
Dave semakin memperdalam ciuman mereka, lelaki tampan itu merengkuh penuh pinggang istrinya agar tidak ada jarak antara mereka. Ariana terdiam, dan wanita itu sama sekali tidak membalas ciuman suaminya. Semuanya terjadi begitu cepat, apalagi saat ini dia tengah mengalami dilema yang teramat sangat.
CINTANYA, ATAU ANAK-ANAKNYA.
Terus berciuman, dan seketika Alana segera menarik diri, saat mendengar suara pintu terbuka, dan dengan cepat wanita bermanik abu itu, duduk kembali pada kursi, yang terletak pada samping bed hospital.
Pintu ruangan terbuka, dan menampilkan sosok Dokter, dan juga 2 orang suster.
"Selamat malam Tuan Dave," Sapa Dokter itu, sembari menghampiri pinggiran ranjang pasien.
"Malam Dokter?" Jawab Dave, dengan suara lemahnya.
"Bagaimana keadaan anda? apakah masih terasa sangat pusing? karena anda banyak kehilangan darah saat kecelakaan, dan koma beberapa hari."
"Dengan sadar dari koma, dan masih selamat saja saya sudah senang Dokter? karena Tuhan, masih mengijinkan saya untuk memperbaiki semuanya." Jawab Dave, dengan senyum kecil diwajahnya.
"Apakah ini istri anda, Tuan?" Tanya Dokter itu, saat tatapan matanya teralihkan pada Alana yang sedang duduk disamping ranjang.
"Iya ini istri saya Dokter, dan saya sangat mencintainya." Jawab Dave yang terlihat begitu bangga, saat memperkenalkan Alana sebagai istrinya.
"istri anda sangat cantik, Tuan Houston?" Puji Dokter, pria itu.
"Terima kasih Dokter?" Jawab Dave, dengan sekilas menatap Alana yang hanya tersenyum kecil.
Alana hanya diam, lidahnyapun keluh, tubuhnya membeku, dan wanita cantik itu bingung harus berkata. Sebab saat ini dia bagaikan, sebuah kapal yang terombang-ambing ditengah lautan tanpa nahkoda.
"Nyonya Hounston," Pangil Dokter itu.
Alana tidak menjawab panggilan Dokter bedah itu, wanita cantik itu larut dalam masalah yang tengah membelenggu dirinya, hingga pikirannya berkelana kemana-mana.
"Nyonya Houston," Panggilnya, sekali lagi.
"I..iya Dokter," Jawabnya, gelapan.
Melihat reaksi Alana, membuat Dokter pria itu hanya tersenyum.
__ADS_1
"Suami anda sudah bisah dipindahkan dari ruang ICU ini, karena ruangan ini pasti membuat anda tidak nyaman."
"Saya memang sedikit tidak nyaman Dokter, karena sedikit sempit."
****
Kini Dave sudah dipindahkan keruang rawat, Alana hanya terdiam, dengan pikiran berkelana kemana-mana.
"Kau baik-baik saja, Alana?" Tanya Dave, saat melihat istrinya nampak melamun.
"Aku baik-baik saja Dave," Jawabnya, dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
Dave menghembuskan napas berat, dan tatapannya menerawang menatap langit-langit kamar.
"Aku tau, aku sudah banyak salah padamu, Alana?" Ucap Dave, yang memulai mengungkit luka yang sudah dia torehkan pada istrinya.
Mendengar ucapan Dave, membuat Alana seketika menatap wajah suaminya yang terlihat sendu.
"Tapi apakah sudah ada kesempatan bagiku, untuk memperbaiki semuanya. Mengawalinya semua dari awal lagi bersamamu, dan kedua anak kita. Percayalah Alana, aku tidak pernah melakukan hal itu dengannya, sekalipun aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya dulu." Ucapnya dengan tatapan memohon, menatap Alana yang tengah duduk disebuah sofa tunggal.
Dave memaksakan diri untuk tersenyum, ditengah kesedihan yang melanda, Dan dalam dirinya punya keyakinan, kalau istrinya tengah memikirkan sahabatnya Louis.
****
Dua hari telah berlalu, dan dua hari itu pula Alana masih setia menemani suaminya, dirumah sakit. Keadaan Dave berangsur-angsur pulih pasca dipindahkan dari ruang ICU. Lelaki tampan itu terlihat seorang diri, dengan jemari memainkan ponselnya saat sedang berada diatas bed hospital. Pintu ruangan terbuka, dengan cepat Dave memalingkan wajahnya kearah pintu, sebab meyakini Alana yang datang.
"Papa..., aku mengirah kau Alana, dimana istriku Paa, saat aku bangun dia tidak ada."
"Alana sedang makan direstorant didekat sini. Kasian istrimu pasti kelelahan, karena menjagamu dari hari pertama kau masuk rumah sakit. Dan pulang kerumah hanya untuk mandi."
"Alana memang wanita yang baik, dan sangat sulit mendapatkan wanita seperti dia."
Damian menghampiri putranya, setelah mengambil sebuah kursi kecil. dan dia letakkan samping bed hospital.
"Dave..?" Panggilnya, pelan.
__ADS_1
"Ada apa Papa? sepertinya kau ingin berbicara serius denganku," Ucap Dave, yang dapat mengetahui dari ekspresi ayahnya.
Senyuman kecil membingkai diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan anak laki-lakinya itu.
"Katakan Papa, jangan ragu. Apa yang ingin kau bicarakan, denganku?!" Tanya Dave yang terlihat tidak sabaran, saat ayahnya tak kunjung berbicara.
Hembusan napas begitu berat, hatinyapun terasa berat jika harus mengatakannya. Tapi bagaimanapun dia sebagai orang tua, punya tanggung jawab atas kehidupan anak-anaknya.
"Dave.."
"Katakan Papa, apa yang ingin kau katakan??" Pinta Dave, dengan nada yang terdengar tegas.
"Kau anakku, Alana juga adalah anakku. Kalian berdua mempunyai tempat yang sama, dihatiku. Tidak ada yang berbeda. Papa ingin, Papa ingin," Dengan menjeda kalimatnya sejenak, dan dia terlihat ragu dari raut wajahnya.
"Apa Papa, lanjutkan apa yang ingin kau katakan?!"
" Papa ingin, kau mengabulkan keinginan Alana untuk bercerai. Papa ingin, kau menceraikannya. Buat apa kalian mempertahankan rumahtangga ini, kalau hanya untuk saling menyakiti. Kau mencintai Laura, dan Alana mencintai Louis, itulah kenyataan yang Papa tau. Papa sangat kecewa dengan kalian berdua, sebab sudah ada Louis, dan Louisa diantara kalian. Apalagi mereka, sangat mengharapkan kedatangan kalian keAmerika."
Ponsel yang tengah berada digenggamannya seketika jatuh, tanpa dia sadari. Airmata lolos begitu saja, saat mendengar keinginan ayahnya untuk menceraikan Alana, wanita yang sangat dia cintai.
"Papa! apakah Papa sadar dengan apa yang Papa katakan padaku..?" Tanya Dave dengan sedikit berteriak, dan airmata yang sudah berderai.
"Papa sadar Dave, bahkan Papa sangat sadar. Papa juga tidak mau, terjadi seperti ini. Karena bukan saja anak kalian yang terluka, tapi Papa juga Dave? tapi kenyataannya Alana sudah sangat terluka dengan apa yang kau lakukam selama ini, dia sudah sangat terluka. Dan kenyataan yang harus kau tau Dave, dia, dan Louis saling mencintai. Dan Papa bisa melihat kenyataan itu. Biarkan Alana bersama Louis, relakan dia Dave,"
Dave terus mengeluarkan airmatanya, saat mendengar apa yang diinginkan ayahnya. Tanpa memperdulikan kondisinya yang masih lemah, laki-laki itu bangun dari ranjang, dan bersimpuh seraya memeluk kedua kakinya Damian memohon maaf.
"Dave, apa yang kau lakukan? apa yang kau lakukan anakku..?" Ucap Damian, dengan berusaha membangunkan putranya.
"Ijinkan aku untuk terus memiliki putrimu Papa, maafkan aku. Maafkan aku, aku sangat mencintainya, Papa! maafkan aku yang baru menyadari, kalau aku begitu mencintainya."
Damianpun ikut meneteskan airamatanya, dan dia bisa melihat kesungguhan diwajah putranya.
"Papa sangat percaya padamu anakku, dengan apa yang kau katakan saat ini. Tapi biarkan dia bersama Louis. Walaupun kau tidak memiliki Alana, masih ada Louis, dan Louisa. Mereka dara dagingmu. Mereka adalah penyemangat hidupmu, Dave?"
Dave hanya bisa menangis, dan menangis. Lelaki tampan itu hanya bisa mengangguk, dan menyetujui keingian ayahnya, yang ingin dia berpisah dengan Alana. Apalagi mengetahui lagi dari ayahnya kalau Alana, dan Louis saling mencintai, membuat dia tidak berdaya.
__ADS_1
Alana menumpakan tangisannya, saat mendengar perbincangan ayah, dan anak itu. Dia menangis seraya membekap mulutnya, dan kembali ketaman untuk menumpakan kesedihannya.