
Mendecak kesal, saat mendengar apa yang dikatakan kekasihnya itu.
"Kau selalu saja menjadikan Papamu sebagai alasannya, hanya untuk membela Alana." Menjawab dengan tatapan tidak suka, menatap Dave.
"Maafkan aku Laura, tapi memang itu kenyataannya. Karena kenyataannya, Alana memang adalah tangggung jawabku sekarang."
"Terus bagaimana denganku, apakah kau akan terus merahasiakan hubungan kita ini, dari papamu? kenapa kau tidak jujur saja pada Papamu, kalau kau sama sekali tidak mencintai Alana. Dan kau menikahinya, karena hanya demi kedua anakmu, dan juga karena tidak ingin mengecewakan Papamu. Dan sampai kapan juga, aku akan bersabar."
Menggenggam jemari kekasihnya, dan menatapnya lembut, guna menangkan Laura dari rasa kesalnya.
"Aku minta bersabar, beri aku waktu. Karena bagaimanapun, sudah ada Louis, Louisa diantara kami. Jadi tidak segampang itu. Jika Papa tau tentang ini semua, aku yakin Papa pasti akan marah besar, dan aku takut Alana akan membawa kedua anakku pergi. Jadi aku minta kau bersabar, karena sekarang yang aku takutkan adalah Papaku. Dan aku tidak mau, kedua anakku membenciku. Jadi aku harus memberi mereka pengertian, secara perlahan."
"Baiklah, aku akan menunggu. Walapun aku tidak tau sampai kapan." Jawabnya, dengan mencoba untuk bersabar.
Alma, dan Daven yang menggeleng-gelengkan kepala mereka, saat melihat bagaimana manjanya Laura, pada Tuanmuda mereka.
"Kau lihat Daven, aku yakin perempuan itu sedang berusaha mempengaruhi Tuan Dave, agar meninggalkan Nona Alana."
"Aku juga yakin seperti itu. Aku juga tidak tau, apa yang terjadi jika Tuan besar mengetahui tentang apa yang dilakukan Tuan Dave, pada Nona Alana. Pasti dia akan sangat marah besar. Karena sebelumnya, dia sudah memperingatkan putranya untuk tidak mengecewakan Nona Alana."
"Dan aku sudah sangat tidak sabaran, menantikan hal itu. Saat melihat bagaimana murkanya, Tuan besar."
****
Sebuah mobil mewah berhenti didepan gerbang rumah, milik Alana. Alana meraih beberapa paperbag yang tersimpan dikursi penumpang, dan dia terlihat sedikit kesusahan, saat meraih beberapa paperbag itu, hingga dia harus mengangkat sedikit tubuhnya agar dapat menjangkau paperbag yang lain.
"Belanjaanku sangat banyak, dan terima kasih Louis untuk hari ini. Seandainya aku tau kau akan mengajakku untuk berbelanja, aku pasti tidak akan mau."
Tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan kekasihnya itu. "Mulai sekarang, aku akan selalu memanjakanmu Alana? jadi kau harus terbiasa dengan ini semua."
Senyuman kecil membingkai diwajah Alana, saat mendengar apa yang dikatakan Louis, padanya.
"Terima kasih Louis, terima kasih. Karena sudah begitu mencintaiku. Dan memahami keadaanku."
__ADS_1
Menangkup kedua pipi Alana, yang terlihat sendu.
"Sudah, jangan bersedih. Mulai sekarang, aku akan selalu membuatmu tersenyum, dan melupakan semua kesedihan yang kau rasakan." Dengan ingin mencium bibir Alana, tapi seketika Alana langsung mencekalnya.
"Kenapa Alana?"
"Aku takut, ada yang melihat kita,"
Saat mendengar apa yang dikatakan Alana, membuat Louis menurunkan niatnya saat akan memberikan sebuah ciuman panjang, pada bibir kekasihnya itu. Dan ciuman panjang yang akan dia berikan, berganti menjadi sebuah kecupan dikening Alana.
"Masuklah, ada apa-apa hubungi aku."
Mengangguk iya, dengan segera Alana berlalu dari dalam mobil itu. Membuka gerbang pintu rumahnya, dan sedikit kaget saat melihat mobil Dave, yang terparkir didepan halaman depan.
"Jadi dia sudah pulang?" Gumam Alana, dengan kembali melanjutkan langkah kakinya kedalam rumah.
Saat baru tiba diruang tamu, Alana begitu terkejut ketika melihat keberadaan Laura, sebab dia sama sekali tidak menyangkah Dave, akan membawa Laura kerumah mereka.
Dan ada rasa kecewa dalam dirinya, saat melihat kemesraan Dave, dan juga Laura.
Menghembuskan napas, dan dengan mantap Alana melangkahkan kaki, seolah tidak melihat keberadaan Dave, dan Laura disana.
"Nona Alana, kau sudah pulang?" Tanya Daven, saat melihat kedatangan Nona mudanya.
"Iya." Jawabnya singkat, dengan menghampiri Daven, dan juga Alana.
Dave, dan Laura terus menatap Alana yang sedang berinteraksi dengan Daven, dan Alma tanpa memperdulikan keberadaan mereka berdua, yang berada diruang tamu itu.
"Belanjaanmu sangat banyak? kau baru pulang shoping Nona?"
Alana hanya tersenyum, saat mendengar apa yang ditanyakan oleh pelayan rumahnya itu.
"Ini untukmu, Bibi Alma? dan semoga saja kau suka." Dengan memberikan sebuah paperbag, yang berisi tas mahal.
__ADS_1
Meraih dari tangan Alana, dan matanya seketika membulat sempurna, saat melihat isi dalam paperbag itu.
"Ini untukku, Nona?" Bertanya, untuk memastikan.
"Heemm.." Dengan senyuman kecil, diwajahnya.
"Terima kasih Nona, anda sangat baik."
"Dan ini untukmu, Daven?" Dengan memberikan sebuah paperbag kecil, yang berisi sebuah jam tangan mewah.
"Ini untukku, Nona? bukankah ini sangat mahal?" Tanya Daven, saat melihat sebuah jam tangan mewah dengan merk Seiko, yang dibelikan Alana padanya.
"Iya, untukmu."
Laura terlihat begitu geram, saat melihat Alana yang berbelanja barang-barang mewah.
"Kau terlalu memanjakan dia, Dave? kau lihat perempuan itu, bisanya hanya menghabiskan uangmu. Dan aku yakin, dia tidak ada beda jauh dengan Ibunya." Seru Laura, yang berusaha mempengaruhi Dave.
Dave hanya terdiam, saat melihat Alana membawa banyak barang belanjaan. Dan dalam dirinya bertanya, dari mana Alana mendapatkan uang untuk berbelanja barang-barang mewah itu, karena creditcard yang dia berikan pada istrinya, sudah Alana kembalikan.
"Nona, ada Tuan Dave, dan Nona Laura dibelakang anda." Ucap Alma, dengan berbisik pelan ditelinga Alana.
"Aku sudah tau." Jawabnya, pelan.
"Alana...?" Panggil Dave, tiba-tiba.
Alana tidak memperdulikan, dan dia berpura-pura tidak mendengar, saat Dave memanggilnya.
"Alana..., apakah kau tidak mendengar kalau Dave sedang memanggilmu?" Ucap Laura, yang sudah mulai tersulut emosi, saat Alana tampak mengabaikan keberadaan mereka.
Membalikkan badannya, dan dengan berani dia menatap Laura, dan Dave.
"Kau baru pulang Dave? maaf aku tidak melihat kalian berdua." Dengan senyuaman sinis, menatap Dave dan kekasiihnya.
__ADS_1
Laura tampak kesal, saat mendengar apa yang dikatakan Alana barusan.
"Kau memang sangat tidak tau berterima kasih. Sebenarnya kau harus bersyukur walaupun dia tidak mencintamu, tapi dia masih mau menjamin hidupmu, dan membelikan kau rumah semewah ini."