
"Jadi bagaimana Bibi. Apakah kau mau jadi pacar, dari Pamanku Louis?" Tatapan penuh harap, dan bolamata mata berbinar menanti jawaban yang dia harap, tidak mengecewakan.
Menautkan kedua alisnya, menatap penasaran gadis kecil yang masih menempelkan tubuhnya padanya.
"Bagaimana apanya Louisa?"
Mendecak kesal, dengan mimik cemberut dia menatap Bibinya Rose, yang tidak memahami apa yang dia maksud.
"Apakah kau tidak mendengar apa yang kutakan, Bibi? tadi aku bilang, apakah kau mau menjadi pacar dari Pamanku??"
"Pacar...?" Kedua alisnya bertaut, karena sedikit kaget dengan apa yang dipinta oleh gadis kecil itu.
"Iya Bibi, Pacar." Jawabnya dengan anggukan, yang meyakinkan.
"Dia meminta Bibi, menjadi pacarnya juga?" Tatapan intens, dan terselip rasa penasaran disana.
"Heemmm..."
Senyum palsu membingkai dipenuh diwajah Rose, saat mendengar jawaban gadis kecil itu.
"Dasar laki-laki brengsek? pintar sekali dia memanfaatkan keadaan. Bukankah, dulu dia sudah menolak diriku?" Gerutu Rose, membathin dalam hati.
"Bagaimana Bibi? apakah kau mau menjadi kekasih, dari Pamanku? dia sangat tampan Bibi, untung saja aku masih kecil. Seandainya saja aku sudah dewasa, pasti aku mau menjadi pacarnya." Dengan raut wajah yang terlihat antusias, saat kalimat itu terucap dari bibir mungilnya.
Tersenyum, mendengar apa yang dikatakan gadis kecil itu.
"Siapa yang mengajarmu, berbicara seperti itu Louisa? ingat kau masih kecil, umurmu saja baru enam tahun."
"Teman-temanku Bibi, kau tau mereka sangat mengagumi Paman Louis. Jadi jika kau menjadi pacarnya, berarti kau adalah wanita yang beruntung, sebab bisa menjadi pacar dari Paman Louis yang begitu tampan."
Berpura-pura sedih, mendengar kekaguman Louisa pada Pamannya itu.
"Tapi apakah kau tidak takut, kalau Paman Louis akan menyakiti Bibi? bukankah dia sangat tampan? dan pasti banyak wanita dlluar sana yang berharap jadi pacarnya. Jadi Bibi minta padamu, berikan Bibi waktu untuk mempertimbangkannya."
"Tapi pastikan, kau harus menerimanya Bibi? agar nanti Paman Louis, akan membelikan aku boneka lagi."
Rose tersenyum, seraya mencubit gemas pipi gembul Louisa.
"Bagaimana Bibi?" Saat Rose, tak kunjung menjawab apa yang dia tanyakan.
"Kau sayang pada Bibi kan?"
"Tentu saja aku sayang padamu. Karena kau adalah Bibiku, Bibi Rose. "
"Kalau begitu berikan Bibi waktu, untuk mempertimbangkannya. Bagaiman Nona manis?"
"Iya. Tapi jangan lama-lama ya Bibi? dan pastikan kau menerimanya."
Hembusan napas terdengar berat, dan berusaha tersenyum dibalik rasa kesalnya pada Louis.
"Kita lihat saja nanti..?"
__ADS_1
Tatapan Dave sedari tadi terus tertuju pada anak perempuannya, dan juga Rose yang sedari tadi seperti terlibat perbincangan serius, saat dirinya, dan Alana tengah mengamati kue-kue, yang berada didalam etalase.
Dan memutuskan menghampiri mereka.
"Apa yang kau bicarakan, dengan bIbimu Rose, Louisa? sepertinya sangat serius."
"Daritadi aku mendengar mereka menyebut nama Paman Louis, papa?" Celah Louis kecil, menjawab rasa penasaran Papanya.
Keningnya berkerut, mendengar apa yang dikatakan oleh anak laki-lakinya. Dan terselip rasa penasaran didalamnya.
"Benarkah? dan apakah ada yang tidak kuketahui antara kau, dan sahabat baikku itu Rose?"
"Ini tidak seperti, yang anda pikirkan Tuan Dave?" Jawaban cepat yang keluar dari Bibir Rose, saat mendengar apa yang dikatakan suami sahabatnya.
Senyuman kecil membingkai diwajah tampan itu, melihat raut wajah gugup dari sahabat istrinya.
"Ada apa juga, tidak apa-apa Rose? bukankah kalian berdua masih sama-sama single."
Mendengar apa yang dikatakan Papanya, Louisa seperti mendapatkan angin segar karena ada yang mendukung.
"Jadi Papa mendukung, jika Paman Louis berpacaran dengan Bibi Rose?" Bolamata berbinar, pada gadis kecil itu.
Tatapan penuh selidik, membingkai penuh diwajah Dave saat mendengar apa yang dikatakan putrinya.
"Apakah ada sesuatu yang tidak Papa ketahui? dan apakah kau, dan Bibimu menyimpan sesuatu?"
"Kau tau Papa, ini rahasia para gadis. Jadi kau tidak boleh mengetahuinya."
Menggeleng pelan, mendengar apa yang dikatakan anak perempuannya.
"Iya Kakak, kau masih kecil. Umurmu saja baru enam tahun sama sepertiku. Bahkan kau saja masih bermain masak-masakan, dan juga boneka."
"Setidaknya, aku tidak sepertimu yang selalu saja minta digendong Papa." Dengan tatapan kesal, pada adik laki-lakinya.
"Apa yang kau ributkan dengan adikmu, Louisa?" Alana bertanya, seraya kedua kakinya membawanya melangkah menghampiri mereka.
"Anak laki-lakimu, selalu saja mencampuri urusanku, Mama?"
"Dan dia adalah adikmu."
Mimik cemberut, menatap kesal pada adik laki-lakinya.
"Dan dia adalah adik yang paling menyebalkan."
Alma menghampiri mereka, dengan tangan membawa sebuah nampan yang sudah berisi penuh kue muffin.
"Apa yang kalian perdebatkan. Ayo makan kue-kue ini. Mumpung masih hangat."
"Bukankah ini, pesanan orang Bibi?" Celah Alana, dengan kedua bolamata tertuju pada nampan yang diletakkan Alma diatas meja.
"Bibi sudah menyisahkan, untuk pesanan para pelanggan."
__ADS_1
"Kalau begitu, kami boleh mencicipinya."
"Tentu saja boleh Tuan Dave? dan Nona Alana, bagaimana dengan kandunganmu,"
Senyuman terukir diwajah cantik Alana, seraya menyentuh perutnya yang sudah memasuki bulan terakhir.
"Dia dalam keadaan sehat Bibi, dan semakin aktif bergerak. Dan akhir-akhir ini, aku sering mengalami kontraksi palsu. Kita lihat saja mungkin dalam minggu ini aku akan melahirkan, sesuai dengan prediksi Dokter."
"Dan apa jenis kelaminnya Alana?" Tanya Rose, yang menyela.
"Perempuan Rose? dan orang yang paling bahagia saat mengetahui kalau aku mengandung anak perempuan, adalah Louisa. Karena dia sangat berharap, mempunyai teman bermain boneka. Apalagi semalam, Louis baru saja mengantarkannya sebuah boneka."
Keempat orang dewasa itu terlibat pembicaraan serius tentang Alana, yang sebentar lagi akan melahirkan.
Dab gadsi kecil itu nampak berpikir keras, sebab Louis sudah berjanji padanya, kalau dia mendapati nomor dari Bibinya Rose, maka Pamannya itu akan membelikan dia mainan lagi.
"Bagaimanapun caranya, aku harus mendapat nomor dari Bibi Rose." Dan disaat melihat Bibinya Rose, lebih memfokuskan perhatiannya pada perbincangan mereka, Louisa segera mengambil ponsel Rose yang tersimpan diatas meja.
"Kakak...." Louis kecil memperingatkan, melihat apa yang dilakukan Kakak perempuannya.
"Hussst..." Dengan memberikan kode pada adiknya, agar menutup mulut.
gadis kecil itu segera menghampiri sudut ruangan, dan dengan cepat menghubungi paman tampannya, setelah meraih secarik kertas yang bertuliskan nomor Louis, dalam saku celananya.
"Maafkan aku Bibi, karena sudah berdosa padamu. Setidaknya aku membantumu mendapatkan jodoh, dan agar aku juga bisa mendapatkan boneka lagi" Dengan langsung menyambungkan, kenomor Ponsel milik Louis.
****
Kakinya bersilah, saat duduk dikursi kebesarannya. Dari tadi kedua bolamata itu, terus tertuju pada layar ponselnya yang tersimpan diatas meja kerjanya, dan berharap mendapati nomor baru yang menghubunginya.
"Apakah Louisa, gagal mengambil Ponsel milik Rose?" Gumamnya bertanya pada diri sendiri, dengan kegelisahan yang melanda diri. Setelah tadi Louisa sempat menghubungi dirinya, kalau dia pasti akan mendapatkan nomor Bibinya, asal Paman harus membelikan dia boneka lagi.
Tatapannya tertuju pada sebuah boneka HELLO KITTY, yang dia beli sesuai ukuran tubuh Louisa, dan juga sebuah sepeda anak-anak dalam ruang kerjanya.
"Bahkan aku sudah menyiapkan, apa yang dia minta." Gumamnya, dengan raut wajah yang terlihat lesu akibat Louisa yang tak kunjung menghubunginya.
Seketika terdengar suara deringan pada ponselnya. Meraih, dan senyum bahagia terukir diwajah tampan ittu, saat mendapati nomor baru. Dan dia yakin ini pasti Louisa.
PERCAKAPAN
"Hallo Louisa.."
"Hallo Paman, ini nomor dari Bibi Rose. Dan apakah kau sudah menyiapkan bayarannya seperti yang kau janjikan?"
"Tentu saja anak nakal? bahkan Paman juga membelikanmu sepeda. Sebagai bonus untukmu, karena kau sudah bekerja dengan baik."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Buat apa Paman berbohong."
"Terima kasih Paman. Tapi aku rasa, itu sesuai dengan usahaku. Karena asal kau tau Paman, Papa dan Mama, dan juga Paman Daven, tidak pernah memberikan ponselnya pada kami. Hanya kakek. Tapi Kakek tidak memiliki nomor Bibi Rose. Dan aku harus bersikap seperti seorang pencuri, agar bisa mengambil ponsel Bibiku."
__ADS_1
"Terima kasih, kau memang keponakan Paman yang paling baik. Dan sebentar Paman akan mengantarkan sepeda, dan juga bonekanya kerumahmu."
"Baik Paman, kalau begitu aku tutup teleponenya sebelum Bibi Rose mencari ponselnya." Dengan mengakhiri panggilan telepone mereka.