
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, ditengah keramaian kota New yoark, tibalah Dave disebuah hotel bintang lima, yang merupakan milik dari salahsatu sahabatnya, Endrow.
Menutup dengan kasar pintu mobilnya, dan mengambil langkah cepat, saat berjalan masuk kedalam hotel itu. Berbagai pikiran menyelimuti diri lelaki tampan itu saat ini, gugup, gelisah, marah, bercampur jadi satu, tapi sebisa mungkin dia tetap tenang.
Saat berada didalam hotel, Dave langsung menyambangi recepsionis, untuk menanyakan tentang siapa tamu siapa yang menempati kamar nomor 405.
Dave: Selamat siang Nona?! bolehkah saya bertanya, siapa yang menempati kamar hotel, dengan nomor 405.
Recepsionis: Maaf Tuan, bolehkah kami tahu siapa anda? karena kami tidak bisa membertahu, informasi kesembarang orang.
Dan saat Dave akan menjawab, ada sesorang memanggil namanya, dari belakang.
"Dave..?!" Panggil Endrow, dengan menyambangi pengusaha tampan itu.
Berbalik, dan mendapati keberadaan sahabatnya, Endow yang tengah menghampirinya.
"Endrow..?"
"Kau, baru tiba?!"
"Aku baru saja sampai, tapi pegawaimu tidak mengijinkan aku untuk mengetahui siapa yang menempati kamar itu."
"LIli, berikan kunci kamar nomor 405." TItah Endrow, pada karyawannya.
"Baik, Pak?" Dengan memberikan, sebuah kartu.
"Ambil ini, agar kau percaya kalau apa yang aku katakan, bukanlah sebuah kebohongan."
"Terima kasih, dan aku yang akan membuktikannya sendiri." Dengan mengambil kartu tersebut, dan berlalu menuju lift.
****
Didalam lift, Dave terlihat begitu gelisah. Berbagai pikiran tengah menyelimuti lelaki tampan itu. terus menatap angkah yang membawanya kelantai lima, dimana kamar hotel 405, berada.
Memijakkan kaki, seraya menghembuskan napas dalam yang terasa begitu berat, dan berdiam sebentar, sebelum memantapkan diri, untuk menyambangi kamar 405 tersebut.
__ADS_1
kembali melangkah, dan kini dia sudah berada didepan pintu kamar. Menghembuskan napas sejenak, dan memutuskan untuk membuka pintu.
"Aku berharap, Endrow salah melihat. Karena aku sangat mencintai Karin, dan aku begitu percaya padanya." Gumamnya dengan langsung meraih gagang pintu, dan membukanya.
Dan saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Dave, ketika melihat Karin calon istrinya, tengah berciuman dengan seorang pria, dengan begitu mesrah.
"Karin....?!" Teriaknya yang begitu menggelegar, dalam kamar hotel itu.
"Dave...!" Seru Karin, yang begitu terkejut saat melihat keberadaan calon suaminya, dan dengan cepat dia mendorong tubuh Jack, yang berada sangat dekat dengannya.
"Dave...?!" Serunya lagi, karena tidak menyangkah calon suaminya akan memergoki dirinya.
Mengambil langkah cepat, dan saat tibah dedapan Jack, Dave langsung memberi pukulan keras, pada wajah pria itu.
"BUUGGG..?!" Hingga membuat lelaki berdarah Itali itu, langsung jatuh tersungkur kelantai, dengan bibir sedikit berdarah.
"Dave...?" Seru Karin dengan airmata sudah membasahi pipi, dan berniat ingin menyentuh tangan lelaki tampan itu, tapi seketika Dave langsung menghempaskan dengan kasar.
"Jangan menyentuhku?!! aku benar-benar jijik padamu!"Dengan tatapan, yang begitu membunuh.
"Maafkan aku, Dave? maafkan aku. Maafkan aku," Dengan airmata, yang terus mengalir membasahi pipinya.
Melepaskan cincin pertunangan mereka, dan melemparkan dengan kasar kearah Karin.
"Tidak Dave, aku mohon? jangan seperti ini, jangan Dave, aku tidak mau berpisah. Aku tidak mau," Dengan kembali ingin menyentuh kekasihnya, tapi Dave langsung bersuara.
"Jangan menyentuhku...?! dan mulai hari ini, kau hanyalah mantan tunanganku." Ucapnya, dengan berlalu pergi dari kamar itu.
Karin langsung berlari mengejar lelaki tampan itu, dan bersimpuh didepannya, dengan memeluk erat kedua kakinya.
"Aku mohon?! maafkan aku, maafkan aku, maaf?"Dengan deraian airmata, dan tatapan memohon menatap Dave.
Mengusap airmatanya, karena sesungguhnya dia begitu mencintai wanita berambut madu itu.
"Kau tau, Karin? aku sangat mencintamu, sangat mencintamu. Bahkan aku rella setelah menikah, kita tinggal sendiri karena kau tidak begitu menyukai Papaku. Apa kurangnya, aku Karin..?! aku selalu saja mengikuti kemauanmu," Ucapnya, dengan kesedihan yang teramat sangat, yang mewakili rasa sakit yang dia rasakan.
__ADS_1
Karin hanya menangis, dan menangis sebab Dave begiitu mencintainya, dan selalu menuruti apa yang diinginkannya.
"Aku khilaf, Dave? aku khilaf, aku mohon maafkan aku, maafkan aku." Dengan masih posisi bersimpuh, dan memeluk kedua kaki lelaki itu.
Menghembuskan napas kasar, dan menjawab dengan tegas.
"Tidak?! aku sudah tidak bisa menerimamu. Dan apa yang kulihat hari ini, sudahlah cukup." Dengan melepaskan dengan paksa tangan Karin yang memeluk kedua kakinya, dan berlalu pergi menuju lift.
"Dave.....?!" Teriak Karin dengan deraian airmata, dan menangis tersedu-sedu.
Saat berada dalam lift, Dave seketika menyandarkan pundaknya kedinding lift, dan dia terlihat begitu syok. Tetesan bening lolos begitu saja, tapi dengan cepat lelaki tampan itu mengusapnya.
"Apa ini balasan yang Tuhan berikan padaku, karena sudah menghancurkan hidup adik tiriku sendiri." Gumamnya, dengan kesedihan yang teramat sangat, dan teringat kembali dengan apa yang dia lakukan pada Alana, malam itu.
Saat keluar dari pintu lift, Dave langsung mengambil langkah cepat, dan berlalu begitu saja. HIngga panggilan sahabatnyapun, diabaikan lelaki tampan itu.
Endrow hanya tersenyum kecil, saat melihat sikap sahabatnya, dan dia tahu Dave sudah menyaksikan semuanya.
"Aku yakin, mungkin Tuhan sudah menyiapkan wanita yang jauh lebih baik untukmu. Dan semoga saja kau kuat menghadapinya, setidaknya dia masih menolongmu, sebelum Karin sah, menjadi istrimu." Gumamnya dengan tatapan nanar, menatap Dave yang telah melajukan mobilnya, dengan kecepatan tinggi.
****
Kediaman Damian Hounston.
Damian melangkah menuju lantai dua rumahnya, dengan langkah yang begitu pelan. Kerinduannya pada Alana, membuat pria paruhbaya itu, ingin melihat kamar anak Alana, yang sudah tidak diempati, dua bulan terakhir ini. Dan saat tiba dilantai dua, Damian langsung membuka pintu kamar anak perempuannya.
Terus melangkah, dan melangkah seraya tersenyum, saat menatap photo Alana, yang masih setia terpajang didinding kamarnya.
"Papa begitu merindukanmu Alana? begitu merindukanmu. Kenapa kau tidak datang, Nak? padahal besok adalah, pernikahan Kakakmu." Dengan tetesan bening yang sudah lolos begitu saja, seraya tangannya menyentuh figura Alana, yang terpajang didinding.
Tatapan matanya beralih menatap sebuah laci, dan dengan iseng dia membukannya. Dan saat itu, Damian mendapati sebuah buku dairy kecil, yang tersimpan rapi didalam laci tersebut
Mengambil, dan membuka helaian, demi helaian lembar kertas dairy itu. Tertawa kecil,. ketika Alana menuliskan sesuatu yang konyol. Dan seketika tawa itu pudar, saat melihat tulisan tangan putri tirinya, yang baru ditulis dua bulan lalu, dan betapa terkejutnya Damian saat membacanya, hingga kepalan tangan sangat terliahat jelas, dengan raut wajah yang begitu memerah.
"Dave..!!"
__ADS_1