Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
kemarahan Laura.


__ADS_3

"Tapi Dave, lepaskan tanganmu?! aku tidak sudi dipeluk olehmu!" Dengan nada yang terdengar kesal, dan berusaha melepaskan pelukan suaminya, yang masih melingkarkan tangan tubuhnya.


Bukan melepaskan pelukan, Dave malah semakin mempererat pelukannya pada Alana.


"Lepaskan tanganmu, Dave?! lepaskan tanganmu, apa yang kau lakukan?"


"Aku tidak akan meminta untuk melakukan itu, tapi setidaknya biarkan aku memelukmu malam ini." Jawabnya pelan, dan terdengar ucapan yang memohon.


Tangan yang tadi berusaha melepaskan pelukan, perlahan terlepas dengan sendirinya.


Walaupun dirinya sama sekali tidak sudi dipeluk oleh suaminya, tapi keinginan Dave yang tetap ingin memeluknya, membuat Alana akhirnya mengalah membiarkan tangan itu terus merangkulnya.


Malam terus menyambut, Alana belum juga dapat memejamkan matanya. Sebab dalam diri wanita itu ada rasa khawatir, jika Dave akan melakukan hal yang lebih padanya.


Walaupun Dave berstatus sebagai suaminya, tapi Alana tidak sudi melakukan hubungan suami istri dengan pria itu, mengingat cinta Dave dimiliki wanita lain.


"Alana, kau sudah tidur?" Tanya Dave, dengan suara seraknya.


Alana tidak menjawab apa yang ditanyakan suaminya, dia hanya diam, dan seketika matanya terpejam saat Dave mencoba melihat wajahnya, untuk memastikan dia sudah tidur atau belum.


"Selamat malam, Alana?" Ucap Dave dengan ikut memejamkan matanya, saat melihat Alana sudah tidur.


"Ya Tuhan, buatlah aku jangan sampai jatuhcinta padanya. Ingat Alana, ada pria yang tulus mencintaimu yaitu Louis, dan kau jangan sampai terlena dengan rayuannya. Ingat! dia hanya mencintai Laura. Bukan dirimu." Bathin Alana, yang memperingati diri sendiri.


****


Matahari telah menampilkan senyumannya, menyapa semesta alam dimana sang penghuni berpijak. Sinarnya yang menyilaukan, memaksa Dave untuk terjaga dari tidurnya saat cahayanya mengenai sedikit wajah tampannya.


Matanya terbuka sempurna, dan saat dia memalingkan wajahnya, lelaki tampan itu tidak mendapati Alana sudah tidak ada disampingnya.


"Bahkan, dia tidak membangunkan aku." Gumam Dave, dengan langsung beranjak dari ranjang, menuju kamar mandi.


Dilantai bawa tampak Alana, Daven, dan Bibi Alma tengah berbincang-bincang, dengan menikmati sarapan pagi mereka, yang diisi dengan canda tawa.


"Susu itu, untuk siapa Nona?" Tanya Daven, saat melihat Alana yang nampak sibuk memutar segelas susu, dan menyiapkan roti panggang.

__ADS_1


"Buat, Dave."


"Tuan berada dirumah? bukankah kemarin dia bersama dengan Nona Laura?" Tanya Daven, lagi.


"Memang salah jika aku berada disini, bukankah ini rumahku?" Celah Dave tiba-tiba, yang sudah terlihat tampan dengan stelan jas navinya, seraya berjalan menuruni tangga menghampiri mereka.


"Maafkan saya Tuan, tapi saya mengirah anda menginap diapartemen Nona Laura. Bukankah akhir-akhir ini, anda sudah jarang berada dirumah ini?"


Dave mengusap kasar wajahnya, dan tatapan matanya sekilas menatap Alana, yang nampak acuh dengan apa yang dikatakan Daven.


"Ini roti, dan susunya. Kau sangat menyukai roti panggangkan? dan ini bekal makan siangmu, dan Daven. Aku sudah menyiapkian semunya." Dengan meletakkan susu, dan roti didepan Dave.


"Wah Nona Alana, anda memang istri yang sangat baik. Anda sangat beruntung Tuan Dave? mendapatkan istri seperti Nona Alana." Seru Alma, yang memuji Alana.


"Wah Nona Alana, roti yang anda buat ini sangat enak." Puji Daven, pula, yang merasakan roti buatan Alana sangatlah enak.


Alana hanya tersenyum dengan pujian dari Alma dan juga Daven, dan tetap melanjutkan sarapan paginya. Dave mulai menyantap roti panggangnya, dan dia tidak menyangkah Alana sangat tau kesukaannya sarapan dipagi hari.


Ada rasa bersalah dalam diri pria tampan itu pada istrinya, saat Alana tetap melakukan kewajibannya sebagai istri, padahal sikapnya sudah sangat keterlaluan pada Alana.


Mereka mulai menikmati sarapan paginya. Alana, dan Dave nampak seperti orang asing, mereka tidak berbicara atau saling menyapa. Hanya suara Daven, dan Alma yang dari tadi tak hentinya berbicara, hingga suasana canggungpun bisa terhindar diruang makan itu.


"Dia sudah sangat keterlaluan, bahkan telepone, dan pesanku sama sekali tidak dibalasnya."


Dan saat tiba didalam rumah, tatapan matanya teralihkan pada ruang makan. Dan raut wajahnya semakin memerah, saat melihat suasana hangat yanng tercipta diruang makan itu, apalagi ketika melihat Alana yang nampak melayani Dave, membuat rasa cemburu dalam diri laura, pada Alana semakin membuncah.


"Dave....?!" Teriak Laura, yang mengejutkan keempat orang dewasa itu.


"Laura...?" Gumam Dave, yang tidak menyangkah kekasihnya akan datang.


"Mau apa wanita murahan itu, datang kesini!?" Bathin Alma, dengan raut wajah kesalnya menatap Laura.


Dave segera beranjak dari duduknya, menghampiri kekasihnya itu.


Dan saat sudah berada didekat wanita itu, Laura segera memukul dada kekasihnya bertubi-tubi, meluapkan semua rasa kesalnya yang sedari tadi dibendungnya.

__ADS_1


"Kau sangat keterlaluan, Dave?! aku sangat membencimu?! aku sangat membencimu?! baru sehari bersama dengan wanita ini, tapi kau sudah melupakan aku. Bahkan kau tidak menjawab telepone, ataupun membalas pesanku."


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu Laura. Lagi pula, ponselnya aku silent." Dengan berusaha menghindar, dari pukulan Laura.


"Kau berbohong! kau pasti sengaja tidak menjawab teleponeku. Karena mungkin bisa saja, semalam kalian melakukan itu, dan kau tidak ingin aku mengganggu aktifitas bercinta kalian."


"Aku rasa jika mereka melakukan itu tidak masalah, bukankah Nona Alana, dan Tuan Dave adalah pasangan suami istri?" Celah Daven, yang terlihat kesal dengan kelakuan Laura.


"Diam kau, sekretaris bodoh!! kau tidak punya hak untuk ikut campur urusan kami."Teriak laura, dengan kemarahan yang semakin membuncah.


"Ayo kita pergi, dari sini." Ucap Dave, dengan menarik paksa tangan Laura, keluar dari rumahnya.


"Lepaskan aku, Dave?! lepaskan!!" Teriak Laura dengan memaksakan melepaskan cengkaraman tangan Dave, saat pria itu menarik paksa tanganya keluar dari rumah mewah itu.


Alana hanya tersenyum, dan wanita itu tetap menikmati sarapan paginya tanpa memperdulikan apa baru saja terjadi.


"Nona, anda baik-baik saja?" Tanya Alma, yang khawatir dengan keadaan Alana.


"Iya Nona, apakah anda baik-baik saja?" Tanya Daven, pula.


"JIka kalian menanyakan bagaimana keadanku, aku memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi bagaimanapun, aku harus terbiasa dengan keadaan ini." Jawab Alana, dengan memaksakan diri untuk tersenyum dibalik kegundahan hatinya.


****


Detik terus berjalan, terganti dengan hari yang baru. Tidak terasa, satu minggu telah berlalu. Dan selama seminggu itu pula, Dave lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan Laura, dibandingkan dengan Alana istrinya. Kekosongan yang diberikan Dave, tergantikan dengan kehadiran Louis yang menemani hari-harinya, membuat dia semakin hanyut terhadap cinta yang louis berikan.


NEW YOARK, AMERIKA SERIKAT.


Damian menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi kebesarannya, dan pria itu terlihat resah saat mendapat telepone dari orang kepercayaannya Jordan, kalau satu minggu ini dia sudah berhasil mencari tau bagaimana kehidupan rumah tangga putranya Dave, dan Alana menantunya.


Terdengar suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan pria tua itu.


"Masuk...?" Pintu ruangan terbuka, dan menampilkan sosok Jordan disana.


"Selamat siang Tuan, maaf saya sedikit terlambat."

__ADS_1


"Tidak apa-apa Jordan, duduklah. Dan kau sudah membawa, apa yang kumintakan?"


"Sudah Tuan," Dengan memberikan sebuah amplop besar, pada Damian.


__ADS_2