
Walapun hatinya terlihat begitu gelisah, dan amarah tengah melanda dirinya, tapi sebisa mungkin pengusaha tampan itu, tetap fokus untuk membahas mengenai proyek besar mereka.
Dia berusaha tetap tenang, tapi sepertinya sangat sulit baginya. Apalagi saat ini Dave mengetahui, kalau istrinya dan juga sahabatnya, tengah berada direstorant yang sama dengannya.
Saat Hideyoshi menjelaskan tentang pembangunan proyek, dan juga menjelaskan secara rinci bangunan apa saja, yang akan dibangun dari proyek itu, tatapan Dave tertuju pada kertas, tapi sesekali tatapannya tertuju kearah dimana Louis, dan Alana berlalu tadi.
Mellihat kegelisahan yang ada pada diri Dave, membuat Hideyoshi hanya mengrhembuskan napas kasar, karena menurutnya Dave tampak tidak fokus dengan apa yang dia jelaskan.
"Tuan, Dave..?" Dengan menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dan menghentikan penjelasannya, mengenai proyek yang akan mereka kerjakan.
"Ada apa, Tuan?"
"Aku tidak tau, apa yang terjadi tiba-tiba dengan anda. Tapi sepertinya anda terlihat kurang sehat, dan tampak tidak fokus dengan apa yang saya jelaskan mengenai proyek kita ini."
Dave mengusap kasar wajahnya, dan dia begitu merasa bersalah pada pria berdarah Jepang itu.
"Maafkan saya Tuan Hideyoshi, tapi bisakah kita membicarakan mengenai proyek ini lain kali saja, karena saat ini saya sedang merasa tidak enak badan."
Senyuman kecil membingkai diwajah pria bermata sipit itu, seraya menganggukkan kepalanya.
"Bagi saya tidak masalah Tuan, kita bisa membicarakan proyek ini dilain waktu."
"Sekali lagi, maafkan saya Tuan Hideyoshi?" Dengan raut wajah, yang begitu merasa bersalah.
Hideyoshi beranjak dari duduknya, dan meraih tas kerjanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan Dave, dan senang bekerja sama dengan anda." Dengan mengulurkan tangannya, pada pengusaha berdarah Amerika itu.
"Saya juga, senang bekerja sama dengan anda. Dan sekali lagi, maafkan saya." Jawab Dave, dengan menjabat tangan Hideyoshi.
Setelah perginya pria berdarah Jepang itu, Dave segera beranjak dari duduknya untuk menghampiri Alana, dan juga Louis, karena pria itu tak sanggup lagi membendung amarahnya.
"Anda mau kemana, Tuan?"
"Tentu saja aku akan menemui mereka berdua, dan meminta penjelasan dengan apa yang aku lihat hari ini." Dengan ingin melangkah, tapi lagi-lagi Daven mencegahnya.
"Aku mohon, jangan Tuan? ingat ini tempat umum."
"Tapi mereka sudah sangat keterlaluan, Daven?! kau lihat tadi, mereka menjalin hubungan dibelakangku!"
Daven melemparkan tatapan matanya keberbagai arah, dan mendapati tatapan orang-orang, yang tengah menatap kearah mereka.
"Ayo kita pergi dari sini, Tuan? semua orang tengah memperhatikan kita."
__ADS_1
"Dan aku sama sekali, tidak perduli!" Dengan ingin melangkah, dan sekali lagi Daven mencegahnya.
"Ayo Tuan, kita pergi dari sini." Dengan menarik paksa tangan Tuanmudanya, berlalu dari restorant itu.
****
Senyuman terus memibngkai diwajah Alana, dan dia terlihat begitu bahagia, sebab Louis begitu memanjakannya.
"Buka mulutmu, coba punyaku. Ini sangat enak."
"Ayolah Louis, aku bisa gemuk, karena daritadi kau terus menyuapiku,"
"Sekalipun kau gemuk, aku tetap mencintaimu Alana,"
"Kau semakin saja, pintar merayu," Dengan raut wajah, berpura-pura kesal.
"Kau selalu saja mengirah, kalau aku ini hanya menggombalimu. Padahal aku serius, dengan apa yang kutakan."
Alana membingkai senyuman kecil diwajahnya, dengan tatapan yang begitu dalam menatap Louis, yang raut wajahnya terlihat kecewa.
"Aku juga mencintaimu Louis, bahkan sangat mencintaimu. Dan terima kasih, karena sudah mencintaiku dengan begitu tulus."
Senyuman terlihat diwajah tampan itu, saat mendengar apa yang dikatakan Alana.
"Aku juga mencintaimu Alana, bahkan sangat mencintaimu."
Alana tersenyum kecil, dan jemarinya menahan bibir yang sedikit lagi, sudah mendarat dibibirnya.
"Ingat! kita sedang ditempat umum. Kau bisa menciumku, setelah kita pulang nanti."
Louis tersenyum, dan dengan segera menjauhkan diri dari Alana, saat baru menyadari keadaan.
"Aku selalu saja tidak bisa mengontrol diriku, saat bersamamu, Alana?"
"Ya sudah, ayo kita lanjutkan makannya."
****
Dave melemparkan tas kerjanya dengan kasar, dan melonggarkan dasinya, yang terasa begitu mencekik dilehernya.
"Kau sudah sangat keterlaluan, Daven?! kenapa kau mencegahku, saat aku ingin menghampri mereka."
"Aku hanya tidak mau, terjadi keributan disana Tuan? apalagi itu tempat umum."
__ADS_1
Senyuman sinis membingkai diwajahnya, dan dengan segera dia menghampiri sekretarisnya, dengan meraih kra baju Daven, dengan tatapan yang begitu diliputi amarah.
"Tuan, apa yang anda lakukan? apakah anda mau membunuhku??" Dengan raut wajah yang sudah berubah pucat, saat melihat tatapan Tuanmudanya, yang begitu membunuh.
Dengan tangan masih mencengkram kra baju sekretarisnya, dan tatapan yang begitu menghunus, dia bertanya pada sekretarisnya itu.
"Katakan padaku, apa yang kau ketahui tentang mereka. Apakah selama ini, kau menutupi hubungan Alana, dan Louis dariku, Daven?"
"Ti..tidak Tuan, saya sama sekali tidak menutupi Tuan," Jawab Daven dengan sedikit kesusahan, karena cengkraman Tuanmudanya yang begitu erat.
"Kau berbohong padaku, Daven?! kau pasti berbohong padaku."
"Sa..saya tidak berbohong Tuan, dan saya minta tolong lepaskan saya. Saya bisa mati, karena kehabisan napas."
Dave segera melepaskan cengkraman tangannya, yang membuat Daven, batuk-batuk.
"Tidak mungkin kau tidak tau, mengenai hubungan Alana, dan Louis!"
Daven membenahi kra bajunya, seraya menngatur napasnya yang masih tersengal.
"katakan padaku Daven..., apa yang kau ketahui tentang mereka..??" Bertanya, dengan sedikt berteriak.
"Baiklah saya akan mengatakan, dan saya minta anda tenang."
"Kau minta aku, tenang?? bagaimana aku bisa tenang, jika aku mengetahui istriku menjalin hubungan dengan pria lain. Dan lucunya, laki-laki itu adalah sahabat baikku sendiri."
"Aku berani bersumpah Tuan. Aku baru saja mengetahui Nona Alana menjalin hubungan dengan Tuan Louis, pagi tadi. Nona baru mulai terbuka mengenai hubungannya dengan sahabat anda, padaku, dan Bibi Alma saat kami tengah menikmati sarapan, tadi pagi."
"Terus apa yang dikatakan, Alana lagi!" Tanya Dave, dengan semakin teriihat penasaran.
Menghembuskan napas kasar, dan Daven sempat diam sesaat, karena sebenarnya dia sangat berat mengatakan tentang perasaan Alana, pada Louis.
"katakan padaku, Daven?? kenapa kau diam saja?"
"Dan Nona Alana mengatakan, kalau dia.." Dengan menjeda kalimatnya sejenak, menatap intens Tuanmudanya, yang terlihat resah.
"Kalau dia, apa?"
"Kalau dia sangat mencintai Tuan Louis, Tuan. Itulah kenyataan yang harus anda tahu, Tuan? kalau Nona Alana sudah jatuhcinta, pada sahabat anda sendiri."
Dave mengusap kasar wajahnya, dan dia terlihat begitu syok dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Daven.
Menduduki sofa tunggal yang terletak diruang kerjanya, dengan menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi.
__ADS_1
"Kau sedang tidak berbohong, padakukan, Daven?"
"Saya tidak berbohong Tuan, karena Nona Alana sendiri yang mengatakan pada kami."