
Usai mengakhiri telepone dengan Paman tampannya, Louisa segera kembali menyambangi mereka. Gadis kecil itu sedikit mengendap-ngendap, dengan langkah pelan untuk memastikan kalau Bibinya Rose, sama sekali tidak menyadari kalau dirinya sudah mengambil ponsel Bibinya.
Senyuman lega terukir diwajah mungilnya, mendapati keempat orang dewasa itu, masih terlibat perbicangan serius membahas kehamilan Ibunya yang sebengtar lagi akan melahirkan. Tapi ternyata ada seseorang yang sedari tadi terus menatapnya dengan tatapan tidak suka, seraya bersedekap.
Tatapannya semanis mungkin, melndapati tatapan kesal adik laki-lakinya. Dan dian tahu, saudaranya perlu dijinakkan.
"Apa yang kau lakukan Kakak? aku akan mengaduhkan hal ini, pada Papa, dan juga Mama." Ucapnya pelan dengan bibir mengerucut, akibat kesal pada Kakak perempuannya.
Louisa segera menarik tangan adiknya, membawanya kesudut ruangan, menjauh dari keempat orang desawa itu.
"Lepaskan aku Kakak...?! apa yang kau lakukan?" Dengan berusaha melepaskan genggaman, tangan saudara perempuannya.
"Seesssttt..." Agar adiknya, jangan bersuara lagi.
"Katakan padaku, kenapa kau mencuri ponsel Bibi." Dengan tatapan kesal, yang masih membingkai diwajahnya.
Hembusan napas terasa berat, berusaha menahan rasa kesalnya.
"Aku tidak mencuri. Bukankah aku sudah mengembalikan, ponsel Bibi? kaupun melihatnya."
"Terus kenapa kau mengambil ponselnya. Apakah ada sesuatu yang kau lakukan, dengan HP Bibi Rose?"
"Ini sebenarnya urusan para gadis, tapi karena kau memaksa, terpaksa aku mengatakannya. Kau tau Bibi Rose belum menikah sampai saat ini, padahal dia seumuran Mama."
"Terus...?" Tatapan mata yang terlihat semakin penasaran, saat Louisa menjeda kalimatnya.
"Aku membantu Bibi, untuk mendapatkan jodoh. Dan aku menjodohkannya dia dengan seorang Paman. Dan Paman itu sangat tampan, dan mempunyai uang yang banyak seperti Papa. Jadi kita tidak perlu khawatir, jika Bibi menikah dengannya nanti." Jawabnya meyakinkan.
"Tapi kenapa kau melakukan hal itu Kakak..? bukankah itu tidak baik? sebenarnya kau harus memintah ijin dulu padanya, sebelum kau mengambil HPnya."
Mendecak kesal, mendengar apa yang dikatakan adik laki-lakinya.
"Kenapa kau begitu bodoh? apakah kau pikir Bibi Rose mau, kalau tau aku mengambil ponselnya karena alasan ini? dan seperti yang kita tau, kalau Bibi Rose selalu saja menghabiskan waktu untuk bekerja, jadi dia tidak ada waktu untuk mencari Paman buat kita. Jadi dalam hal ini, aku merasa terpanggil untuk membantunya."
"Jadi Kakak membantuh Bibi, mencari Paman untuk kita? Tanya Louis kecil, yang mencoba untuk menebak.
"Tentu saja Louis... kenapa kau begitu bodoh? dan jika kau menutup mulutmu, aku akan memberikan kau sebuah mobil remot."
Bolamata berbinar, mendengar apa yang dikatakan saudara perempuannya.
"Apakah kau serius Kakak..?"
__ADS_1
"Tentu saja aku serius." Meyakinkan adik laki-lakinya, yang masih terlihat ragu.
"Tapi darimana kau mendapatkan uangnya. Apakah kau akan meminta pada Kakek, Papa, atau Mama..?" Bertanya lagi, saat rasa penasaran masih tersimpan dalam diri bocah laki-laki itu.
"Paman itu uangnya sangat banyak, jadi aku akan meminta padanya untuk membeli mobil seperti yang tadi aku katakan.
"Baiklah, aku tunggu janjimu. Awas saja, jika kau berbohong." Dengan nada penuh penekanan, saat bibir Louis kecil terucap.
"Louisa..... Louis...." Panggil Dave pada kedua anaknya, ketika tidak mendapati keberadaan Louisa, dan Louis diantara meeka.
"Dimana mereka Sayang...?" Alana mengedarkan pandangannya, ketika tidak mendapati kedua sosok kecil itu.
"Kami disini Papa.." Louis berlari, diikuti Louisa yang berjalan dibelakangnya.
"Ayo kita pulang.."
"Apakah adik bayi, akan segera lahir Papa..? karena tadi aku mendengar Mama mengatakan itu."
"Papa tidak tau Louis, kita lihat saja dalam beberapa hari ini, dan semoga saja adikmu lahir dengan sehat."
****
"Apakah sakitnya semakin bertambah?" Dave ikut menyapu-nyapu perut buncit Alana, saat istrinya sesekali meringis kesakitan.
"Iya Sayang.. malah lebih sering dari sebelumnya..?" Dengan raut wajah, yang sudah terlihat pucat.
"Bagaimana kalau kita kerumah sakit sekarang saja Alana? aku yakin, kalau akan segera melahirkan." Dengan kekahawatiran, yang sudah membingkai penuh diwajah tampannya.
Tidak menjawab apa yang baru saja ditanyakan suaminya, Alana malah mencengkram kuat tangan suaminya, saat tiba-tiba saja sakit semakin menjadi.
"Dave....?" Dengan keringatan buliran keringatan pada dahinya, akibat rasa sakit yang teramat sangat.
Kepanikan seketka melanda diri Dave, saat melihat raut wajah istrinya yang semakin terlihat pucat, dengan beberapa buliran keringat yang sudah membasahi pipinya.
"Daven....?" Panggilnya dengan teriakan yang begitu menggema.
"Ada apa Tuan.." Panik, dan juga penasaran saat menghampiri.
"Siapkan mobilnya, dan panggil Bibi Paula. Kita akan kerumah sakit sekarang, istriiku mau melahirkan. Dan aku akan mengambil perlengkapan bayinya, dan juga beberapa pakaian Alana dikamar."
****
__ADS_1
Usai mengantar sepeda, dan boneka milk Louisa. Pengusaha tampan itu kembali memanfaatkan gadis kecil Louisa, untuk dapat bertemu dengan Rose.
"Kenapa kau mengajakku kesini Paman..? bukankah tadi kau bilang, akan membawaku kewahana permainainan anak-ana?" Raut wajah penasaran yang terukir diwajah Louisa, saat kendaraan milik Paman tampanya berhenti ditoko kue milik Ibunya.
Tubuhnya berbalik, seraya menggenggam kedua jemari kecil Louisa, dengan tatapan penuh harap.
"Maafkan Paman, karena sudah membohongimu. Tapi Paman janji, setelah kita dari sini, kita akan langsung kewahana bermain."
Masih dengan rasa penasarannya, saat mendengar jawaban yang belum dia mengerti.
"Terus buat apa kita kesini Paman? bukankah kau sudah memiliki nomornya Bibi Rose?" Kedua bolamata itu semakin menajam, saat mengingat dia sudah mendapatkan nomor Bibinya tadi siang, jadi misinya sudah selesai.
Raut wajah tampan Louis, seketika sendu mengingat siang tadi saat dia menelpone Rose, gadis itu malah langsung mematikan begitu saja saat mengetahui dari dia.
"Bibimu tidak mau bicara dengan Paman, saat dia mengetahui kalau Paman yang menelpone, dia langsung mematikan begitu saja. Jadi maaf, jika Paman harus meminta bantuanmu lagi."
Mengerucutkan bibirnya, seraya bersedekap saat melihat tatapan memohon Paman tampannya.
"Mau bagaimana lagi, kalau hanya aku yang bisa membantumu untuk mendapatkan Bibi Rose. Tapi kau jangan lupa Paman..?"
Senyuman kecil, disertai sebuah anggukan dan dia sangat tau, apa yang dimaksud oleh gadis kecil itu.
"Bayaran apapun yang kau minta, Paman pasti akan memenuhinya."
Dengan gaya sombongnya, dan bersikap seperti wanita dewasa, Louisa menurunkan kedua kakinya dari dalam mobil.
"Ayo Paman..., aku akan membantumu mendapatkan Bibi Rose." Dengan merentangkan tangannya, agar Louis menggandengnya.
Louis segera menghampiri gadis kecil itu, menggandeng tangannya. Keduanya berjalan bergandengan tangan, saat menuju toko kue itu.
Saat berada didalam, toko suasana nampak sepi. Hanya menampakan sosok Bibinya Rose, yang tengah menata kue-kue dalam etalase.
"Selamat Sore Bibi Rose...?" Sapanya dengan manja, seraya menggenggam jemari Paman tampannya.
"Selamat so..." Kalimat itu tidak terselesaikan, saat mendapati keberadaan Louis, dan keponakan kesayangannya Louisa.
Dia begitu kaget, mendapati keberadaan Louis, setelah sekian lama keduanya tidak pernah bertatapa muka. Dan dengan raut wajah tertekuk kesal, dia melangkah menghampiri keduanya, dengan pembatas etalase-etalase itu.
"Buat apa kau kemari?!" Nada yang terdengar kesal, saat bertatap muka dengan CEO tampan itu.
"Kenapa kau marah pada Pamanku, Bibi..? aku yang meminta Paman Louis, untuk menemaniku kesini. Jadi kau tidak boleh memarahinya." Tegas gadis kecil itu.
__ADS_1