
Disaat merasa suasana hatinya sudah jauh lebih tenang, Alana memutuskan kembali menyambangi suaminya dikamar rawat. Langka itu terasa berat, saat mengingat kembali Dave, yang telah menyetujui untuk berpisah.
Dan dari kejauhan Alana mendapati keberadaan Jordan, yang tengah berdiri didepan ruang rawat suaminya. Dia melangkah dengan pasti, tanpa ada rasa curiga sedikitpun, kalau Dave tidak mau bertatatap muka dengannya lagi.
Saat sudah berada didepan pintu, Alana berusaha menyelip tubuh Jordan, yang memiliki perawakan tinggi besar. Dan saat akan masuk, Jordan langsung menghalanginya dengan tubuhnya.
"Kenapa kau menghalangi jalanku Jordan, aku ingin bertemu suamiku," Bertanya, dengan tatapan penasaran menatap lelaki itu.
"Maaf Nona, anda dilarang masuk." Jawabnya, dengan nada yang terdengar tegas.
"Dilarang masuk? maksudmu??" Dengan tatapan intens, dan rasa penasaran yang seketika menyelimuti.
Hembusan napas terdengar begitu berat, saat akan menyampaikan apa yang menjadi titah Tuanmudanya.
"Tuan Dave, tidak ingin bertemu dengan anda. Dan melarang anda, untuk masuk."
Raut wajahnya seketika mendung, saat mendengar apa yang disampaikan orang kepercayaan ayah tirinya itu.
"Kau berbohongkan, manamungkin saumiku mengatakan itu?"
"Saya tidak berbohong Nona, Tuan Dave sendirilah yang meminta saya untuk tidak mengijinkan anda masuk."
Airmata lolos seketika, dia tidak menyangkah Dave, akan membuatnya kembali terluka. Dengan mengatupkan kedua tangannya, dia memohon pada Jordan dengan linangan airamata agar membiarkan dia masuk.
"Aku ingin bertemu dengan suamiku, Jordan, aku mohon...?"
"Maaf Nona, saya tidak bisa. Karena ini perintah, dari Tuan langsung."
Alana hanya menangis, dan menangis saat Jordan tidak mengijinkan dia masuk, dia tidak meyangkah Dave, akan membuatnya kembali terluka. Damian yang baru saja datang, sedikit kaget saat melihat Alana menangis, didepan kamar rawat anak laki-lakinya.
Dan dengan langkah cepat, dia menghampiri anak tirinya itu.
"Alana!! kau kenapa? kenapa kau menangis, anakku?"
Melihat keberadaan ayahnya, Alana segera menumpakan tangisannya, dan memeluk erat tubuh laki-laki paruhbaya itu.
"Kenapa anakmu selalu membuat aku kecewa Papa? kenapa? tidak puaskan dia menyakiti hatiku, bersama Laura?" Keluhnya, dengan terus menangis.
"Jordan, katakan ada apa ini!" Bertanya pada orang kepercayaannya, dengan raut wajah penasaran.
"Nona Alana ingin masuk, tapi Tuan Dave tidak ingin bertemu dengannya."
"Apaa??" Dengan raut wajah, yang begitu terkejut.
"Iya Tuan, dan saya hanya menjalankan tugas."
__ADS_1
"Biarkan dia masuk, bukankah Dave suaminya?"
"Maafkan saya Tuan, tapi ini perintah dari Tuan Dave langsung. Yang sama sekali tidak ingin bertemu, dengan Nona Alana lagi."
Damian hanya menghembuskan napas dalam, dan melihat tangisan putrinya membuatnya iba.
"Papa akan mencoba bicara dengan Dave, kenapa dia melakukan hal ini." Ucap Damian, dengan melangkah masuk kedalam ruang rawat itu.
Alana terus menumpakan tangisannya, dia tidak menyangkah Dave akan melakukan hal ini padanya. Wanita cantik itu menangis, dan memutuskan untuk pulang kerumah.
****
Saat sudah berada didalam, Damian segera membrondong anaknya dengan pertanyaan.
"Dave, katakan pada Papa. Kenapa kau tidak mengijinkan Alana, untuk masuk!" Sebuah pertanyaan, yang terdengar tegas.
Senyuman kecil, mewakili kepedihan hatinya saat ini, saat mendapatkan pertanyaan itu.
"Buat apa dia berada disini, kalau itu akan menambah luka dihatiku. Semua ini berat, tapi aku harus kuat."
Saat Damian akan menjawab apa yang dikatakan oleh anaknya, terdengar suara telepone pada ponsel miliknya.
"Louis, Louisa." Gumamnya.
Kita bicarakan nanti, Papa akan menjawab telepone dari kedua anakmu ditaman." Ucap Damian, dengan berlalu dari ruang rawat itu.
"Kakek..!! kenapa kau lama sekali menerima teleponenya...!!" Suara teriakan yang begitu menggema diseberang sana, hingga membuat Damian menjauhkan sedikit teleponenya.
"Bisakah kalian tidak berteriak? kalian membuat telinga Kakek sakit!" Dengan nada, yang terdengar ketus.
Mimik cemberut, dan seketika tawa lebar terlihat pada layar ponsel itu.
"Kakek.." Panggil Louis.
"Ada apa?"
"Mana adik bayi kami, bukakah kau sudah berada diInggis?"
"Iya Kakek, mana adik bayi kami?" Timpal Louisa, pula.
Menghela napas berat, saat mendapatkan pertanyaan itu.
"Nanti baru Kakek sampaikan pada Papa, dan Mama kalian. Karena sampai sekarang Kakek belum juga bertemu dengan mereka. Sebab Kakek, masih mengurus pekerjaan. Setelah pekerjaan Kakek selesai, baru Kakek akan menemui kedua orang tua kalian, untuk meminta adik bayi." Jawabnya, dengan memilih berbohong.
Keduanya seketika menatap kesal pada Damian, yang belum menyampaikan pesan mereka.
__ADS_1
"Kau membuat kami kesal, Kakek!!"
Tersenyum kecil, melihat tingkah kedua cucunya.
"Maafkan Kakek, dan dimana Oma Paula? Kakek ingin bicara dengannya."
"Oma Paula.." Kakek ingin bicara." Teriak Louisa, memangil pelayan itu.
Mendengar namanya dipanggil, Paula segera menghampiri.
"Hallo Tuan?" Sapanya, saat ponsel sudah berada, digenggamannya.
"Bisakah kau menjauh dari, mereka?"
Mendengar titah Tuannya, Paula memilih menjauh dari kedua bocah kecil itu.
Dan saat sudah menjauh, mereka baru melanjutkan perbincangannya.
"Bagaimana keadaan kedua cucuku, Paula?"
"Mereka baik-baik Tuan? tapi mereka selalu menanyakan padaku, kapan Papa, dan Mamanya akan pulang."
Raut wajahnya terlihat sendu, saat mendapati jawaban itu dari pelayan rumahnya.
"Mereka tidak akan pulang bersama, karena Dave dan Alana akan segera bercerai,"
Paula begitu terkejut, saat mendengar apa yang disampaikan oleh majikannya.
"Apakah Tuan Dave, yang meminta cerai pada Nona Alana?"
"Bukan, tapi Alana yang meminta untuk berpisah."
Kedua alisnya menyurut, saat mendengar jawaban yang sangat jauh dari buku dairy, dimana Alana menyimpan rasa kagumnya selama ini, pada saudara tirinya yang begitu membencinya.
"Mana mungkin Nona Alana meminta cerai pada Tuan Dave, Tuan? karena yang saya tau, dia begitu mengagumi Tuanmuda selama ini."
"Maksudmu..?" Kedua alis itu menyurut, saat mendengar apa yang dikatakan pelayan rumahnya.
"Maafkan saya sebelumnya Tuan, karena sudah lancang. Mungkin anda tidak membaca pada halaman lainnya. Nona Alana ternyata selama ini diam-diam begitu mengagumi Tuan Dave. Tapi saya kurang memastikan apa itu cinta, atau perasaan kagum semata."
"Kau serius? kau sedang tidak berbohong padakukan?" Tanya Damian dengan wajah sumringah, seperti mendapatkan angin segar.
"Buat apa saya berbohong Tuan..?"
"Terima kasih Paula, setidaknya dengan mendapatkan berita darimu, membuatku lega." Ucapnya, dengan mengakhiri panggilan teleponenya.
__ADS_1
Raut wajah yang tadi sendu, seketika berubah ceria. Itulah yang terlihat jelas, dari raut wajah laki-laki tua itu.
"Aku rasa apa yang aku lakukan ini benar, dengan begini baru mereka akan menyadari perasaan masing-masing. Dan aku yakin, Alana yang akan menjadi menantuku selamanya. Dengan melihatnya menangis tadi saja, aku sudah tau dia mencintai Dave, bukan perasaan kagum. Hanya Alana tidak menyadari, perasaannya saja." Gumamnya, tersenyum.