
Terangnya sang surya yang menyinari kota London, telah tergantikan dengan lampu yang menyinari kota, yang sudah diselimuti kegelapan itu. Senyuman terus mengembang diwajah tampan itu, saat kendaraan yang dia kendarai membela jalan ditengah keramaian lalulintas malam hari kota London.
Dari jauh tatapan matanya mendapati sosok Delena, yang telah menunggunya dipinggiran jalan.
"Ternyata dia cantik juga." Puji Louis, saat mendapati Delena yang terlihat begitu cantik dengan gaun pestanya, dan rambut bergelombang yang sengaja dibiarkan tergerai indah.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat didepannya, hingga sedikit mengejutkan gadis manis itu, yang tidak menyangkah mobil mewah yang berhenti tepat didepannya, adalah Louis.
"Masuklah..." Pinta Louis, saat pintu mobil telah terbuka lebar.
****
Mobil mewah mewah bermerek MERCY, mulai melaju dengan kecepatan rata-rata, ditengah keramaian lalulintas. Suasana hening tercipta didalamnya, yang ada hanya suara musiik melow menemani perjalan mereka menuju pesta.
"Kau sangat cantik Delena?" Ucap Louis tiba-tiba, memecahkan keheningan yang melanda.
"Terima kasih Louis, untuk pujianmu." Menjawab, dengan senyuman kecil diwajahnya.
Senyuman disudut bibir yang nyaris tak terlihat, seraya memutar haluan setir saat mereka sampai dipersimpangan jalan. Sesekali tatapan matanya mencuri pandang kearah Delena, yang tengah menikmati keindahan kota London dimalam hari, lewat kaca jendela yang sengaja dibiarkan terbuka.
"Apa salahnya jika aku belajar untuk mencintai wanita lain, selain Alana. Dan aku yakin hanya Delenalah wanita yang tepat, menggantikan posisi Alana dihatiku." Membanthin, dan sesekali kedua bolamata itu mencuri pandang pada gadis disampingnya.
****
KEDIAMAN DAVE, DAN ALANA
Gemerlap lampu taman, dan bunga-bunga menghiasi pesta yang diadakan ditaman belakang rumah Dave, dan Alana yang menyunsung tema GARDEN PARTY. Kelap-kelip lampu taman menghiasi setiap sudut tempat itu, dan juga pepohonan besar dengan lampu yang melingkari batang setiap pohon. Tamu-tamu terus saja berdatangan, yang kebanyakan dari kalangan atas.
Rambut panjangnya sengaja dibiarkan tergerai indah, dengan memberikan sentuhan curly pada ujung. Pundaknya sengaja dia biarkan sedikit terekspos, dengan memakai gaun yang dapat mempelihatkan bahu mulusnya. Melabuhkan pewarna bibir berwarna marun, yang sangat kontras dengan kulit putihnya, dan dia terlihat sempurna dengan penampilannya yang natural.
"Kau darimana saja Alana?! daritadi rekan-rekan bisnisku sangat ingin mengenal bagaimana rupah istri dari Dave Hounston." Setengah berbisik, saat Alana baru saja menyambanginya.
"Maafkan aku Sayang, aku masih menerima telepone dari Louis, dan Louisa. Dan mereka menanyakan kapan kita akan pulang keAmerika, dengan membawakan adik bayi untuk mereka" Jawabnya pelan.
Hembusan napas terdengar berat, saat mendengar keinginan yang selalu sama jika menelpone yaitu bawakan adikbayi.
"Mereka mengirah adik bayi itu ada yang menjualnya, jadi mereka terus saja menagihnya pada kita. Dan gara-gara keinginan mereka itu, membuat pinggulku sakit Alana? gara-gara hentakan-hentakan yang selalu aku buat."
Alana mencubit kecil pinggang suaminya, saat Dave membicarakan hal mesum itu.
"Apa yang kau bicarakan Sayang?! bagaimana kalau ada yang mendengarnya,"
"Maafkan aku Alana, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Apalagi mendengar permintaan mereka yaitu adik bayi, membuat mau tidak mau kita harus begadang lagi setelah pesta ini. Jadi kau harus mempersiapkan tenagamu istriku, karena aku rasa kita akan melakukan berkali-kali, dan jangan salahkan aku karena semua ini demi kedua anak kita."
"Baiklah Sayang..." Jawabnya, pasrah.
****
Duduk disisi ranjang dengan jemari saling meremas, yang menyalurkan kegelisahan, dan kesedihan hatinya.
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka lebar, dan menampilkan sosok wanita paruhabaya, yaitu Alma.
__ADS_1
"Rose.. kau disini?" Bertanya, dengan menghampiri gadis muda itu.
Rose mendongakkan kepala, dan dalam suasana remang-remang kamar, yang sengaja dibiarkan sedikit gelap.
"Bibi Alma.." Gumamnya pelan.
Alma menghampiri lampu kamar, dan menyalakannya. Tatapannya beralih menatap Rose, yang nampak tidak bersemangat daritadi.
"Kau kenapa Rose? apakah kau sedabg ada masalah?" Bertanya dengan nada pelan, seraya kedua kaki menghampiri gadis berambut pirang itu.
"Bibi...?"
"Katakan ada apa."
Senyuman palsu membingkai diwajah cantik itu, saat mendengar apa yang ditanyakan Alma padanya.
"Dia menolakku Bibi? apakah karena aku tidak sekaya Alana, atau karena aku hanya karyawan biasa ditoko kue, jadi dia malu menjalin hubungan denganku." Dengan raut kesedihan yang membingkai penuh, diwajah cantik itu.
Helaan napas terdengar berat, dan sekarang Alma tau, apa yang membuat Rose nampak tidak bersemangat sejak kembali dari jalan-jalannya pagi tadi. Mengambil tempat duduk disisi gadis itu, seraya jemari yang sudah berkeriput menggenggam lembut tangannya.
"Apakah kau begitu mencintainya?"
"Iya Bibi? tapi sayang, dia menolakku saat aku mengutarakan kalau aku telah jatuhcinta padanya." Ucapnya menunduk.
Ada rasa iba pada diri Alma, saat mendengar jawaban dari gadis berambut pirang itu.
"Cinta tidak selamanya harus memiliki. Dan Bibi rasa, kau harus menanamkan hal itu dalam dirimu, agar kau tidak tersakiti. Kau sangat mencintainya, tapi tidak selamanya kau harus memiliki dirinya. Coba kau lihat bagaimana perjalanan cinta Tuan Dave, dan Nona Alana sebelum mereka merengkuh kebahagian. Ada dua hati yang tersakiti dengan kebersaman mereka, yaitu Nona Laura, dan Tuan Louis. Tapi kau bisa belajar dari pria yang kau cintai itu. Dimana dia merelahkan Nona Alana bersama Tuan Dave, padahal dia begitu mencintai sahabatmu itu."
"Terima kasih Bibi, karena kau sudah menyadarkanku. Dan semoga saja, aku bisa bertemu dengan pria yang tulus mencintaiku."
"Kalau begitu hapus airmatamu, dan jangan bersedi lagi. Bibi doakan semoga kau mendapat laki-laki yang baik, dan tulus mencintaimu tanpa memandang siapa dirimu, dan juga pekerjaanmu Rose? dan kalau merasa suasana hatimu sudah jauh lebih baik, cepat turun kebawa dari tadi Nona Alana terus mencarimu."
"Baik Bibi...?" Jawabnya dengan sebuah anggukan kecil.
****
Tamu-tamu terus berdatangan, dan diantara barisan para tamu yang berjalan masuk kedalam pesta, nampak juga sosok Louis yang datang bersama seorang gadis cantik disampingnya, yaitu Delena. Raut wajah tampan itu seketika menampilkan senyum bahagianya, saat Delena menggandeng tangannya, dan mereka terlihat seperti pasangan kekasih.
"Apa pekerjaan teman baikmu itu Louis, karena yang aku lihat kebanyakan tamu dari kalangan atas yang menghadiri pesta ini."
"Dia adalah seorang CEO, dan juga PRESDIR dari Hounton Group."
"Ohhh... pantas saja." Gumamnya pelan.
"Baiklah ayo kita hampiri mereka, aku akan mengenalkamu pada sahabatku itu, dan juga istrinya."
"Baiklah.."
Delena nampak terkesima dengan pesta itu Dia terus mengedarkan pandangannya, pada acara tersebut. Dan saat itu tatapan matanya secara tak sengaja, menangkap sosok gadis cantik yang terus menatap kearah mereka, dengan tatapan tak biasa.
"Siapa wanita itu? dan kenapa dia menatapku dan louis dengan tatapan seperti itu?" Membathin, saat mendapati seorang gadis cantik menatap mereka dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
"Malam Dave..." Louis menyapa, saat sahabat baiknya dan Alana tengah berbincang dengan para tamu undangan.
Mendengar suara sapaan itu, membuat Alana, dan Dave seketika membalikkan badannya.
Keduanya sekilas saling menatap, setelah tatapan keduanya dengan intens menatap Louis yang datang bersama seorang gadis cantik, yang tengah menggandeng mesrah dirinya.
"Bolehkan aku tau, siapa Nona disampingmu ini Louis?" Dave bertanya dengan sedikit bercanda, dibalik rasa penasaran yang tengah menyelimuti dirinya, dan juga Alana.
Senyuman kecil membingkai diwajah tampan itu, saat mendengar apa yang ditanyakan Dave barusan.
"Dia adalah Delena. Teman baikku, dan kami bertemu secara tak sengaja beberapa waktu lalu."
Dave mendekatkan wajahnya ditelingah sahabatnya, dan berbisik pelan disana.
"Kukira dia adalah kekasihmu,"
"Sebentar lagi." Jawabnya pelan.
"Baguslah, aku juga turut senang mendengarnya. Dengan begitu, kau bisa melupakan Alana istriku."
"Kalau kau menyakitinya lagi, aku pasti akan merebutnya."
"Kalau itu sampai terjadi, aku pasti akan membunuhmu Louis?!"
"Kau membuatku takut Dave..?" Dengan tawa kecilnya.
"Apa yang kalian bicarakan Sayang, kenapa harus berbisik segala? apa kalian tidak menyadari kalau ada aku, dan Delena disini?" Dengan raut wajah, yang terlihat kesal.
"Maafkan aku istriku, hanya obrolan biasa." Dengan merangkul penuh, pinggang Alana.
"Hallo Alana? bagaimana kabarmu?" Tanya Louis, pada wanita yang pernah membuat hari-hari indah dalam hidupnya.
"Baik Louis.. dan bagaiaman kabarmu?"
"Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat. Dan kenalkan ini Delena, teman baikku."
Alana mengulurkan tangannya pada gadis cantik didepannya, dan dari cara Louis mengenalkan wanita itu pada dirinya, dia tahu kalau mantan kekasihnya itu, mempunyai perasaan lebih pada teman baiknya itu. Dan itu membuat Alana ikut bahagia, jika Louis sudah menemukan pengganti dirinya.
"Alana.."
"Delena."
"Dan kenalkan, aku sahabat baik dari pria disebelahmu ini Nona?! aku Dave, Dave Hounston." Ucap Dave, dengan mengulurkan tangannya usai Delena berkenalan dengan istrinya.
"Delena. Delena Walker." Dengan membalas uluran tangan, pengusaha tampan itu.
Airmata lolos begitu saja saat melihat pemandangan manis itu. Dimana Louis nampak tertawa bahagia, bersama wanita yang diduga kekasihnya, saat tengah berbincang-bincang dengan Dave, dan juga Alana.
"Jadi karena wanita ini, dia menolakku. Wanita ini sepertinya, bukan dari kalangan biasa. Lihat saja penampilannya sangat elegant, dan juga sangat cantik. Dan mereka sangat serasi." Gumamnya pelan.
Saat tengah berbincang-bincang, Alana terus mengedarkan pandangannya dalam acara pesta itu. Matanya mengedar kesegalah arah, dan dia seperti tengah mencari seseorang. Seketika tatapan itu berhenti pada sosok yang sedari dia cari, yaitu teman baiknya Rose.
__ADS_1
"Rose..." Panggilnya, dengan sedikt teriakan.