
Rasa kecewa begitu menyelimuti dirinya saat ini, karena tidak menyangkah, Alana akan mengatakan itu padanya.
"Apakah kau sadar, dengan apa yang kau katakan padaku, Alana?" Bertanya dengan raut wajah yang terlihat sendu, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Ya aku sangat sadar. Bahkan sangat sadar. Karena aku sudah lelah, dengan pernikahan seperti ini. Aku cape, harus berpura-pura bahagia disaat Papa menghubungiku, dan juga kedua anakku yang menanyakan keadaanku, dan aku selalu mengatakan, aku baik-baik saja."
"Maafkan aku Alana, tapi aku tidak ingin bercerai," Dengan tatapan memohon, menatap istrinya.
"Kau tidak mencintaiku, terus buat apa kita mempertahankan rumah tangga ini. Ingat Dave! aku bukan wanita bodoh! dan aku sudah cape..., cape dengan semua ini,"
"Dave....!!" Teriak Laura yang terlihat begitu kesal, yang sedari tadi menyakskan interaksi kekasihnya, dan juga Alana.
Alana membingkai senyuman sinis diwajahnya, dan dengan kasar dia menghempaskan tangan Dave, yang sedari tadi menggenggam tangannya.
"Alana, aku mohon. Jangan pergi, jangan menemuinya," Tatapan penuh harap, dari lelaki tampan itu.
"Urus kekasihmu. Aku rasa dia bisa mati bunuh diri, melihatmu semakin berlama-lama denganku."
"Dave....!!" Panggil Laura lagi, dengan raut wajah yang terlihat semakin kesal.
"Kau bimbangkan sekarang, Dave...!! pergilah padanya, bukankah kau, dan dia begitu saling mencintai? jadi buat apa, kau perduli padaku!" Dengan senyuman sinis, dan berlalu begitu saja.
"Alana...., Alana....!!"Panggil Dave, tapi Alana telah berlalu pergi dengan sebuah taksi.
Dave mengusap kasar wajahnya, lelaki tampan itu terlihat begitu frustasi. Dia tidak menyangkah Alana istrinya, akan melakukan hal ini padanya.
"Kenapa kau tega melakukan hal ini padaku, Alana? kenapa...? apakah kau sengaja, membalas semua rasa sakit hatimu padaku?" Gumamnya, dengan raut wajah yang terlihat sendu.
"Dave.....!!" Teriak Laura lagi, dengan raut wajah yang terlihat begitu memerah.
Dave mengusap kasar wajahnya, dan raut wajahnya terlihat begitu kesal, saat tak henti-hentinya Laura memanggilnya.
Menghampiri Laura, yang tengah berada dihalaman depan rumahnya.
"Ada apa, Laura??"
__ADS_1
"Aku yang semestinya, menanyakan itu padamu. Kau kenapa? apakah kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan, padaku hari ini. Dari tadi kau selalu saja mengabaikanku, dan lebih memperdulikan wanita itu."
"Aku sedang tidak ingin ribut Laura, dan kau harus menyadari, bagaimanapun Alana, adalah istriku."
"Istri..? bukankah kau, tidak mencintainya? bahkah apa kau tidak dengar, dengan yang tadi dia katakan. Dia mengatakan ingin bercerai. Bahkan dia mengatakan hal itu padaku juga, Dave..!"
Dave menghembuskan napas kasar, dan raut wajahnya terlihat lelah. Apalagi menghadapi sikap Laura, yang begitu egois membuat dia semakin dilanda frustasi.
"Aku harus segera pergi kekantor, karena hari ini ada rapat dengan para pemegang saham, diperusahaan." Ucap Dave, dengan kembali masuk kedalam rumahnya.
"Dave...., Dave....!" Teriak Laura, dengan mengikuti langkah kekasihnya, masuk kedalam rumah itu.
"Apakah kau tidak bisa berteriak-teriak Laura..., akukan sudah bilang, aku harus kekantor sekarang." Dengan nada, yang terdengar tegas.
"Kau terlalu banyak alasan, aku rasa kau sengaja ingin menghindar dariku." Dengan instonasi, masih meninggi.
Alma, dan Daven hanya diam, dan sekilas saling menatap, saat menyaksikan keributan pasangan kekasih itu.
"Tuan Dave, tengah dilanda dilema saat ini. Aku jadi prihatin, dengan masalah rumah tangga dia, dan Nona Alana." Seru Alma, dengan raut wajah sendunya.
"Dia seperti, orang yang kebingungan."
Daven...!"
"Ada apa, Tuan?"
"Ambil tas kerjaku, diruang kerja ."
"Baik Tuan," Jawab Daven, dengan segera berlalu menuju ruang kerja.
Beberapa menit kemudian sekretris itu, datang dengan menenteng sebuah tas kerja, berwarna hitam.
"ini Tuan, tas kerjanya." Dengan menyerahkan tas kerja tersebut, pada Tuanmudanya.
"Ayo kita pergi sekarang. Karena hari ini ada rapat, dengan para pemegang saham."
__ADS_1
"Baik Tuan.." Jawab Daven, dengan mengikuti langkah Tuanmudanya, yang sudah melangkah keluar dari rumah.
"Dave, kita harus bicara."
"Aku sudah bilang padamu Laura, aku ada rapat hari ini."
"Kalau begitu, aku ikut."
Dave menghentikan langkahnya, saat akan masuk kedalam mobil, yang pintunya telah dibuka oleh sekretrisnya.
"Bisakah kau tidak bersikap, kenak-kanakan Laura? aku sudah beberapa kali bilang padamu, aku harus berangkat kekantor sekarang." Ucapnya, dengan langsung masuk kedalam mobil.
Ayo Daven, kita berangkat sekarang."
"Baik, Tuan," Jawabnya, dengan melajukan kendaraan roda empat itu.
Laura terlihat begitu kesal, dia tidak menyangkah pria yang begitu dicintainya, akan mengacuhkannya.
"Kenapa dia begitu mengacuhkanku, hari ini. Tidak mungkinkan dia sudah jatuhcinta, pada Alana?" Dengan menjeda, kalimatnya sejenak.
Tidak, dia tidak mencintai wanita ittu. Tidak mungkin, dia sudah jatuhcinta pada Alana. Aku yakin, Dave tidak akan mengecewakanku, yang kedua kali lagi. Dan aku tidak akan pernah membiarkan dia barang sebentar saja, bersama wanita itu." Gumamnya, dengan raut wajah yang terlihat memerah.
****
Sebuah mobil mewah melaju dengan pelan, saat sudah memasuki halaman perusahaan, Hounston Group. Louis turun dengan langkah panjangnya, memasuki perusahaan milik sahabatnya itu. Hari ini ada rapat pemegang saham, dan lelaki tampan itu, merupakan salasatu pemegang saham, diperusahan yang dipimpin oleh Dave.
Memakai stelan jas berwana navi, yang dia padukan dengan dasi berwarna hitam, dan dia terlihat begitu sempurna, ditambah dengan postur tubuhnya yang menunjang, hingga membuanya, terlihat seperti seorang model.
Melangkahkan kaki dengan gagahnya, memasuki gedung berlantai duapuluh itu. Melangkah menuju lift, dan menekan angkah 18, dimana rapat berlangsung.
Sebuah ruangan yang nampak begitu luas, dengan sebuah meja pajang, dengan berjejer kursi-kursi yang sudah terisi, oleh para-para pemegang saham, yang mengikuti rapat pagi ini.
Terlihat Dave, dan juga Daven yang tengah berbincang dengan para pemegang saham lainnya, membahas pembangunan proyek besar yang akan dibangun, cabang perusahaan Hounston Group.
Louis melangkahkan kaki, dengan gagahnya. Saat tiba didalam ruang rapat, lelaki tampan itu segera menyapa mereka, yang berada disitu.
__ADS_1
"Selamat pagi semuanya, maaf aku terlambat." Dengan senyuman, diwajahnya.
Daven melemparkan tatapannya keasal suara, dan sedikit kaget saat mendapati keberdaan sahabat Tuanmudanya, louis. Karena sekretris ittu tidak menyangkah, pria itu adalah salahsatu pemegang saham, diperusaan milik Tuanmudanya.