
Membingkai senyuman diwajahnya, walaupun tak bisa dipungkiri rasa kecewa tengah mendera, tapi Alana berusaha menyembunyikannya didepan Laura, dan Dave.
"Dan aku sangat berterima kasih untuk itu, karena dia sudah membelikan rumah semewah ini untukku. Dan bukankah itu sudah menjadi tanggung jawabnya, sebagai seorang suami. Kaukan pernah menikah, Nona Laura? bukankah adalah hal yang wajar, kalau seorang suami membelikan rumah untuk istrinya. Ataukah mantan suamimu tidak pernah melakukan itu padamu, jadi rumahtanggamu berakhir dengan perceraian?"
Laura terlihat kesal, saat mendapat jawaban dari Alana. Apalagi melihat raut wajah Alma, dan Daven yang tampak menertawakan dirinya, membuat kemarahan dalam dirinya semakin bertambah.
"Kau sangat berani berbicara itu, padaku? Dave, kau lihat wanita ini. Dia berbicara sangat tidak sopan padaku. Dan apakah kau tidak bisa mendidiknya, agar lebih sopan sedikit padaku?"
Menghembuskan napas yang terasa sesak didadanya, saat melihat perdebatan istrinya, dan juga kekasihnya.
"Alana tak bisakah kau bersikap sopan sedikit, pada Laura? karena bagaimanapun, dia adalah wanita yang aku cinta."
Laura tampak bahagia, saat mendengar apa yang dikatakan Dave, dan dia merasa menang. Sebab Dave dengan terang-teerangan, membelanya.
Alana hanya diam, dan tak bisa dipungkiri ada rasa kecewa dalam dirinya, saat mendengar apa yang dikatakan Dave.
"Kenapa kau diam saja, Alana? apakah kau sakit hati, karena Dave tidak mencintamu, dan hanya mencintaiku?" Dengan senyuman mencemooh, menatap Alana.
"Katakan kau dari mana saja, Alana?" Tanya Dave, saat melihat Alana hanya terdiam.
"Bukan urusanmu, dan maaf aku harus segera kembali kekamar." Jawab Alana, dengan berlalu begitu saja.
Dave segera beranjak dari duduknya, dan mengejar Alana yang akan menaiki tangga, dan mencekal tangannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Katakan kau darimana saja, Alana? dan darimana kau mendapatkan uang, untuk dapat membeli barang-barang mewah ini."
"Mungkin saja dia menjual dirinya, pada seorang pria Dave? bukankah kau tidak memberinya uang? jadi mau tidak mau, dia harus melakukan itu." Timpal Laura, menjawab pertanyaan Dave.
"Apa yang kau bicarakan, Laura?" Jawab Dave, yang kesal dengan apa yang dikatakan Laura.
"Apa yang dikatakan Laura, hampir sepenuhnya benar. Kau tidak memberiku uang. Dan aku mendapatkan barang-barang ini, dari seorang pria. Dia begitu baik padaku, dan aku rasa, aku mulai tergoda dengan rayuannya, Dave?" Dengan senyuman, menatap Dave.
Raut wajah Dave seketika memerah, saat mendengar apa yang dikatakan Alana padanya.
"Apa kau sadar apa yang kau katakann, Alana? apa kau sudah tidak menyadari, kalau kau sudah bersuami."
"Suami..?" Dengan senyuman sinis, menatap Dave.
Kalau kau suamiku, tidak mungkin kau membawa wanita murahan ini datang kerumah ini. Dan kemana kau selama beberapa hari ini. Apakah itu yang dinamakan, suami?"
"Laura sedang sakit, Alana? jadi aku harus merawatnya."
"Baiklah, aku akan mengerti. Sekarangkan dia sembuh, jadi tidak alasan kau bersamanya. Akhiri hubunganmu kalian, dan kita kembali keAmerika."
"Apa kau sudah gila, Alana? Dave sangat mencintaiku, dan kau memintanya, memutuskan aku?" Celah Laura, dengan senyuman mencemooh.
" Dia adalah suamiku, dan aku berhak meminta itu padanya."
"Katakan Dave, kenapa kau diam saja? apakah kau keberatan?"
"Maaf aku tidak bisa. Aku sangat mencintai, Laura?" Jawabnya, dengan nada yang terdengar berat.
"Kalau begitu, ceraiakan aku. Dan biarkan, aku bersama dengan pria lain."
__ADS_1
"Tidak, sampai kapanpun aku tidak mau bercerai."
"Kau sangat egois, Dave?? jadi kau mau rumah tangga kita seperti ini terus? dan kau mau membuat aku, yang terus menderita?"
"Tuan kenapa anda tidak mau becerai dengan Nona Alana, mungkin saja Nona Alana bisa menemukan laki-laki yang baik. Iyakan , Daven?"
"Kenapa kau, bertanya padaku Bibi Alma?"
"Katakan padaku, apakah kau menjalin hubungan dengan seorang pria."
"Kalau iya, kenapa? kalau tidak kenapa?"
"Ingat Alana, Kau adalah istriku??"
"Dave, apakah kau sudah melupakan kehadiranku disini? kalau kau tidak memperdulikan aku, akan pulang sekarang juga." Seru Laura, yang terlihat cemburu saat melihat Dave, memperdulikan istrinya.
"Bisakah kau memberi aku waktu Laura, kalau aku sedang berbicara dengan Alana. karena bagaimanapun, dia adlah istriku."
"Jadi kau mau membuat aku, melihat kemesraan kalian?" Jawab Laura, yang sudah mulai tersulut emosi.
"Pergilah pada kekasimu itu, karena dia adalah wanita yang haus akan sentuhan seorang pria." Ucap Alana dengan menghempaskan tangan Dave dengan sangat kasar, dan berlalu menuju kamarnya yang berada dilantai tiga.
"Alana..., Alana...?" Panggil Dave, tapi tidak dihiraukan oleh istrinya.
"Dave....?" Panggil Laura, yang terlihat merajuk.
Dave mengusap kasar wajahnya, dan ntah kenapa mendengar apa yang dikatakan Alana membuatnya, terlihat begitu gelisah.
Menghembuskan napas kasar, dan dia kembali menghampiri Laura yang tengah menatapnya dengan tatapan kesal.
"Kenapa kau marah? bukankah lebih bagus kalau dia mempunyai kekasih, dengan begitu ada alasan untukmu buat menceraikan dia Dave?" Seru Laura, dngan raut wajah yang terlihat kesal.
Menjatuhkan dirinya disofa panjang, dengan keresahan yang terlihat jelas diwajahnya tampannya.
"Dave, kau kenapa? kenapa kau jadi terlihat begitu gelisah? ingat Dave, cintamu hanya untukk, bukan untuk wanita itu."
"Kau bisa diam tidak, Laura..?!! aku sedang pusing." Ucap Dave, dengan nada membentak.
"Jadi kau sekarang, menyalahkanku?"
"Aku tidak menyalahkanmu, Laura? aku hanya?" Dengan tidak, melanjutkan lagi kata-katanya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang." Ucapnya, dengan berlalu begitu saja dari dalam rumah mewah itu.
Dave mengusap kasar wajahnya, dan dengan segera dia berlari mengejar kekasihnya, yang sudah berlalu dari dalam rumah.
"Laura..., Laura...?" Panggilnya, dengan langsung mencekal tangan wanita itu.
"Lepaskan aku, Dave? lepaskan aku. Kau selalu saja membuatku kecewa. Dulu kau membuatku menangis, saat kau bersama Karin. Apakah kau akan membuat aku kecewa seperti dulu lagi, Dave?" Ucapnya, dengan buliran airamata yang sudah yang membasahi pipi.
Melihat airmata Laura, membuat Dave begitu merasa bersalah. Membenamkan Laura dalam pelukannya, seraya mengelus pelan rambutnya, guna menenangkan.
"Maafkan aku, Laura? maafkan aku. Aku minta kau jangan bersedih. Aku janji, tidak akan melukai perasaanmu, seperti yang kulakukan dulu."
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Dave? sangat mencintaimu." Ucapnya dengan menangis, sesegukan.
"Aku juga sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu, Laura?"
Alana menatap kemesraan pasangan kekasih itu, dari balkon kamarnya dengan memaksa diri untuk tersenyum, ditengah kesedihannya.
"Semakin kau membuat aku terluka, membuat aku semakin tidak ragu untuk mencintai Louis, Dave?"
****
NEW YOARK, AMERIKA SERIKAT.
Damian melangkahkan kakinya melewati, setiap barisan anak tangga, menuju lantai bawa rumahnya.
Saat sudah berada dilantai bawa, dia melemparkan tatapan matanya kearah taman belakang.
Senyuman membingkai diwajah pria paruhbaya itu, saat mendengar suara cucu-cucunya, yang tengah bermain disana. Dan memutuskan untuk menghampiri.
Tersenyum kecil, saat melihat kelucuan Louis yang tengah bermain bersama Doggy, anjing kesayangan dari anak laki-lakinya, Dave.
"Hati-hati, Louis? awas nanti dia bisa menggigitmu."
"Tidak Kakek, aku sudah terbiasa bermain dengannya." Dengan tawa kecilnya, menatap Damian.
Melemparkan tatapannya kearah samping, dan mendapati Louisa tengah melamun seorang diri dikursi kecil.
Menghampiri cucu perempuannya, dan mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu.
"Apa yang kau pikirkan, Louisa? katakan pada Kakek."
"Aku rindu pada Mama, Kakek?"
"Kalau kau rindu pada Mamamu, Kakek akan menghubunginya sekarang."
"Kakek...?" Dengan tatapan lembut, dan raut wajah yang terlihat sendu.
"Ada apa?"
"Kau tau, Mama selalu saja menangis karena Papa. Karena Papa selalu dekat, dengan Bibi Laura."
"Kau masih sangat kecil, kenapa pikiranmu sudah seperti orang dewasa, Louisa?"
"Aku serius, Kakek? Mama selalu saja menangis, karena Papa. Mungkinkah lebih baik, kita meminta Mama kembali keAmerika saja?"
Membelai lembut pipi cucu peremuannya, dengan senyuman kecil diwajah.
"Kalau Mamamu kesini, nanti siapa yang akan mengurus Papamu?"
"Biarkan saja dia Kakek, aku sangat membencinya."Jawabnya, dengan mimik cemberut.
Damian menatap Louisa dengan tatapan dalam, dan seketika timbul rasa penasaran dalam dirinya, bagaimana kehidupan rumahtangga putranya Dave, dan Alana diInggris.
"Tidak mungkin Louisa membenci Papanya tanpa sebab, aku akan meminta untuk orang mencari tau kehidupan Dave, dan Alana disana. Dan mungkinkah Dave menjalin hubungan dengan, mantan kekasihnya?" Bathin Damian, dengan rasa penasaran yang teramat sangat.
__ADS_1