Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Menghasut.


__ADS_3

Sedari tadi tatapan Alana menatap dengan intens wajah kekasihnya, terutama pada bagian sudut bibirnya, yang nampak sedikit terluka.


"Kenapa bibirmu, Louis? apakah kau baru saja berkelahi, dengan seseorang?"


"Oh ini. Ini hanya luka kecil. Yang jelas, aku bukan berkelahi dengan seseorang. Jadi kau, tidak perlu khawatir."


"Kau sedang tidak berbohong, padakukan, Louis?"


"Buat apa, aku berbohong padamu Alana?"Dengan berusaha, meyakinkan kekasihnya.


"Baiklah, kali ini aku percaya padamu. Dan kami akan pergi makan, apakah kau mau ikut?"


"Ide yang bagus. Karena aku juga, memang sangat lapar. Dan ayo kita pergi, aku akan mengajak kalian berdua makan direstorant, yang menyajikan masakan Indonesia."


"Benarkah, Tuan Louis? kau membuatku jadi bersemangat." Timpal Rose, dengan raut wajah sumringah.


"Tentu saja, dan masakan disitu sangat enak."


****


Sebuah mobil mewah berwarna hitam, memasuki halaman restorant, yang terletak ditengah kota London. Louis, Alana, dan Rose berjalan beriringan memasuki, restorant itu.


Suasana nampak tak begitu ramai, dalam restorant itu. Saat tiba didalam, tatapan Alana langsung tertuju pada sebuah meja, dengan nomor 11 diatasnya, yang terletak disudut ruangan.


"Kita duduk, dimeja nomor 11 saja." Ucap Alana, pada kekasih, dan juga sahabatnya.


"Baiklah, ayo," Jawab Louis, dengan merangkul pinggang Alana, menghampiri meja itu.


Laura tengah menikmati makan siangnya seorang diri, direstorant yang sama juga. Saat tak sengaja melemparkan pandangannya kearah lain, wanita itu begitu terkejut ketika melihat kebersmaan Alana, dan Louis, dan mereka terlihat begtiu mesrah.


"Apakah aku, tidak salah liat. Jadi Alana sekarang Alana sedang dekat dengan Louis, sahabat baik dari Dave, sendiri. Dan mungkinkah, mereka tengah menjalin hubungan spesial?" Dengan senyuman, sinis diwajahnya.


Dia ternyata benar-benar licik, dan hanya mengincar lelaki kaya. Setelah tak sanggup meluluhkan hati Dave, sekarang dia berusaha mendekati Louis lagi."

__ADS_1


Mengambil ponsel dalam tasnya, dan dia mulai memotret kebersaman Alana, dan Louis yang tengah tertawa lepas, dan mengirimkan gambar-gambar itu, pada kekasiihnya.


Senyuman mengembang diwajah CEO itu, saat melihat kalau Dave, telah melihat gambar-gambar yang dia kirim.


Beberaapa detik kemudian, terdengar telepone masuk Dave, dan pria itu melakukan video call. Senyuman mengembang diwajah Laura, saat dia berhasil membuat suasana semakin memanas, antara Alana dan Dave.


"Hallo Sayang, kau lihat itu? bahkan aku tidak menyangkah, kalau Alana tengah menjalin hubungan dengan sahabatmu sendiri." Dengan membalikkan kamera ponselnya, agar Dave melihat kegiatan Alana, dan juga Louis.


"Kau lihat Dave! mereka sangat mesrah. Kau selalu mengatakan padaku, kalau dia adalah istrimu. Tapi apa yang kau lihat sekarang, bagaimana kelakukuan wanita itu. Jadi buat apa, kau mempertahankan dia lagi Dave, dan kau bisa mengatakan pada Papamu, kalau dia sudah menghianati pernikahan kalian," Ucap Laura, dengan senyum penuh kemenangan.


"Maaf Laura, aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku." Ucap Dave dengan memutuskan, sambungan teleponenya begitu saja.


Laura terlihat begitu kesal, saat Dave nampak mengacuhkannya, dan itu membuatnya semakin membenci Alana.


"Ini semua gara-gara, wanita itu! gara-gara dia, sekarang Dave mengacuhkanku. Padahal apa istimewanya, dia. Aku harus menemuinya." Seru Laura, dengan menyambangi Alana.


"Hallo Alana.."


Louis, Rose, dan Alana begitu keget saat melihat keberadaan Laura, direstorant tempat mereka menghabiskan makan siang.


"Hallo Louis, lama tidak bertemu. Bagaiamana, kabarmu?" Dengan senyuman, menatap lelaki tampan itu.


"Hallo Laura. Bukankah kita pernah bertemu, saat pesta pernikahan Dave, dan Alana. Dan kabarku, sangat baik. Dan aku tidak menyangkah, hari ini aku akan menyapa teman kuliahku, disini."


Laura hanya tertawa kecil, saat mendengar apa yang dikatakan Louis padanya.


"Aku juga senang, bisa menyapa teman kuliahku. Dan aku sebagai teman, mau menanyakan apakah kau menjalin hubungan dengan wanita ini? karena setelah gagal meluluhkan hati sahabatmu, sekarang dia berusaha untuk mendekati dirimu. Dan aku hanya, memperingatimu saja." Dengan senyuman mencemooh, menatap Alana.


Raut wajah Alana seketika memerah, saat mendengar tuduhaan Laura, padanya.


"Kau...!!" Dengan ini bangun dari duduknya, tapi seketika Louis mencekal tangannya, sereya menggeleng pelan.


Louis membingkai senyuman kecil, saat mendengar apa yang dikatakan Laura, tentang kekasihnya Alana.

__ADS_1


"Aku sudah sangat mengenal Alana, jauh sebelum dia menikah dengan Dave. Dan dia bukan wanita, seperti yang kau tuduhkan Laura..? jadi kau, tidak perlu mengkhawatirkanku."


Raut wajah Laura terlihat begitu kesal, saat mendengar apa yang dikatakan Louis padanya. Sebab laki-laki itu, sama sekali tidak terpengaruh dengan apa yang dia katakan, tentang Alana.


"Kau sangat polos Louis, setidaknya aku sebagai temanmu hanya memperingatkanmu saja. Dan semoga saja, kau tidak tertipu dengan wajah polosnya."


"Terima kasih atas peringatanmu, sekali lagi terima kasih." Jawab Louis, dengan tetap tersenyum.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, dan kau Alana! kau sangat menjijikkan." Ucapnya mencemooh, dan berlalu begitu saja.


Alana tak sanggup membendung, amarahnya lagi. Saat mendengar, apa yang ditakan Laura tentangnya. Dan saat dia akan bangun, sekali lagi Louis mencekal tangan kekasihnya.


"Tapi Louis! dia sudah sangat keterlaluan."


"Tidak Alana, ini tempat umum. Apalagi kau seorang wanita, tidak baik kau bertengkar ditempat seperti ini,"


"Tapi Louis, dia sudah mengataiku yang tidak-tidak,"


Louis tersenyum kecil, saat melihat ekspresi kekasihnya itu.


"Kau tenanglah, karena aku sama sekali tidak terpengaruh, dengan apa yang dia katakan, tentangmu."


Rose tersenyum saat melihat itu semua, dan dia begitu mengagumi kepribadian pengusaha itu.


"Tuan Louis, anda memang pria yang sempurna. Tidak hanya tampan, tapi anda juga sangat bijaksana dalam menyikapi sesuatu."


****


HOUSTON GROUP


Raut wajah Dave terlihat begitu memerah. Lelaki itu, tak sanggup membendung amarahnya. Hari ini setidaknya dia sudah bernapas lega, saat mendapati keberadaan Louis, dirapat pagi tadi. Tapi apa yang dipikirkannya, ternyata salah. Sebab keduanya bertemu setelah rapat itu, bahkan menghabiskan makan siang bersama.


Apalagi saat melihat tawa bahagia Alana tadi, membuat hati Dave semakin tertusuk.

__ADS_1


"Saat bersama denganku, kau tidak pernah tertawa sebahagia itu Alana, dan tidak bisakah kau mengakhiri ini semua dengan sahabatku, dan kembali padaku. Maafkan aku Alana, maafkan aku.." Gumamnya, dengan airmata yang sudah mengalir.


Menjambak rambutnya frustasi, dan kemarahan semakin menyelimuti diri. Mengingat semua yang terjadi hari ini, membuat Dave, tak sanggup lagi mengontrol emosi dalam dirinya. Meluapkan semua semosi yang dia bendung, dengan menjatukan semua barang-barang diatas meja kerjanya, hingga ada beberapa yang ikut hancur.


__ADS_2