Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Bersama Louis.


__ADS_3

Louis, dan Alana melangkah menyusuri taman ditengah gelapnya suasana, dengan Louis yang terus menggenggam tangan wanita itu.


"Hati-hati." Ucapnya, dengan senyuman menatap Alana, saat mereka melewati jalan yang sedikit gelap.


"Aku takut, ada yang melihat kita Louis? nanti mereka mengirah, aku berselingkuh denganmu."


"Kalau begitu, jangan sampai ada yang melihat ."


Kini mereka sudah tiba, didepan jalan utama. Alana tampak begitu gelisah, dengan tatapan mata mengedar kekiri, dan kekanan, memastikan tidak ada orang.


"Semoga saja, tidak ada yang melihat kami." Bathinnya, yang terlihat begitu resah.


"kau tunggu disini, aku akan mengambil mobil dulu.


Mengangguk, seraya membingkai senyuman kecil diwajahnya, menatap Louis yang telah berlalu pergi.


"Aku seperti sedang, berselingkuh. Dan kenapa aku jadi gugup, begini? padahal, kami tidak memiliki hubungan apapun." Gumamnya, bertanya pada diri sendiri.


Beberapa menit kemudian, datanglah Louis dengan sebuah mobil mewah, berwarna hitam.


"Ayo, masuklah? aku akan mengajakmu, ketempat yang indah." Dengan membuka, pintu mobil itu.


Mengangguk, seraya berjalan masuk kedalam mobil mewah itu. Sepanjang jalan, tidak ada yang berbicara. Keduanya tampak canggung, apalagi bagi Louis, yang selama ini sudah memiliki perasaan pada Alana. Setelah menempuh perjalan selama beberapa belasan menit, kini tibahlah mereka disebuah perbukitan yang sangat indah, yang dapat melihat keindahan kota Cambrigge secara keseluruhan, dimalam hari. Alana tampak begitu tercengang, dengan keindahan kota kecil itu, dimalam hari.


"Sangat indah Louis? darimana kau mengetahui tempat seindah ini." Dengan senyuman sekilas menatap Louis, dan kembali melemparkan pandangan kearah depan.


"Aku pernah ketempat ini, sebelumnya." Jawabnya, dengan seyuman sekilas menatap Alana, dan kembali menatap keindahan kota.


"Benarkah?" Bertanya, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Heemmm..?"


Alana menghembuskan napas, yang terasa begitu sesak didadanya. Sebelum membicarakan, apa yang ingin dia utarakan.


"Mereka sudah menjalin hubungan sebelum kami menikah, dan aku mengetahuinya." Ucapnya tiba-tiba, dengan nada yang terdengar berat.


Tatapan Louis seketika menatap intens Alana, yang tetap menatap jauh kedepan.


"Jadi kau, mengetahuinya?" Tanya Louis, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Iya, aku mengetahuinya."


"Tapi kenapa kau menyetujui pernikahan ini, Alana? jelas-jelas kau mengetahui dia menjalin hubungan, dengan Laura."

__ADS_1


"Aku tidak berdaya, Louis..? apalagi kedua anakku, sangat mengharapkan aku, dan Papanya dapat menikah. Bertahun-tahun mereka selalu menanyakan keberadaan ayahnya, dan disaat datangnya Dave, membuat mereka begitu bahagia. Apalagi Papa, yang.." Dengan tidak melanjutkan kalimatnya, saat Louis menyela ucapannya.


"Aku tau, apa yang ingin kau katakan. Kau melakukan ini, demi kedua anakmu, dan juga paman Damian. Tapi bukan berarti kau harus mengorbankan kebahagianmu, Alana?!! Kau tau.." Dengan menghentikan ucapannya, sejenak.


Dave begitu mencintai, Laura?"


"Jadi kau mengenal,. Laura?"


"Ya, aku sangat mengenalnya. Dave, dan Laura menjalin hubungan saat berkuliah dulu. Mereka begitu sangat saling mencintai, hingga kehadiran Karin dalam hubungan mereka, membuatnya keduanya berpisah. Padahal saat itu, Dave berniat membawa hubungan mereka kejenjang yang lebih serius."


Mendengar apa yang dikatakan Louis, membuat Alana hanya menunduk, dengan raut wajah yang terlihat sendu.


"Diapun mengatakan padaku juga, kalau dia sangat mencintai Laura, Louis...?"


Melihat raut wajah Alana yang tampak sendu, membuat Louis merasa iba. Menghembuskan napas kasar, seraya menghampiri Alana, dan mengenggam jemarinya.


"Laura hanya kekasihnya, bagaimnapun kau lebih berhak atas Dave, karena dia adalah suamimu. Dan katakan padaku, apakah ini yang membuatmu, memintaku agar selalu disini?"


Hanya menganggukkan kepala, seraya tersenyum kecil, dibalik kegundahan hatinya saat ini.


"Maafkan aku, Louis? karena sudah melibatkanmu dalam masalah ini."


"Aku mencintaimu, Alana? dan kaupun tau itu. Aku akan selalu bersamamu, Jadi kau tidak perlu khawatir."


"Terima kasih Louis, kau sudah sangat baik padaku." Dengan senyuman kecil, dan melemparkan kembali pandangannya, kedepan.


Detik terus berjalan, hingga malampun semakin menjemput. Alana, dan Louis memutuskan untuk pulang, setelah menghabiskan waktu beberapa jam, dibukit itu.


"Maafkan aku, karena tidak bisa mengantarkanmu sampai kedepan, aku takut ada yang melihat kita." Ucap Louis, saat menurunkanAlana, sedikit jauh dari vila.


"Tidak masalah, Louis? sampai jumpa, dan terima kasih, karena sudah mengajakku ketempat yang indah." Ucap Alana, saat sudah berada diluar mobil.


"Baiklah , kalau begitu aku pergi dulu." Dengan melajukan, kendaraan roda empat itu.


Tersenyum, dengan tatapan terus menatap kendaraan roda empat itu, hingga menghilang dari pandangannya.


"Dia sangat tampan, dan juga baik. Aku takut, kalau suatu saat nanti, aku akan benar-benar jantuhcinta, padanya. Jujur aku sangat nyaman, saat bersamanya." Gumamnya, dengan senyuman kecil diwajahnya.


Alana melangkahkan kaki menuju vila, dan mendapati pesta telah usai. Saat akan melangkah kedalam rumah, ada seseorang menarik tangannya.


"Rose...? kau...? kenapa, kau menarik tanganku?!" Dengan menyentuh pergelangan tangannnya, yang terasa sakit, dan menatap Rose dengan tatapan kesal.


"Katakan. Tadi kau bersama, diakan?"

__ADS_1


"Bersama dia, siapa?" Jawab Alana, dengan raut wajah yang terlihat gugup, dan mencoba untuk menutupi.


"Louis...Louis.., pria yang kau ceritakan padaku, tadi aku melihat, kalian berdua keluar dari taman belakang. Apakah kalian, baru saja berkencan?" Bertanya, dengan nada penasaran.


"Ntalah, tapi setidaknya luka dihatiku bisa terobati. Saat bersamanya."


"Kau tau, tadi mereka mencarimu?"


"Mereka?! siapa..?" Tanya Alana, penasaran.


"Siapa lagi kalau bukan suamimu, dan juga mertuamu, Alana..?"


"Benarkah...?"


"Tentu saja."


"Dan kau, menjawab apa?"


"Aku bilang, tidak tau."


"Syukurlah...!" Jawab Alana, seraya menghembuskan napas lega, dan mengelus-ngelus pelan dadanya.


Rose menghampiri sahabatnya, seraya mengegenggam jemari Alana, dengan tatapan lembut.


"Aku tau, apa yang kau rasakan. Kau sedang mencoba untuk tersenyum, dibalik kesedihan yang kau rasakan. Kalau memang dia bisa membuatmu, bahagia, lakukanlah. Aku selalu mendukung, apapun itu keputusanmu."


Tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan padanya.


"Terima kasih, Rose? kau memang, sahabat terbaikku. Dan kalau begitu aku masuk kedalam dulu." Ucap Alana, dengan melangkah kedalam vila.


Alana melangkahkan kaki menuju arah tangga, menuju lantai dua vila. Membuka pintu, dan mendapati kamar dalam suasana sepi.


"Kau, baru pulang..?"Tanya Dave tiba-tiba, yang mengejutkan wanita itu.


"Dave...?" Gumamnya pelan, saat mendapati Dave yang baru saja mandi, dengan hanya menggunakan celana, dan menampilkan tubuh seksinya.


"Katakan padaku, apakah tadi kau bersamanya?" Tanya Dave, dengan nada penuh selidik.


"Tidak...?" Jawab Alana dengan ingin melangkah kerah ruang ganti, tapi Dave langsung mencekal tangannya.


"Jangan membohongku, Alana..?! tadi kau bersama Louis, Kan?!" Dengan tatapan, yang begitu menghunus.


"Tidak...?" Jawabnya, dengan raut wajah yang terlihat gugup, berusaha meyakinkan Dave.

__ADS_1


"Kau pikir aku anak kecil, daritadi Louis juga tidak berada disini. Katakan apakah tadi, kau bersamanya."


"Yaa??! tadi aku bersamanya. Kenapa, kamu marah..?!" Jawab Alana, dengan nada menantang.


__ADS_2