
Wajah Rose seketika berubah pias, mendengar apa yang dikatakan Louisa padanya.
"Maafkan Bibi. Bibi mengirah Pamanmu datang, untuk membuat kekacauan disini." Dengan senyum palsunya, dibalik rasa kesal pada penusaha tampan itu.
"Tidak Bibi, kau salah paham. Kau tau Mamaku sedari tadi merasakan perutnya terus terasa sakit karena adikbayiku sebentar lagi akan lahir, jadi tidak mungkin dia menemaniku. Begitupun juga dengan Papa, yang tidak mungkin meninggalkan Mamaku. Jadi karena aku sangat ingin datang ketoko kue ini, jadi pada saat Paman tampanku ini datang kerumahku, aku minta saja dai yang menemaniku ketoko Meyakinkan Rose, dengan ucapan yang dia katakan.
Senyum palsu terbingkai diwajah Rose, mendengar apa yang dikatakan Louisa padanya.
"Maaf Louisa, kalau Bibi sudah berpikiran buruk tentang Pamanmu yang selalu kau sebut tampan ini. Dan juga Paman yang paling menyebalkan." Berucap dengan pelan saat menyebutkan kalimat menyebalkan, tapi bisa itu terdengar oleh Louisa.
Mimik cemberut, dan tatapan yang seketika kesal, hingga membuat gadis kecil itu, semakin terlihat menggemaskan dengan pipi yang semakin chubby akibat cemberut pada Bibinya.
"Pamanku tidak menyebalkan Bibi? Pamanku adalah Paman yang paling baik sedunia, jadi kau sangat salah jika kau menyebutkan Pamanku sangat menyebalkan. Iyakan Paman?" Dengan kedua bolamata berbinar, menatap Louis yang tengah tersenyum padanya.
"Terima kasih sayang karena kau sudah menganggap Paman adalah Paman yang paling didunia ini, dan Paman sangat sayang padamu Louisa?" Dengan sekilas mencuri pandang pada Rose, tapi gadis cantik itu seketika langsung memalingkan wajahnya, dengan raut wajah yang semakin terlihat kesal.
"Dasar laki-laki brengsek, mesum, dia pikir siapa dia." Gerutu Rose dalam hati.
"Bibi, dimana Oma Alma. Dari tadi, aku tidak melihatnya." Louisa bertanya, seraya menyedarkan pandangannya pada kesegalah arah, saat tidak mendapati keberadaan Oma Almanya.
"Oma Alma sedang membuat kue didapur, pesanan-pesanan pelanggan toko kue kita."
"Paman, maaf aku harus meninggalkanmu. Silahkan nikmati kue-kue yang disugukan toko ini. Dan ingat Bibi, layani Pamanku dengan baik. Jangan sampai kau merusak citra toko kue kita, karena kau kesal pasa Pamanku. " Peringatannya, dan berlalu begitu saja.
Susanan canggung seketika melanda, usai perginya Louisa kedapur. Rose tetap menampilkan wajah juteknya, dan sibuk dengan kegiatannya menata kue-kue dalam etalase, tanpa menghiraukan Louis yang sedari tadi terus menatapnya.
Rose semakin menyibukkan dirinya, dengan melakukan banyak kegiatan. Jemarinya menjangkau sebuah lap bermotif garis-garis yang terletak disudut ruangan, dan mulai membersikan meja, kursi, ataupun etalase-etalase dengan tetap menampilkan wajah juteknya.
Hembusan napas terdengar berat, melihat sikap Rose yang begitu acuh padanya. Dan dia tahu, Rose pasti masih menyimpan dendam padanya.
Dengan langkah pelan, dia melangkah menghampiri Rose yang tengah menyibukan diri membersikan meja, dan kursi-kursi.
Sedikit kaget saat Louis menyambanginya. Dan dengan raut wajah tertekuk kesal, dia berbicara pada pria didepannya.
"Bukankah kue, dan minumanmu disimpan dimeja sana? kenapa kau malah mendatangku? jika ada yang ingin kau pesan lagi, kau tinggal bilang saja, tidak perlu sampai menghampiriku."
"Apakah kau masih marah padaku?" Suara pelan, dengan tatapan yang begitu dalam pada gadis cantik itu.
Tidak menanggapi apa yang dikatakan Louis, Rose tetap melanjutkan kegiatannya, seolah mengangap pria itu seperti hantu yang terlihat.
__ADS_1
"Rose..." Panggilnya pelan, tapi lagi-lagi gadis bermanik abu itu sama sekali tidak memperdulikannya keberadaannya.
Rasa kesal seketika menyelimuti, lebih mendekat pada gadis itu, seraya menggenggam jemarinya yang membuat Rose begitu kaget.
"Apa yang kau lakukan? lepaskan tanganku Tuan Louis? bukankah kau lihat, kalau aku sedang bekerja?!" Tatapan tajam, yang membingkai penuh diwajah cantik Rose, dengan terus berusaha melepaskan genggaman tangan itu.
"Aku tidak akan melepaskannya. Katakan. Apa kau masih menyimpan dendam padaku, karena ciuman itu?"
"Aku tidak punya alasan, untuk marah padamu. Lagi pula, aku sudah melupakan kejadian itu. Sebab menurutku, sangat tidak penting. Dan aku sudah melupakan ciuman kita itu." Dengan nada berapi-api, saat kalimat itu terucap.
Tersenyum getir, mendengar apa yang dikatakan Rose padanya. Dan ntah kenapa ada rasa tidak suka dalam dirinya, mendengar kalau Rose sudah melupakan ciuman mereka.
"Jadi kau sudah melupakan ciuman, yang kita lakukan itu?"
"Tentu saja, buat apa aku mengingat ciuman yang sama sekali tidak penting bagiku itu. Tiap membayangkannya saja, aku sudah sangat muak." Dengan nada penuh penekanan.
Sudut bibirnya menyeringai, mendengar apa yang dikatakan Rose padanya. Tatapannya mengedar kesegalah arah, dan memastikan tidak ada seorangpun didalam ruangan itu.
Menarik tubuh Rose lebih mendekat padanya, dan sekali lagi dia mencium gadis itu tanpa meminta ijin.
Matanya terbelalak lebar, begitu Louis menyatukan bibir mereka.
Rose berusaha melepaskan pagutan itu, saat lelaki tampan itu semakin memperdalam ciuman mereka. Tubuh yang awal memberontak, akhirnaya perlahan tenang dan mulai menikmati ciuman itu yang diberikan CEO tampan itu.
Raut wajah tampan itu tertekuk kesal, melihat kedatangan Louisa yang membuat mau tidak mau keduanya mengakhiri ciuman itu.
"Ada apa Louisa? kenapa kau teriak- teriak?"
Wajah mungil Louisa menatap Paman tampannya dengan panik, seraya menarik-narik kecil Paman tampannya.
"Paman, ayo kita kerumah sakit sekarang."
Keningnya berkerut, dengan rasa penasaran membingkai penuh diwajah tampannya.
"Kerumah sakit? untuk apa Louisa?"
"Nona Alana sudah melahirkan, dan bayinya perempuan. Tuan Dave baru saja menghubungiku, menyampaikan berita bahagia ini." Alma berucap, dengan kedua kaki melangkah menghampri mereka.
"Alana sudah melahirkan..?" Ucap Louis dan Rose bersamaan, yang kaget dengan apa yang dikatakan wanita paruhbaya itu.
__ADS_1
"Iya Paman, Bibi, adik bayiku sudah lahir. Dan dia sama sepertiku, sangat cantik." Dengan bolamata berbinar, akibat bahagia.
"Baiklah, ayo kita kerumah sakit untuk melihat adik bayimu. Dan apakah kalian akan ikut bersama kami?" Tawar Louis. pada Alma, dan juga Rose.
"Aku, dan Bibi Alma akan naik taksi saja. Jadi kalian pergilah dahulu."
"Tidak Rose. Bukankah tujuan kita sama, jadi Bibi rasa buat apa kita harus menunggu taksi lagi, kita berangkat saja dengan Tuan Louis, dan juga Louisa."
"Tapi Bibi, aku..." Dengan nada malas, dan wajah cemberut pada Louis yang terus tersenyum padanya.
" Kita akan berangkat bersama mereka. Ayo Tuan Louis, Louisa kita berangkat sekarang. Oma sudah tidak sabar, ingin melihat adik bayimu." Dengan melangkah keluar beriringan, bersama Paman Louis dan Louisa.
Mendecak kesal, dan bibirnya terus menggerutu pada Louis, saat dirinya tidak memiliki pilihan lain selain satu mobil dengan Louis.
"Dasar menyebalkan, mesum!" Gumamnya, dengan kedua kaki melangkah keluar dari toko.
Louisa mengambil tempat duduk dibelakang, dimana Alma sudah . Dan terlebih dahulu duduk dikursi penumpang. saat Rose akan naik, dan duduk dikursi penumpang bersama keduanya, Louisa seketika mencekal.
"Buka pintunya Louisa.. Bibi juga ingin kerumah sakit melihat adik bayimu..?" Dengan tetap berusaha masuk kedalam kendaraan roda empat itu.
"Kau harus duduk didepan Bibi? bukankah kau kekasih Pamanku?"
"Siapa bilang aku kekasih Pamanmu Louisa? jadi Bibi mohon, buka pintunya."
"Bibi...Bibi..., kenapa kau masih saja menyangkal kalau kau tidak menyukai Pamanku." Dengan menjeda kalimatnya, dan tatapan matanya beralih pada Alma yang tengah duduk disampingnya.
Asal kau tau Oma Alma? Bibi Rose, dan Pamanku Louis pernah berciuman."
Ketiga orang dewasa itu begitu kaget, mendengar apa yang dikatakan Louisa barusan. Dan jangan ditanya lagi bagaimana raut wajah Rose saat ini, wajahnya begitu merah karena malu dengan apa yang dikatakan Louisa, yang memang nyata adanya.
Hingga membuat Rose dilanda penasaran, bagaimana dia tahu kalau Louisa tahu, dia dan Pamannya pernah berciuman.
"Bagaimana dia bisa tahu, apakah simesum ini memberitahukan anak kacil seperti Louisa?' Membathin dari Rose.
"Apakah kau tau artinya berciuman? Alma bertanya, dengan senyum sekilas menatap Louis, dan Rose yang dengan wajah mereka yang merona karena malu.
"TIdak Oma. Tapi Paman Daven pernah mengatakan, kalau dia pernah berciuman dengan pacarnya saat dia sekolah dulu. Dan ciuman itu, hanya dilakukan oleh orang dewasa saja. Jadi berarti Paman Louis, dan Bibi Rose berpacaran. Bukankah mereka pernah berciuman?" Dengan polos, dan lugasnya Louisa menjawab apa yang ditanyakan Alma.
Raut wajah Rose semakin memerah, dan dengan cepat dia duduk didepan, dan meminta Louis untuk segera menjalankan kendaraan roda empat itu. Dari pada berlama-lama mendengar, ucapan Louisa yang semakin membuatnya malu.
__ADS_1
"Tuan Louis, buat apa kau diam saja. Ayo jalan,"
Maaf yaa, kemarin laptopeku ketumpa air sama keponakan. Jadi hari ini, baru aku bisa up.