
Alana duduk termenung, seraya pandangannya menyapu bersih seisi ruangan. Hingga tiba-tiba dia dikejutkan dengan datangnya Louis, yang membawa nampan, berisi sepiring spaghety, dan segelas airputih.
"Ini makanlah, mumpung masih hangat." Dengan meletakkan nampan tersebut, diatas meja.
"Punyamu, mana Louis?" Bertanya, dengan menatap intens pria berwajah tampan itu.
"Aku sudah kenyang, kau makanlah." Dengan senyuman kecil, menatap Alana.
"Baiklah, dan maaf sudah merepotkanmu." Dengan meraih pring itu, dan makan dengan begitu lahap.
Senyuman kecil membingkai diwajah tampan itu, saat melihat Alana yang makan begitu lahap, dan iya yakin Alana pasti sangat lapar.
"Kamu sepertinya, sangat lapar Alana?"
Alana seketika terbatuk-batuk, saat mendengar apa yang dikatakan padanya.
"Minumlah..?" Dengan memberikan segelas airputih pada Alana, yang langsung diraih oleh wanita itu.
"Kau, mengejekku?" Dengan raut wajah, yang terlihat begitu kesal.
"Jangan tersingung Alana, aku hanya bercanda?" Dengan tawa kecilnya, menatap Alana yang tengah menatapnya dengann tatapan kesal.
Menghembuskan napas, dan tiba-tiba saja raut wajahnya terlihat sendu, saat teringat kembali apa yang dilakukan Dave tadi.
"Dia meninggalkan aku, dan pergi menemui wanita itu, Louis? dia mengatakan, kalau Laura sedang sakit. Aku tau, dia tidak mencintaiku. Tapi bagaimanapun, aku adalah istrinya. Aku tidak membawa uang sepeserpun, saat datang keLondon. Dan aku memintanya, untuk mengantarku terlebih dahulu keCambrigge, sebelum dia pergi menemui Laura. Tapi dia malah memarahiku, dan mengataiku manja. Dan tidak mungkinkan, aku berjalan kaki dari London, sampai ketempat tinggalku, dengan hanya berjalan kaki." Dengan memaksakan diri untuk tersenyum, dan mata sudah berkaca-kaca.
Menghembuskan napas berat, dan tersenyum menatap Alana yang tengah bersedih.
"Sudahlah jangan bersedih, tidak ada gunanya kau memikirkannya, sementara dia sedang bersenang-senang dengan wanita lain. Ayo lanjutkan makanmu."
Alana hanya mengangguk, seraya tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.
Makan dengan lahap, dan saat dia akan memasukkan sendok yang berisi spaghety kedalam mulutnya lagi, gerakannya tangan itu tiba-tiba saja berhenti.
"Kenapa, apakah kau sudah kenyang?" Tanya louis, dengan tatapan penasaran.
Mengulurkan tangannya yang sedang mengggenggam sendok berisi spaghety, kearah Louis.
"Makanlah."
__ADS_1
"Kau ingin menyuapiku?" Bertanya, untuk memastikan.
"Memang ada orang lain, selain kita berdua disini?"
"Baiklah..?" Jawabnya. Tapi karena jarak duduknya yang sedikit jauh, membuat Louis mau tidak mau memutuskan duduk lebih dekat dengan Alana.
"Ayo, suapi aku?" Dengan membuka mulutnya, menatap Alana.
Alana hanya tersenyum, dan raut wajahnya sedikit merona, dan dia terlhat canggung, saat Louis berada lebih dekat dengannya. Dan mereka terlihat seperti pasangan, yang romantis.
Dan dengan perlahan, tangannya terangkat dan mulai menyuapi pria bermanik cokelat itu. Mereka saling menatap, dengan jarak yang begitu dekat.
"Kau baiik-baik saja?"
"A..aku, baik-baik saja." Jawabnya, dengan berusaha tersenyum, dibalik kegugupan yang melanda.
"Kenapa, aku jadi gugup seperti ini? bukankah ini bukan pertama kali aku bersama Louis?" Bathin Alana, yang terlihat begitu resah.
"Ayo suapi, aku lagi?" Meminta, saat Alana menghentikan kegiatannya.
"Lagi...?" Dengan tatapan intens, menatap Louis.
"Baiklah." Dengan menyuapi, pria itu lagi.
Louis makan, dan ada satu helai yang menggelantung, dimulutnya.
"Ayo kita makan, bersama-sama."
"Makan bersama-sama? bagaiamana?" Dengan tatapan bingung, menatap laki-laki itu.
Louis memegang helaian spaghety itu, dan ujungnya dia memberikan pada mulut Alana.
"Ayo kita sama-sama, mengunyah."
"Makan seperti, ini?"
"Tentu saja?" Dengan senyuman, menatap Alana.
"Ba..baiklah." Jawabnya, walapun dia terlihat gugup.
__ADS_1
"Aku mencintamu, Alana?" Ucap Louis tiba-tiba, yang membuat Alana hanya tersenyum.
Mereka terus mengunya, hingga bibir mereka semakin mendekat. Dan Louis yang melahap habis spaghety itu, hingga bibirnya menyentuh bibir Alana.
Tubuhnya membeku seketika, saat mendapat sentuhan dari bibir pria itu. Tak beranjak, ataupun menjauh sedikitpun, dan Alana tetap membeku dikursi itu.
"Louis...?" Dengan tatapan, yang begitu dalam menatap pria itu.
"Kalau dia menyakitimu, ingatlah ada aku yang selalu ada untukmu."
Alana hanya tersenyum, hingga ada tetesan bening yang sudah mengalir dari sudut matanya, saat mendengar perkataan tulus yang keluar dari bibir pria itu.
"Tentu Louis, tentu."
Louis menatap Alana dengan intens, dan pandangannya tertuju pada mata wanita berambut panjang itu, yang tampak sembab. Dan dia tahu, Alana banyak menyimpan luka dihatinya.
Mengusap airmata Alana, yang membasahi pipinya, dan tersenyum lembut menatap wanita itu. Terus menatap Alana, dengan tatapan penuh cinta. Hingga tanpa dia sadari, bibirnya sudah mendekat dengan bibir Alana. Dan dengan berani, Louis mulai mencium bibir wanita itu, walaupun yang dia tahu ini salah.
Alana begitu terkejut, dengan apa yang dilakukan Louis padanya, dan diapun tak sanggup menolakknya.
Sekedar kecupan yang diberikan Louis, hingga berlanjut keciuman yang panjang. Dia hanya memejamkan mata, dan membiiarkan Louis melakukannya sendiri, tapi lambat laun Alana mulai membalas ciuman itu. Mendapat sambutan dari Alana, membuat Louis semakin memperdalam ciuman mereka, dengan merengkuh penuh pinggang Alana, hingga tidak ada jarak diantara mereka.
Tangannya perlahan menjalar didada pria itu, dan kemudian melingkar sempurna pada leher Louis, disela ciuman panjang mereka yang tengah berlangsung.
"Aku tau, ini sudah sangat salah. Karena bagaimanapun aku adalah seorang istri. Tapi aku hanyalah manusia biasa, yang tetap membutuhkan cinta yang tulus, dari seorang pria. Karena tidak mungkin bagiku meluluhkan hati suamiku, karena dia sama sekali tidak mencintaiku, dan cintanya hanya untuk wanita lain." Bathin Alana yang merasa begitu berdosa, karena sudah merasa menghianati pernikahannya dengan Dave. Walapun dengan teranga-terangan, Dave menjalin hubungan dengan Laura.
Terus berciuaman, hingga suara telepone mengejutkan keduanya.
"A..ada telepone, Louis?" Dengan langsung menarik dirinya, saat mendengar suara telepone masuk diphonsel milik Louis.
"Baiklah, kalau begitu aku terima telepone dulu."
"I..iya." Jawabnya, tersenyum.
"YaTuhan, apa yang sudah kulakukan? ini sungguh memalukan." Dengan memukul pelan, kepalanya.
"Ada apa, Alana?" Tanya Louis tiba-tiba, saat melihat Alana memukul-mukul pelan, kepalanya sendiri.
"Ti..tidak, apa-apa? kau sudah selesai berbicara ditelepone?"
__ADS_1
"Sudah." Jawabnya, santai.