
Amerika Serikat.
Pria paruhbaya itu nampak sibuk dengan beberapa berkas diatas meja, diwaktu yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam waktu Amerika serikat. Seketika dia menghela napas berat, dengan menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi. Pandangannya menerawang menatap bingkai foto yang menggelantaung didinding ruang kerjanya, dimana ada foto dirinya yang diapit oleh kedua anaknya Dave, dan juga Alana.
"Ternyata rumah tangga kalian berdua, sudah benar-benar berakhir. Padahal Papa sangat mengharapkan, kalian dapat kembali bersama, dan mewujudkan keinginan kedua cucuku untuk memilik adik. Tapi harapan itu sampai kapanpun tidak bisa terwujud, karena kalian akan terus saling menyakiti, jika terus bersama," Gumamnya dengan kesedihan teramat sangat, yang terlihat jelas dari raut wajahnya.
Rautnya terlihat sumringah, saat kedua kaki itu turun dari kendaraan roda empatnya. Tidak mempunyai kepentingan, dan tidak mendapatkan tugas dadakan dari Tuan besarnya, tapi Jordan memutuskan untuk harus menyampaikan kabar gembira ini pada Damian. Setelah beberapa hari ini dia melihat raut wajah murung, dari pria tua itu.
Langkah kaki itu terlihat tergesa-gesa, saat akan memasuki rumah mewah itu.
Pintu terbuka lebar, setelah beberapa kali dia memencet bel.
"Jordan?"
"Malam Bibi Paula. Diimana Tuan Besar?" Bertanya dengan nada, tidak sabaran.
Tatapannya seketika menatap dengan intens, lelaki bertubuh tegap itu. Dan bertanya hal apakah, yang membuat Jordan nampak begitu gelisah.
"Kau kenapa Jordan? apakah kau sedang mendapatkan, undian besar?"
"Ini lebih dari sekedar undian besar, Bibi Alma? kau tau, Nona Alana, dan Tuan Dave sudah kembali bersama. Dan aku harus memberitahukan berita ini, pada Tuan Damian."
Pancaran kebahagian terlihat diwajah tua itu, saat mendengar apa yang dikatakan Jordan padanya.
"Kau serius?? Nona Alana, dan Tuan Dave tidak jadi bercerai??"
"Iya Bibi. Dan kau tau apa..?" Dengan sedikit memelankan, suaranya.
"Ada apa?" Dengan bertanya balik, dengan sedikit berbisik.
"Mereka sedang membuatkan adik bayi, buat kedua anak mereka." Jawabnya, tersenyum.
Paula seketika membekap mulutnya, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dan dia terlihat begitu bahagia, dengan berita yang baru saja dikatakan pria itu. Dan meyakini, Tuan Damian pasti sangat bahagia, saat mendengar berita baik ini.
"Wah. Ini merupakan berita baik, Jordan? dan cepat kau pergi menemui Tuan besar, dia sedang berada diruang kerjanya."
"Baik Bibi," Jawab Jordan, dengan kembali melangkahkan kaki menuju ruang kerja Damian.
Masih larut dalam suasana sedihnya. Memikirkan rumahtangga kedua anaknya, yang berakhir dengan perceraian.
Hingga suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan pria tua itu.
"Masuk..!"
Mendengar titah dari dalam, membuat Jordan seketika membuka pintu.
Pintu terbuka lebar, dan menampilkan sosok Jordan yang melangkah masuk kedalam ruangan.
"Jordan?" Gumamnya.
"Malam Tuan?"
"Biasanya kau akan datang dimalam hari, jika aku memberikan tugas mendadak buatmu. Dan sepertinya dari tadi, aku tidak menghubungimu sama sekali. Ada apa Jordan? apakah ada sesuatu yang penting, hingga kau datang kemari?" Bertanya dengan tatapan penasaran, dia menatap orang kepercayaannya itu.
__ADS_1
Tidak menjawab. Kedua kakinya membawanya menghampiri Damian, dan menunjukkan video ciuman itu, pada pria paruhbaya itu. Damian begitu kaget, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat pada ponsel itu.
"Mereka..?" Dengan menjeda kalmatnya, dan menatap Jordan penuh tanda tanya didalamnya.
"Iya Tuan. Tuan Dave, dan Nona Alana tidak jadi bercerai. Mereka sudah kembali bersama, dan Tuan Dave hari ini tidak jadi pulang keAmerika, karena akan membuat adik bayi dulu bersama Nona dulu," Jawabnya, tersenyum.
Wajah tua itu seketika memancarkan senyuman dengan rona bahagia disana, hingga ada tetesan bening yang sudah menetes pada kedua sudut matanya, tanpa dia sadari.
"Ini berita paling bahagia yang kau sampaikan padaku Jordan, ini lebih seperti memenangkan sebua proyek besar. Kau tau Jordan, saat aku meminta Dave untuk memenuhi keinginan Alana untuk berpisah, hatikupun sedih, karena aku sangat berharap, mereka dapat kembali bersama. Dan aku sangat bahagia, akhirnya Alana menyadari perasaannya.Dan mereka tidak jadi, bercerai." Ucapnya, dengan menyeka tetesan bening yang membasahi pipi.
"Aku juga, turut bahagia untuk anda Tuan?" Jawabnya tersenyum, saat melihat rona bahagia pada wajah parubaya itu.
"Aku akan menghubungi mereka?" Dengan meraih ponsel diatas meja, tapi seketika gerakan tangan itu terhenti, saat Jordan mencekalnya.
kenapa?"
"Maaf Tuan, kurasa anda harus tunda beberapa jam lagi."
"kenapa? apakah ada yang salah? lagipula, disana masih siang." Dengan kening berkerut, menatap Jordan dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Daven mengatakan kalau Tuan, dan Nona sedang membuat adik bayi untuk kedua anak meraka. Jadi tidak bisa diganggu."
Damian seketika meletakkan kembali ponsel itu, dan tawa kecil membingaki diwajah Tuanya, saat mendengar apa yang dikatakan Jordan.
"Baiklah. Aku akan menghubungi mereka beberapa jam lagi, agar memastikan kegiatan mereka sudah berakhir." Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan terus tersenyum.
Sebentar lagi aku akan mempunyai cucu lagi Jordan? dan rumah ini akan bertambah ramai."
****
"Dia tidur dengan keadaan polos seperti ini. Apakah dia tidak tahu, kalau itu sangat menyiksaku?! "
Perlahan dia menghampiri Alana yang tidur dengan posisi mempunggunginya, dan mengguncang pelan tubuh itu.
"Alana, Alana, ayo bangun?" Panggilnya.
Mendapatkan gangguan dalam tidurnya, membuat Alana menggeliatkan badannya, hingga terpampang nyata dua gundukan itu didepan mata suaminya, dan itu semakin membangingkan gairah pria itu untuk bercinta.
"Ada apa Dave? aku masih lelah? Dengan mata terpejam, dia menjawab pertanyaan pria itu.
"Ayo kita lakukan itu lagi Alana, kau lihat punyaku sudah kembali menegang. Tadi kau mengatakan hanya tidur 20 menit saja, tapi ini sekarang sudah lewat 10 menit Alana? apakah kau sengaja menyiksaku?"
"Tapi Dave, aku masih lelah bisakah kau bersabar 1/2 jam lagi suamiku?" Bujuk Alana, pada pria itu.
Dave makin kesal dengan jawaban yang dia dapat dari istrinya. Tangan segera menarik selimut berbulu itu, dan melemparkan kelantai hingga membuat Alana begitu kaget dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Dave, apa yang kau lakukan?? bukankah sudah kubilang 1/2 jam lagi?" Dengan nada, yang terdengar kesal.
Bukan menjawab pertanyaan yang diajukan Alana, Dave malah membungkam istrinya dengan ciuman panjang, dan segera menghujamkan miliknya tanpa meminta ijin, akibat gairah yang sudah berada diubun-ubun.
Alana tak dapat menolak lagi, saat benda tumpul itu sudah berada dalam miliknya. Dan sekali lagi, dia harus melayani suaminya, yang seperti hewan buas yang tengah kelaparan.
Terkulai lemas, setelah aktifitas bercinta mereka yang memakan waktu hampir satu jam lebih.
__ADS_1
"Dave.. aku lelah? bisakah aku melanjutkan istirahatku?" Tatapan memohon, saat kepala itu berbaring diatas bantal kepala.
"Tidurlah istriku Sayang, karena malam kita harus bekerja lagi." Dengan mencium pundak Alana, dan berlalu kedalam kamar mandi.
****
Malam telah menyambut kota London. Sebuah taksi terlihat berhenti didepan pintu gerbang kediaman mewah milik Alana, dan Dave.
Ross segera berlalu kedalam rumah mewah itu, setelah membayar ongkos taksi yang dia tumpangi.
"Alana...? Alana...?" Panggilnya dengan teriakan, saat sudah berada didalam rumah.
Alma yang mendengar suara panggilan, segera menghampiri.
"Nona Ross?" Ucapnya dengan menghampiri wanita, berambut pirang itu.
"Bibi Alma..?" Dengan senyuman.
Apakah Alana, berada dirumah?"
"Tidak Nona, mereka masih berada diapartemen. Mungkin sebentar lagi, baru mereka akan kembali kesini. Karena Tuan Dave, tidak jadi berangkat keAmerika."
"Benarkah?"
"Iya."
Keheningan sesaat melanda kedua wanita beda usia itu. Raut wajahnya terlihat ragu. Larut dalam lamunannya sesaat, kemudian dia berani untuk bertanya.
"Bibi Alma?"
"Ada apa, Nona Ross?
"Meemmm?" Dengan menjeda, kaliamatnya sejenak.
Apakah kau memiliki nomor ponsel, Tuan Louis?"
"Tidak Nona. Kalau Nona Alana pasti punya. Apakah ada sesuatu, yang penting Nona?
Berusah tersenyum, untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Ti..tidak. Aku hanya bertanya saja."
Dia menghembuskan napas berat, dan dalam dirinya punya keinginan yang sangat kuat, agar dapat memilik nomor ponsel milik pria itu.
"Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan nomor Hpnya. Ayo Ross, semangat?" Membathin, berusaha menyemangati diri sendiri.
Ross
Louis
__ADS_1
Kisah Alana, dan Dave hanya diisi kebahagian. Kita akan ikuti bagaimana Ross bisa meluluhkan hati Louis, yang begitu mencintai Alana.
Tapi disini, Louis tidak ada niat merebut Alan lagi.