
Langkah kakinya terasa begitu berat, saat kedua kaki itu membawanya ketaman belakang rumah sakit. Mendengar Dave menyetujui untuk bercerai, ntah kenapa ada rasa tidak rela dalam dirinya. Padahal selama ini, dia selalu menuntut cerai pada suaminya, Dave. Tapi disaat Dave sudah menyetujui, hatinya kembali bimbang, dan ragu, padahal laki-laki itu, sudah sangat melukai hatinya.
Langkahnya berhenti pada sebuah kursi panjang, dan mendudukinya. Alana melemparkan tatapannya keatas, menatap taburan bintang yang memenuhi langit malam.
"Kenapa aku harus menangis, kenapa ada tidak rella dalam diriku, saat dia meyetujuinya. Bukannya aku harus senang, karena dia mengabulkan keeinginanku untuk berpisah. Bukankah, aku tidak mencintainya? tapi kenapa semuanya terasa berbeda, kali ini, dan aku merasakan kembali kecewa padanya, seperti saat melihat diabersama Laura." Gumamnya, dikebingungan akan hatinya saat ini.
****
Airmata terus mengalir membasahi pipi lelaki tampan itu, dia terlihat rapu saat ini. Harus merelakan wanita yang dia cintai, bersama sahabatnya sendiri.
"Papa harap kamu kuat Dave? biarkan dia bahagia, bersama sahabatmu Louis."
"Tapi aku mencintainya, Papa? aku mencintainya..?"
"Papa tau sangat tau Dave? tapi apakah kamu mau hidup, dengan wanita yang mencintai pria lain, dan kamu tetap mengikatnya, dengan pernikahan."
Mendengarkan perkataan ayahnya, membuat hatinya semakin ngilu. Ya buat apa dia hidup bersama Alana, tapi wanita itu mencintai lelaki lain, dan itu sahabatnya. Nasi sudah menjadi bubur, dan semua sudah terjadi. Yang tinggal hanya penyesalan seorang Dave Hounston, karena selama ini sudah banyak menyakiti hati seorang Alana.
"Papa, keluarlah. Aku ingin, sendiri," Ucap Dave, tiba-tiba.
"Papa ingin tetap disini, menemanimu? karena Papa tau, apa yang kau rasakan saat ini."
"Keluarlah Papa! biarkan aku sendiri. Aku ingin sendiri..!!" TItahnya, dengan nada yang terdengar tegas.
"Kamu yakin, Dave?" Tanya Damian, memastikan.
"Aku yakin, Papa?"
Hembusan napas terdengar begitu berat, karena dia enggan meninggalkan putranya sendirian dikamar rawat itu. Apalagi dengan masalah yang tengah dia hadapi, membuatnya putranya semakin terpuruk, dengan kondisinya yang belum sembu total, pasca sadar dari komanya.
Meraih ponsel yang disimpan diatas meja, dan berlalu pergi dari ruangan itu. Saat sampai didepan pintu, Damian kembali menghentikan langkah kakinya.
"Papa yakin, kamu pasti akan kuat menerima semua ini Dave? ingat masih ada kedua anakmu." Seru Damian memperingatkan, dengan kembali melanjutkan langkah kakinya.
__ADS_1
Setelah perginya Damian, Dave kembali menumpakan kesedihannya. Sesak yang teramat dia rasakan, saat harus berpisah dengan wanita yang betul-betul dia cintai. Tangannya mengambil sebuah lembaran kertas yang terselip dibawah bantal kepala, dan menatapnya dengan tangisan.
"Maafkan Papa. Maafkan Papa, yang sudah gagal menjadi suami yang baik buat kalian Mama kalian. Tapi Tuhan masih memberikan Papa kesempatan, untuk jadi ayah yang baik buat kalian berdua. Maafkan Papa, yang Papa sudah gagal. Dan Papa minta maaf, karena tidak bisa mengabulkan keinginan kalian, untuk membawakan seorang adik. Dan semoga saja, kalian bisa menerima kehadiran Paman Louis, untuk menjadi ayah sambung kalian berdua anakku?"
Lelaki parubaya itu melewati lorong rumah sakit, dan kakinya berhenti pada sebuah kursi panjang. Raut wajahnya terlihat sendu, mengingat nasip cinta putranya. Disaat dia sudah sangat mencintai, dan berniat berubah, justru istrinya mencintai pria lain.
Guratan kesedihan itu terlihat nyata dari raut wajah tua itu, menduduki sebuah kursi, seraya mengusap airamatanya, karena diapun terluka dengan apa yang menimpa kehidupan rumahtangga kedua anaknya.
"Aku merasa sudah gagal, membawa menjadi orang tua untuk Alana, dan juga Dave. Padahal aku sangat mengharapkan, Alanalah yang menjadi menantuku selamanya, tapi putraku sudah terlalu menyakiti hatinya." Gumamnya, dengan mengusap cairan bening yang menetes.
"Tuan.." Panggil Daven tiba-tiba, seraya duduk disebelah lelaki paruhbaya itu.
Anda baik-baik saja?" Tanyanya, kemudian.
Memaksakan diri untuk tersenyum, ditengah kegundahan hatinya saat ini.
"Aku memintanya untuk menceraikan Alana, dan dia menyetujuinya. Buat apa dia tetap mengikat Alana, kalau tidak ada cinta, dan hanya saling menyakiti diantara mereka."
Daven begitu terkejut, saat mendengar apa yang dikatakan Damian barusan, hingga membuatnya bertanya lagi, karena rasa penasarannya.
"Iya, dia sudah menyetujuinya. Karena ini memang, yang terbaik untuk mereka berdua, walaupun aku sangat berat, memikirkan adanya Louis, dan Louisa diantara mereka berdua. Dan kau pergilah temani Dave, aku rasa dia membutuhkan dirimu saat ini, Daven?"
Hembusan napas terdengar berat, raut wajahnya pun seketika terlihat sendu, saat mendengar apa yang dikatakan oleh ayah dari Tuanmudanya itu.
"kalau begitu saya permisi dulu Tuan, saya akan menemui Tuan Dave."
"Pergilah."
****
Samar-samar sekretaris tampan itu, mendengar suara orang menangis saat sudah berada didepan pintu. Pintu ruangan terbuka lebar, dan mendapati keadaan Tuanmudanya, yang begitu terpuruk dengan airamata yang terus mengalir.
Hembusannya napas terdengar berat, karena iba melihat keadaan pengusaha tampan itu.
__ADS_1
Disaat dia menyadari cintanya, dan berniat untuk membangun kembali rumahtangga yang sudah hancur, tapi justru cinta itu pergi, karena sudah mendapatkan pelabuhannya.
"Tuan..." Panggilnya.
"Aku kalah Daven, aku kalah. Bahkan aku kalah sebelum bertarung, untuk mendapatkan cintanya. Karena cinta itu, sudah menemukan tempatnya dimana dia harus berlabuh."
Daven hanya membingkai senyuman kecil, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Tuanmudanya, yang mengandung makna yang mendalam.
"Anda harus kuat Tuan, ingat masih ada Nona Louisa, dan Tuanmuda kecil Louis."
"Ya. Alasan aku untuk harus kuat, adalah kedua anakku." Ucapnya dengan tersenyum kecil, seraya mengusap airmatanya.
Daven.." Panggilnya kemudian.
"Ada apa, Tuan?"
'Aku ingin menjual perusahaanku, dan setelah semuanya beres, aku ingin secepatnya kita kembali keAmerika."
Raut wajah Daven seketika berubah serius, dengan tatapan intens menatap Tuanmudanya.
"Anda serius, Tuan?"
"Iya aku sangat serius. Tentu saja, dengan mengakhiri hubunganku, dan Laura juga. Dan aku akan mengurus perceraianku dengan Alana, setelah aku diAmerika. Dan berikan sertifikat rumah padanya, karena itu adalah miliknya. Dan satu lagi, cegah Alana jika dia ingin masuk menemuiku. Sebab sudah saatnya, aku melepaskan dia bersama Louis. Dan hubungi Louis, karena aku ingin bicara dengannya."
"Apakah anda sudah sangat yakin, dengan apa yang akan anda lakukan Tuan?"
Hembusan napas terdengar berat, saat mendapat pertanyaan itu. Walaupun itu bersimpangan dengan hatinya yang sangat menginginkan Alana, tapi dia tidak mau egois mengikat Alana dengan pernikahan.
"Ini mungkin adalah balasan, yang harus aku terima atas perbuatanku selama ini padanya. Dan aku ikhlas melepaskan dia, bersama Louis. meskipun hatiku menangis," Ucapnya, tersenyum miris.
"Baik Tuan, saya akan meminta Jordan untuk berjaga didepan pintu, agar Nona Alana tidak dapat masuk. Karena yang saya lihat, beberapa hari ini, Nona Alana enggan meninggalkan anda, walaupun sebentar saja."
Hanya tersenyum saat mendengar apa yang dikatakan Daven, dan dia kembali meraih lembaran kertas tulisan tangan anaknya, yang dia letakkan diatas bed hospital.
__ADS_1
"Maafkan Papa, yang tidak bisa membawa Mama kalian pulang bersama."