Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Kegundahan, dan kesedihan Alana.


__ADS_3

Tatapannya nanar, menatap tubuh yang terbaring tidak berdaya didepannya. Mengusap airmata yang sudah lolos, tanpa dia sadari.


Alana menarik sebuah kursi kecil, dan duduk disampingnya ranjang.


Kedua bolamata itu menatap dengan intens wajah yang sedari tadi memejamkan mata, dengan berbagai luka lebam diwajahnya.


"Apakah ini semua karena, diriku Dave? apakah karena, diriku??" Dengan mengusap airmata, yang sudah kembali menetes.


Alana terus menatap wajah suaminya, dan dalam dirinya begitu timbul rasa bersalah pada ayah, dari kedua anaknya itu.


Hatinya begitu gundah, memikirkan apa yang terjadi saat ini. Dan tidak bisa dipungkiri, dia begitu dilema.


"Apa yang harus aku lakukan. Aku bingung. Kalau semua karena diriku, aku sangat menyesal. Karena bagaimanapun, dia adalah ayah dari kedua anakku. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri Dave, kalau aku sudah terlanjur jatuhcinta pada sahabatmu. Rasa takut itu masih ada, jika aku kembali padamu, kau akan membuatku menangis, dan kecewa lagi." Bathin Alana, dengan gejolak dalam dirinya.


Saat tengah larut dalam lamunannya, tiba-tiba saja dia begitu terkejut dengan kondisi Dave yang tiba-tiba menurun, saat dia melihat kearah monitor.


"Dave..., Dave..., aku mohon, jangan seperti ini, aku mohon Dave..., ingat anak-anak..," Seru Alana panik dengan airmata yang terus menetes, dan segera menekan tombol untuk memanggil Dokter.


Mendengar itu dua orang perawat, dan juga seorang Dokter segera menghampiri ruang ICU, dimana Dave dirawat.


"Ada apa ini, apakah kondisi Tuan Dave menurun?" Ucap Daven, saat Seorang Dokter, dan juga perawat memasuki keruang ICU.


'Dokter tolong suami saya, Dokter?" Pinta Alana, dengan linangan airamata.


"Nyonya tunggu diluar, kami akan memeriksa Tuan sekarang."


"Tapi Dokter..?"


"Saya mohon, Nyonya?" Seru, seorang perawat.


Alana keluar dengan deraian airmata, hingga membuat Erik, Alma, dan juga Daven bertanya ada apa.


"Ada apa Nyonya, apakah kondisi suami anda menurun?" Tanya Erik, dengan raut wajah penasarannya.


"Iya ada apa Nona, apakah kondisi Tuan Dave menurun?" Tanya Daven pula, dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.


Alana hanya menangis, dan menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan mereka. Mendengar jawaban Nonamudanya, membuat Daven terduduk lemas, danterlihat begitu syok dengan keadaan Dave.


Raut wajah mereka terlihat semakin gelisah, saat mengtahui keadaan Dave semakin menurun. Sesekali Alana menghampiri pintu, untuk dapat melihat keadaan Dave yang sedang ditangani oleh tim medis.


Saat tengah larut dalam pemikiran mereka masing-masing, mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang Dokter.


"Tuan Dave, membutuhkan banyak dara. Dan persediaan dara berkurang. Dan membutuhkan satu kantong lagi. Apakah diatantara kalian, ada yang bergolongan dara O sama seperti pasien?"


"Papa yang bergolongan dara, sama seperti Dave. Bagaiamana ini..?" Ucap Alana, dengan raut wajah yang terlihat begitu resah.


"Nona Alana, hubungi Tuan Louis sekarang!"


"Menghubungi Louis, untuk apa Daven?" Tanya Alana, dengan raut wajah yang terlihat bingung.


"Tuan Louis, mempunyai golongan darah yang sama dengan Tuan Dave."

__ADS_1


"Ba..baiklah. Aku akan, menghubunginya sekarang." Jawab Alana, dengan meraih ponsel dari dalam saku jacketnya.


Teleponepun tersambung, dan Louis menjawab diseberang sana.


"Hallo Alana, kenapa kau menghubungiku dijam begini, apakah kau merindukanku?" Dengan nada, yang terdengar bercanda.


"Louis.., apakah kau bisa datang sekarang juga?!"


"Alana kau menangis, apakah Dave menyakitimu lagi?" Tanya Louis, yang terdengar begitu khawatir.


"Tidak, dia tidak menyakitiku. Tapi aku butuh bantuanmu sekarang. Dave baru saja mengalami kecelakaan, dan dia membutuhkan transfusi dara. Stok darah dirumah sakit habis."


"Apa?? Dave mengalami kecelakaan?"


"Iya Louis, dan aku mohon kau datang sekarang juga."


"Baiklah. Aku akan kesana sekarang." Jawabnya, dengan mengakhiri panggilan teleponenya.


"Bagaimana Nona, apakah Tuan Louis akan datang?"


"Dia akan segera, datang."


"Syukurlah," Jawab Daven, dengan menghembuskan napas leganya.


****


Louis melangkah dengan raut wajah yang terlihat begitu resah, saat berjalan menuju raung ICU. Dan dari jauh, dia mendapati keberadaan Alana, dan juga yang lainnnya.


"Tuan Louis, syukurlah anda sudah datang." Ucap Alma, saat melihat kedatangan lelaki itu.


Belum sempat mereka menjawab, seorang perawat nampak menghampiri mereka.


"Apakah yang mendonorkan darahnya, sudah datang?"


"Saya sendiri, suster?"


"Kalau begitu, ayo ikut saya."


"Baik." Jawab Louis, dengan mengikuti langkah kaki perawat itu.


Suasana terlihat sedikt lebih tenang, dengan kedatangan Louis membuat mereka bisa bernapas lega. Karena berharap dengan transfusi dara yang didapat Dave dari sahabatnya, membuat keadaan lelaki itu jauh lebih baik.


Alana berjalan menyusuri taman belakang, diwaktu yang sudah hampir menjelang pagi.


Wanita cantik itu, terus menangis dan menangis, menumpakan semua beban dihatinya saat ini.


Saat larut dalam kesedihannya, terdengar suara telepone pada ponsel miliknya.


Saat meraih dari saku jacketnya, dia sedikit kaget melihat foto kedua anaknya.


"Louis..., louisa..." Gumamnya, dengan langsung menerima panggilan VC itu, setelah mengusap airmatanya.

__ADS_1


"Hallo Mama..." Kedua rona bahagia, yang terlihat dari raut wajah kedua anaknya.


"Kalian, belum tidur?" Tanya Alana, dengan senyum menatap kedua buahatinya yang penuh kerinduan.


"Ayolah Maa, disini baru saja 7. Mana mungkin kami, sudah tidur," Jawab Louisa, dengan mimik cemberut.


"Maafkan Mama..?"


"Mama, dimana Papa? apakah dia pergi keluar kota lagi? dan kau sedang berada dimana? apakah sedang berada, ditaman belakang rumah?"


"Iya Louis. Dan Papamu, masih tidur." Jawab Alana berbohong, dengan airamata yang kembali menetes, saat anaknya menanyakan Dave.


"Mama, kenapa kau menangis? apakah Papa, menyakitimu?"


"Tidak Louisa?" Jawab Alana, berusaha menahan airamata yang terus hampir mengalir.


"Mama, apakah kau dan Papa sudah melupakan aku, dan Louisa? karena kalian, tidak pernah mengunjungi kami." Tanya Louis, dengan wajah juteknya.


"Iya Mama, kapan kau, dan Papa akan mengunjungi kami. Apakah kalian, sudah melupakan kalau kalian punya anak??" Tanya Louisa, pula.


Hati Alana semakin sakit, saat kedua anaknya menanyakan hal itu, pada dirinya.


"Mama, dan Papa pasti akan mengunjungi kalian." Jawab Alana dengan berusaha tersenyum, dibalik kesedihannya.


"Mama.."


"Ada apa, Louis?"


"Kapan Mama, dan Papa akan memberi adik bayi buat kami."


Alana begitu kaget saat mendengar apa, yang ditanyakan anak laki-lakinya itu.


"Adik bayi?"


"Iya Mama, temanku Ketty sudah memiliki adik bayi. Dan saat kami menanyakan, dimana mereka mengambilnya, Mamanya mengatakan, mintalah pada Papa, dan Mamamu. Jadi kapan kalian memberikan pada kami. Kau tau Maa, adik dari Ketty sangat mengegemaskan, dan juga pipinya sangat gembul." Ucap Louisa, yang terlihat begitu antusias.


"Na.., nanti Mama, dan Papa akan memberikan pada kalian." Jawab Alana, dengan terbata-bata.


"Baiklah Mama, jika kau dan Papa datang keAmerika jangan lupa membawanya. Dan juga sampaikan salam kami, pada Paman tampan." Ucap, Louisa.


"Paman tampan?" Dengan menyerngitkan kedua alisnya, saat mendengar apa yang dikatakan anak perempuannya.


"Paman Louis, Maa? paman Louis?" Celah Louis, kecil.


"Baiklah Mama akan sampaikan, salam kalian padanya. Dan kalau begitu, Mama tutup teleponenya."


"Daa.., Mamaa.." Ucap Kedua bocah itu, dengan langsung memutuskan sambungan teleponenya.


Louisa.


__ADS_1


Louis kecil



__ADS_2