengusaha tampan itu, Dave seketika mencegahnya.
"Jangan menyentuhku!" Pintanya, dengan nada yang terdengar tegas.
Mimik cemberut, dan kembali menduduki kursinya dengan raut wajah kesal.
'Aku minta maaf Dave, karena tidak menjengukmu saat dirumah sakit. Kau tau, Papamu berada disana. Manamungkin aku berani pergi menemuimu dirumah sakit. Bukankah Papamu itu, sangat tidak menyukaiku? jadi aku minta, kau mengerti?" Ucap Laura, dengan tatapan penuh harap.
Dave menghela napas berat, seraya menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, karena diapun berat memutuskan Laura, sebab ini kali kedua, dia membuat wanita itu kecewa.
"Aku ingin kita putus," Ucapnya, tiba-tiba.
Seketika tatapan Laura menatap dengan intens wajah pria didepannya, disertai dengan tawa kecilnya, seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dave barusan.
"Kau marah padaku, karena aku tidak menjengukmu dirumah sakit Dave?? bukankah sudahku bilang, aku tidak berani datang menjengukmu, karena ada Papamu, bukankah kaupun tau, kalau dia sangat membenciku?"
"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan, karena kau tidak menjengukku sama sekali, Laura? ini tidak ada kaitannya dengan itu? aku ingin kita berakhir sampai disini, aku serius dengan ucapanku." Ucapnya tegas.
Seketika raut wajahnya terlihat memerah, dengan mata sudah berkaca-kaca. Saat melihat keseriusan, dari raut wajah lelaki itu.
"TIdak kau salah, Laura? aku, dan Alana juga segera akan bercerai. Alana mencintai Louis sahabatku, dan aku sudah merelahkan dia pada teman baikku itu. Dan aku akan segera kembali keAmerika besok, sebab perusahaanpun sudah aku jual. Fokus mengurus perusahaan disana, dan juga kedua anakku,"
"Kalau kau, dan Alana sudah akan bercerai? kenapa kau memutuskan aku, Dave..? kenapa...?" Tanyanya dengan linangan airamata, yang terus mengalir.
"Maafkan aku Laura, karena menyakitimu sekali lagi. Tapi maaf, aku tidak bisa melanjutkan lagi hubungan ini. Carilah pria lain, dan aku yakin kau akan mendapatkan laki-laki yang baik lebih dariku." Dengan tatapan sendu, dan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah.
Laura bangun dari duduknya, dan dengan segera dia menyiram Dave dengan segelas airputih, yang berada diatas meja. Hingga membuat wajah, dan juga kemeja pria itu basah.
"Aku sangat membencimu, Dave?! aku sangat membencimu...? kau laki-laki brengsek?!!" Ucapnya dengan teriakan, dan linangan airamata.
"Maafkan aku Laura?? maafkan, aku." Guamamnya pelan, dengan wajah menunduk.
Tatapan berapi-api menatap Dave yang hanya menunduk, dan segera berlalu pergi dari restorant itu.
****
Pagi telah menyambut kota London, setelah menghilangnya kegelapan, dari muka bumi ini.
Raut wajahnya terlihat sumringah, saat melangkah menyusuri taman kota, yang terletak ditengah kota London.
Hembusan napas terasa begitu berat, saat dari jauh Alana mendapati sosok Louis, yang tengah memandang jauh kedepan.
"Maafkan aku Louis, tapi menurutku ini keputusan yang tepat. Dan maaf, karena aku baru menyadarinya." Gumamnya, dengan melangkah semakin dekat kearah pria itu.
"Louis...?" Panggilnya.
Membalikkan badannya, saat mendengar suara Alana. Senyum merekah diwajah tampannya, saat melihat wajah cantik itu.
__ADS_1
"Kau mengatakan ada yang ingin kau bicarakan denganku, katakan Alana?"
"TIdak Louis, kau dahulu saja? bukankah, kau juga ingin mengatakan sesuatu yang penting buatku?" Jawabnya, menolak.
"Tidak kau saja, Alana?" Serunya, menolak lagi.
"Tidak kau saja, Louis?"
Menghembuskan napas, sebelum mengutarakan tujuannya mengajak Alana bertemu.
"Maafkan aku Alana, aku ingin kita mengakhiri hubungan ini."
Alana begitu kaget, sebab dia tidak menyangkah, Louis mengajaknya untuk bertemu, karena ingin mengakhiri hubungan mereka.
"Kau serius, Louis?" Tanyanya, memastikan.
"Maafkan aku, sekali lagi maaf, dan aku serius. Karena sebenarnya hubungan ini sudah sangat salah. Sebab tidak pantas bagiku, menjalin hubungan dengan wanita bersuami, apalagi itu istri sahabatku sendiri. Walapun hubungan kalian, dalam masalah, dan aku sangat malu pada diriku sendiri. Tapi percayalah Alana, aku mencintaimu,"
"Louis..." Gumam Alana, dengan mata sudah berkaca-kaca.
"Dave sangat mencintaimu, dan dia sangat menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan padamu, dan aku bisa melihat kesungguhan itu diwajahnya. Kembalilah padanya Alana, belajarlah untuk mencintainya. Setidaknya lakukan ini, demi kedua buahati kalian."
"Louis. maafkan aku. Maafkan aku, yang sudah menyeretmu dalam masalah rumahtanggaku," Ucap Alana dengan linangan airamata, dan rasa penyesalan yang teramat sangat.
"Tidak perlu minta maaf, Alana? hari ini Dave akan kembali keAmerika, cepat pergi temui dia, sebelum semuanya terlambat.
Sebab yang aku dengar, saat sampai diAmerika, dia akan segera mengurus surat perceraian kalian, dan aku tidak mau semua itu terrjadi pada rumah tangga kalian berdua. Dan kau tidak perlu khawatir, dia sudah mengakhiri hubungannya dengan Laura."
Alana semakin terkejut, saat mendengar ucapan Louis, kalau Dave sudah mengakhiri hubungan cintanya, dengan kekasihnya Laura.
"Kau serius Louis? kau sedang tidak membohongikukan?"
"Tidak Alana, buat apa aku berbohong."
Louis meraih sebuah kartu kecil dari saku bajunya, dan memberikan pada Alana.
"Apa ini?" Tanyanya, penasaran.
"Ini alamat apartemen Dave sekarang. Pergilah, karena tinggal beberapa jam lagi, dia akan segera berangkat."
Alana hanya menangis, seraya menganggukan kepala, pada lelaki tampan itu.
Menghampiri Louis, dan memeluknya erat tubuh pria itu.
"Terima kasih Louis, terima kasih..?" Ucapnya, dengan linangan airamata.
Melepaskan pelukan mereka, seraya mengusap airamata Alana yang membasahi kedua pipinya
"Pergilah, jangan sampai kau tidak bertemu dengannya."
Alana mengangukan kepala, dengan senyuman yang disertai airamata.
"Aku pergi Louis?" Pamitnya, dengan segera berlalu dari taman itu.
Louis membingkai senyuman kecil diwajahnya, menatap Alana yang sudah berlalu pergi.
"Aku sudah melakukan hal yang pantas kulakukan, dan semoga saja, suatu saat aku bisa mencintai wanita lain, seperti aku mencintainya."
__ADS_1