
Dave mengedarkan pandangannya kesegalah penjuru arah, dan tanpa dia sadari telah berada ditengah jalan, hingga keberdaannya mengganggu para pengguna jalan yang lain.
"Hei..Tuan?! apakah kau mati??" Teriak seorang pria, bertubuh tambun yang tengah beada didalam mobilnya.
Terjaga, dan begitu merasa bersalah.
"Maafkan saya Tuan? maafkan saya," Dengan menepi, dan berlalu pergi.
Daven sang sekretaris, dan Laura tanpak begitu penasaran dengan melihat apa yang baru saja dilalukan oleh lelaki tampan itu, yang tampak begitu panik.
"Anda kenapa Tuan? dan apakah ada sesuatu yang terjadi?!" Dengan tatapan penasaran, menatap Bosnya.
"Iya Dave, kau kenapa? apakah ada sesuatu?!" Timpal Laura, pula.
"Tidak ada apa-apa." Sangkalnya, dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Baiklah Dave, kalau begitu aku pulang dulu, sebab masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku bereskan." pamit Laura, dengan melangkah meninggalkan kedua laki-laki tampan itu.
"Baiklah, dan hati-hati dijalan."
Saat tengah melangkah, tiba-tiba saja langkah kaki laura terhenti kembali, dan wanita itu kembali menghampiri Dave,
"Ada apa, apakah ada yang tertinggal?!" Tanya Dave, dengan tatapan penasaran.
TIdak menjawab, dan hanya tersenyum. Dan saat sudah mendekat, Laura menjinjitkan kakinya, dan langsung mengecup singkat bibir pria itu, hingga membuat Dave begitu terkejut, dengan serangan tigba-tiba dari CEO cantik itu.
"Sampai jumpa Dave, kalau aku sempat, sebentar aku akan mengunjungimu dihotel," Dengan senyuman, dan berlalu begitu saja.
Tubuhnya membeku seketika, dan hanya dia membisu seraya menyentuh bibirnya.
"Wah Tuan? sepertinya anda bukan hanya saja mendapatkan kerjasama dari Tuan gabriel, tapi anda juga akan mendapatkan putrinya." Ucap Daven, dengan tawa kecilnya.
Mengusap bibirnya, dan raut wajahnya terlihat begitu kesal, saat melihat sekretarisnya menertawakan dirinya.
"Sudahlah jangan membahas itu lagi! dan ayo kita pergi, sebab besok pagi, kita berdua harus pergi kelokasi tempat dimana akan dibangunnya hotel itu."
__ADS_1
"Baik Tuan, ayoo?!" Dengan berusaha menahan tawanya, berlalu bersama Daven.
****
Hawa dingin yang menyelimuti kota kecil yang tetletak dipinggiran kota London, tapi tak menyurutkan niatnya untuk mengais rejeki guna menghidupi kedua buahatinya. Turun dari motor kecil dengan wajah sumringah, itulah penampakan dari seorang Alana.
"Lihatlah, itu Ibumu sudah datang?!" Seru Rose pada Louis, dan Louisa, yang sedari tadi tampak begitu gelisah menunggu kedatangan Alana.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rose, membuat Louis, dan Louisa seketika melemparkan pandangannya kearah jalan, dan senyuman mengembang diwajah kedua boca kecil itu, saat melihat kedatangan Mamanya.
Berlari kecil, menghampiri wanita berambut panjang itu.
"Mama...?!" Seru keduanya.
Hanya tersenyum, dan melebarkan tangannya menyambut tubuh kedua anaknya.
"Maa, apakah kau membawaa mobil-mobilanku?" Tanya Lous, seraya memeriksa barang bawaan milik Alana.
"Iya Maa kata Paman Jhon, kalau kau meminjam sepeda motornya, sebab kau akan pergi ke London, dan apakah kau membawakan aku boneka Maa?!" Tanya Louisa, dengan tatapan penuh harap.
"Ayo kita masuk, Mama ada membawakan apa yang kalian minta."
"Tentu saja, Mama serius?" Jawabnya, tersenyum.
"Apakah kau hanya membawa punya Kakak saja? apakah kau tidak membawa punyaku?!" Tanya Louis, dengan mimik cemcerut, menatap Ibunya.
"Punyamu Mama juga membawanya, Sayang?! dan ayo kita masuk," Dengan melangkahkan kaki bersama kedua anaknya, berjalan kedalam rumah.
Kedua boca kecil itu tampak begitu bahagia, saat menerima apa yang diberikan oleh Ibunya.
"Bonekanya sangat bagus, terima kasih Maa?" Ujar Louisa, pada Alana yang tengah tersenyum padanya.
"Apakah, kau menyukainya?" Dengan tatapan intens, menatap bolamata yang tengah berbinar itu.
"Tentu saja, aku sangat menyukainya."
__ADS_1
Melihat kedua anaknya tersenyum bahagia, membuat hati Alana merasa teriris."(Maafkan aku anak-anakku, yang belum sanggup membahagiakan kalian.)" Bathinnya, dengan terus menatap putra, dan putrinya.
"Maa, kenapa kau tidak membelikan aku mobil yang mengggunakan remot control? kau tau, Willi mempunyai mobil seperti itu?!"
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh boca kecil itu, Jhon segera menghampiri.
"Nanti kalau Paman sudah punya uang yang banyak, Paman janji akan membelikan mobil serperti yang kau minta."
"Kau serius Paman? akan membelikan aku mobil seperti punya Willi?!" Dengan tatapan mata berbinar, menatap laki-laki muda itu.
"Tentu saja, Paman serius."
"Ayo anak-anak?! ayo kita bermain ditaman belakang." Ajak Rose,. pada kedua boca kecil itu.
"BaIk Bibi, ayo..!" Jawab keduanya, dengan menggandeng tangan Rose disisi kiri, dan kanan berlalu keluar meninggalkan Jhon, dan juga Alana.
Alana hanya meneteskan airmatanya, setelah kepergian kedua anaknya itu.
"Terima kasih Jhon, aku tidak tau bagaimana hidupku tanpa kau, dan juga Rose. Dan ini kunci motormu, terima kasih karena sudah meminjamkannya." Dengan menguap airmata, seraya memberikan kunci motor tersebut pada lelaki berkulit eksotik itu.
"Alana...?"
"Ada apa?"
'Aku minta, ijinkan aku untuk menjadi ayah dari anak-anakmu."
Tatapan matanya seketika terfokus pada pria itu, saat mendengar apa yang dikatakannya, sebab ini yang sudah kesekian kalinya jhon, mengucapkan kalimat yang sama.
"Maafkan aku Jhon, tapi aku tidak bisa. Apakah kau mau hidup dengan orang, yang tidak mencintaimu," Dengan melangkah, meninggalkan Jhon.
"Apakah kau masih mengharapkan ayah dari Louisa, dan Louis?!" Bertanya, yang menghentikan langkah kaki wanita itu.
"Jangan bicarakan dia, karena aku tidak mau mengingatnya lagi."
"Tapi apa salahnya, kita mencoba Alana?! setidaknya, lakukan ini demi Louis, dan louisa, karena bagaimanpun mereka butuh sosok seorang ayah. Dan aku janji akan menyayangi mereka, seperti anak-anakku sendiri."
__ADS_1
Membalikan badannya, dan menatap dalam pria itu.
"Maafkan aku Jhon, tapi aku tidak bisa." Jawabnya dengan kembali melangkah, meninggalkan Jhon begitu saja.