Menikahi Kakak, Tiriku.

Menikahi Kakak, Tiriku.
Tabrakan.


__ADS_3

Laura terduduk dilantai, dan menangis tersedu-sedu. Wanita itu tidak pernah menyangkah, Sikap Dave padanya, akan berubah drastis.


"Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Dave?? kenapa..? kau janji tidak akan menyakitiiku lagi, sama seperti dulu. Tapi dimana sekarang janjimu itu, Dave..? dimana...? padahal aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu,"


Laura terus mengeluarkan uneg-unegnya, dengan airmata yang terus mengalir. Saat mendapati kenyataan, kalau Dave begitu mencintai istrinya, dan mulai mengacuhkan dirinya.


****


Kendaraan roda empat itu, melaju diwaktu yang telah menunjukkan pukul 12 malam. Dave melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ditengah lenggangnya lalulintas malam hari kota London. Keresahan terlihat jelas diwajah lelaki itu, membayangkan apa yang hampir saja terjadi, yang sangat bertolak belakang dengan prinsip hidupnya. Dia terlihat begitu resah, itulah yang terlhat jelas dari raut wajahnya saat ini. Sesekali dia memukul setir, dan berteriak dengan airmata yang yang mengalir.


"Hampir saja, aku menambah masalah dalam hidupku." Gumamnya.


Kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi, apalagi saat ini Dave masih dibawah pengaruh alkohol. Saat dipertigaan jalan, Dave tetap melajukan mobilnya tanpa memperdulikan rambu lalulintas, yang saat itu berwana merah. Hingga dia tidak menyadari ada sebuah truk yang melintas, berlawanan arah dengannya.


Saat truk itu berada didepannya Dave begitu terkejut, dan dengan cepat dia memutar haluan setir, agar terhindar dari kecelakaan.


Dave bisa menghindari tabrakan dengan truk tadi, tapi lelaki itu tidak dapat menghindar saat ada sebuah pembatas jalan yang berada didepannya, dan dia terlambat memutar haluan setir.


"Ahhhh...." Teriaknya, dan mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan itu.


"BRAAAKKK" Suara tabrakan, yang begitu keras.


Dave mengangkat kepalanya dengan napas terengah-engah dengan kepala sudah mengeluarkan dara, dan juga hidungnya. Tatapannya buram, dan airmata kembali menetes dikedua pipinya, saat teringat kembali istrinya.


"Alana, aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Maafkan aku, maafkan aku Alana..." Dan diapun, tidak sadarkan diri.


****


KEDIAMAN DAVE HOUNSTON.


Keresahan yang dia rasakan, membuatnya tak dapat tidur diwaktu yang sudah menunjukan pukul 12 malam. Berbaring diatas ranjang, dengan tatapan menatap terus langit-langit kamarnya. Pikirannya tertuju pada Tuanmudanya, yang sampai sekarang belum juga pulang, apalagi saat ini Bosnya tengah menghadapi prahara rumahtangga bersama istrinya. Dan hal itu, yang membuat Daven semakin gelisah. Sebab dia takut, Tuanmudanya akan melakukan hal yang buruk diluar sana.


"Kemana kira-kira, Tuan Dave? kenapa dia tidak menghubungiku, sama sekali?"


Saat larut dalam lamunannya, tiba-tiba saja terdengar suara telepone. Daven segera mengalihkan tatapannya, kearah ponsel yang dia letakkan diatas meja samping ranjangnya.


Meraih, dan tertera nama Dave disana.


"Tuan Dave..." Gumamnya, dengan segera dia menggeser acon hijau.


PERCAKAPAN.


"Hallo Tuan, anda dimana sekarang?"Bertanya, dengan raut wajah yang terlihat resah.


"Hallo apakah betul, ini dengan sekretaris Daven?"


"Iya betul, ini dengan saya sendiri. Dan maaf dengan siapa ini? dan dimana pemilik ponsel ini,'


"Ini dengan saya Erik, orang yang sudah menolong Tuan ini."

__ADS_1


"Menolong?? apa maksudmu??" Celah Daven, dengan rasa khawatir yang semakin menjadi,.


"Pemilik ponsel ini baru saja mengalami kecelakaan tunggal, dan sekarang dia sedang terbaring koma, dirumah sakit XXX."


"Apaa...?" Dengan langsung beranjak dari ranjang, dan raut wajah yang sudah berubah pucat.


Mengalami kecelakaan..?"


"Iya. Mengalami, kecelakaan."


"Terima kasih karena sudah menghubungi saya, dan saya akan segera kesana sekarang." Ucap Daven, dengan mengakhiri panggilan teleponenya.


Daven terlihat begitu panik, dia tidak menyangkah Tuanmudanya akan berakhir seperti ini.


Menyambar sebuah blazer panjang yang menggelantung didinding kamar, dan berlalu dari kamarnya yang berada dilantai 2. Saat berada dilantai bawa, dia berpapasan dengan Alma.


Raut wajah Alma menatap dengan heran Daven, karena seperti akan bepergian diwaktu yang sudah tengah malam.


"Daven, kau mau kemana? dan kenapa kamu terlihat, seperti mau menangis?"


"Tuan Dave Bibi, Tuan Dave..??"


"Kenapa dengan Dave, Daven?" Tanya Alana tiba-tiba, dengan menghampiri kedua orang dewasa itu.


"Tuan Dave mengalami kecelakaan tunggal, dan sekarang sedang terbaring koma dirumah sakit."


"Apaa...??" Ucap Alana, dan Alma bersamaan yang begitu terkejut.


"Buat apa, saya berbohong Nona? karena sekarang juga, saya mau kerumah sakit."


Alana terlihat begitu syok, saat mengetahui suaminya tengah mengalami kecelakaan, dan dalam kondisi koma.


"Aku ikut denganmu Daven.." Pinta Alana, dengan mata sudah berkaca-kaca.


"Aku juga." Timpal Alma, pula.


****


RUMAH SAKIT XXX.


Seorang laki-laki muda, terlihat begitu gelisah saat menunggu didepan ruaang ICU.


Lelaki yang diketahui bernama Erik itu, terlihat tidak tenang. Dan sesekali tatapan matanya, menatap kearah lorong untuk menunggu kedatangan keluarga, pria yang dia tolong.


Terlihat dari jauh, nampak ketiga orang dewasa yang tengah berjalan menuju kearahnya. Dan dalam dirinya meyakini, pasti itu keluarga dari pria, yang baru saja mengalami kecelakaan tadi.


"Maaf, apakah anda yang bernama Erik?" Tanya Daven, saat sudah berada didekat lelaki muda itu.


"Iya, benar sekali. Apakah, anda seketaris dari Tuan itu?"

__ADS_1


"Iya. Saya sekretaris, dari pria yang anda tolong tadi."


"Bagaimana keadaan, suami saya?" Tanya Alana, dengan keresahan yang semakin menyelimuti.


"Suami Nona dalam keadaan koma saat ini. Dan Dokter, sedang menanganinya. Tapi saat saya menolongnya, sepertinya suami anda, dalam keadaan mabuk saat menyetir."


"Dalam, keadaan mabuk?" Seru Daven, dan Alana bersamaan.


"Iya Nona, karena mulutnya begitu bau alkohol."


Alana hanya diam, dan tidak berkata apa-apa lagi. Wanita itu, nampak begitu syok dengan keadaan saat ini.


Daven mengusap kasar wajahnya, dan dia tahu Tuanmudanya meminum alkohol, karena frustasi dengan masalah rumahtangga, yang tengah dia hadapi.


"Aku tidak menyangkah, akan terjadi seperti ini Tuan, dan kenapa aku begitu bodoh, membiarkan anda pergi sendiri. Seandainya saja aku tetap bersama anda, pasti semua ini tidak akan terjadi., maafkan aku Tuan, maafkan aku." Bathin Daven, dengan kesedihan yang begitu mendalam.


Beberapa menit kemudian Dokter, dan juga dua orang perawat keluar dari ruang ICU itu.


Melihatnya, Daven, dan juga Alana segera menghampiri.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dokter?"


"Iya Dokter. Bagaimana keadaan, Tuan Dave?"


"Beliau kehilangan banyak Dara, dan masih belum melewati masa kritisnya."


"Bolehkan saya menjenguk suami saya, Dokter?"


"Tentu saja, boleh Nyonya?"


Alana menghembuskan napas. Dan saat merasa bathinnya sudah siap, baru dia memutuskan untuk membuka pintu.


Airmata lolos begitu saja, saat melihat keadaan Dave yang tak berdaya dengan alat bantu terpasang dihidung, dan juga tubuhnya.


"Dave..." Panggilnya pelan, dengan menghampiri suaminya.


Alana.



Dave.



Louis.



Laura

__ADS_1



__ADS_2