
Terdengar pengumuman, kalau pesawat menuju Amerika akan segera melakukan penerbangan.
"Alana, Dave..? Papa pergi dulu. Jaga diri kalian." Pesan Damian, pada menantu, putranya.
"Baik, Papa. Dan kau juga, jaga kesehatanmu." Dengan memeluk, tubuh ayahnya.
"Papa, aku titip kedua anakku."
"Tentu."
"Paman..?" Panggil Louisa, pada Louis.
"Ada apa, cantik?" Dengan senyuman kecil, menatap gadis kecil itu.
"Aku titip, Mamaku."
"Titip, Mamamu?" Dengan menatap intens gadis kecil itu, pada tanda tanya.
Raut wajah Alana seketika berubah pucat, dan dia tampak malu, dengan apa yang disampaikan oleh putrinya, pada Louis.
"Apa yang kau bicarakan, Louisa? kenapa bicaramu jadi sembarangan begitu? Louis maaf, dia masih kecil, jadi bicaranya sedikit sembarangan."
"Tidak, apa-apa." Jawabnya, tersenyum.
"Kenapa kau berbicara seperti itu, Louisa? bukankah ada Papamu, yang menjaga Mamamu? dan ayo kita masuk sekarang. Dan Dave, Papa harap kau tidak marah, dengan apa yang dikatakan oleh putrimu."
"Tentu." Jawabnya Dave santai, dengan beruasaha menutupi rasa kesalnya.
"Ayo Louisa, Louis, kita masuk sekarang." Ajak Damian, pada kedua cucunya.
"Iya, Kakek." Jawab Keduanya, dengan berjalan beriringan bersama Damian.
Alana terus menatap kedua buahatinya, yang telah berlalu pergi bersama ayah mertuanya, dengan kesedihan yang teramat sangat, karena ini untuk pertama kalinya dia berpisah dengan kedua anak kembarnya itu.
"Maafkan Mama, Louisa, Louis, Mama hanya tidak mau kalian berdua ikut merasakan kesedihan, yang Mama rasakan." Bathin Alana, dengan kegundahan hatinya saat ini.
"Dave, Alana, aku pergi dahulu. Ada kerjaan, yang harus aku bereskan." Pamit Louis, pada pasangan suami istri itu.
Dave hanya menganguk kecil, dan memaksakan diri untuk tersenyum, dibalik rasa tidak sukanya pada sahabatnya itu.
"Hati-hati, Louis..?" Jawab Alana, denggan terus menatap louis, yang telah berlalu pergi terlebih dahulu.
Dave terlihat begitu kesal, dengan sikap Alana yang terlihat perduli pada sahabatnya itu. Hingga membuatnya berjalan terlebih dahulu dari dalam badara, tanpa memperdulikan Alana.
"Dave.., tunggu..?" Panggil Alana, dengan segera berlari kecil mengikuti langkah kaki Dave.
Kau kenapa, Dave..?! apakah kau sedang marah?" Tanya Alana, pada saat melihat raut wajah suaminya tampak tidak bersahabat.
"Marah?" Dengan senyuman sinis, diwajahnya.
Buat apa, aku marah." Jawabnya, kesal.
"Terus kenapa, wajahmu kesal begitu?!"
__ADS_1
"Bisakah, kau jangan banyak bicara Alana?!" Dengan berusaha, meredam emosinya.
Kini Dave, dan Alana sudah berada didepan bandara. Dan saat Dave akan berlalu menuju mobilnya yang terparkir diarea parkir, terdengar suara telepone, yang menghentikan langkahnya seketika.
Alana hanya terdiam, dan dia meyakini itu pasti dari Laura, kekasih Suaminya.
Percakapan.
"Hallo Laura, ada apa?"
"Dave, apakah kau masih berada diLondon?"
"Iya. Aku masih berada diLondon."
"Dave, apakah kau bisa datang kemari sekarang? aku sedang tidak enak badan."
"Kau sedang sakit, Laura?" Dengan raut wajah, yang terlihat begitu khawatir.
"Iya Dave, dan aku minta kau datang sekarang juga. Aku sendirian, Dave?"
"Baiklah, aku akan kesana sekarang." Dengan menutup, sambungan teleponenya.
"Kau mau kemana, Dave?" Tanya Alana dengan mencekal tangan Dave, saat laki-laki itu akan melangkah meninggalkannya.
"Aku mau menemui, Laura sekarang. Dia sedang sakit. Kau pulanglah."
"Tapi Dave, bisakah kau mengantarku pulang terlebih dahulu, baru kau pergi menemuinya." Pinta Alana, dengan tatapan penuh harap.
"Apakah kau tidak dengar, Alana?! kalau Laura itu, sedang sakit. Kenapa kau jadi manja, begini?!" Dengan nada, mulai meninggi dari sebelumnya.
"Maaf, aku harus pergi sekarang. Dia sudah menghubungiku lagi." Dengan menunjukkan phonselnya, yang kembali mendapatkan telepone sekali lagi dari Laura.
"Dave..., Dave...."Panggil Alana dengan berlari menuju Dave, tapi laki-laki itu sudah melajukan kendaraan roda empatnya, meninggalkan Alana begitu saja.
Alana hanya meneteskan airmatanya, saat dengan tegah Dave meninggalkan dia sendirian dibandara. Apalagi dia sama sekali, tidak membawa uang.
"Kau sangat terlalu Dave, kau sudah sangat keterlaluan. Aku sangat membencimu, Dave? sangat membencimu." Ucapnya disela tangisnya, dan melangkahkan kaki keluar dari area dari bandara.
Alana melangkahkan kaki menyusuri jalan, ditengah panasnya cuaca kota London disiang hari.
"Ya Tuhan, apa yang harus lakukan. Aku bahkan tidak memiliki uang sama sekali. Aku harus, bagaimana." Bertanya pada diri sendiri, dibalik kebingungan yang melanda diri.
Terus melangkah tanpa arah, ditengah panasnya cuaca. Dan saat melewati taman, dia memutuskan untuk memasuki area taman itu.
Duduk seorang diri, dengan pandangan jauh kedepan, dan bingung harus berbuat apa. Dan tiba-tiba saja, Alana teringat akan Louis Sahabat suanminya. Dan memutuskan, untuk menghubungi laki-laki itu.
Percakapan.
"Hallo, Alana?"
"Louis...?" Dengan suara yang terdengar parau, karena kembali neneteskan airmata.
"kau kenapa Alana, apakah kau sedang menangis?" Dengan suara, yang terdengar khawatir disana.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Louis? tapi bisakah kau datang, menjemputku sekarang?"
"Menjemput? bukankah, kau sedang bersama Dave?"
Alana kembaii meneteskan airmata, saat mendengar apa yang ditanyakan Louis padanya.
"Aku minta, kau datang jemput aku sekarang. Aku sedang berada ditaman, sekitar satu kilo meter dari bandara."
"Baiklah. Kau tunggu, aku kesana sekarang." Jawabnya, dengan langsung memutuskan sambungan teleponenya.
Melemparkan tatapan jauh kedepan, dengan memaksakan diri untuk tersenyum, dibalik kesedihan yang dia rasakan sekarang.
"Justru orang lainlah lebih peerduli padaku, dibadingkan suamiku sendiri."
Setelah memarkirkan kendaraan roda empatnya, Louis langsung berjalan cepat kedalam taman, mencari keberadaan Alana, dengan mengedarkan pandangan kesegalah penjuru arah taman. Dan mendapati Alana tengah duduk seorang diri, dengan memandang danau kecil didepannya. Dan segera menghampiri, Alana.
"Alana..?" Panggilnya, saat sudah berada dibelakang wanita itu.
Alana beranjak dari duduknya, dan berbalik menatap Louis darikejauhan.
"kau kenapa, Alana?" Tanya Louis, saat mendapati mata Alana tampak sembab.
Alana kembali meneteskan airmatanya, dan tidak menjawab apa-apa. Menghampiri laki-laki tampan itu, dan saat sudah berada didekatnya, Alana langsung memeluk erat tubuh Louis, menumpakan semua kesedihannya.
"Kau kenapa Alana, katakan padaku ada apa." Dengan membalas, pelukan Alana.
Alana tidak menjawab apa yang ditanyakan Louis padanya, dia hanya menangis dalam pelukan laki-laki itu.
"Sudah jangan menangis. Ayo sekarang, kita keapartemenku."
Menganguk kecil, seraya mengusap airamatanya. Dan meninggalkan taman itu, menuju apartemen itu.
****
Kini Alana, dan Louis telah berada diapartemen milik Louis. Yang terletak dikawasan kota London.
"Minumlah, ini." Dengan meletakkan segelas airputih, diatas meja kaca itu.
karena kehausan, Alana segera meneguknya hingga tandas.
"Louis...?" Panggilnya tiba-tiba, seraya meletakkan gelas diatas meja.
"Ada apa, Alana?"
"Aku lapar..?" Jawabnya dengan menunduk, karena malu dengan ucapannya sendiri.
Tersenyum, seraya menatap Alana.
"Baiklah, kau tunggu disini. Aku akan membuat sesuatu yang enak untukmu." Dengan berlalu, menuju arah dapur.
"Tidak pake lama, Louis..? karena aku, sangat lapar." Seru Alana, dengan sedikit berteriak.
"Tentu, Tuan putri."
__ADS_1
Membingkai senyuman kecil diwajahnya, saat mendeengar jawaban yang keluar dari bibir Louis.
"Kau adalah pria yang sangat sempurna. Tampan, kaya, dan juga baik hati. Beruntung, wanita yang kelak memilikimu Louis? dan aku rasa, aku mulai sudah menyukaimu."